Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
75. Ternyata ...


__ADS_3

"Sudah selesai sayang?" tanya Bryan.


"Sudah mas, ayo kita turun ke bawah. Mungkin mama menunggu lama di bawah." kata Kirana.


Mereka pun keluar kamar dan turun tangga untuk makan malam. Nyonya Kalina sudah ada di meja makan bersiap makan sendiri. Dia menoleh ketika Bryan dan Kirana datang untuk bergabung makan malam.


"Kalian mau makan malam di sini?" tanya nyonya Kalina.


"Iya ma, Kirana ingin makan di sini dengan mama." kata Bryan.


"Mi, kok lama turunnya?" tanya Missel.


"Mami baru bangun tidur sayang." jawab Kirana dengan senyumnya.


Kirana duduk di sebelah Missel dan segera menyuapkan anak kecil itu. Missel senang bisa makan malam dengan Kirana. Nyonya Kalina melihat lauk pauk ternyata kurang, dia pun memanggil Mimin untuk menambah menu makanan.


"Min, siapkan juga piringnya dan di tambah lauknya." teriak nyonya Kalina.


"Iya nyonya." jawab Mimin.


Kirana duduk dengan Bryan bersebelahan, menunggu piring datang dan juga tambahan lauk pauknya. Setelah sudah lengkap, baru Kirana dan Bryan pun mengambil nasi serta lauk pauknya. Kirana melayani mengambil nasi serta lauknya, dia senang melakukan itu. Melayani makan suaminya di meja makan.


"Bagaimana dengan gadis murahan itu? Apa kamu sudah memberikan dia pelajaran?" tanya nyonya Kalina menyuapkan makanannya ke mulutnya.


"Tunggu besok ma, aku ingin membeli sebagian saham perusahaannya. Jadi aku ingin dia di depak dari perusahaan itu, dan membiarkannya jadi miskin." jawab Bryan.


"Itu bagus, membalas tanpa menyentuh. Baiklah, mama akan melihat kehancuran gadis itu." kata nyonya Kalina.


"Ya ma, rencananya minggu depan akan mengadakan rapat pimpinan baru di Batam. Perusahaan itu memang ingin kumiliki, tapi karena aku malas bekerja sama dengan Laudya. Jadi aku menunggu perusahaan itu krisis keuangan." kata Bryan.


"Tapi mama lihat perusahaan itu dalam keadaan stabil."


"Ya, Morgan mencari tahu pemegang saham itu dan langsung membeli saham yang mau di jual. Lumayan, aku dapat lima puluh persen." kata Bryan.


Kirana mendengar pembicaraan yang dia tidak mengerti hanya diam saja. Menyuapkan makanannya dengan pelan sambil mendengarkan pembicaraan antara anak dan ibu itu.


"Mama sudah kenyang, Missel selesai makan langsung tidur ya." kata nyonya Kalina.

__ADS_1


"Iya oma, nanti sama mami." jawab Missel.


Mereka makan dengan lahap, karena pencernaan Kirana sedang baik. Dan kini semua sudah selesai makan, Mimin dan Nur merapikan meja makan dan membereskan sisa makanan serta piring yang sudah di gunakan.


"Sayang, ayo kita ke kamar." kata Bryan pada Kirana.


"Nanti mas, mau antar Missel ke kamar dan menemaninya tidur dulu." kata Kirana.


"Iya pi, kan udah lama mami ngga temenin Missel tidur pi. Mami sekarang jarang membaca cerita dongeng." kata Missel.


"Ya udah, papi ke ruang kerja aja dulu. Nanti mami langsung ke kamar aja ya kalau udah selesai?"


"Iya pi."


Kirana dan Missel naik tangga dan langsung ke kamarnya Missel, sedangkan Bryan menuju ruang kerja untuk melihat laporan Morgan tentang saham yang sudah dia beli tadi siang.


_


Bryan dan Morgan sedang naik pesawat menuju pulau Batam. Dia akan bertemu direktur perusahaan di sana yang telah dia beli sahamnya. Dia membayangkan Laudya akan kaget ketika dia datang untuk mengambil alih perusahaannya.


Mereka tidak tahu yang membeli sahamnya adalah Bryan. Dan Laudya pun kalang kabut, dia mencari tahu siapa yang membeli saham-saham perusahaannya. Namun, tidak juga ketemu. Karena yang dulu pemegang saham itu juga tidak tahu siapa yang membeli sahamnya.


Dan direktur utama itu juga mengatakan pada para pegawai, kalau dirinya sudah tidak bisa memegang perusahaan. Nantinya akan di ambil alih oleh seseorang yang membeli saham sebesar lima puluh persen dari keseluruhan saham di perusahaan elektronik itu.


"Sial, siapa yang membeli saham-saham perusahaanku?" tanya Laudya ketika dia ada di kantor.


sebelum sahamnya di beli, Laudya melihat perusahaannya sedang stabil dan juga pasar saham juga sedang bagus. Tapi kenapa rekan-rekan pemegang sahamnya itu pada menjualnya, pada siapa mereka menjualnya? Laudya masih penasaran.


Dan ketakutannya terjadi, dia hanya memegan tiga puluh persen saham di sana. Sedangkan yang membeli sahamnya itu lima puluh persen, lebih besar miliknya.


"Kenapa pak Anton tidak menjual padaku?" gumam Laudya yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Tok tok tok


"Masuk!"


Sekretaris Laudya pun masuk, dia meberima laporan dari sekretaris akan ada pimpinan baru yang telah memegang saham paling banyak di perusahaannya. Laudya geram, siapa dia?

__ADS_1


"Kapan dia datang kemari?" tanya Laudya masih kesal sekali.


"Mungkin siang ini jam dua siang, karena beliau berangkat dari Jakarta jam delapan pagi." kata sekretaris Laudya.


"Bukankah perjalanannya itu singkat, kenapa datang jam dua siang?"


"Kurang tahu nona, mungkin pimpinan baru nanti makan siang lebih dulu." kata sekretaris itu.


"Ck, biar aku sendiri bicara padanya. Jangan mentang-mentang memilik saham lebih beaar di perusahaan ini dia akan seenaknya sendiri." kata Laudya.


Laudya kesal sekali karena orang yang membeli sahamnya tidak bicara lebih dulu dengannya. Melalui telepon pun tidak masalah atau video call, agar tahu apa maunya membeli sahamnya itu.


Sejujurnya Laudya itu takut akan kehilangan jabatan. Karena dengan menjabat direktur di perusahaan bagian produksi, dia akan leluasa menjual secara diam-diam produk elektroniknya ke negara tetangga.


Hari terua beranjak siang, Laudya pun ke bagian produksi untuk meminta beberapa produk di kirim ke wilayahnya di seberang pulau. Dia juga sudah membuat janji pada penjual ilegal atau penyelundup di pinggir pulau untuk membawa produknya.


"Eh, ibu Laudya minta di kirim lagi untuk di pinggir pulau?" tanya pegawai yang bagian produksi dan pengepakan barang.


"Iya, entah sampai kapan dia menjual secara sembunyi pada orang-orang di seberang itu. semenjak ibu Laudya jadi direktur produksi dia sering mengirim produksi ke seberang pulau." kata temannya.


"Iya, mereka tidak tahu kalau produk elektronik itu di selundupkan oleh ibu Laudya."


"Kita lihat saja, katanya akan ada pimpinan baru yang menggantikan direktur utama di perusahaan ini."


"Lebih baik di ganti, karena semua suka seenaknya saja. Padahal banyak dari kota meminta produk dari perusahaan kita."


"Sudahlah, jangan membicarakan itu. Kita kerja saja, yang penting kita tidak terlibat masalah ibu Laudya." kata temannya.


Sedangkan Bryan dan Morgan sudah sampai di bandara, mereka kini pergi ke hotel lebih dulu untuk istirahat dan makan siang. Setelah makan siang, baru mereka akan ke perusahaan dan bertemu dengan direktur perusahaan itu.


_


_


_


*********************

__ADS_1


__ADS_2