
Pesta pernikahan sederhana di adakan di hotel hanya mengundang sahabat dan kerabat saja. Hanya seratus orang, itu pun banyak yang tidak datang karenaberhalangan. Kini kedua mempelai sudah datang setelah mengucapkan ijab kabul di masjid dekat rumah Morgan.
Keduanya pun duduk di pelaminan, saling memberi senyum kebahagiaan dan juga saling mengagumi. Tak lupa Kania juga duduk di antara mereka, dia merasa senang akhirnya keinginannya terwujud untuk mempunyai seorang mama Danisa.
"Kania senang dengan mama Danisa?" tanya Daniel.
"Senang pa, nanti tante Danisa tidur di rumah ya pa?" tanya Kania.
"Iya sayang, sekarang Kania boleh kok panggil tante dengan sebutan mama." kata Danisa dengan senyum mengembang.
"Iya tante, eh mama. Heheh ..." ucap Kania meralatnya.
Daniel dan Danisa tertawa kecil. Bryan dan beberapa sahabat dan juga klien Daniel pun mengucapkan selamat pada Daniel dan Danisa. Mereka juga turut bahagia akhirnya sang duda sudah mempunyai istri lagi setelah lama menduda dan tidak mau menikah.
Hanya Danisa yang membuat Daniel kembali mengejar seorang perempuan. Dia memang tidak pernah mengejar perempuan, dulu Raisa yang mengejar Daniel. Tapi dia juga yang meninggalkannya dengan laki-laki lain.
"Selamat ya bro, lo sekarang sudah jadi suami lagi. Bagaimana rasanya mengejar cinta?" tanya Bryan ketika mereka sedang bicara berdua.
Karena Danisa sekarang sedang di kerumuni teman-teman kampus yang dekat dengannya. Tak lupa Kirana pun ikut bergabung setelah memberi asi Alka dan Arka di belakang. Daniel memandangi istrinya dengan bahagia, dia juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada Danisa.
"Ya, lo benar. Aku baru merasakan cinta sesungguhnya pada istriku sekarang. Aku juga merasa kewalahan mencari dia karena rindu ingin bertemu dengannya." kata Daniel.
"Ya, begitulah. Terkadang cinta yang dulu dengan sekarang perbedaannya jauh. Gue tidak mencari yang sempurna, tapi Tuhan memberikannya lebih dari sempurna bagi gue." kata Bryan.
"Gue juga pikir ngga akan menemukan sosok yang periang dan bisa membuat Kania jatuh hati, lalu gue juga ikut jatuh hati padanya. Apakah gue berlebihan jika gue merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan Danisa?" kata Daniel.
"Tidak, itu wajar. Lo juga berhak punya cinta dan bahagia. Dan yang lo rasakan itu bahagia yang sempurna." kata Bryan.
"Ya benar apa kata lo. Semua kehabagiaan tidaklah sama, dulu dan sekarang. Sungguh." kata Daniel lagi.
Pembicaran mereka berdua tentang istri masing-masing dan cinta yang membahagiakan terhenti karena kembali beberapa sahabat mereka datang dan bergabung. Morgan juga ikut bergabung di antara mereka. Ada beberapa klien Daniel dan juga Bryan, tak lupa mereka juga membicarakan bisnis. Karena pengusaha seperti mereka, selalu memanfaatkan waktu dan peluang jika bertemu pasti membicarakan bisnis mereka.
_
Kini Danisa dan Daniel sudah berada di kamar hotel yang dia sewa. Kania sengaja Kirana bawa ke rumahnya untuk menginap dan tidak mrngganggu kedua orang pengantin yang sedang mabuk cinta itu. Danisa dan Daniel berterima kasih Kirana dan Bryan membawa Kania ke rumahnya, karena sekarang anaknya dan anak Bryan sedang dekat dan lebih akrab bermain bersama.
Danisa merasa gugup, meski bukan yang pertama. Tapi dia juga gugup, karena melakukan itu dengan suaminya. Dia juga di sarankan oleh kakak iparnya agar setiap hari meminum jamu untuk mengencangkan otot kewanitaan. Belum pernah dia lakukan, tapi apa salahnya di coba. Karena belum terbukti khasiat dari minum jamu tersebut.
Dan sekarang mungkin akan terbukti dari khasiat jamu khusus wanita yang setiap hari Danisa minum sebelum pernikahannya. Dia sudah mandi dan memakai baju satin tipis dan lembut serta adem. Sedangkan Daniel masih di dalam kamar mandi. Danisa juga meminum kembali jamu yang tadi di bawakan oleh kakak iparnya itu sebelum melakukan malam pertama dengan Daniel.
__ADS_1
Terasa pahit, tapi dia tetap meminumnya. Jika memang ada kepuasan dari Daniel, maka dia akan meminum jamu itu setiap hari. Kecuali jika sudah hamil, kata kakak iparnya tidak boleh di minum lagi.
Daniel pun keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk saja. Danisa melirik sebentar, ada rasa deg-degan, namun dia berusaha tenang dengan memakan buah apelnya. Daniel pun mendekat, dia langsung saja mencium pipi Danisa. Keduanya pun saling menatap.
Danisa mengambil minum dan menenggaknya, lalu dia berbaring di ranjang. Seolah sudah siap apa yang akan di lakukan oleh Daniel. Daniel pun mengerti, dia lalu mencium bibir Danisa dengan lembut, bermain lidah dan bertukar saliva. Keduanya tampak menikmati, tangan Daniel kini meraba bagian gundukan kenyal yang menantang di balik baju satin Danisa.
Memijat lembut hingga suara lenguhan kecil lolos dari mulut Danisa, Daniel pun semakin bersemangat. Dia terus memeberi sentuhan pada Danisa, sehingga suara lenguhan beberapa kali keluar dari bibirnya.
"Aaah, mas." ucap Danisa yang semakin melayang oleh ulah suaminya.
Tangan Daniel bermain-main di bawah sana, yang membuat Danisa bergerak gelisah dan nikmat. Dia juga sebenarnya tidak tahan, namuj dia suka Danisa yang seperti menikmati sentuhannya.
"Aaaah, eeeuh aku ngga kuat maaas, aaaah."
"Kamu ingin apa sayang?"
"Iiiih, kok tanya sih. Tanganmu yang membuat aku menginginkan lebih."
"Akan kuberikan apa yang kamu inginkan sayang. Tapi aku suka dengan wajahmu yang menggemaskan itu."
"Apa sih mas, kamu membuat aku malu."
Danisa memerah pipinya, dia pun membalas keusilan tangan Daniel di bawah sana dengan menghisap bagian puttting kecil milik Daniel.
"Uuuh, sayang. Kamu membuat aku kaget, tapi ini nikmat. Aaaaah ..." ceracau Daniel.
Keduanya pun saling memberikan sentuhan, dan akhirnya mereka sudah tidak tahan. Kini Daniel mencoba memasukkan pusakanya, dia kaget. Kenapa milik Danisa begitu susah. Apa benar dia sering melakukannya atau memang hanya bermain di luar saja.
Tapi dia terus mencoba, baru percobaan kedua bisa berhasil. Dan itupun sedikit susah. Lalu setelah miliknya terbenam di dalam inti Danisa, dia benar-benar merasa takjub. Danisa seperti gadis perawan, diam sejenak memandangi wajah Danisa yang juga menikmati miliknya di dalamnya.
"Danisa, aku mencintaimu."
Setelah berucap seperti itu, tubuh Daniel di goyangkan dan di maju mundurkan. Dia merasakan nikmat luar biasa dalam percintaan dengan istrinya itu. Keduanya juga menikmatinya.
"Aaah, Danisa. Kamu benar-benar menggairahkan, eeuuuuh sayaaang." ucap Danie di sela percintaannya.
"Aaah, kamu juga maas, sssssth aaah."
Tak ada yang lebih membahagiakan Daniel selain bercinta malam pertama dengan Danisa, sangat mengejutkan baginya. Dia tidak ingin menyudahi percintaannya dengan Danisa.
__ADS_1
Hingga mencapai puncak pun, keduanya kembali melakukannya. Rasa gairah dan cinta masih membara di hati keduanya. Rasanya ingin melakan lagi dan lagi.
"Mas, apa ngga capek?" tanya Danisa di sela permainanmya yang kesekian.
"Tidak sayang, aku masih mau lagi dan lagi. Kamu begitu nikmat. Apakah benar kamu pernah melakukannya, aaaah ssssh." kata Daniel dalam goyangannya.
"Iya, memang kenapa? eeuuhhh aah."
"Aku ragu, tadi kamu begitu sempit seperti gadis perawan. Sssh!"
"Iitu karena aaaah, mas."
"Apa sayang, cup."
"Aku selalu meminum jamu sebelum menikah." kata Danisa.
"Ooh, jadi begitu? Kalau begitu ini benar-benar bermanfaat sayang, aku sangat nikmat. Aaah, rasanya aku tidak mau menyelesaikannya."
"Capek mas, aaah. Aku mau keluaar."
"Keluar sayang, aaah. Aku juga sebentar lagi keluar. Apa kamu mau langsung punya anak?".
"Tunggu selesai wisuda mas. Ssst."
"Sampai sayang, eeeeuuuh! Sssh aaaah. Cup."
Daniel menyelesaikan kegiatannya dan memuntahkan laharnya di dalam rahim Danisa. Kini dia pun ambruk, nafasnya naik turun dan senyumnya mengembang. Di tatapnya Danisa yang terpejam dan mencium bibirnya.
"Terima kasih sayang, besok kita ulangi lagi."
Danisa hanya mengangguk, dia pun akhirnya terlelap dalam dekapan Daniel. Daniel memeluk Danisa dengan erat, dia membelai pipi Danisa dengan lembut. Meski Danisa sudah tidur di pelukannya, dia terus mengecup bibir Danisa berkali-kali dengan senang hati.
_
_
_
*******************
__ADS_1