
Setelah lahir, bayi-bayi Kirana di bawa suster untuk di bersihkan lebih dulu. Bryan menunggu Bayinya dia azani, lalu menggendongnya. Dan tak lama, bayi-bayi Bryan sudah di bersihkan dan sudah di pakai baju dan kain hangat. Mereka menghampiri Bryan untuk di azani, setelah semua di azani dan iqomah kini kedua bayi itu di bawa ke kamar rawat. Karena Kirana sudah di pindahkan ke kamar inap.
"Bayi-bayinya siap di beri asi ya bu." kata sister itu membawa bayi Kirana padanya.
"Suster, satunya saya yang bawa. Saya ingin memegang anakku." kata Bryan.
"Ah, ya pak. Bapak juga harus memberikan kehangatan pada bayinya ya, agar kedekatan secara emosional lebih terjalin baik." kata suster.
"Yang mana kakaknya suster?" tanya Bryan.
"Yang ini pak, saya bedakan kainnya ya. Yang kakaknya kain merah, sedangkan adiknya kain hijau." kata suster lagi.
Kirana menerima bayi dengan kain merah lebih dulu, dan yang hijau di gendong pada Bryan. Keduanya saling membahu untuk menggendong bayi-bayinya.
"Sekarang kami tinggal dulu ya bu, nanti dua jam lagi saya ambil bayinya untuk di masukkan ke tempat bayi yang hangat." kata suster lagi.
"Baik suster."
Suster itu pun keluar, Byan masih menatap bayinya itu dengan takjub. Kini dia mempunyai anak laki-laki sekaligus dua. Betapa bahagianya dia mendapatkan bayi laki-laki. Kirana sedang memberi asi pada bayi satunya, bayi itu sangat lahap menelan putting asi Kirana. Awalnya merasa sakit, tapi setelah sudah beberapa menit, Kirana sudah biasa.
"Mas, kamu sudah beritahu mama dan papa, juga ayah dan ibu?" tanya Kirana.
"Belum sayang, nanti setelah kamu memberi asi semua anak kita baru aku telepon mereka." kata Bryan.
Dia masih menggendong anaknya dengan perasaan bahagia, matanya tidak pernah teralihkan dari bayi yang dia gendong. Kirana memperhatikan suaminya begitu senang mendapatkan bayi laki-laki darinya, dia pun tersenyum senang.
"Mas, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Kirana.
"Eh? Nama ya?" tanya Bryan bingung.
"Lho, jadi belum memikirkan nama anak kita?" tanya Kirana heran.
"Aku lupa sayang, heheh." jawab Bryan menggaruk kepala bagian belakang.
Kirana cemberut dengan kesal, dia juga lupa mendiskusikan nama anak yang dia kandung dengan Bryan. Dia pikir Bryan sudah menyiapkan nama untuk kedua anaknya. Lalu dia pun berpikir, nama apa yang pantas dia sematkan pada kedua anaknya itu.
"Kamu sedang berpikir apa?" tanya Bryan.
"Nama anakku, mas. Kamu ngga menyiapkan nama untuk anak kita, itu aneh sekali." kata Kirana kesal.
__ADS_1
"Aku sudah memikirkan nama anak kita sayang." jawab Bryan.
"Siapa namanya?"
"Alka dan Arka, bagaimana menurutmu sayang?" tanya Bryan.
"Emm, bagus mas. Yang mana Alka dan yang mana Arka?" tanya Kirana.
"Alka yang ada sama kamu, kakaknya itu Alka dan sama aku ini Arka. Nanti kita kasih tanda agar tidak bingung ya." kata Bryan.
"Boleh, sekarang Alka sama mami ya? Uuh, lucunya anak mami. Cup." ucap Kirana menoel pipi Alka.
"Sekarang gantian sayang, Arka kasih asi." kata Bryan mendekat untuk mengambil Alka dari tangan Kirana.
Mereka menukar bayinya, Arka sejak tadi mencari sesuatu untuk dia masukkan ke dalam mulutnya. Tangannya selalu dia masukkan ke dalam mulutnya karena mungkin dia lapar. Kirana mengambil Arka dari tangan Bryan dan bertukar dengan hati-hati.
"Kasihan anak mami ya, gantian ya sayang. Kakak Alka lebih dulu minum asinya." kata Kirana pada Arka.
Dia lalu memasukkan putting Kirana ke dalam mulut mungil Arka. Dan dengan cepat Arka menyedot asi yang keluar dari Kirana. Kirana sangat senang sekali.
"Mas, masa nama anak kita cuma Alka dan Arka aja sih? Apa ngga ada nama terusannya?" tanya Kirana.
"Ada kok."
"Alka Pramudya Wijaya Putra, dan Arka Pramudya Wijaya Putra." kata Bryan.
"Jadi hanya beda nama depan aja mas?" tanya Kirana.
"Ya, supaya tidak lupa aja sayang. Beda nama depan aja." jawab Bryan.
"Terserah kamu saja mas, tapi nama Alka sama Arka juga bagus ya." kata Kirana.
"Ya, sekarang anak kita sudah lengkap. Ada perempuan dan ada dua laki-laki, sayang."
"Iya, sekarang aku yang mau menelepon ayah sama ibu. Kamu menghubungi mama sama papa mas. Mumpung anak kita masih kita pegang." kata Kirana.
"Oh ya benar."
Lalu Kirana mengambil ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya, sedangkan Bryan juga menghubungi kedua orang tuannya juga. Bryan melakukan video call dengan nyonya Kalina.
__ADS_1
"Halo ma, sedang apa" tanya Bryan.
"Mama mau menyiapkan makan malam sayang, kenapa memangnya? Tumben video call?"
"Kirana sudah melahirkan ma, nih anakku sedang aku gendong." kata Bryan dengan senang menunjukkan anaknya pada ibunya.
"Waah senangnya, satunya kemana?"
"Adiknya sama maminya menelepon nenek sama kakeknya ma. Nanti kita gantian."
"Kenapa ngga kamu dekatkan aja dengan Kirana, biar mama lihat semuanya."
"Ah ya benar."
Lalu Bryan mendekat pada Kirana dan menunjukkan kedua anaknya serta istrinya itu. Kirana tersenyum pada mertuanya dan menunjukkan anak yang dia pegang. Nyonya Kalina sangat senang sekali dia mendapatkan cucu laki-laki dua.
"Selamat ya sayang, kalian punya anak laki-laki kembar. Siapa namanya sayang?"
"Alka dan Arka Ma, mas Bryan yang kasih nama." jawab Kirana.
"Cocok dengan wajahnya, ganteng sekali. Oma jadi pengen pulang menemui cucu baruku Arka dan Alka. Kakaknya siapa?"
"Alka kakaknya ma." jawab Kirana.
"Oh, yang di gendong Bryan?" tanya nyonya Kalina lagi.
"Iya ma." jawab Kirana lagi.
Lalu Bryan menghuhungi sekretarisnya di kantor, memberitahu kalau selama tiga hari dia tidak datang ke kantor. Kalau ada yang mendesak, sekretarisnya akan datang ke rumah sakit. Kirana juga menghubungi Danisa, dia sangat senang karena Danisa juga memberitahu akan menikah dengan Daniel.
"Jadi lo mau menikah dengan tuan Daniel?" tanya Kirana tidak percaya.
"Iya, minggu depan. Lo bisa datang Ki?" tanya Danisa.
"Tentu saja, nanti gue kasih tahu mas Bryan kalau tuan Daniel akan menikah denganmu. Waah, senang banget dengar lo mau nikah." jawab Kirana dengan senang hati.
"Ya, gue juga seneng lo udah melahirkan. Besok gue ke rumah sakit, nengokin lo." kata Danisa.
"Ya."
__ADS_1
Setelah selesai menelepon, Kirana menyimpan ponselnya. Dua jam sudah, kini suster mengambil bayi-bayi Kirana untuk di tidurkan di boks bayi hangat. Kirana pun di suruh beristirahat karena sejak subuh dia berjuang mengeluarkan dua bayi kembarnya.
Bryan pun menghubungi Mimin di rumah, siang nanti Missel bisa menjenguk adiknya yang baru lahir. Dan betapa senangnya Missel kalau dia di beritahu adiknya sudah lahir ke dunia.