
Pagi pun tiba, semua telah berkumpul di meja makan, termasuk Rena dan Dodi yang baru semalam pulang dari luar kota.
"Nak, Aisyah.. Suaminya di ambilin dong sarapannya, kalian ini sudah 2 minggu menikah tapi kok tetap kaku begitu." kata Rena yang membuat wajah Aisyah memerah karena malu. sedangkan Kiora, jangan di tanya lagi. Ia tentu jengah dengan obrolan orang tuanya yang masih berpusat di pada pernikahan Aisyah dan Damar yang masih seumuran jagung itu.
"Iya Bunda.." kata Aisyah malu - malu, ia pun meraih selembar roti tawar dan ingin mengoleskan selai di atasnya. Kiora yang melihat itu pun dengan spontan memukul tangan Aisyah, Aisyah terkejut hingga roti yang hendak di olesi selai tersebut terjatuh.
"jangan oleskan selai kacang, kak Damar alergi dengan segala jenis kacang." Kata Kiora.
"Apa - apaan kamu ini Kiora, itu sangat tidak sopan." teriak Dodi menggema di setiap sudut ruangan.
"Ayah, Kio cuma kasih tahu kak Aish kalau kak Damar alergi kacang." bela Kiora.
"Aisyah itu istrinya dia lebih tahu mana yang suaminya suka dan tidak suka." kata Dodi menohok.
__ADS_1
"Apa ayah tidak lihat, baru saja kak Aish ingin mengoleskan selai kacang di atas roti tawar yang ingin di berikan ke kak Damar itu bisa-"
Plakkkk......
"Ayah..." teriak Rena dan Aisyah bersamaan. belum selesai Kiora berbicara, satu tamparan dari Dodi mendarat mulus tepat pada pipi mulus Kiora. hal itu membuat seisi ruang makan terkejut, Kiora memejamkan matanya sejenak, guna menetralisir rasa panas yang di timbulkan dari bekas tamparan ayahnya. ia berusaha keras agar tidak lemah, jangan sampai ia menangis.
"Selai kacang bisa menimbulkan reaksi gatal pada seluruh badan kak Damar, dan lagi dia juga alergi telur. Permisi!!!" ujar Kiora meninggalkan meja makan.
"Kiora.. nak mau kemana? sarapan dulu." ujar Rena.
"ayah lihat, ini semua gara - gara ayah. memang apa salahnya jika Kiora memberitahu hal itu ayah? niat Kiora itu baik yah, dia hanya tidak mau terjadi apa - apa dengan kakak iparnya." kata Rena membela Kiora.
"Tapi dia lancang bunda, bagaimana pun ia harus menghargai Aisyah sebagai istri Damar." kata Dodi yang masih menyalahkan Kiora.
__ADS_1
"Tapi bukan berarti ayah harus menamparnya. lagi pula siapa juga yang rugi jika sampai benar Damar alergi, harusnya ayah berterima kasih kepada Kiora bukan malah menamparnya, dan lihat.. gara - gara ayah Kiora kembali merajuk, ayah tahu sendiri kan bagaimana Kiora jika sudah merajuk." kata Bunda kecewa.
"Bunda.. ayah cuma mau kasih ngerti ke kiora sudah itu saja, ayah tidak sama sekali berniat membeda - bedakan Aish dengan Kio." ujar Dodi.
"Saya permisi." ujar Damar sembari beranjak dari duduknya.
"Sarapan dulu nak Damar." kata Rena.
"Saya sarapan di kantor saja Bun." kata Damar.
"Puas ayah?" kata Bunda beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi. selera makanya sudah hilang karena perdebatan barusan.
"Ayah tidak seharusnya melakuhkan itu, Aish yang salah kok yah.. Kio bener. Seharusnya Aish lebih bisa mengenal suami Aish sendiri." kata Aisyah tertunduk.
__ADS_1
"Sudah lanjutkan sarapannya ya.." kata Dodi.