Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
38. Eksekusi Lagi


__ADS_3

Malam kian larut, keduanya pun istirahat lebih dulu. Tidur saling berpelukan, merasakan kebahagiaan yang tidak tara. Meski Kirana merasa perih di bagian baeahnya, namun dia merasa senang bisa memberikan keperawanannya pada suaminya.


Bryan, laki-laki yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang ketika melihat tubuh seksi dan kekarnya. Tangan Kirana meraba dada Bryan yang kekar itu, sudah lama dia ingin memegang tubuh Bryan yang kekah dan atletis itu.


Bryan yang merasa tangan Kirana meraba dadanya jadi tergoda, kini juniornya menegang lagi. Dia menangkap tangan Kirana dan menghentikan aksinya meraba dadanya. Kirana mendongak, dia melihat wajah Bryan masih terpejam.


Lalu Kirana mengulang kembali meraba dada Bryan, kini turun ke bagian perut yang seperti roti sobek, merabanya dengan lembut. Rasanya seperti mimpi dia bisa memegang tubuh kekar yang hanya bisa dia lihat dan membayangkannya saja.


"Turun ke bawah sayang tangannya." kata Bryan masih memejamkan matanya.


Kirana mengerutkan dahinya heran. Tapi tangannya masih di bagian perut sikspek suaminya lalu naik lagi ke wajah Bryan, Kirana benar-benar menikmati tubuh suaminya lalu dia pun tersenyum malu. Dan menarik tangannya.


"Kenapa berhenti? Kamu sedang mengagumi tubuhku?" tanya Bryan.


Kirana diam, dia malu sekali. Namun tangannya di tahan Bryan agar dia tidal lagi meraba kemana mana, juniornya benar-benar tegang sekali. Dia menghelan nafas panjang.


"Uh, rasanya tersiksa menahannya." ucap Bryan.


"Apa yang tersiksa?"


Tangan Kirana di pegang Bryan dan di tuntunnya menuju ke bawah. Kirana menyenggol bagian yang panjang dan keras, dia tertegun. Di eratkan tangannya agar tidak menyentuh benda panjang dan keras itu. Tapi Bryan malah membuka genggaman tangan Kirana dan malah di suruh memegang miliknya.


"Uurgh, sayang ini tegang banget. Coba kamu pegang." kata Bryan.


"Apa sih, ngga mau!" kata Kirana merasa malu.


"Tapi aku tersiksa sayang, butuh di belai." ucap Bryan dengan vulgarnya.


Kirana masih diam, dia tidak mau memegang benda milik Bryan. Dan kali ini Bryan malah mendorongnya ke bagian inti Kirana, sangat keras benda itu. Membuat Kirana tergoda, Bryan terus mendorongnya pelan dan memaksa.


"Papi Missel, masih sakit." kata Kirana merajuk, tapi dia menikmatinya juga.


Dan akhirnya Bless!


"Aaaaa, eeeuh."


Suara lenguhan Kirana kembali terdengar. Bryan pun menggoyangkan pinggulnya dengan lembut. Mereka kini menikmati percintaannya yang ke sekian kali.


Tangan Bryan satunya memeluk Kirana, bibirnya terus saja mengecup bibir Kirana yang terlihat sensional dan selalu mengeluarkan suara ******* beberapa kali. Dan tangan satunya terus memijat kedua gunung kembar milik istrinya secara bergantian. Mata Kirana terpejam menikmati permainan Bryan yang ke sekian kali, meski rasa lelah dan sakit tapi dia juga menikmatinya karena sentuhan Bryan benar-benar membuainya.


"Kamu tahu, melihatmu saja aku selalau tergoda sayang, eeuuh." ceracau Bryan.


"Aku gadis biasa, euuuh aaah."


"Tapi cuma kamu yang membuatku selalu ingin menyentuhmu, sayang. Aaaaah, sayang kamu membuatku gila. Aaaaah, ini sangat nikmaat sekali sayang maminya Missel. Euuuh aaah."


"Aku mau keluar, aaaahh sshh!"


"Keluar aja sayang, aku masih mau menikmati ini."

__ADS_1


Bryan terus memaju mundurkan lagi pinggulnya. Sampai Kirana mencapai puncak beberapa kali Bryan belum selesai juga. Bahkan dia seperti tidak mau selesai lebih cepat karena kenimatannya tiada tara baginya.


Kirana sampai terkulai lemas, Bryan masih saja memainkannya. Hingga dia merasa kasihan pada Kirana, akhirnya dia keluar juga. Tubuhnya menegang hebat, memeluk Kirana dengan erat.


"Aaaaah, eeuuurgh aaaaah!"


Dan kini Bryan terkulai di samping istrinya yang lebih dulu lemas. Dia mengecup kening Kirana yang terpejam matanya.


"Terima kasih sayang, cup."


Dia mendekap Kirana dengan erat, dia benar-benar merasakan kebahagiaan dengan Kirana.


"Capek ya?" tanya Bryan.


"Iya. Aku ngga kuat mas."


"Maaf ya, tapi tadi kamu yang mulai dulu."


"Tapi aku kan cuma meraba aja di perut." kata Kirana.


"Itu yang membuat juniorku bangun sayang. Sejak tadi sudah tegang dan pengen masuk ke dalammu, jadinya aku ngga tahan ingin bercinta lagi denganmu." kata Bryan tersenyum.


Kirana diam, dia memeluk suaminya. Kepalanya di dada Bryan untuk mencari kenyamanan di sana.


"Besok ngga usah ngantar Missel ke sekolah."


"Kenapa?"


"Nanti kamu ngga bisa jalan, kan sakit itunya."


Kirana menatap suaminya, terasa ketampanannya naik dua kali lipat dengan peluh di bagian lehernya.


"Nanti Missel tanya kenapa aku ngga bisa antar dia ke sekolah." ucap Kirana.


"Nanti aku bilang maminya sedang sakit. Udah nurut aja kalau ngga mau malu nantinya." kata Bryan semakin mendekap tubuh polos Kirana.


Keduanya pun kini mengantuk, mereka akhirnya tertidur saling berpelukan dalam selimut hangat.


_


Pagi pun tiba, pukul setengah enam Kirana baru bangun dari tidurnya. Dia membuka matanya, Bryan masih di dekatnya dengan memeluknya. Wajah Kirana memerah mengingat percintaan panasnya dengan suaminya semalam.


Dia tersenyum dan menatap wajah Bryan yang masih terlelap.


"Kenapa aku suka sama duda beranak satu ini ya? Cinta memang tidak bisa di tentukan, terkadang yang terlihat angkuh malah sekarang jadi suamiku dan aku mencintainya. Aku tidak percaya terjerat cinta duda yang sangat hot ini, hihihi ..." gumam Kirana menutup mulutnya dengan tangannya.


"Karena duda ini berkualitas tinggi, jadi kamu tertarik padaku." ucap Bryan.


Kirana kaget dengan sahutan Bryan, matanya masih terpejam. Namun kemudian dia membukanya dan tersenyum pada Kirana.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang, cup." sapa Bryan dengan lembut.


"Pagi juga mas." sahut Kirana.


Keduanya saling menatap, tangan Bryan membelai pipi Kirana pelan.


"Kamu cantik sayang, aku semakin cinta sama kamu."


"Gombal banget sih."


" Hahaha, aku ngga gombal, siapa coba yang aku gombalin selain kamu. Aku juga ngga pandai menggombal."


"Yakin? Lha itu, Laudya dia masih juga dekat-dekat kamu terus. Mungkin kamu sering gombalin dia mas."


"Laudya itu perempuan tidak tahu diri, dia juga murahan. Dan lagi buat apa aku menggombal sama perempuan seperti itu, yang ada aku muak banget sama dia." kata Bryan.


"Tapi kenyataannya dia selalu menempel sama kamu mas, dia sepertinya terobsesi denganmu."


"Ya, tapi percaya sama aku. Yang aku cinta cuma kamu, aku juga bercinta setelah almarhum istri pertamaku meninggal tidak pernah melakukan selain sama kamu." kata Bryan.


" Tapi kamu tidak menolak dia menciummu, bahkan membalasnya." kata Kirana.


"Hemm, jadi istriku ini sedang cemburu?"


"Tentu saja, dia kan terobsesi sama kamu."


"Tapi sejak menikah, aku ngga pernah mau membalas atau menerima ciuman dia."


"Harus, kamu sudah punya aku. Kalau tidak akh yang akan marah dan mendampratnya langsung."


"Begitukah? Aku ingin lihat kamu mendamprat Laudya, segarang apa istriku ini."


"Kamu belum tahu siapa aku?"


"Tentu, kamu itu Kirana yang jutek namun baik hati. Aku menyukai pribadimu, maminya Missel. Dan kamu tahu, baru kamu yang bisa menarik perhatian Missel dan menaklukkannya. Makanya aku suka sama kamu dan mencintaimu."


"Hanya karena Missel?"


"Tidak, aku benar-benar mencintaimu sebagai Kirana Prameswari."


Pagi ini keduanya mengobrol tentang perasaan dan Luadya. Kini Bryan pun bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk mandi. Kirana masih meringkuk, dia mencoba untuk bangkit namun ternyata bagiaj bawahnya benar-benar sakit dan perih.


"Apa sesakit ini bercinta pertama kalinya?" gumam Kirana sambil meringis sakit.


Namun dia pun kembali berbaring, tubuh polos berselimut itu pun terbaring lagi. Di lihatnya bagian dadanya, ada tanda merah beberapa titik membuat Kirana malu. Namun dia pun menutup kembali selimutnya dan memejamkan matanya lagi.


_


_

__ADS_1


__ADS_2