
Danisa langsung melahap makanan yang tersedia di meja setelah pelayan pergi dari meja mereka. Dia belum menjawab pertanyaan Daniel tentang permintaannya untuk jadi istrinya. Daniel juga membiarian Danisa makan lebih dulu, setelah itu nanti dia akan menanyakannya lagi.
"Kamu lahap banget makannya, apa sedang lapar?" tanya Daniel.
"Ya, sejak pagi aku belum makan." jawab Danisa mengunyah makanannya.
"Pelan-pelan makannya, Danisa." kata Daniel mengingatkan.
"Aku lapar, jadi apa pun langusng aku makan kalau lapar. Uhuk! Uhuk!"
Danisa tersedak karena makan terburu-buru dan sambil bicara. Daniel menyodorkan minuman agar Danisa meminumnya dan berhenti tersedaknya.
"Kan sudah aku bilang, makan harus hati-hati dan pelan. Meski lapar, jangan di biasakan makan dengan cepat." kata Daniel.
"Anda tidak makan tuan?" tanya Danisa.
"Aku makan nanti, setelah kamu menjawab pertanyaanku tadi." jawab Daniel.
"Pertanyaan apa?" tanya Danisa pura-pura lupa.
Dia terus saja makan, menu satu habis dia mengambil menu lainnya. Hingga tersisa satu menu makanan untuk Daniel. Daniel sendiri tidak percaya Danisa makan begitu banyak dan hanya menyisakan satu menu saja, yaitu ayak bakar saja. Daniel menggelengkan kepala dengan cara makan Danisa, namun dia juga akhirnya tertawa karena lucu.
"Kenapa anda tertawa?" tanya Danisa.
"Lucu saja melihat kamu makan lahap begitu." kata Daniel.
Danisa menatap Daneil, lalu dia pun menyelesaikan makannya dengan bersendawa kecil. Daniel melihat hanya satu menu saja tersisa di meja dengan nasinya. Dia menatap Danisa heran, kenapa gadis bertubuh kecil itu makannya banyak? Pikir Daniel.
"Maaf, aku lapar. Jadi semua makanan aku habiskan." kata Danisa yang tahu dari arti tatapan Daniel padanya.
"Kamu belum menghabiskan ayam bakar inj, haniskanlah." kata Daniel menyodorkan ayam bakar pada Danisa.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, kalau belum kenyang sejak tadi aku makan itu ayam bakar." ucap Danisa.
Daniel pun memanggil lagi pelayan untuk menambah menu baru untuknya, dia akan makan menu baru dan ayam bakar dia sisakan. Setelah pelayan datang, Daniel langsung memesan dua menu saja. Dia ingin makan cumi bakar dan juga kepiting.
"Saya tunggu mas secepatnya." kata Daniel.
"Iya pak, tunggu sebentar ya." ucap pelayan.
Lalu pelayan pergi, dia melihat Danisa sedang memainkan ponselnya. Rasa lapar yang dia rasakan kini hilang setelah melihat tawa Danisa membaca sesuatu di ponselnya. Dia ingin bicara lebih serius dengan Danisa.
"Danisa, kamu masih ingat ucapanku tadi?" tanya Daniel mengulang pertanyaannya.
"Pertanyaan yang mana tuan?"
"Jadilah istriku, Danisa." ucap Daniel dengan yakin.
Danisa menatap Daniel dengan seksama, dia melihat dari sudut matanya ada kesungguhan di sana. Namun, apakah hanya seorang istri yang dia butuhkan? Atau dia ingin memperistri dirinya hanya untuk mengasuh anaknya?
"Istri yang bagaimana tuan?" tanya Danisa.
Daniel mengerutkan dahinya, dia bingung kenapa Danisa bertanya istri yang bagaimana? Bukankah istri sesungguhnya? Kenapa Danisa masih ragu.
"Istriku Danisa, kita menikah dan kita akan jadi suami istri. Lalu kamu jadi istriku." ucap Daniel lagi.
Danisa memunduk, dia masih belum terima alasan Daniel memperistrinya. Melamarnya tapi tidak tahu bagaimana seharusnya melamar. Semua orang juga bisa melamar seperti itu tanpa harus ada cinta, tapi mau menjadikan istri seperti apa? Apakah hanya istri saja atau istri yang di cintainya? Itu yang di maksud Danisa.
"Tuan Daniel, apa alasan anda memintaku jadi istrimu?"
Kali ini pertanyaan Danisa membuat Daniel terpaku, memang seharusnya dia mengungkapkan perasaannya pada Danisa selama ini. Danisa menunggu jawaban Daniel yang masih menatapnya bingung.
"Kalau tidak ada alasan kenapa anda memintaku untuk jadi istrimu, sebaiknya jangan memintaku tuan. Karena itu akan sia-sia saja, aku tetap menolaknya." kata Danisa.
__ADS_1
"Alasannya karena aku mencintaimu, Danisa. Aku sungguh mencintaimu. Beberapa hari kamu menghilang aku pusing, aku memcarimu ke kontrakan. Kamu tidak ada, ke kampus pun kamu tetap tidak aku temukan. Aku memcintaimu, makanya aku memintamu untuk jadi istriku." kata Daniel.
Danisa menunduk, dia lega sebenarnya. Namun, masih ada satu ganjalan lagi di hatinya. Kembali dia pertanyakan tentang keseriusan Daniel padanya.
"Tuan, anda tahu saya bukan gadis lagi, seperti Kirana istrinya tuan Bryan. Dia baik, dia gadis suci dan juga menyayangi anak tuan Bryan. Aku tidak seperti istrinya tuan Bryan, apakah anda akan mencari istri yang seperti itu? Bukan saya orangnya tuan." kata Danisa lagi.
"Danisa, tidak ada alasan lain selain aku mencintaimu. Memang benar aku mengharapkan kamu menjadi istriku karena aku harap kamu juga menyayangi anakku Kania. Dia berharap kamu yang jadi mamanya, tapi, alasan utamanya adalah karena aku mencintaimu. Apa itu kurang cukup?" tanya Daniel tidak sabar dengan Danisa yang berbelit-belit masalah alasan.
Danisa kembali diam, dia sebenarnya tidak mau terlalu menekan Daniel masalah cinta dan keseriusan padanya. Namun, dia hanya tidak mau di kemudian hari di bandingkan dengan Kirana yang baik dan juga gadis suci. Tiba-tiba Danisa menangis terisak, dia menyesali dirinya yang dulu.
Daniel kaget, kenapa Danisa tiba-tiba menangis? Kemudian dia bangkit dari duduknya dan berpindah di sisi Danisa untuk menenangkannya. Daniel tidak suka ada seorang perempuan menangis di depannya, rasanya dia juga ikut sedih. Daniel menarik kepala Danisa ke dalam pelukannya, dia merasa bersalah telah berkata keras padanya.
"Maafkan aku, aku terlalu menginginkanmu menjadi istriku. Jika kamu menolaknya lagi pun tak mengapa. Aku akan pergi darimu setelah ini, diamlah dan jangan menangis." kata Daniel mengusap punggung Danisa.
Danisa semakin mengeraskan tangisannya, Daniel bingung kenapa Danisa menjadi semakin keras menangis. Dia terus mengusap punggung Danisa dan menghapus air matannya, seperti menenangkan seorang anak kecil. Dan tak lama Danisa pun berhenti menangis, dia menatap Daniel dengan tatapan lain yang di terima Daniel.
"Tuan, bukan aku menolakmu. Aku hanya memastikan jika anda memang benar mencintaiku. Aku sedih karena perbuatanku dulu yang bebas berpacaran. Aku sedih karena anda nantinya bukan yang pertama yang menikmati malam pertamaku jadi suami istri." kata Danisa membuat Daniel terpaku, lalu tersenyum dan kembali memeluknya.
"Aku tidak peduli itu, bagiku mencintai itu lebib segalanya dari malam pertama. Mencintai itu sesuatu yang sangat sulit untuk di ungkapkan. Sejak aku memintamu jadi mamanya Kania, aku sudah mencintaimu. Tapi mungkin aku salah ucap, sehingga kamu menolakku." kata Daniel.
Danisa kembali menatap Daniel dari dekat, dia pun tersenyum. Lalu mengecup pipi Daniel, kemudian kepalanya dia sembunyikan dalam dada Daniel yang masih memeluknya karena malu telah mencium laki-laki itu. Dan Daniel merasa senang, dia juga kengecup kening Danisa.
Rasanya sudah cukup kegelisahannya selama ini, dia benar-benar menemukna cintanya sesungguhnya pada Danisa. Keduanya saling berpelukan erat, hingga pelayan datang. Danisa melepas pelukannya dan duduk kembali merapikan penampilannya yang tadi sedikit berantakan.
_
_
_
*********************
__ADS_1