Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
93. Jadilah istriku Danisa


__ADS_3

Setelah mendapatkan restu dari kakaknya, Morgan. Daniel langsung menuju alamat di kartu nama yang di berikan Morgan padanya. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan Danisa. Wajah ceria dan senyumnya mengembang, rasa rindu beberapa hari ini sebentar lagi akan terobati.


Mobil melaju dengan kencang, Daniel meminta supir taksi melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah Morgan. Dia juga memberi tips pada supir tersebut agar cepat melajukan mobilnya.


"Sampai tuan sesuai alamat di kartu itu." kata supir taksi.


"Waaah, cepat sekali. Baiklah ini ongkos taksinya dan ini uang tambahannya. Terima kasih ya." kata Daniel menyerahkan uang dua ratus ribu pada supir taksi sesuai janjinya.


Rumahnya tidak jauh dari kantor perusahaan Morgan, tapi kenapa tadi dia meminta cepat pada supir taksi itu?


"Huh, aku jadi deg-degan sendiri." kata Daniel.


Dia berdiri di depan rumah berukuran sedang itu, dia menarik nafas dan membuangnya kasar. Menetralkan hatinya sesaat sebelum dia melangkah lebih mendekat pada rumah Morgan itu. Lalu kakinya melangkah maju menuju pintu rumah dan mengetuknya.


"Assalamu alaikum?" Daniel memberi salam.


"Wa alaikum salam." jawab dari dalam rumah.


Tak lama pintu rumah terbuka dan terlihat seorang perempuan menggendong bayi heran melihatnya.


"Maaf pak, cari siapa ya?" tanya perempuan itu tak lain adalah istri Morgan.


"Saya cari Danisa. Apa dia ada di sini?" tanya Daniel.


"Danisa? Dia sedang keluar membeli es krim dengan keponakannya di depan. Bapak siapa ya?" tanya istri Morgan.


"Saya Daniel, emm teman Danisa." jawab Daniel.


Istri Morgan memperhatikan Daniel yang berbeda penampilan dari laki-laki teman Danisa ketika dulu di kota. Namun begitu dia menyuruh Daniel masuk dan duduk memunggu Danisa pulang.


"Anda duduk saja pak, sebentar lagi adikku pulang kok." katanya.


"Iya terima kasih." jawab Daniel.


Dia lalu duduk di kursi di mana ketika Danisa datang dia melihatnya dan Danisa juga. Lumayan lama menunggu Danisa pulang, hati Daniel berdebar-debar saat dia mendengar langkah kaki dan candaan Danisa pada keponakannya. Danisa masuk dengan tawa riang menggoda keponakannya.


Dia belum menyadari Daniel sedang duduk di sofa menatapnya dengan penuh kerinduan. Daniel berdiri dan masih menatap Danisa yang belum sadar akan kehadirannya.


"Danisa."


Suara Daniel tercekat memanggil Danisa, Danisa menoleh ke arah Daniel. Dia terkejut dan menatap Daniel. Es krim di tangannya pun terjatuh. Kenapa tuan Daniel ada di sini? Pikir Danisa.


"Danisa, aku ..."


"Tuan Daniel kemari. Ada apa tuan?" tanya Danisa masih dalam kekagetannya.


Daniel duduk, dia menhelan nafas panjang. Danisa pun mengambil es krim yang terjatuh tadi dan menyuruh keponakannya itu masuk membawa es krim yang tadi di belinya.


"Alif masuk ya ke dalam. Makan es krimnya sama mama dulu, tante ada tamu." kata Danisa pada anak Morgan itu.

__ADS_1


"Iya tante."


Anak kecil bernama Alif itu pun masuk ke dalam menuju mamanya di belakang. Sedangkan Danisa duduk di hadapan Daniel yang masih saja menatapnya.


"Apa anda sedang mencari kakakku tuan" tanya Danisa.


"Tidak, aku mencarimu. Kamu tidak mau menjawab teleponku, jadi aku mencarimu." kata Daniel.


Danisa memunduk, dia merasa bersalah tidak menjawab semua panggilan telepon Daniel padanya. Dia hanya ingin mrnghindar dari duda beranak satu itu, dia hanya tidak mau perasaannya semakin dalam pada laki-laki tampan itu.


"Danisa, aku ingin bicara denganmu. Kamu mau aku ajak keluar?" tanya Daniel.


"Mau bicara apa tuan? Memangnya ada yang penting?" tanya Danisa heran.


"Ya, sangat penting. Tapi aku ingin bicara berdua denganmu di luar." kata Daniel.


"Di teras juga di luar tuan."


"Haish, bukan di teras juga. Oke, sekarang aku ingin mengajakmu makan siang. Ayo kita makan siang di luar." kata Daniel lagi.


"Tapi kakakku sudah menyiapkan makan siang di dalam tuan Daniel." ucap Danisa seperti menggoda Daniel.


Membuat Daniel sangat kesal, namun dia tahan. Baiklah, Danisa sedang bercanda dengannya. Pikir Daniel.


"Aku mengajakmu makan siang di restoran, berdua saja denganmu dan aku. Paham? Jangan membantah lagi." kata Daneil memaksa Danisa.


"Eh, mau kemana?" tanya Daniel.


"Ganti baju, memangnya tuan tidak malu saya pakai baju seperti ini makan di reatoran?" tanya Danisa.


Daniel hanya tertawa kecil saja, dia lalu mengangguk senang. Danisa pun masuk ke dalam, sekalian memberitahu kakak iparnya kalau dia akan pergi dengan Daniel. Setelah selesai, Danisa pun keluar lagi dengn pakaian yang lebih baik dari yang tadi.


"Kita mau kemana?" tanya Danisa ketika mereka sudah ada di pinggir jalan menunggu taksi lewat.


"Aku tidak hafal daerah ini. Apa sebaiknya ke restoran tepi pantai? Kita bisa bersantai bicara di sana." kata Daniel.


Danisa berpikir, lalu dia mengangguk. Dan tak lama, mobil taksi pun datang. Danisa memberitahu tujuan mereka, mobil pun melaju. Dan sepanjang jalan tidak ada pembicaraan sama sekali. Keduanya merasa canggung, namun tetap saja tidak ada yang berbicara satu sama lain. Hingga tak terasa mobil taksi berhenti di tempat tujuan.


"Sudah sampai mbak." kata supir taksi.


"Oh ya, terima kasih." kata Danisa.


Dia mengeluarkan uang, namun Daniel lebih dulu memberinya pada supir taksi. Danisa pun memasukkan lagi uangnya ke dalam tas. Mereka pun langsung menuju restoran yang menghadap pantai. Memilih tempat yang nyaman dan langsung mencari posisi menghadap ke arah laut agar nanti bisa melihat sunset.


"Kamu senang di kota ini?" tanya Daniel.


"Lumayan, aku bisa menenangkan pikiranku."


"Dari apa?"

__ADS_1


"Dari mumetnya mengerjakan skripsi. Heheh."


"Bukan karena menghindar dariku?"


"Untuk apa aku memghindar dari tuan?"


"Ya kamu tidak mau menjawab teleponku, apa itu tidak menghindar?"


Danisa diam, sejujurnya dia ingin menghindar dari Daniel. Tapi sekarang dia malah duduk dengan Daniel d restoran ini.


"Aku tadi ke kantor kakakmu, bicara tentang masalahku dan mengenai dirimu. Danisa, maafkan aku waktu itu aku salah ucap." kata Daniel menatap dalam pada Danisa.


Danisa di tatap seperti itu jadi salah tingkah, dia merutuki hatinya yang masih juga berharap Daniel mencintainya. Danisa pun menunduk, malu. Daniel menarik tangan Danisa yang berada di atas meja.


"Danisa, jadilah istriku, aku ingin hidup bersamamu dan juga nanti anak-anak kita." kata Daniel.


Danisa kaget, dia melihat tangan Daniel memegang tangannya. Dia berusaha menarik lepas tangannya, tapi Daniel memegangnya erat.


"Tuan, tanganku sakit. Lepas tanganku." kata Danisa.


"Tidak, sebelum kamu menjawab iya dengan pertanyaanku." kata Daniel semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Tapi tanganku memang lagi sakit tuan, kemarin tanganku ke iris jarinya. Apa anda tidak melihat tanganku di balut plester?" tanya Danisa.


Daniel melihat tangan Danisa dan memang benar ada plaster di punggung tangan. Lalu Daniel melepas pegangan tangan Danisa.


"Kenapa bisa ke iris tanganmu?"


"Kemarin saya mengiris bawang. Saya pikir posisi pisaunya benar, ternyata salah. Jadinya tanganku ke kena pisau." jawab Danisa.


Daniel kembali memegang tangan Danisa, dia mengelusnya lalu menatap Danisa Dia tersenyum penuh percaya diri.


"Apa kamu melamunkan aku sampai pisaunya terbalik dan tanganmu kena pisau saja kamu tidak sadar?" tanya Daniel.


Danisa menarik tangannya dengan cepat, kenapa Daniel begitu percaya diri kalau insiden kena pisau karena Danisa memikirkan dia?


"Tuan percaya diri sekali, saya kira itu pisau tidak terbalik. Karena posisi semua sisi mata pisaunya sama. Anda begitu yakin dengan perasaan anda itu." kata Danisa ketus.


"Selamat siang, maaf pelayanannya lama dengan pesanannya datang terlambat." kata pelayan yang tiba-tiba datang membawa banyak makanan pesanan mereka.


Danisa dan Daniel memundurkan tubuhnya, bersandar di kursi dan membuang muka ke samping, sesekali Daniel melirik Danisa, dia melihat Danisa kesal padanya. Daniel membuang nafas kasar, apakah dia akan berhasil kali ini?


_


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2