
Tak terasa masa cuti Kiora sudah usai, ia harus kembali bergulat dengan perkuliahan, waktu 2 bulan juga di manfaatkannya untuk menyiapkan Skripsi yang cukup menguras tenaga serta isi kepalanya, meski pun sudah di cicil dari beberapa bulan yang lalu. Tapi waktu sekian sangatlah ngebut menurutnya. Dan sekarang di tambah lagi masalah keluarganya yang sangat amat rumit serumit cerita Author.
Kiora menyadari jika lama kelamaan tabungan yang ia miliki menipis, Ayah yang biasanya memberikan jatah bulanan mendadak berhenti mengirimkan uang sejak kejadian hari dimana Kiora mengetahui fakta yang sebenarnya. Kiora hanya bisa menghela nafas ketika mengingat betapa tidak adilnya Ayahnya memperlakuhkan kedua anaknya yang jelas - jelas darah dagingnya. Jikalau pun Ayahnya ragu Kiora bukan anak kandungnya, harusnya dia berkaca jika wajah Kiora sangat mirip dengan nya di bandingkan Aisyah anak kesayangannya.
"Woylah.. Bengong aja neng." kejut Devi.
"Ish.. Bikin kaget aja." kesal Kiora.
"Abisnya lu baru aja cuti masuk hari pertama masak udah bengong aja, kesambet lu?" tanya Devi.
"Dev, di tempat magang lu ada lowongan ga si? Gue butuh kerjaan nih." tanya Kiora.
"Kesambet apa lu mau kerja neng? Miskin ya lu sekarang?" tanya Devi tanpa filter. Devi adalah teman akrab Kiora selain Dian, Dulu mereka satu Circle juga waktu SMA hanya saja Dian memutuskan untuk langsung bekerja dan tidak melanjutkan pendidikannya. Sedangkan Devi melanjutkan Kuliah serta Menjadi karyawan magang di salah satu perusahaan besar di jakarta, yang tentunya masih di bawah kekuasaan Leonard Yudistira.
"Mulutmu!!! Gue lagi bokek nih, bokap udah ngga ngasih gue jatah." kata Kiora jujur.
"Tiba - tiba?" tanya Devi.
"Sebenernya gue tu keluar dari rumah bukan dengan cara baik - baik Dev." kata Kiora.
"Kok bisa?" tanya Devi heran. Kiora pun menceritakan semua apa yang terjadi dari awal sampai akhir.
"Ohh.." respon Devi sangatlah tak terduga hingga membuat Kiora keheranan.
"kok gitu doang respon lo? Ngga kaget gitu?" Tanya Kiora.
"Engga.. Soalnya gue udah denger dari Dian." jawab Devi cengengesan.
"Dasar Dian lemes, padahal gue udah bilang ke dia supaya ngga ember ke elu." kesal Kiora.
"Ohh.. Jadi gitu, lo ngga nganggep gue sebagai sahabat lo sekarang, mau umpet - umpetan? Oke!!" ujar Devi seolah merajuk.
"Ngga gitu Dev, lo kan lagi nyiapin Skripsi juga, gue tu gamau buat lo jadi kepikiran karena mikirin sahabatmu yang paling cantik ini." jelas Kiora sembari menunjukan Poopy Eyes nya.
"Geli gue dengernya." ujar Devi bergidik.
"Jadi ada ngga kerjaan buat gue?" tanya Kiora.
__ADS_1
"Ada sih, tapi gue ragu kalo lu bakal keterima." ujar Devi.
"Sialan!! Lo ngremehin gue?" kesal Kiora.
"Bukan gitu, masalahnya nih lowongan agak - agak ekstrim." ujar Devi.
"Kenapa? Apa gue harus jadi peneliti gua hantu?" tanya Kiora antusias.
"Kayanya setelah putus cinta lo rada - rada gesrek ya cu." heran Devi.
"jangan bahas itu ih, gue serius." kesal Kiora. Devi menghela nafas.
"Hmm.. bos gue lagi cari asisten pribadi, gajinya lumayan sih terus enak juga di ajak ke luar kota, luar negeri, bahkan luar angkasa. Tapi sayang, dia tu selain galak orangnya pilih - pilih. Biasanya selain kualitas dia carinya pria kalo ngga gitu wanita yang udah bersuami." kata devi
"Lahh.. kenapa harus bersuami?" Tanya Kiora bingung.
"Asal lo tau ya, Bos gue tu selain kaya dia juga ganteng, banyak cewek - cewek di luar sana yang ngejar - ngejar dia." jelas devi
"Idih.. Biar ga godain dia gitu? Yaa elahh... Seganteng apa sih tu orang, sok banget." umpat Kiora.
"Heh.. Jaga ya tu mulut, gue cuma kasih tau ya. kalo lo ga mau ya udah ga usah, banyak bacot."hardik Devi.
"Heh, kuyang.. Kalo tu perusahaan milik gue, baru lu minta bantuan gue. La gue aja di sana masih magang kunyuk, aneh deh ni bocah." Heran devi.
"Ihh.. Maksudnya tu lu masukin tuh surat lamaran gue, terus lu puji - puji kemampuan gue kek apa kek." pinta Kiora.
"Lahh.. Emang kemampuan lo apa selain bucin?" tanya Devi sedikit menghina.
"Ihh.. Kok lo gitu banget sih sama gue Dev, ya lu buat - buat aja pujian buat gue seolah - olah gue tu Wow gitu lo. Tau ihh devi ga bisa di ajak kerja sama, jadi kesel." ujar Kiora cemberut.
"Iya.. Iya.. Gue bantu, tapi gue ga bisa janji ya kalo lu bisa keterima. Tapi kalo feeling gue sih, orang kaya lo pasti di tolak paling pertama." kata Devi.
"Dev.." kesal Kiora.
"lo terlalu cantik nji*g, gue yakin lo di tolak." kata Devi.
"Ya di coba aja dulu weh, gue beneran butuh duit." kata Kiora.
__ADS_1
"Iya.. Iya.. Lu berdoa aja ya cu. Kalo lu keterima, emang bener - bener hoki lu." kata Devi.
"Hihi.. Maaciw, Deviii...."
.
.
.
.
Keesokan harinya....
di Yudistira Corp, Leon baru saja tiba. Ia berjalan di Lobi tak lupa dengan gaya arogannya, seluruh staf dan karyawan benar - benar hanya bisa tertunduk tatkala Presdir itu melewati mereka, tidak ada yang berani menyapa. Karena mereka tau jika tidak akan mendapatkan respon dari Leon. Berbeda dengan Adis, pria yang di percaya sebagai tangan kanannya itu sangat ramah kepada semua orang.
"Dis.. Bagaimana apakah sudah ada yang cocok untuk menjadi asistenku?" tanya Leonard di atas kursi kebesarannya.
"Sejauh ini belum Tuan, Tapi ada beberapa lamaran masuk yang hampir memenuhi kriteria dan juga ada beberapa Lamaran baru hari ini. Mungkin akan saya kroscheck ulang dan besok masing - masing bisa Interview." kata Adis.
"Bagus, lebih cepat lebih baik.. Karena 3 hari lagi saya ada perjalanan bisnis ke Paris, mau tidak mau dalam 3 hari harus sudah ada yang di terima jadi asistenku." kata Leonard.
"Baik tuan, akan saya usahakan." ujar Adis.
"Kalau tidak, besok saja undang semua kandidat yang kau pilih itu untuk interview aku yang akan memilihnya sendiri." kata Leon.
"Baik kalau begitu saya tidak akan kroscek ulang Lamaran yang baru masuk Tuan." ujar Adis.
"Ada berapa lamaran?" Tanya Leon.
"Hanya ada 3 Tuan." jawab Adis.
" Suruh datang Interview sekalian, kasian dia sudah ngeprint lamaran kerja kalo ujung - ujungnya ngga di apresiasi." ujar Leon.
"Baik.. Setelah ini saya akan infokan kepada mereka melalui Email." kata Adis.
"Hmm.. Kalau begitu kau boleh Kembali ke ruanganmu." kata Leon
__ADS_1
"Baik.. permisi tuan.."