Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
81. I Love You Istriku


__ADS_3

"Kirana, nanti siang mama mau ajak kamu ke butik untuk fitting baju. Bisa kan sayang?" tanya nyonya Kalina.


"Bisa ma, cuma fitting baju aja kan?" kata Kirana.


"Iya, mama kasihan kalau kamu harus mama bawa untuk membeli beberapa pernak pernik di toko langganan mama. Perut kamu besar banget, pasti melelahkan jika harus di bawa kemana-mana." kata nyonya Kalina lagi.


"Iya ma, ngga apa-apa." jawab Kirana.


"Nanti dekorasi dan tema resepsi pernikahan kalian terserah mama aja ya. Mama jamin semua yang terbaik untuk kalian."


"Terserah mama aja, aku tidak masalah mama yang urus semuanya. Lagi pula, Kirana ngga mungkin juga harus di bawa kemana-mana." kata Bryan.


"Ya, maksud mama, nanti semuanya mama yang urus itu kalian tinggal mengikuti saja. Dan kartu undangan biar kamu yang pilih Bryan, bisa kok ajak istri kamu memilih modelnya." kata nyonya Kalina.


"Iya ma, setelah fitting baju nanti aku akan bawa Kirana memilih model undangan nanti." ucap Bryan.


"Itu bagus, di sana juga tidak banyak berjalan kan."


"Ya, hanya duduk aja kok."


"Oh ya, ayah dan ibu kamu sudah di beritahu Kirana?" tanya mertuanya itu.


"Sudah ma, katanya tiga hari sebelum pesta resepsi mereka datang ke sini." jawab Kirana.


"Iya, mama belum kenalan dan juga bicara dengan kedua orang tuamu. Maafkan mama ya, Kirana."


"Ngga apa-apa ma, beliau juga memaklumi mama kok." kata Kirana.


Obrolan seputar persiapan pesta resepsi pernikahan Kirana dan Bryan terus berlanjut malam itu. Sangat menyenangkan dia mengobrol dengan mertuanya, bukan hanya masalah resepsi yang di bicarakan. Apa saja, dan tentu membicarakan masalah suaminya. Serta mantan istrinya yang sudah meninggal itu.


Ada rasa cemburu pada mantan istri Bryan, perlakuan Bryan dulu dengan almarhum istrinya di ceritakan pada Kirana oleh nyonya Kalina. Bryan melihat perubahan wajah Kirana mendengar cerita mamanya, dia tahu istrinya sedang cemburu dari raut wajahnya.


Dan kini Bryan menyudahi obrolan mengenai almarhum istrinya dulu, maminya Missel.


"Ma, kami ke kamar dulu. Kasihan Kirana mau istirahat. Ini juga sudah jam sepulu lewat." kata Bryan.


"Ooh, iya ya. Mama keasyikan ngobrol dengan istrimu. Ya sudah, sana istirahat dulu. Kasihan Kirana sepertinya memang lelah." kata nyonya Kalina.


"Iya ma, kalau begitu kami masuk ke kamar dulu."


"Iya."


Bryan membantu istrinya berdiri, Kirana pun menurut. Bryan menuntun Kirana untuk naik tangga dan masuk ke dalam kamar mereka. Sejak tadi Kirana hanya diam saja, tidak bicara apa pun. Sampai di kamar pun dia langsung ke ranjangnya dan berbaring lalu meneyelimuti seluruh tubuhnya sampai dada.


Bryan masuk ke kamar mandi, dia ingin buang air kecil. Kirana menoleh ke arah Bryan menuju kamar mandi, lalu kembali semua. Dengan perasaan kesal, Kirana membuang nafas kasar.


"Ternyata dia masih mencintai istrinya dulu? Kenapa tidak bicara padaku? Lalu, aku ini apa?" gumam Kirana.

__ADS_1


Emosi ibu hamil memang kadang naik turun, seperti Kirana sekarang. Dia cemburu dengan hal yang tidak sebaiknya dia lalukan. Sepele, tapi sepertinya Bryan memang harus menjelaskan pada istrinya itu.


Bryan keluar dari kamar mandi, dia melihat Kirana masih di posisi yang sama. Tidur membelakanginya. Dia pun tersenyum, Bryan tahu istrinya kesal padanya.


Dia lalu naik ke ranjang, merapat pada Kirana dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, kamu tidur?" tanya Bryan.


Kirana diam saja, dia memejamkan matanya untuk menghindar dari tatapan suaminya. Dan tentu saja Bryan tidak bisa membiarkan istrinya tidur, dia harus menenagkan istrinya lalu nanti minta jatah padanya.


"Sayang, kok diam. Aku tahu kamu pura-pura tidur." kata Bryan.


Bryan pun menarik lengan Kirana agar menghadapnya. Kirana mencoba bertahan, namun Bryan tidak mau menyerah. Dan akhirnya Kirana membuka matanya, menatap suaminya tajam.


"Kenapa sih? Aku kan mau tidur?" kata Kirana ketus.


"Kamu marah sama aku?"


"Marah kenapa?"


"Tuh, mukanya masam begitu."


"Ngga kok, udah deh aku mau tidur."


Kirana berbalik lagi, namun Bryan menahannya, dia mencium lembut bibir istrinya. Mencoba menenangkan hatinya yang sedang gelisah dan kesal padanya. Lama mereka brrciuman, hingga Kirana mendorong dada suaminya itu.


"Udah mas, sesak." kata Kiran.


"Sayang, tayap aku?" kata Bryan.


Kirana menoleh lalu kembali semula. Bryan kembali mencium bibir istrinya lagi, Kirana belun juga hilang kesalnya. Bryan pun menahan wajah Kirana untuk tetap menatap padanya.


"Aku tahu kamu marah karena cerita mama tadi kan?"


"Ngga kok, itu wajar aja kan kamu seperti itu yang merasa kehilangan orang yang kamu sayang."


"Lalu, kenapa kamu marah sama aku seperti itu kalau itu wajar? Hem?"


"Ya, aku ...." ucapan Kirana terputus.


"Kenapa?"


"Kamu sepertinya merasa kehilangan sekali dengan meninggalnya almarhum istrimu, lalu kamu? Apa kamu masih merasa kehilangan dia atau masih punya rasa ingin bertemu dengannya meski dia sudah meninggal?"


Bryan mengerutkan dahinya, aneh dengan ucapan istrinya itu. Cemburu yang tidak pada tempatnya menurutnya.


"Tapi dia sudah tidak ada, buat apa di harapkan lagi. Mending aku mikirin kamu yang selalu ada buat aku sekarang. Kenapa memikirkan orang yang sudah tidak ada?" ucap Bryan.

__ADS_1


"Ya tadi, mama bilang kamu sangat terpukul sampai berbulan-bulan hanya minum-minuman di kantor. Itu sangat menyakitkan kan? Dan kamu juga masih sering mengunjungi makam almarhum istrimu." kata Kirana beralasan.


Bryan kembali tesenyum, dia lalu mendekap istrinya dari samping, di cium pelipisnya lalu menatap Kirana.


"Kamu tahu perbedaan kamu dengan almarhum Risa?"


"Apa? Jangan membandingkan aku dengan perempuan lain mas, aku ngga suka."


"Mau tahu tidak?"


"Apa sih?"


"Risa itu memang meskipun dia masih muda, dia energik. Mengurus salon-salonnya sendiri dan terkadang dia lama meninggalkan Missel yang masih membutuhkan maminya. Meskipun eang dulu aku mencintai dia, aku membebaskan dia seperti itu. Di samping omanya Missel juga ikut membantunya."


"Terus, apa perbedaannya?"


"Perbedaannya adalah, sekarang aku merasa bahagia menikah denganmu, sangat bahagia. Bisa menerima Missel seperti anakmu sendiri, melayaniku tanpa banyak protes. Dan, ..."


Kalimat Bryan menggantung, membuat Kirana penasaran.


"Dan apa? Kamu suka banget bikin orang penasaran deh mas."


"Dan kamu itu hot sayang."


"Ish, itu aja yang kamu pikirkkan."


"Hahah, benar sayang. Kamu memang hot dan seksi." ucap Bryan seperti menggoda Kirana.


Tangannya mulai bergerilya di bagian perut bawahnya.


"Mas, apa sih. Pasti ada maunya, jadi kamu hanya berpikir seperti itu saja tentangku? Mencintaiku karena aku selalu tidak protes melayanimu?" kini mode marah Kirana membuat Bryan kaget.


Dia lalu menarik tangannya dari bagian bawah Kirana. Dia menatap istrinya yang masih kesal padanya.


"Bukan sayang, bukan itu yang aku pikirkan. Kamu itu unik dari Risa, entah kenapa perasaan cintaku sama kamu itu sangat besar. Kamu membuatku lupa tentang segalanya, yang aku pikirkan cuma kamu. Jadi semuanya tentang kamu, kamu adalah cintaku yang terbesar di hatiku sayang." kata Bryan.


"Gombal!"


"Benar sayang, buktinya aku selalu ingin menyentuhmu, dan selalu ingin lagi dan lagi."


"Aaaah, kamu apa sih yang di bicarakan mas?"


"I love you Kirana istriku. Cup."


_


_

__ADS_1


_


******************


__ADS_2