
Kiora dengan langkah ragu - ragu menuju kamar Tamu.
Tok.. Tok.. Tok.. Kiora mencoba mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Masuk!!" ujar seseorang di dalam. tanpa pikir panjang Kiora pun masuk. Kiora terpaku menatap sosok yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Seketika jantungnya bedegub dengan kencang saat melihat pangeran tampan yang di hadapannya saat ini.
"Kenapa lama sekal.... Kau!!!" kejut Leonard.
"Maaf Tuan, ini baju dari tuan Adis untuk anda." Ujar Kiora salah tingkah.
"Kenapa kau yang kesini?" tanya Leonard dingin.
"Emm... Tadi-"
"Aku tidak butuh jawabanmu, cepat keluar atau kau mau melihat aku ganti baju?" cela Leonard.
"Eh... anda di tunggu di bawah untuk sarapan. baik kalau begitu Saya permisi." ujar Kiora bergidik ngeri, ia segera beranjak dari hadapan si pria dingin itu. Melihat tingkah Kiora tampak Senyum mengembang dari bibir Leonard.
"Huft... jantungku!!!!" ujar Kiora sambil memegangi dadanya.
"Dek.. Ngapain di situ?" tanya Aisyah mengagetkan Kiora.
"Eh.. Kak Aish bikin kaget aja.." ujar Kiora.
"Lagian kamu ngapain di situ sambil ngos - ngosan kaya abis di kejar maling aja." kata Aisyah.
"Nggak papa kok kak, tadi habis nganterin bajunya Tuan Leonard." ujar Kiora sambil menatap sinis yang mantan kekasih yang sedang berada di samping kakaknya. Terlihat tatapan Damar sangat tidak suka saat mendengar perkataan Kiora.
"Emang nuansa pangantin baru gitu ya, pasti bangun kesiangan." sindir Kiora.
"Ini masih jam setengah 6 Kiora.." elak Aisyah.
"Iyaa.. Iya.. yang pengantin baru." ledek Kiora mendahului keduanya menuju ruang makan.
*
*
"Selamat Pagi semua.." sapa Leonard.
__ADS_1
"Pagi nak Leon.. Mari silahkan duduk, kita sarapan dulu." kata Rena.
"Jadi merepotkan begini.." kata Leonard duduk di kursi tepat berhadapan dengan Kiora.
"Tidak usah begitu nak Leon, kita ini kan keluarga." ujar Dodi.
"Silahkan nak Leon mau makan apa? ini Kiora yang masak, tapi tenang saja nak Leon dia pintar memasak jadi jangan khawatir kalau ke asinan." ujar Rena.
"Bundaa..." rengek Kiora, entah mengapa ia paling tidak suka di agung - agungkan, terlebih lagi hanya hal kecil.
"Tidak masalah tante, siapa pun yang masak akan tetap saya makan." ujar Leonard.
"Hahaha.. baiklah nak Leon." ujar Rena.
"Biar saya ambilkan ya Tuan.." ujar Kiora hendak meraih piring.
"Jangan Non-" Kata Adis yang di balas gelengan kepala oleh Leonard. Hampir saja Kiora meletakkan kembali piringnya.
"Silahkan.." ujar Leonard. Kiora pun mengambilkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi di atasnya. Sederhana memang, namun entah mengapa itu sangat menggiurkan menurut Leonard. Namun dirinya masih belum yakin apa yang di katakan Rena benar adanya, melihat bocah yang tengil itu pandai memasak. Ahh... sepertinya mustahil. Dengan ragu - ragu ia mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Duar!!! ternyata benar, masakan Kiora sangat cocok di lidahnya.
"Nggak enak ya?" tanya Kiora saat melihat ekspresi Leonard.
"Kalau nggak enak jangan di paksa Tuan, saya buatkan roti selai ya?" kata Kiora.
"Tidak usah!! sungguh ini enak." kata Leonard.
"Syukurlah kalau begitu Nak Leon.. Oh ya, nak Damar juga baru pertama kali merasakan masakan adik iparnya, bagaimana enak tidak masakannya Kiora?" tanya Rena.
"Enak kok Bunda.. Dulu saya sering sekali di antarkan makanan ke kantor, dan memang sangat enak." puji Damar.
"Eh.. Emh.. Iya Bunda lupa, ya udah lanjut sarapannya ya, Bunda ke Dapur dulu nyusul Aish." ujar Bunda beranjak dari duduknya. Ungkapan Damar barusan sukses membuat Kiora tak berselera lagi untuk melanjutkan makan. Bayang - bayang kisah kasih keduanya 5 tahun belakangan kembali muncul di benak Kiora. Kadang ia tersenyum miris mengingat akhir dari hubungan mereka yang kandas tepat di hari anniversary ke-5.
*
*
Setelah selesai sarapan, Kiora tampak berkutat di taman samping rumahnya. Ia meneliti setiap inci koleksi bunga mawarnya, Entah berapa puluh jenis mawar yang ia koleksi saat ini, yang jelas taman tersebut di penuhi bunga mawar kesayangan Kiora. Sedangkan yang lain, sedang berkumpul di ruang keluarga. Jangan tanya mengapa Kiora tak ikut gabung, jelas saja ia jengah dengan pembahasan kedua orang tuanya yang menuntut sang kakak agar cepat memberi mereka cucu. Sedangkan Leonard dan Adis, mereka hanya sesekali membahas tentang bisnis dengan sang ayah mertua adiknya. karena kebetulan Leonard juga memiliki beberapa cabang resto sedangkan Dodi memiliki usaha kuliner yang sudah memiliki beberapa cabang baik di dalam maupun luar kota.
Drrtt.. Drtt..
__ADS_1
"Maaf Om, saya angkat telepon dulu, permisi.." kata Leonard beranjak dari duduknya.
*
*
Setelah selesai mengangkat telepon, Leon berniat kembali gabung dengan yang lain. Namun pandangan matanya melihat sosok gadis yang tengah berbinar menatap hamparan bunga mawar warna - warni. Seketika ia menyunggingkan senyuman.
"Kau tertarik dengannya Bos?" tanya Adis dari belakang.
"Tidak.." jawab Leonard dingin.
"Sayang sekali kau tidak bisa membohongiku." ujar Adis.
"Aku tidak tertarik dengan gadis itu, tapi tertarik dengan rencananya." ujar Leonard.
"Maksutmu?" tanya Adis bingung.
"Membuat Damar menderita secara perlahan." kata Leonard dengan senyum yang tidak bisa di artikan.
"Sungguh aku tak paham dengan yang kau katakan." kata Adis.
"Kiora dulu adalah kekasih Damar." kata Leonard.
"Lalu?" tanya Adis.
"Mereka putus karena Damar menikahi kakaknya Kiora." jelas Leonard.
"What the Hell!!!! pantas saja nona yang tadi tampak acuh dengan Damar." kata Adis.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Adis.
"Membantu gadis itu menyelesaikan misinya." kata Leonard.
"kau ini memang gila Lee.." ujar Adis bergidik.
"Setidaknya aku tidak perlu berbagi aset perusahaan nantinya.' ujar Leonard.
" Terserah kau saja Lee..." ujar Adis frustasi
__ADS_1