
"Assalamu alaikum bu?" sambungan telepon Kirana pada ibunya.
"Wa alaikum salam, Kiran. Kamu sehat?"
"Baik bu, Alhamdulillah. Kiran hanya mau kasih kabar minggu depan Kiran di wisuda. Ibu sama ayah datang ya." kata Kiran.
"Waah, kahirnya kamu mau di wisuda juga ya. Terus, bagaimana dengan kami nanti minggu depan ke kota Kiran?" tanya ibu Kamina.
"Nanti mas Bryan kirim orang kantor untuk jemput ayah dan ibu. Lalu ibu dan ayah menginap di rumah mas Bryan." kata Kirana.
"Besar ya rumah suamimu?"
"Ya, besar bu. Ibu jangan khawatir."
"Heheh, oh ya Kiran. Kata ayah bilang sama suamimu, ibu sama ayah mengucapkan terima kasih untuk pemnerian surat tanah dan juga uangnya. Kami senang dan kita akan membuat kebun buah, biar nanti kalau kamu ke kampung bisa ke kebun dan memetik buah."
"Iya bu, semoga bermanfaat ya buat ayah dan ibu. Oh ha bu, nanti ibu di jemput sebelum hari wisuda Kiran ya, biar bisa menginap dua hari di sini."
"Siapa bu?" suara pak Darno bertanya pada istrinya.
"*Kirana, yah. Dia memberitahu kita minggu depan dia di wisuda, dan kita di suruh hadir di acara wisudanya."
"Waah, syukurlah anak kita sudah mau wisuda*."
Kirana yang mendengar percakapan ayah dan ibunya jadi tersenyum senang.
Bryan melihat istrinya tersenyum senang menelepon ibunya. Dia pun mendekat dan mencium pipi Kirana. Mencium beberapa kali, Kirana diam saja.
Kini Bryan mencium leher Kirana, dan menggigitnya. Dia tampak tidak sabar agar bisa berduaan bahkan bercinta sengan istrinya itu.
"Mas, sabar sih. Isshh, ..." desah Kiran karena ulah suaminya yang kini meraba bagian dadanya.
"Aku ngga sabar sayang." bisik Bryan.
"Kiran, kamu masih di situ?"
"Iya bu, emm besok Kiran telepon ibu lagi ya."
"Lho, kenapa?"
"Iishh, ini Kiran pengen ke kamar mandi dulu." jawab Kirana bohong.
__ADS_1
Bryan tersenyum senang, dia masih saja meraba dan meremas bagian dada istrinya itu. Membuat Kirana terlonjak, lalu dia pun menatap tajam pada Bryan.
"Oh, ya udah. Tapi kata ayah ngga usah di jemput di rumah Kiran, ayah pengen naik kereta api saja. Baru nanti di stasiun kamu jemput ibu dan ayah saja ya?"
"Oh, iya bu. Nanti ibu kabari aku lagi ya. *** ..aaah ups!" Kirana mendesah, namun kemudian dia menutup mulutnya karena takut ibunya tahu.
"Kenapa Kiran?"
"Duh bu, aku tutup dulu ya. Daah ibu, assalamu alaikum."
"Wa alaiakum salam."
Klik.
"Mas, kamu tuh ngga sabar banget sih." ucap Kirana merajuk pada suaminya.
Bryan mendorong istrinya itu di tengah kasur lalu mencumbunya dengan lembut. Dia tidak peduli istrinya kesal padanya, dengan membuainya rasa kesal itu akan sirna. Pikir Bryan.
Dan benar saja, Kirana mulai menggeliat gelisah. Menggeliat ke kanan dan ke kiri karena rasa geli nikmat oleh permainan tangan nakal suaminya.
"Uuuuh, mas aaah. Udah dong, jangan di situ."
"Di mana sayang? Apa mau langsung aku masukin, hem?" tanya Bryan lembut menggoda.
"Hahah, malam ini akan selalu jadi milik kita sayang. Aku juga ngga sabar banget, cup."
Kini pergumulan keduanya pun berlangsung syahdu. Kegiatan yang menyenangkan karena melepas hormon endorfin yang sangat membahagiakan bagi sepasang suami istri yang baru dua bulan lebih itu.
_
Minggu siangnya, Kirana kini sedang ke butik untuk memilih baju kebaya wisudanya minggu depan. Pagi tadi dia menelepon ibunya lagi karena semalam terpotong oleh aksi suaminya yang nakal itu. Ibunya juga menanyakan kandungannya, dan dia bingung untuk mengatakan pada ayah dan ibunya tentang kebohongan Bryan menikah dengannya.
Kirana ingin memberitahu suaminya kalau ibunya menanyakan tentang kehamilannya, namun dia belum sempat karena harus mengurusi Missel lebih dulu.
Kirana diam melamun, anak sambungnya pun bertanya tentang papinya yang lama memilih baju kebaya untuk Kirana.
"Mi, pilih bajunya lama banget sih?" tanya Missel.
Rupanya dia sudah mulai kesal karena Bryan lama sekali memilih baju kebaya untuk istrinya.
"Ngga tahu papi tuh, padahal mami di pilihkan baju kebaya biasa aja juga ngga apa-apa." kata Kirana.
__ADS_1
Rupanya Bryan yang lebih heboh memilih baju kebaya untuk istrinya Kirana, padahal menurut Kirana baju kebaya sebagus apa pun tetap tertutup dengan baju toga. Jadi buat apa pakai baju kebaya yang model atau berbahan premium.
Tapi Kirana pun hanya pasrah saja Bryan yang memilihkan, menurut dia momen wisuda itu langka. Sangat jarang di lewati, karena jika sudah menjadi istri Bryan akan tetap jadi istri yang selalu menemaninya di rumah, menunggunya pulang dan mengantarnya ke depan jika berangkat ke kantor.
Bukannya tidak di bolehkan mencari kesibukan, namun Bryan hanya ingin kuantitas waktu Kirana cukup untuk dirinya. Berlibur atau mencari kesenangan dengan temannya juga tidak di batasi, hanya saja dia harus tahu waktu.
Kirana tidak masalah, dia juga tahu kewajiban seorang istri bagaimana. Jadi jika ingin bersenang-senang di luar dengan temannya, jam tiga sore harus sudah ada di rumah.
"Sayang, yang ini aja ya. Bahannya agak tebal tapi adem. Dan yang penting tertutup." kata Bryan menunjukkan baju kebaya berwarna pastel.
Kirana menerutkan dahinya, bukankah semua kebaya sama saja modelnya?
Tertutup semua, hanya tergantung bagian dada saja yang mungkin agak terbuka jika modelnya kutubaruan.
"Model kebaya emang begitu semua mas, tertutup." kata Kirana.
"Ya, tapi ada kebaya yang terlihat bagian belahan dadanya. Aku ngga suka yang seperti itu. Mending buat aku aja, ngga boleh orang lihat." kata Bryan lagi.
"Terserah kamu mas, bagiku sama aja sih." kata Kirana.
"Ya udah, kamu coba deh. Kalau kekecilan kan bisa di cari yang pas sama ukuran badanmu." kata Bryan memberikan baju kebaya itu untuk di coba.
Kirana pun mengambil baju dari tangan Bryan dan membawanya ke bilik pas. Lama Kirana mencoba baju kebaya itu, lalu dia keluar dan menghampiri suaminya.
"Bagaimana mas? Sudah pas kan?" tanya Kirana meminta saran.
"Emm, pas kayaknya. Ya udah yang itu aja di ambil."
Kirana pun kembali ke bilik pas untuk menggantinya lagi.
Setelah selesai mencari kebaya sekalian membeli beberapa baju untuk Kirana dan Missel. Bryan pergi ke kasir membayar baju yang mereka beli, lalu mereka pergi makan siang.
_
_
Mampir kaka ke novel punya teman othor ya..😊😊
_
__ADS_1
******************