Teman Hidupku

Teman Hidupku
Pamit Pulang


__ADS_3

"Kak Radit benar ikut bersama Raysa pulang ?" tanya Calista saat sedang sibuk didapur Chef Radit. " Benar List, aku harus menemui orang tua Raysa karena orang tua ku menyuruh untuk segera tunangan dengan Raysa," jawab Chef Radit dengan semangat, membuat Calista sedikit iri dan menyesali keputusannya menolak Chef Radit dulu.


" Ohh gitu kak, bagus deh kak Radit cepat halali sahabatku," sahutnya pura pura kuat padahal ada rasa nyesek yang tersembunyi di relung hatinya.


" Iyah, kamu pulkam juga?" tanya Chef Radit kembali bertanya kepada Calista. " Pulang lah kak, aku juga merindukan keluargaku," jawabnya santai masih terlihat baik baik saja.


"Tapi gimana yah caraku minta izin sama Tuan Nathan," ucap Calista mengingat harus minta izin karena ia jika balik akan tetap bekerja seperti biasa. " Tinggal bilang jika mau pulkam, lagian ini bentar lagi musim gugur semua orang pada libur," jelas Chef Radit, karena biasanya pas hari musim gugur Restoran Nathan tutup hingga beberapa hari.


"Ya sudah aku sebaiknya sekarang minta izin saja biar aku tenang," Calista malah berniat ingin segera saja berbicara kepada Nathan agar ada kepastiannya.


"Oke, kamu sebaiknya temui dia diruanganya sebelum ia pulang," Chef Radit menyetujuinya dan menyuruh agar sekarang saja Calista minta izin karena Nathan biasanya malam sudah tak lagi ada di kantornya.


Calista dengan semangat segera enyah dari dapur dan bersiap untuk menghampiri Nathan ke ruangan lantai paling atas, ia berlari memasuki lift dan menekan tombol yang ia tuju.


Pintu ruangan yang tertutup dan hening, Calista mengetok untuk memastikan jika didalam ada orang atau tidak.


(TOK'TOK'TOK'!)


"Permisi," ucap Calista sambil mengetok ngetok pintu ruangan Nathan.


"Yah masuk!" sahutnya di dalam, ternyata ia masih belum pulang Calista mengelus dadanya seraya menghembuskan nafasnya dan membuka pintu itu.


(CEKLEK!)


Calista dengan pelan memasuki ruangan Nathan tak lepas senyuman manis ia tunjukan.


Sementara Nathan sedang asyik dengan layar ponselnya tanpa menoleh kearah pintu.

__ADS_1


"Kak Nathan," suara Calista dengan pelan melembutkan sebisanya agar Nathan tidak mencuekinya "Hemm," namun Nathan hanya menjawabnya dengan deheman tanpa melihat kearah siapa yang datang.


Calista berdiri tepat di depan mejanya dengan menautkan kedua tangannya di perut, jari jarinya dipelintir bingung mau bilang apa karena Nathan tidak melihat kearahnya.


"Kak!" ucapnya lagi dengan suara meninggi sedikit karena Nathan tidak menghiraukannya. "Hm ada apa?" balas Nathan mau tidak mau ia mengangkat wajahnya melihat kearah Calista.


Sebenarnya ia tahu jika yang datang Calista maka karena itu ia terlihat cuek dan tidak menghiraukan Calista


"Kenapa Calista?" tanya nya meletakan ponselnya diatas meja berdiri menghampiri Calista. "Maaf mengganggu kak Nathan," ucap Calista menunduk menggigit bibir bawahnya ada rasa gugupnya sedikit.


"Tidak masalah kamu mau apa, datang datang tidak bawa kopi juga," sahutnya seperti menyindir karena dulu biasanya Calista datang untuk membawa kopi untuknya, tapi sejak Calista mengatakan untuk dijauhkan oleh Nathan saat itu juga ia memutuskan tidak lagi mengganggu Calista.


"Aduh tapi kak Nathan belum bilang, ya sudah aku balik dulu kebawah untuk ambil," Calista merasa serba salah, ingin kembali kebawah dulu niatnya untuk mengambilkan kopi untuk Nathan.


"Aahmm Calista tidak usah lagi, by the way kamu kesini mau bilang apa?" Dengan cepat Nathan menahan langkahnya saat Calista hendak keluar dari sana.


Calista menghentikan langkahnya dan kembali berbalik badan menghadap Nathan yang tengah berdiri melipat kedua tangannya didada mata coklatnya menatap lekat diwajah Calista.


"Kamu kenapa datang menemuiku, bukannya kamu itu tidak mau dekat denganku takut pacarmu marah," sindirnya karena ucapan Calista itu masih terngiang ngiang di otaknya.


"Maaf deh jika aku ganggu, tapi aku kesini cuman minta izin untuk ambil libur beberapa minggu mau pulkam," sahut Calista memberanikan diri untuk meminta izin kepada Nathan.


"Ohh kenapa pulang, apa kamu menikah?" balasnya masih menyindir, ia berjalan kembali duduk di kursi kebesarannya dengan santai dengan mata yang masih menatap Calista.


"Enak saja bilang nikah, aku tuh kangen keluarga dan bentar lagi musim gugur waktu berkumpul dengan keluarga," Jelas Calista, membantah Nathan karena bilang menikah. Tujuannya sudah sangat jauh dari situ.


"Ohh yaampun aku hampir lupa astaga!" seru Nathan malah menepuk jidatnya baru juga mengingat tentang musim gugur, dan ia juga telah berjanji kepada Bokapnya jika waktu itu ia harus pulang.

__ADS_1


"Loh kok jadi kaget gitu," Calista menatapnya bingung dengan mengerutkan kening kearah Nathan. " Hm jadi kamu kapan pulang?" balasnya memberi pertanyaan malah tidak menjawab pertanyaan Calista.


"Aku pulang minggu depan," jawab Calista singkat. " Ya sudah kita bareng saja, aku juga ingin pulkam diwaktu itu," ucapnya tanpa menyadari nya, mengajak Calista bareng pulang sungguh tidak terlintas dipikirannya tapi mulutnya lancang mengatakan.


"Kak Nathan ingin pulang juga?" Calista jadi semakin heran saja, tadinya terlihat cuek sekarang malah ngajak pulang bareng. Ada apa dengan Nathan?


"Iyah pulang tapi kalau tidak mau bareng tidak apa apa, takut juga pacarmu marah," balasnya kembali mengalihkan pembicaraan malah melontarkan sindiran lagi kepada Calista.


"Yaampun gitu gitu saja ngomongnya, lagian aku sudah tidak punya pacar!" bentak Calista malah kecewa saja dengan kata kata Nathan, tadinya ia gembira diajak bareng Nathan karena perjalan pulang tidak lah dekat, setidaknya ia punya teman dijalan.


"Hahaha kenapa tidak ada pacar, apa sudah diputusin setelah sudah diambil kenikmatan surga dunia darimu," sindir Nathan merasa menang melihat Calista terdiam. Katanya ia tidak punya pacar lagi, dan Nathan yakin ia pasti tengah disakiti oleh seseorang sekarang. Setidaknya Calista merasakan sakit hati dan kecewa seperti yang ia rasakan karena sikap Calista.


"Apa itu surga dunia?" tanya Calista polos tanpa ada dosa. "Haha bagus lah kamu tidak mengerti berarti kamu belum merasakan juga," Nathan malah tertawa ngakak melihat wajah Calista bingung seperti anak kecil yang tidak mengerti apa apa.


"Kak Nathan ngomong apa sih, apa itu surga dunia?" Calista malah menyelidikinya, rasa penasarannya besar memenuhi hatinya karena baru kali ini ia dengar kata kata seperti itu.


"Sudahlah lupakan karena kamu tidak ngerti!" Nathan tak lagi melanjutkan kata katanya, kasihan melihat Calista jadi bingung tidak mengerti sama sekali dengan itu.


"Jadi kak Nathan mau tidak aku dikasi nebeng pulang bareng kak Nathan," Calista tidak mau ambil pusing mau Nathan tidak mau, ia seakan memaksa agar Nathan membawanya pulang bareng.


"Hem baiklah aku bolehin kamu bareng aku pulang, kasihan juga yang seperti anak kucing lagi nyasar tidak tau jalan pulang," balasnya tersenyum mengejek Calista. "Terserah deh kak Nathan bilang apa yang pasti aku mau bareng pulang," memberanikan diri saja walaupun ia harus menjilat ludahnya yang telah ia buang.


Calista memang masih mengingat kata katanya yang dulu saat ia meminta Nathan menjauhinya, namun sekarang ia malah kembali memohon seperti sudah tak punya malu saja.


Setidaknya hatinya tenang karena perjalanan pulang ada temannya, tinggal menunggu waktu berangkatnya saja mungkin ia harus janjian dulu kepada Nathan agar ia juga bisa siap siap dan membeli oleh oleh untuk keluarga yang menantinya.


...****************...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG...


__ADS_2