Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
85. Menyelamatkan Kania


__ADS_3

Danisa pulang dari kuliahnya, dia berjalan dengan dua orang temannya menuju parkiran. Danisa berangkat menggunakan motor, sudah lama dia tidak memakai motor yang di berikan oleh Morgan padanya dulu sewaktu masih awal kuliah. Danisa ingin tahun ini dia lulus kuliah dan minimal dia ingin bekerja di perusahaan milik Bryan yang ada di Batam dengan kakaknya Morgan.


Dia juga sudah bicara pada Morgan, kalau mau ikut bekerja dengannya. Kakak iparnya juga sudah boyong ke Batam, jadi dia di kota tinggal sendiri. Kedua orang tua Danisa sudah meningal, hanya Morgan yang membantunya membiayai kuliah selama ini.


Meski pun kuliah di biayai oleh Morgan, sedikit-sedikit Danisa membuat hasil kerajinan untuk menambah uang kuliahnya. Dan itu pun jika ada pesanan saja, tidak selalu dia buat setiap hari. Kemudian sekarang dia mulai membuat lagi, seperti biasa. Hanya membuat untuk orang memesan saja dan uangnya juga cukup lumayan.


"Danisa, aku gue duluan ya." kata temannya yang naik mobil.


"Ya, gue juga mau pulang kok. Ada sedikit kerjaan juga di konrtakan." kata Danisa.


"Oke, by."


"By."


Danisa lalu memakai helmnya, dia lalu menyalakan mesin motor lalu melajukannya menuju kontrakan barunya. Dia sudah pindah kontrakan, tidak di tempat yang bebas siapa saja menginap karena pemiliknya juga tidak mempermasalahkan.


Tapi sekarang, dia pindah kontrakan ke kost khusus putri dan memang sedikit ketat. Meskipun agak mahal, tapi dia bisa lebih nyaman tinggal di kotrakan barunya. Danisa melajukan motornya dengan cepat, dia melihat sisi kanan kiri jalanan lumayan sepi.


Di tepi jalan ada seorang seperti pengasuh yang sedang memegang lengan tangan gadis kecil berusia sama dengan Missel. Anak kecil itu seperti menangis dan memberontak ingin lepas dari cengkeraman tangan pengasuh itu.


Danisa melihat perempuan itu membentak gadis kecil itu, dan dia menangis. Tanpa menunggu lagi, Danisa menghampiri perempuan itu. Dia memarkirkan motornya agak jauh agar perempuan itu tidak lari ketika tahu dia akan menolong gadis kecil itu.


Setelah turun, Danisa berlari dan menarik anak kecil yang menangis karena tadi dia sempat melihat di tampar keras oleh perempuan itu. Jiwa penyelidiknya keluar, dia pun membawa anak kecil dan menendang perempuan itu hingga jatuh.


"Ayo ikut tante, dia penculij anak kan?" tanya Danisa pada anak kecil itu.


"Iya tante, dia tadinya pengasuhku. Aku kira mau di bawa kemana, ternyata aku mau di bawa pergi. Hwuaaa!" jawab anak kecil itu kembali menangis.


"Sudah jangan menangis lagi. Kamu namanya siapa cantik?" tanya Danisa.


"Kania tante, rumahku jauh. Papa sedang kerja di kantor." ucap Kania.


"Oh, gitu ya. Papa kamu tahu tidak kalau pengasuh itu membawa kamu pergi?"


"Ngga tante, mbak Suni itu baru seminggu jadi pengasuh aku tante. Papa ngga tahu aku di bawa pergi mbak Suni." jawab Kania.


"Kasihan sekali, sekarang penculikan anak modusnya jadi pengasuh ya." kata Danisa.


"Tante ngga mau culik aku lagi kan?" tanya Kania merasa takut.


"Ngga sayang, tante akan antar kamu ke rumahmu ya. Di daerah mana rumahnya?"


"Di kompleks Permai Indah tante." jawab Kania.


"Itu kan kompleks perumahan Bruno, siapa nama papanya?"

__ADS_1


"Papa Daniel."


"Waah, kebetulan banget. Tante ini temannya papa Daniel, baiklah. Tante akan antar Kania pulang ke rumah ya, tenang aja. Tante ngga menculik Kania kok." kata Dansa.


Motor Danisa melaju dengan kecepatan sedang, daerah rumah Kania dia hafal karena sering juga ke daerah kompleks itu ke rumah Bruno. Tapi dia tidak tahu nomor berapa rumah Daniel.


"Rumahnya di mana Kania?"


"Masuk lagi tante, sebentar lagi sampai kok. Nah itu yang gerbang besi besar rumah aku." kata Kania.


Motor Danisa berhenti di depan pintu gerbang yang kebetulan terbuka, di halaman rumah ada mobil hitam terparkir. Satpam rumah pun kaget, dia menghampiri Kania.


"Non Kania, alhamdulillah akhirnya pulang. Papa Daniel mencari non Kania, ayo masuk." kata satpam.


"Iya pak Joni, aku di selamatkan tante ini." kata Kania.


Kania turun dari motor Danisa, dia tersenyum saja. Lalu memarkirkan motornya di depan pos satpam. Ikut masuk ke dalam rumah dengan satpam dan Kania.


Daniel pun keluar dari dalam rumah, dia kaget dan berlari menghampiri anaknya yang juga berlari ke arahnya.


"Papa!"


"Kania, kamu pulang sayang. Papa khawatir dengar kamu di bawa oleh pengasuh Suni itu." kata Daniel memeluk anaknya erat.


"Kamu yang menyelamatkan Kania?" tanya Daniel.


"Iya tuan, saya tadinya melihat Kania di bawa paksa sama pengasuh dan dia juga menampar Kania sampai menangis. Saya curiga kalau Kania itu korban penculikan anak dengan berkedok pengasuh baby sitter." kata Danisa.


"Syukurlah kamu yang peka dengan keadaan sekitar. Terima kasih ya kamu menyelamatkan putriku." kata Daniel.


"Iya, saya juga tidak bisa melihat anak kecil menangis. Jadi saya ikuti perempuan itu, untungnya belum naik mobil angkot." kata Danisa lagi.


"Masuklah dulu, kita bicara di dalam saja." kata Daniel.


Danisa pun mengangguk, dia mengamati rumah besar milik Daniel itu. Masuk ke dalam rumah dan menuju ruang tamu. Pembantu Daniel membawa minuman dan juga cemilan di meja tamu itu. Sementara Daniel menelepon kantornya kalau siang ini dia tidak kembali lagi ke kantor.


"Ya, saya tidak kembali lagi ke kantor, Meri. Anakku sudah ketemu." kata Daniel pada sekretarisnya.


"Biak pak, nanti saya rapikan berkas yang ada di meja kerja pak Daniel." kata Meri.


"Ya, kamu simpan berkas warna putih di lemari ya. Karena berkas itu belum saya periksa." kata Daniel lagi.


"Iya pak, saya mengerti."


"Karyawan boleh pulang lebih awal kalau tidak lembur ya."

__ADS_1


"Iya pak."


"Ya sudah, saya tutup."


Klik!


Daniel menutup sambungan teleponnya dan menuju ruang tamu menemui Danisa. Dia harus berterima kasih pada Danisa yang telah menyelamatkan anaknya itu, tapi Danisa rupanya tidak bisa lama-lama karena dia ada pekerjaan di kontrakannya.


"Tuan Daniel, saya tidak bisa lama-lama. Saya ada tugas di kontrakan." kata Danisa.


"Kenapa buru-buru? Saya mau mengobrol sama kamu dulu Danisa, saya juga belum berterima kasih sama kamu." kata Daniel lagi.


"Kan tadi tuan Daniel sudah mengucapkan terima kasih. Bagi saya itu juga sudah cukup kok, dan yang penting anak tuan sudah kembali dengan selamat." kata Danisa lagi.


"Danisa, bisa tunggu sebentar?" Daniel meminta.


Danisa menghela nafas panjang, melirik jam tangannya. Sudah pukul tiga sore, lalu dia mengangguk.


"Sebentar saja tuan Daniel, karena saya juga punya pekerjaan yang sedang di tunggu." kata Danisa lagi.


"Baiklah, lain kali saja saya bicara sama kamu. Emm, bisa minta nomor ponselmu?" tanya Daniel.


"Bisa tuan, tapi untuk apa?"


"Untuk di simpan dan bisa menghubungimu tentunya." kata Daniel.


Danisa tersenyum, dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan pada Daniel. Daniel menulis nomor ponsel Danisa, setelah selesai dia mengembalikan ponsel Danisa.


"Terima kasih, lain kali aku ajak makan siang untuk rasa terima kasihku sama kamu." kata Daniel.


"Terserah anda. Kalau begitu, saya permisi pulang dulu."


"Apa saya antar sampai ke kontrakanmu saja?"


"Saya bawa motor tuan, lain kali saja."


Danisa lalu pergi dari rumah Daniel, dia menaiki motornya dan menggunakan helmnya. Tersenyum pada Daniel dan berlalu setelah melambaikan tangan pada laki-laki itu. Daniel pun menghela nafas panjang, dia masuk ke dalam rumah dan menemui Kania anaknya yang kini sedang tertidur.


_


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2