Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
74. Membeli Saham


__ADS_3

Pagi ini, Bryan sudah berada di kantornya. Dia memang sedang memantau sebuah perusahaan yang kolaps akibat krisis keuangan. Setiap ada perusahaan yang mau di likuidasi oleh bank, dia akan maju dan membeli sahamnya dan di teruskan olehnya.


Sekarang dia mau melakukan itu pada perusahaan milik Laudya, tidak dalam kebangrutan perusahaan itu. Tapi dia ingin balas dendam dengan cara lain pada perempuan itu. Kini dia sedang menunggu Morgan memberikan laporan tentang perusahaan itu.


Sejak kemarin dia memberitahu pada Morgan kalau perusahaan milik Laudya ingin dia beli sahamnya dan melobi pada pemegang saham di sana.


"Selamat pagi bos, anda sudah siap untuk bermanuver mencari saham?" tanya Morgan.


"Tentu saja, apa lagi milik Laudya. Dia benar-benar harus di kasih pelajaran." kata Bryan.


"Hemm, perempuan itu ya sudah murahan tapi juga tidak tahu diri. Aku bahkan jijik bos melihatnya." kata Morgan.


"Kamu sendiri juga jijik. Apa lagi aku, aku bahkan ingin muntah."


"Tapi kenapa anda betah sekali berteman dengan perempuan itu?"


"Siapa yang betah, aku tidak pernah menghubunginya. Bahkan mengajaknya pergi kencan, jangan mengada-ada kalau bicara." kata Bryan.


Morgan tersenyum sinis, namun begitu dia tetap saja melakukan apa yang di perintahkan Bryan padanya.


"Tapi dia selalu menempel terus bos, pasti bos kasih lem sama perempuan itu." kata Morgan lagi.


"Haish, cepat kerjakan apa yang harus kamu lakukan. Jangan bahas perempuan murahan itu, kesal aku jadinya."


"Kirana bagaimana bos?" tanya Morgan agar Bryan tidak marah lagi.


"Dia sedang mengandung anakku." jawab Bryan tiba-tiba berubah wajahnya jadi ceria.


"Waaah, bos hebat belum satu tahun sudah membuat anak orang hamil. Ck ck ck, udahanya juga tiap malam ya bos." kata Morgan lagi.


"Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan istriku tidur tiap malam sebelum aku dapat jatah darinya." kata Bryan lagi dengan bangganya.


Morgan tersenyum, dia membuka laptopnya dan mulai mencari situs bursa saham lokal di internet. Dia mencari saham di perusahaan Laudya dan siapa saja pemilik saham itu. Dia terus mencari nama-nama serta kontak yang perlu di hubungi.


"Dapat bos, ada beberapa pemik saham yang mau menjual sahamnya di perusahaan Laudya. Apa bos berminat?" tanya Morgan.


"Ada berapa persen yang mau di jual?" tanya Bryan.


"Sebentar saya periksa lagi, tadi itu ada dua orang dengan masing-masing pemilik saham lima persen." jawab Morgan lagi sambil mencari siapa lagi yang akan menjual sahamnya.

__ADS_1


"Cari terus sampai sahamnya kita beli lima puluh persennya. Dan kita akan menguasai saham perusahaan itu, kemudian kita depak Laudya dari puncak pimpinan di sana."


"Siap bos, sebenarnya kita mempunyai tiga pulu lima persen saja bisa menguasai perusahaan itu, karena nona Laudya hanya memilik tiga puluh persen. Yang lainnya hanya lima persen dan sepuluh persen saja." kata Morgan.


"Tidak, aku mau milik lima puluh persen saham di sana. Agar nanti tidak ada yang menyingkirkan kita di sana."


"Hem, ini ada yang mau melepas sahamnya di sana sebesar sepuluh persen. Jadi nanti kita bisa memiliki dua puluh persen." kata Morgan.


Dia terus melobi pemilik saham untuk di jual padanya melalui akun emailnya. Bryan membayangkan perusahaan milik Laudya akan berpindah tangan padanya, dan saat itu dia akan mendepak Laudya dari sana.


Lama Morgan melobi para pemegabg saham itu, hingga sore hari baru tiga puluh persen yang dia dapat.


"Bos, baru tiga puluh persen. Bagaimana? Apa mau di lanjutkan besok lagi?" tanya Morgan.


"Besok lagi, tapi kamu harus pantau terus pergerakan pasar saham agar di sana anjlok dan jatuh. Sehingga kita bisa membeli saham dengan mudah dari sana." ucap Bryan.


"Baik bos, bursa saham sekarang sedang stabil. Makanya sedikit yang menjual sahamnya pada pihak yang membutuhkan. Jika pun mau menjualnya, mereka menginginkan harga tinggi." kata Morgan.


"Tadi berapa persen yang kita dapat dari sana?"


"Tiga puluh persen, jika ingin lima puluh persen kita harus mencari dua puluh persen lagi. Rasanya saat ini agak susah."


"Oke bos."


Pukul enam sore Bryan bisa pulang dri kantornya, sedangkan Morgan harus membereskan berkas-berkas lebih dulu sebelum pulang.


"Aku pulang dulu, dan kamu juga boleh pulang setelah menyelesaikan tugasmu." kata Bryan.


"Ya bos, jangan khawatirkan saya."


Setelah berkata seperti itu, Bryan pun keluar dari kantornya dan dia ingin segera pulang. Rasanya dia rindu dengan Kirana, ingin memeluknya dan menciuminya.


_


Bryan masuk ke dalam kamarnya setelah dari kantor. Dia melihat Kirana sedang berbaring, sejak sore tadi Kirana hanya bisa berbaring. Saat ini dia baru merasakan mual dan pusing, nyonya Kalina menyuruh Kirana untuk tidur saja di kamarnya.


Bryan mendekat pada istrinya yang terbaring sambil memeluk guling di sampingnya. Dia mencium kening istrinya yang masih terpejam itu. Kirana tidak merasa terganggu, Bryan pun menuju kamar ganti. Dia ingin mandi lebih dulu sebelum makan malam dan membangunkan istrinya kalau hari sudah beranjak malam.


Satu jam Bryan membersihkan diri dengan mengganti baju. Setelah melakukan kewajiban, dia pun mendekat lagi ke ranjang. Duduk di sisi ranjang sambil menatap wajah istrinya yang masih terpejam. Aroma segar sabun mandi membuat Kirana terbuka matanya dan memicingkannya, menatap suaminya yang sedang menatapnya.

__ADS_1


"Bangun sayang, ini sudah malam." kata Bryan mengecup bibir Kirana.


"Ini jam berapa mas?" tanya Kirana.


"Jam tujuh malam, kamu bangun ya dan kita makan malam di bawah." kata Bryan merapikan poni Kirana.


"Hemm, jadi aku tidur sudah lama sekali ya. Tadi aku pusing banget mas, jadi mama menyuruhku untuk tidur aja di kamar. Aku ngga bisa bantu mama di dapur." kata Kirana.


"Ngga apa-apa, mama juga maklum kalau kamu sedang hamil itu pasti banyak keluhan. Jadi mau makan di bawah atau di kamar aja?" tanya Bryan.


"Di bawah aja, tapi aku sholat dulu ya. Kamu boleh ke bawah dulu aja ngga apa-apa mas."


"Aku tunggu kamu aja, hanya sebentar kan?"


"Iya."


Kirana lalu beranjak dari pembaringannya dan segera menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, baru setelah itu dia melaksanakan kewajibannnya pada Sang Khalik.


"Halo, ada apa Morgan?" tanya Bryan pada Morgan yang tadi menghubunginya.


"Bos, ada dua orang ingin menjual sahamnya pada kita."


"Langsung kita beli, berapa yang mereka mau jual?"


"Lumayan sih bos, lebih besar mereka mintanya."


"Berapa yang dia minta?"


Morgan lalu menyebutkan nominal yang di minta oleh mereka yang menjual sahamnya. Dan Bryan langsung menyetujuinya. Dia minta pada Morgan agar nanti saham itu akan dia tunjukkan pada Laudya kalau sahamnya sudah melebihi milik Laudya.


Dan nanti dia akan melakukan rapat mendadak di perusahaan itu. Satu minggu ke depan dia akan sibuk untuk mengurus pergantian pimpinan di perusahaan Laudya.


_


_


_


*********************

__ADS_1


__ADS_2