
Keduanya saling mengerang dan menikmati buaian dari tubuh masing-masing. Kini Kirana yang menggoyangkan tubuhnya maju mundur bahkan memutar. Rasa bahagia yabg di rasakan Bryan karena istrinya ternyata pintar bermain di atasnya dan bisa membuatnya nikmat.
"Sayang, euuh. Kamu pintar bergoyang ya aaah."
Kirana hanya diam saja, dia lebih suka menikmati percintaan dalam diam dari pada harus membicarakan hal yang nyeleneh. Namun dia juga suka Bryan yang nyeleneh jika dalam bercinta.
"Kamu nikmat banget sayang, eeuuuh aaah."
"Eeeeeuh, maaas. Aku keluar."
Tubuh Kirana menedang, dia mencapai kenikmatannya. Lalu tubuhnya pun terkulai di atas Bryan. Dan kali ini Bryan memiringkan tubuhnya dan membaringkan tubuh Kirana yang masih lemas karena kenikmatannya.
Bryan kini yang di atas Kirana, dia menciumi lagi bibir serta turun ke leher. Memberi rangsangan oada istrinya lalu turun lagi ke dadanya, mengulum dan menggigit kecil. Membuat Kirana kembali terbuai.
Dan Kirana kembali terbuai, Bryan yang memaju mundurkan tubuhnya. Memberi kenikmatan bagi juniornya di dalam inti istrinya.
"Uuurgh, sayang aaah."
Semakin malam kegiatan mereka semakin panas.. Bryan semakin semangat karena dia sudah dua kali mencapai puncak nikmatnya. Kirana sendiri masih terkulai lemas karena dua kali itu Bryan sangat kuat, dia beberapa kali mencapai puncak nikmat.
"Tidur mas, udah malam. Aku capek banget." kata Kirana menarik selimut untuk mrnutupi tubuhnya yang polos. Entah sejak kapan mereka melepaskan pakaiannya, tapi yang jelas keduanya tidak memakai pakaian. Dan kini Bryan memeluk istrinya yang masih terkulai lemas.
Dia menunggu istrinya selesai istirahat, baru nanti mulai lagi.
"Kamu jangan tidur sayang, sesuai apa yang aku katakan. Kita akan bercinta sampai pagi." kata Bryan membelai pipi istrinya lalu mecium bibirnya.
"Ya, tapi aku lelah mas. Memang kamu tidak lelah?"
"Aku tidak akan pernah lelah kalau urusan bercinta sayang. Aku selalu kuat mau berapa kali juga. Cup."
"Huh! Kamu itu, makan apa sih sampai sekuat itu?"
"Makan kamu sayang, berkat makan kamu setiap malam aku selalu kuat." jawab Bryan menatap istrinya dengan lembut.
Di belainya lagi pipi Kirana yang memerah, dia suka sekali perubahan pipi Kirana yang memerah karena malu.
Malam semakin merangkak naik, waktu juga sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Dan Bryan mulai membuai Kirana lagi dengan sentuhan lembutnya di setiap titik-titik tertentu yang membuat Kirana bergairah kembali.
Kirana mau tidak mau dia harus meladeni suaminya lagi, karena dia juga sudah terbuai oleh sentuhan nakal suaminya.
_
Pagi pun tiba, Kirana bangun lebih dulu dari suaminya. Dia menggeser tubuhnya agar bisa lepas dari pelukan suaminya dan turun dari ranjang. Rasa perih dan lelah masih dia rasakan di bagian bawah dan kakinya.
"Duh, benar-benar ini mas Bryan balas dendam sama aku. Semalam hanya istirahat satu kali, dan mulai lagi sampai jam tiga baru selesai. Apa sekuat itu ya tenaganya?" gumam Kirana.
__ADS_1
Dia lalu melangkah pelan karena rasa lelah dan mengantuk dia rasakan. Untuk membersihkan diri dan juga menunaikan kewajiban di pagi hari.
Lama dia membersihkan diri, hingga Bryan menggeliat dan tangannya meraba di sisinya. Mencari istrinya, tapi ternyata sudah tidak ada. Bryan membuka matanya melihat ke arah kamar mandi, dan Kirana pun keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk saja dengan rambut basahnya.
Dia melihat suaminya sudah bangun dan menatapnya dengan senyum di bibirnya.
"Selamat pagi sayang." sapa Bryan dengan suara seraknya.
"Pagi juga mas. Aku mau sholat dulu, tapi kok ngga ada mukenah ya." kata Kirana.
"Hemm, sebaiknya nanti saja sholatnya sayang."
"Ngga bisa begitu, bisa tidak minta sama petugas penginapan di sini?" tanya Kirana.
"Telepon aja, bilang minta di bawakan mukena."
"Tapi ini bajuku harus ganti mas."
"Aku udah bawa baju ganti kamu kok, tapi belum aku bawa kemari. Masih di mobil. Nanti aku ambil."
Kirana pun menelepon bagian petugas penginapan untuk minta mukena. Tak berapa lama, petugas datang, Bryan yang membuka pintunya dan menerima mukena yang di minta istrinya.
"Ini mukenanya, cepat sholat lalu bantu aku juga mandi." kata Bryan.
"Tinggal mandi sendiri aja, kenapa harus minta bantuan sama aku?"
"Udah kamu nurut aja, cepat sholat." kata Bryan.
Kirana pun menurut, dia segera sholat subuh dengan khusyuk. Tiga menit dia sholat dan selesai, di lepas mukenanya dan di letakkan di gantungan baju.
"Mana mas bajunya? Kamu yang ambil baju di mobil?"
"Iya, tapi kamu bantu aku mandi dulu ya."
"Lho, kan biasanya kamu bisa mandi sendiri. Aduuh maas, ih kenapa di tarik tanganku." kata Kirana, tangannya memegang handuk yang hampir lepas.
Sedangkan Bryan mengajak Kirana masuk ke dalam kamar mandi, dia lalu melepas handuk yang di pakai Kirana. Secepat kilat dia menarik tengkuk Kirana dan ******* bibirnya, membuat Kirana kaget.
Dan seperti biasa tangan Bryan menjalar kemana-mana. Meski masih terasa lelah, Kirana pun kali ini meladeni lagi suaminya di kamar mandi di bawah shower.
Keduanya pun saling mengeluarkan lenguhan panjang menikmati beberapa kali sentuhan tubuh masing-masing.
Dan tak lama, Bryan memasukkam senjatanya sambil berdiri. Dia mengangkat tubuh istrinya dan mulai menggoyangkan tubuhnya.
"Aaah, maas. Apa kamu tidak merasa lelah, uuuh." kata Kirana.
__ADS_1
"Ngga sayanhg, eeeuuh. Ini sangat nikmat dan menyenangkan tidak bisa aku lewatkan. Bercinta membuatku semakin semangat sayang, aaaah."
Mereka kini bermain lagi di kamar mandi, memberikan kenikmatan yang entah sudah berapa kali sejak semalam.
Bryan lupa akan tugasnya mencangkul di sawah pagi ini. Dia tidak peduli, yang jelas hari ini dia dapat vitamin dari istrinya. Tugas mencangkul bisa dia lakukan setelah kegiatan panasnya dan sarapan pagi di penginapan.
"Semoga benihku tumbuh di rahimmu sayang, eeuuh aaah."
"Iiiya mmaaaas, euuh. Kamu mau pingin punya anak dariku? Euuh."
"Tentu saja sayang, aku mengharapkan anak darimu. Sssht aah."
Percakapan dan kegiatan panas terus bergema di dalam kamar mandi. Entah Bryan tidak merasa lelah memangku Kirana dengan bobot lima puluh lima itu, namun Bryan sangat gesit dengan kegiatannya itu.
Hingga jam tujuh pagi, kegiatan panas di kamar mandi pun selesai. Mereka melakukannya di bak mandi dan juga di bawah guyuran shower.
Setelah selesai, keudanya pun segera sarapan pagi di bagian restoran di penginapan itu. Wajah sumringah Bryan dan selalu mengecup kening, bibir dan pipi Kirana karena dia sangat bahagia dengan istrinya itu.
"Kamu bahagia sayang?" tanya Bryan pada Kirana.
"Ya, tentu mas. Kamu sendiri, apa bahagia menikah denganku?" tanya Kirana menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tentu saja, meski pun ayahmu masih tidak menyukaiku." kata Bryan.
Kirana menatap suaminya dengan merasa bersalah dan tidak enak.
"Mas, maafkan ayah ya. Ayah seperti itu karena dia sangat sayang sama aku." ucap Kirana.
"Kamu jangan khawatir, aku tidak dendam kok. Aku tahu ayah sebenarnya peduli padaku, tapi mungkin caranya saja seperti itu. Dan aku ngga dendam kok, kamu jangan khawatir ya. Aku mencintai anaknya dan harus menerima ayah seperti itu." kata Bryan.
"Uuuh, so sweey banget suamiku ini." kata Kirana dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Beri aku ciuman sayang, aku ini baik hati dan tidak sombong. Dan yang penting sangat mencintaimu."
Kirana pun tersenyum, dia lalu memajukan wajahnya dan mencium pipi suaminya dengan lembut, lalu menengok kanan kiri. Setelah tidak ada orang yang melihatnya, Kirana pun mencium bibir suaminya beberapa kali.
"Sudah ya, lunas. Heheh."
_
Promo novel lagi kaka, yuk mampir kemari..😉😊
_
__ADS_1
_
*************