
"List jadikan hari ini kamu berangkat?" Raysa rela bangun pagi pagi buta demi bersiap siap karena hari ini juga ia pulkam diantar oleh Radit.
"Jadi lah Sa, kamu tidak lihat koperku disana sudah aku siapkan," balas Calista yang masih saja enakan berbaring ditempat tidur. "Trus kenapa tidak siap siap?" Raysa menarik selimut Calista dan mencoba menarik lengannya agar duduk dari tidurnya.
"Masih ingin tidur Sa, nanti yah kak Nathan jemput aku jam 07:00," sahutnya kembali menghempaskan tubuhnya, matanya yang sangat berat dan lemas tidak ingin pergi dari tempat ternyamannya itu.
Raysa melirik jamnya disana sudah jam 06:00 wib satu jam lagi waktu Calista siap siap.
"Hem jangan nyesal nanti kalau kak Nathan ninggalin kamu," dengus Raysa beranjak dari sana turun kebawah untuk sarapan sebelum ia berangkat.
30 menit berlalu Calista masih saja berada di tempat tidurnya, dengan malasnya ia membuka matanya melirik jam dinding seketika matanya melotot karena waktunya tinggal dalam 30 menit lagi, siap tidak siap Nathan pasti pergi tidak akan mau menunggunya.
"Astaga gila sudah mau jam tujuh saja ternyata, kemana lagi Raysa tidak bangunin aku," Calista malah ngomel dan menyalahkan Raysa, padahal juga sedari tadi Raysa membangunkanya.
Ia segera berlari kekamar mandi bersiap siap waktu nya sudah tidak ada lagi, Nathan yang nyebelin itu pasti tidak mau menunggu Calista kalau terlalu lama.
Sepuluh menit siap dengan kegiatan mandi, mungkin asal sudah yang penting terlihat seperti sudah mandi.
Ia memoles sedikit make up tipisnya dan pewarna bibi. Tepat jam 07:00 wib Nathan datang untuk menjemputnya.
"List kak Nathan datang tuh," teriak Raysa yang lagi duduk didepan menunggu Radit. Dengan cepat Calista berlari sambil menyeret kopernya saat Raysa berteriak.
"Iyah ini aku bilang tunggu!" sahutnya berteriak berlari menghampiri Raysa dan Nathan diluar pintu rumah. "Kamu tidak pulang juga Raysa?" tanya Nathan sekedar basa basi saja.
"Pulang kok kak tapi kan kami beda arah Calista, aku diantar pulang sama kak Radit," balasnya sambil tersenyum. Nathan mengangguk seraya merapikiran tatanan rambutnya.
Pagi itu ia terlihat segar dan cool, style nya yang lumayan oke dengan wangi maskulin bisa memikat hati para wanita yang berdekatan dengannya.
Raysa yang tidak jauh dari dekatnya saja bisa merasakan begitu memikatnya hati dengan maskulinnya, rasa tidak mau jauh dengan wangi itu.
"Sa aku duluan yah beb," seru Calista tak lupa memeluk mencium sahabatnya yang akan berpisah dalam beberapa minggu dulu dengannya.
"Iyah beb, aku bakal kangen sama kamu," sahut Raysa ikut memeluk dan mencium untuk sekedar menghilangkan rindu mereka nantinya.
Sementara Nathan yang melihat mereka ia mengerutkan keningnya merinding melihat adegan ini didepannya. "Cewek sama cewek berpelukan dan ciuman wajar tapi kok cowok sama cowok dikatakan hina hufftt?" batin Nathan sedikit ngeh dengan itu.
"Ayo, kok malah bengong?" ucap Calista melambaikan tangannya didepan mata Nathan yang mematung kearah mereka. "Ahh iyah silakan naik!" balasnya tersentak dengan suara nyaring Calista.
Secara bersamaan mereka menaiki mobil, tak lupa sebelum pergi Calista melambaikan tangan kepada Raysa, sedikit sedih karena mereka pulang dengan beda arah.
__ADS_1
...****************...
(Hening tak bersuara)
Selama perjalanan mereka tidak ada yang berani bicara atau membuka suara, sangat hening bagaikan dikuburan.
Calista menyadari jalannya yang berbeda bukan jalan yang pernah mereka lewati saat datang di Kota itu.
"Loh kita mau kemana?" tanya nya memecahkan kesunyian. Nathan menoleh kearahnya tanpa menjawabnya. "Ini bandara we kita naik pesawat?" ucap Calista bawel namun tak sedikit pun disahuti Nathan.
"Kak Nathan kok tidak bilang kalau mau naik pesawat, kan aku belum beli tiket," lagi lagi Calista terus ngomel karena yang setaunya mereka pulang dengan naik mobil saja. "Jangan banyak omong sekarang kamu turun, tolong berikan aku kartu identitasmu," sahut Nathan membuka mulut.
Ia segera turun dan menyeret kopernya, dengan cepat Calista mengikutinya dari belakang karena langkah kaki besar Nathan bisa bisa Calista ketinggalan.
Nathan sesekali menoleh kebelakang dan tersenyum jahil, lucu banget Calista yang berlari larian mengejar langkah kakinya.
Tak tega, akhirnya ia berhenti dan menunggu. " Cepat Calista kok kakimu lambat sekali?" serunya memancing emosi Calista, karena ia ingin sekali melihat Calista ngomel terus.
"Kak Nathan tuh yang cepat kali tidak nungguin aku!" sahutnya memutar bola matanya kesal dengan Nathan.
Nathan memegangi tangannya dan kembali berjalan. " Aku bukan anak kecil tau, kok aku dipegangi?" Calista memberontak tidak mau dipegang seperti anak kecil.
...----------------...
Setelah siap dengan pembelian tiket mereka langsung saja terbang setelah beberapa waktu menunggu keberangkatan.
Calista dan Nathan duduk dikursi yang sama bersebelahan, Nathan menoleh melihat kearah Calista. " Kamu ingin duduk dimana, di samping atau dekat jendela," tanya nya memberi kesempatan untuk Calista.
"Duduk dekat jendela saja!" sahutnya langsung saja melewati depan Nathan tanpa sopan dan permisi. Tak ingin berprotes, Nathan ikut duduk dan memasang sabut pengamannya.
"Aku akan mengganti padamu harga tiketku!" ucap Calista saat mereka dalam penerbangan. " Tidak usah," jawabnya singkat tanpa menoleh kearah Calista sedikit pun. "Terserahlah pokoknya aku ganti!" Calista malah bersikeras sudah dibilang tidak usah malah membantah.
Nathan tak lagi menjawab selain mengedikan kedua bahunya mengisyaratkan terserah, ia tidak menghiraukan Calista lagi.
Dulu ia pernah menyimpan perasaan suka dan cinta kepada Calista, namun saat Calista minta untuk dijauhi ia perlahan membuang rasa cintanya tanpa tersisa lagi untuk Calista.
Pantas saja sikap Nathan tak seasyik dulu kepada Calista.
"Kok kak Nathan dari tadi diam, mau tidak?" Calista masih dengan sikapnya yang dulu, ia menawarkan cemilan untuk Nathan yang sedari tadi diam dan terlihat cuek.
__ADS_1
"Tidak makan saja, anak kecil perlu banyak makan cemilan ditempat seperti ini agar tidak masuk angin," balasnya malah melontarkan sindiran kepada Calista.
"Hem ya sudah, terserah bilang apa aku tidak merasa!" balasnya menjulukan lidahnya bodoh amat kepada Nathan. "Hemmm!" Nathan malah berdehem dan memalingkan wajahnya tidak terlalu mengganggu Calista lagi
Calista terdiam karena Nathan sepertinya tidak bisa diajak kompromi, ia sadar kecuekan Nathan semua itu berasal dari mulutnya yang pernah melarang mendekatinya demi Steven yang buaya itu.
......................
3 jam 30 menit akhirnya mendarat, itu artinya mereka sampai di Kota kelahirannya.
Nathan menoleh kearah Calista yang ternyata telah tertidur. " Pantas saja dari tadi burung pipit ini tidak berkicau lagi ternyata tidur," ucap Nathan tersenyum lucu saja melihat Calista ketiduran namun ia tetap cantik
Nathan sengaja tidak membangunkannya, ia malah meninggalkan Calista dan segera pulang, tujuannya agar Calista tak membayar padanya harga tiket yang ia belikan untuk Calista.
Ia malas jika harus berdebat dan beradu mulut dengan burung pipit yang terus berkicau itu.
......................
"Kak, kita telah sampai silakan," ucap seorang Pramugari membangunkan Calista yang sedari tadi tidak menyadari jika sudah sampai.
Calista tersentak membuka matanya dan menatap disekelilingnya. "Oh God sudah sampai ternyata, makasih kak!" ucapnya sambil berterima kasih kepada Pramugari itu.
Ia turun dan baru menyadari jika Nathan sudah tak ada lagi. "Kemana perginya orang itu, kayak hantu saja sudah menghilang," gerutu Calista menyeret kopernya dan memperhatikan semua sekeliling itu tak seorang pun ia kenali.
Calista mencoba memesan Taxi untuk membawanya sampai kehalaman rumahnya karena sudah sampai di Kotanya dan rasanya ia tidak sabar ingin bertemu Mamahnya dan kakaknya.
...****************...
"Thank's yah om, kembaliannya tidak usah ambil saja," ucap Calista mengangguk dan tersenyum kepada supir Taxi itu. Ia menghembuskan nafasnya menatap bangunan rumah yang megah didepannya setelah itu ia melangkah menyeret kopernya menghampiri halaman rumah.
Dengan cepat pak Satpam membuka pintu pagar untuknya dengan penuh hormat dan sopan
Calista merasa rindu dirumah itu walaupun banyak kenangan pahit yang ia alami selama dibesarkan disana. Satu tahun telah ia tinggalkan dan akhirnya hari ini juga ia pulang, harapannya semoga kepahitan telah ia bawa keluar dari rumah itu dan berharap kebahagiaan yang telah ia bawa.
...****************...
......................
BERSAMBUNG...
__ADS_1