Teman Hidupku

Teman Hidupku
Kebiasaan yang tidak ada obatnya


__ADS_3

Siang itu Calista dan Raysa keluar dari kelas ingin segera pulang setelah mata kuliah hari ini selesai.


Namun masih ada beberapa jam lagi waktu untuk sekedar beristirahat atau sekedar jalan jalan sebelum mereka masuk kerja lagi nanti sore.


"List, kamu tidak mau ajakan Steven ke taman siang ini?" tanya Raysa yang sempat mendengar dari Calista tadi jika Steven mengajaknya pergi ketaman siang itu. " Mau sih Sa, tapi apa aku tidak keterlaluan sekali diajak terus sama cowok keluar?" jawabnya ingin menolak karena kemarin baru saja menerima ajakan Nathan, masa iyah hari ini lagi ia menerima ajakan Steven


"Hmm, katanya suka sama Steven tapi giliran diajak tidak mau, terus bagaimana cara Steven mendekatimu?" ucap Raysa menyindir karena ia tahu jika Calista sangat ingin kepada Steven.


"Ihh ya sudah biar aku chat dan pergi bersamanya siang ini, tapi kamu pulang sendiri lagi yah?" balas Calista malas banget mendengar sindiran Raysa padanya.


"Yah tidak apa apa kan aku bawa mobil, kalau mau pergi sama dia kamu hati hati jaga diri," ucap Raysa mencubit kedua pipi sahabatnya itu dengan gemes.


"Jangan pergi dulu tunggu dia balas chatku, siapa tau tidak jadi apa jalanku pulang," balas Calista menahan Raysa pergi dulu karena chatnya masih belum dibalas oleh Steven


Raysa mengangguk tersenyum sambil merangkul punggung Calista ikut menunggu balasan chat dari Steven.


"Nah dia balas tuh, cepat baca apa katanya," ucap Raysa yang bersemangat melihat chat masuk di ponsel Calista. "Katanya ia mau jemput aku Sa dikampus," Calista membacanya dan memberitahukan kepada Raysa.


"Wokeh berarti aku boleh pulang, ingat jangan lama pulang karena kita sore kerja!" pesan Raysa sebelum melangkah meninggalkan Calista disana. "Siap bestieku, muah!" balas Calista memeluk dan mencium sahabat tercintanya.


Raysa membalas ciuman itu dipipi Calista setelahnya ia beranjak pergi meninggalkan Calista sendiri di depan parkiran kampusnya.


...****************...


Tak lama Calista menunggu Steven akhirnya datang dengan mengendarai mobil Rolls-Royce Boat Tail termahal yang pernah ada.


Calista menatap itu sedikit takjub karena jarang sekali pemuda seumuran Steven mengendarai mobil bermerek mahal seperti itu.

__ADS_1


"Ayo List masuk, kok malah bengong sih?" seru Steven mengajak Calista, ia melambaikan tangannya memanggil Calista masuk. "Ohh oke," sahutnya berlari kecil dan segera menaiki mobil termahal itu.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Steven sambil melajukan mobilnya. " Sudah di kantin tadi bersama Raysa," jawab Calista menoleh kearah Steven dari samping, sungguh pemandangan yang sangat indah. Hidung mancung mata sipit dan rahang panjang serta kulitnya yang putih membuatnya sangat sempurna dan membuat Calista susah melupakan bayangan itu.


Steven menyadari Calista yang memandanginya dari samping, ia tak kalah menatap kearah Calista sehingga pandangan mereka bertemu.


"Apa diwajahku terdapat kotoran?" tanya Steven basa basi karena ia tahu Calista pasti demen banget memandangi wajahnya. "Tidak, aku hanya senang saja memandangi wajahmu," balas Calista terus terang saja tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Jangan memandangi terlalu lama nanti matamu sakit," ucapnya menjetik hidung mancung Calista. "Ihh sakit tau," Calista malah berlagak manja saat hidung nya di jentik dengan jari jari lengkung Steven.


"Habis kamu gemes," gombal Steven menambah hati Calista berbunga bunga. "Hem, tamannya masih jauh tidak?" Calista malah mengalihkan pembicaraan karena jika diteruskan untuk membahas pembicaraan itu maka situasi akan tegang nantinya.


"Sebentar lagi, kamu kelihatan tak sabar banget yah," jawab Steven menoleh lagi menatap Calista dari samping. " Iyah penasaran saja seindah apa dia taman di Kota ini," Calista malah memegangi kedua pipinya gemes membayangkan taman yang akan ia kunjungi.


"Kita masih dalam 30 menit baru sampai, sabar yah," Steven menenangkannya agar Calista sedikit tenang dan sabar. "Asyiap," Calista dan Steven akhirnya mulai akrab saat beberapa hari menjalin hubungan pertemanan, dan entah apa lagi kejutan yang dibuat Steven kepada Calista setelah ini? Apa iya Steven menyatakan cinta kepada Calista?


...****************...


(Taman Kota Bahagia)


Steven memasuki tempat parkiran taman untuk memarkir mobilnya disana. Tamanya sungguh cantik dan luas, tumbuh tumbuhan serta bunga bunga yang menghiasi taman menambah keindahan dapat memanjakan mata.


Hal yang pertama di lihat oleh Calista di taman adalah pasangan muda mudi yang tengah bersantai di pondok pondok taman, namun yang bikin Calista greget semua tidak bisa membedakan mana tempat untuk bersantai dan mana tempat untuk bercinta, orang disekitar itu rasanya seperti urat *********** pada putus tidak ada rasa malunya sama sekali.


"Stev kamu punya kacamata?" tanya Calista, berada disini kayaknya ia harus mengenakan penutup mata semacam kacamata juga bisa agar ia tidak bertambah dosa. "Ada nih, kenapa?" jawab Steven mengambil kacamatanya yang memang ia tetap menyediakan di mobilnya.


"Aku butuh kacamata saat berada di taman ini, mataku tidak mau ternodai melihat percintaan pemuda pemudi disini," balas Calista segera meraih kacamata itu dan mengenakannya.

__ADS_1


"Hahaha, apa baru pertama kali kamu melihatnya?" Steven jadi ngakak sendiri melihat Calista yang begitu polosnya. " Demi apa pun aku belum pernah melihatnya," ucapnya pura pura buta.


"Santai saja tidak usah hiraukan, ini adalah suatu kebiasaan di Kota ini jadi aku sudah tidak heran," Steven mengajak Calista memasuki taman dan menuntun Calista agar tidak mengambil pusing orang orang disekitar itu.


"Bawa aku di kursi taman yang berjauhan dengan orang orang itu," Calista menjadi risih dimana mana mendapati orang orang yang tengah bercinta disana.


"Oke, disana sepi kita lebih baik duduk disana," Steven memegangi tangan Calista mengajaknya dikursi yang agak jauh dari keramaian orang.


Calista memandangi sekelilingnya dan disana lumayan tidak seperti ditengah taman yang mereka lalui tadi. Ia menarik nafas dan mengeluarkannya dengan pelan lalu ia mendudukan tubuhnya santai di kursi taman disana


Steven yang memperhatikannya sejak tadi merasa lucu sendiri, baru ia mengetahui kepribadian Calista yang sedikit cerewet, bawel dan tentunya yang paling istimewa darinya adalah kepolosannya.


"Disini aman bisa membuka kacamata mu itu," ucap Steven menarik dengan pelan kacamata yang dikenakan Calista sejak memasuki taman tadi.


"Kamu punya saudara cewek Stev?" tanya Calista menoleh kearah Steven dengan menaiki sebelah alisnya. "Kenapa malah bertanya seperti itu?" balas Steven heran saja kenapa Calista tiba tiba bertanya seperti itu. "Iyah aku ingin tau saja, apa kamu mengizinkannya melakukan hal seperti itu juga," jawab Calista penasaran saja dengan itu.


"Itulah alasannya mengapa orang tua ku tidak menginginkan anak perempuan di keluargaku, dan untung aku tidak mempunyainya," ucap Steven setelah mengerti apa maksud Calista padanya.


"Tapi jika misalnya ada, apa kamu membiarkannya?" balas Calista ingin tau banget sikap sikap orang disini tentang hubungan badan bebas yang tengah di lakukan dimana mana di Kota itu.


"Yah tentu aku tidak melarangnya karena tubuhnya adalah haknya, perbuatannya adalah caranya memuaskan tubuhnya," jawab Steven santai karena emang seperti itu budayanya tidak bisa mereka elakan.


Calista jadi pusing sendiri memikirkan tentang pergaulan bebas disini, ia tidak habis pikir perbuatan zinah seperti itu malah dijadikan suatu kesenangan hidup.


......................


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2