
Kesibukan yang telah berlalu, akhirnya seluruh pekerja di Restoran bersiap siap segera pulang setelah berganti pakaian dan makan malam bersama yang telah mereka lewati.
Karyawan mulai satu persatu pergi dan tidak banyak lagi tersisa, Calista dan Raysa hendak pulang meninggalkan Restoran itu.
"Ayo Sa kita pulang," ucap Calista menarik tangan Raysa keluar menuju jalan raya.
"Calista, tunggu!" langkah kaki mereka terhenti saat suara memanggil Calista terdengar dari belakang.
Keduanya sama sama menoleh dan mendapati Bos mereka yang tengah berlari kearah mereka.
"Dia mau apa List," ucap Raysa mengerutkan keningnya sedikit bingung kepada Nathan yang tiba tiba kembali muncul lagi.
"Aku juga tidak tau," balas Calista mengedikan bahunya tidak mengerti apa yang di inginkan Nathan pada mereka.
"Maaf menahan kalian, ehm apa kalian mau pulang?" ucap Nathan berhenti didepan mereka dengan nafas yang ngos ngosan, pernapasan yang ngeh saat berlari mengejar Calista.
"Iyah nih kami mau pulang, ada apa?" jawab Raysa santai, melipat kedua tangannya didada ia sidikit aneh melihat Nathan seperti itu.
"Ohh gitu, aku hanya ingin minta izin untuk ngajak Calista keluar sebentar saja tidak akan lama," balasnya memberanikan diri.
Calista terdiam menatap Raysa, ia juga terlihat bingung dengan Nathan yang tiba tiba muncul lagi dalam hidupnya.
"Mau ngapain?" tanya Raysa menginterogasi tidak mengizinkan seenaknya saja sahabatnya diajak oleh pria apa lagi sudah malam.
"Tidak ngapa ngapain hanya ingin mengajaknya ngobrol sebentar," jawabnya sedikit gugup memandangi Calista sekilas.
"Oke, janji jangan ngapa ngapain sahabatku ini," sahut Raysa, memberi izin tinggal Calista jika ia mau atau tidak. "Tapi Sa kamu tidak apa apa pulang sendiri?" Calista malah tidak tega dengan Raysa pulang sendirian.
"Tidak apa apa, sudah aku duluan!" balas Raysa tersenyum dan segera melangkah pergi.
Calista terdiam ragu ragu untuk ikut dengan ajakan Nathan karena tak tega dengan sahabatnya sendiri yang pulang tanpa ia temani.
__ADS_1
Lagian mereka tiap pergi kerja tetap jalan kaki karena jarak dari Restoran kerumah yang dibeli Papah Raysa tidaklah begitu jauh hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki sudah sampai.
"Ayo mobil ku ada di parkiran Restoran sana," ucap Nathan kepada Calista yang masih berdiri mematung disana.
"Ohh baik," balas Calista gugup, ia mengikuti langkah kaki Nathan tanpa banyak bicaranya. Begitu juga dengan Nathan kegugupan terjadi diantara mereka, berjalan menuju parkiran mobilnya tanpa ada pembicaraan apa pun.
Calista biasanya protes, namun kali ini ia hanya diam dan nurut.
"Ayo naik," ajak Nathan membuka pintu mobil kepada Calista saat mereka sampai di parkiran mobilnya. "Makasih," Calista mengangguk dan menaiki mobil, diikuti oleh Nathan dengan segera menaiki mobil duduk dibalik kemudi.
Calista hari ini terlihat kalem dan diam sama sekali ia tidak mempertanyakan ia dibawa kemana oleh Nathan, tak sedikit pun rasa curiga ia mau dicelakai atau pun mau diapain sama Nathan tidak, ia tidak berpikiran sama sekali kearah itu.
Nathan yang berada di balik kemudi menyetir sesekali menoleh kearah Calista yang hanya diam sedari tadi.
"Kamu tidak apa apa?" tanya Nathan memastikan Calista yang hanya diam tak bersuara. Calista menoleh kearah Nathan menyadari sumber suara serak full bass nya. " Tidak, aku baik baik saja," jawabnya kembali melihat kedepan.
"Oke, kamu tidak ingin bertanya aku bawa kamu kemana?" balas Nathan memancingnya karena dia terus mengikuti tanpa ada protes. "Tidak, terserah kamu ingin membawaku kemana," jawabnya santai tidak mengambil pusing kemana ia dibawa oleh Nathan.
"Bukannya kamu pernah memintaku untuk menjadi gadis kalem tanpa cerewet, yah karena kamu meminta maka aku menurutinya," jawab Calista enteng tanpa ada protes atau membatah lagi seperti yang dulunya.
Benar yang dikatakan Nathan bahwa Calista sama seperti Buglon yang setiap saat pasti berubah ubah, tapi kayaknya ia terasa kangen dengan sikap cerewet Calista, ia suka jika Calista terus menatangnya bukan kalem seperti ini.
Lajukan mobil terhenti saat mereka sampai di Dermaga yang amat panjang dan di kelilingi oleh kapal kapal besar disana.
Lagi lagi Calista yang baru pergi untuk pertama kali disana merasa matanya dimanjakan oleh pemandangan indah disekitar pesisir Dermaga.
"Ayo kita turun," ucap Nathan membuka pintu mobilnya, Calista tanpa bertanya ikut membuka pintu mobil dan perlahan turun.
"Apa kamu pernah kesini?" tanya Nathan sambil melangkah pelan menyelusuri Dermaga panjang didepannya. Calista mengikuti langkahnya sehingga mereka jalan berpapasan.
"Tidak aku baru pertama kali disini," jawab Calista melihat sekeliling itu. " Apa ini menurutmu indah?" balas Nathan menoleh kearah Calista. " Tentu saja ini terlihat sangat indah," lagi lagi Calista hanya menjawab seadanya.
__ADS_1
"Kamu suka," Nathan terus mengajaknya mengobrol agar Calista banyak bicara, ia ingin sekali mendengar Calista berbicara seperti kereta api yang tidak bisa dihentikan. "Aku suka, makasih sudah mengajakku disini," balasnya menoleh kearah Nathan dan tersenyum
"Yah, kira kira kamu disini pendatang atau penduduk asli Kota ini?" Nathan memberanikan diri bertanya tentang ini karena tebakannya Calista bukan penduduk asli dari Kota itu.
"Iyah betul aku pendatang di Kota ini, aku berasal dari Kota sebelah timur," ucapnya memberitahu tentang itu. "Ohh sejak kapan berada disini?" Nathan menghentikan langkahnya dan bersandar di pagar pembatas Dermaga.
"Belum lama sih, baru memasuki 7 bulan disini," jawab Calista ikut berhenti dan berdiri melihat kearah laut memegangi pagar pembatas.
Nathan terdiam memandangi wajah kalem Calista dengan senyumannya. Baru kali ini melihat Calista sekalem bak bidadari yang baru turun dari khayangan.
"Kenapa memandangiku seperti itu," ucap Calista menyadari Nathan memandanginya tak berkedip. "Kamu sangat Cantik jika dipandang terlalu lama," jawabnya tak sedikit pun menggombal, yang ia katakan emang benar setelah ia memandangi Calista dengan dalam.
"Hem tidak perlu menggobali ku, rata rata cowok berkata seperti itu padaku," balas Calista menaiki sebelah bibirnya.
"Aku berkata serius tanpa ada gombalan, cowok yang mengatakan itu juga kurasa serius bukan hanya sekedar berkata gombal," Nathan berbicara apa adanya dan menjelaskan yang sesungguhnya kepada Calista.
"Yah, terus terang kamu mau apa mengajakku disini?" Calista akhirnya memulai banyak bicara, dan mungkin saja ini yang di inginkan Nathan darinya.
"Hem kebetulan saja aku ingin jalan jalan disini, tapi kalau tidak ada teman rasanya tidak asyik makanya aku membawamu," jawabnya tersenyum kearah Calista, seandainya Calista sudah menjadi pacarnya Nathan ingin sekali mencubit pipi manis Calista itu ia merasa gemes sendiri.
"Astaga kamu ini emang suka nyebelin," Calista merasa kesal dibawa kesini untuk sekedar menemani tapi untung sih dia dibawa juga, selama berada di Kota itu mana pernah ia jalan jalan sejauh itu apa lagi pergi disuatu tempat kayak gitu.
"Maaf jika kamu kesal samaku, kalau tidak nyaman ayo kita pulang," Nathan merasa Calista sedikit tak nyaman saat mendengar kata Nathan yang hanya memintanya untuk sekedar menemani jalan jalan kesini.
"Sudah lah nanti saja, aku juga ingin menikmati angin malam yang sejuk di sini," tolak Calista sudah terlanjur nyaman ditempat itu dan tidak ingin secepat itu pergi dari sana.
Dalam hati Nathan bersorak Yes karena jika Calista tidak ingin pergi dari sana ia bisa berlama lama berduaan kepada Calista ingin mendengar suara Caliata berbicara.
...----------------...
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG...