
Beberapa hari Daniel mengikuti saran Bryan, dia memikirkan apa yang dia inginkan dari Danisa. Apakah dia mencintai gadis itu atau hanya sekedar ingin menjadi pengasuh Kania. Setiap hari pula dia menelepon Danisa, namun hasilnya tetap saka. Danisa tidak menjawabnya, dan jika menjawab pasti bicaranya singkat. Ada saja alasan Danisa untuk memutus teleponnya.
Sudah dua bulan Daniel memikirkan Danisa, dia benar-benar kehilangan gadis itu. Apa lagi Kania selalu bertanya Danisa tidak lagi datang ke rumahnya. Padahal baru sekali Danisa menginap di rumahnya, tapi Kania sepertinya merindukan Danisa.
Akhirnya, Daniel pergi ke kontrakan Danisa. Dia ingin bertemu gadis itu, menemuinya karena merasa rindu juga dengan senyumannya itu. Aah, ternyata Daniel benar-benar jatuh cinta pada Danisa.
Daniel turun dari mobilnya, dia menuju rumah kontrakan besar dan selalu tertutup pintunya. Karena memang ibu pemilik kontrakan itu sangat menjaga sekali orang yang mengontrak di tempatnya. Dia mengetuk pintu gerbang beberapa kali. Tak lama pintu terbuka sedikit, seorang ibu paruh baya berdiri menatap Daniel heran.
"Cari siapa?" tanya ibu itu.
"Danisa bu, apakah dia ada di kontrakannya?" tanya Daniel.
"Danisa? Yang mana?" tanya ibu itu.
Daniel bingung, dia harus menjelaskan seperti apa Danisa. Daniel menghela nafas panjang, lalu menceritakan Danisa berperawakan seperti apa. Kemudian ibu itu mengangguk cepat.
"Dia pergi, selama tiga hari katanya mau pergi ke rumah temannya." jawab ibu itu.
"Ooh, pergi ya. Kalau begitu, saya permisi saja." kata Daniel.
"Ya, lain kali telepon aja langsung. Jangan datang kemari." kata ibunya lagi.
Daniel diam, benar-benar pemilik kontrakan tidam punya hati, pikir Daniel. Masa bertanya padanya saja harus meneleponnya dulu. Dia sudah melakukan sambungan telepon, tapi Danisa tidak menjawabnya. Makanya dia datang ke kontrakan Danisa agar bisa menemuinya.
_
Daniel bingung, kenapa Danisa tiba-tiba menghindarinya. Ada rasa kehilangan dia terhadap Danisa, dan entah kenapa dia merasa rindu pada gadis itu.
Dia kini berada di depan kampus Danisa, berharap bisa ketemu dengan Danisa dan ingin bicara dengannya. Dia terus memantau gerbang kampus untuk melihat apakah Danisa datang atau keluar ke kampus itu.
"Apa aku harus menunggu dia di kampusnya begini ya?" gumam Daniel.
"Tapi, aku punya pekerjaan. Masa aku menunggu perempuan tidak jelas dia di mana. Aah, pusing aku. Kenapa aku jadi begini?!" teriak Daniel di dalam mobilnya.
Dia memukul stir di depannya, entah kenapa dia merasa menyesal waktu itu mengatakan pada Danisa menjadi mamanya Kania. Seharusnya tidak seperti itu meminta pada gadis jika dia menginginkannya.
"Bodohnya aku. Danisa, kemana kamu?" gumamnya lagi dengan perasaan bersalah.
Dia terus menatap gerbang kampus, berharap Danisa keluar dari sana dan pulang. Tapi sudah satu jam lebih Danisa tidak juga muncul. Dan akhirnya Daniel kembali ke kantornya dengan perasaan kecewa karena Danisa tidak juga muncul di kampus itu. Dia lajukan mobilnya menuju kantornya.
Beberapa kali dia menelepon Danisa, tapi tidak di jawab juga. Dan berusaha menemui di kontrakannya, tapi malah ibu pemilik kontrakan yang dia temui. Mana ketus lagi. Lalu sekarang, ke kampusnya sudah satu jam menunggu. Tetap tidak juga menemuinya.
Tuuut
Telepon dari rumah, dia tahu Kania yang meneleponnya.
__ADS_1
"Halo sayang, ada apa?" tanya Daniel pada anaknya yang menelepon.
"Halo pa, tante Danisa sudah ketemu ya?"
"Belum sayang, papa sedang kerja ya."
"Tapi nanti tante Danisa pasti ketemu kan pa?"
"Iya sayang, sabar ya. Papa sedang kerja, nanti papa pasti cari tante Danisa."
"Iya pa."
Klik!
"Kenapa aku harus tersiksa begini? Tadinya aku bahagia saja dengan tidak mencintai perempuan. Dan anakku juga baik-baik saja, kenapa jadi malah aku merasa tidak bahagia?"
Daniel membuang kasar nafasnya, dia benar-benar tersiksa merasakan rindu dan mencari Danisa tidak juga ketemu. Dia tidak berpikir apakah Danisa pergi ke Batam, ke rumah kakaknya Morgan. Dia berpikir tidak mungkin karena dia ingat satu semester lagi Danisa menyelesaikan kuliahnya.
_
Rupanya Daniel masih penasaran dengan Danisa yang beberapa minggu ini tidak bisa dia hubungi dan di temui, rasa kesal dan rindu bercampur jadi satu. Ada kekesalan kenapa Danisa seolah menghilang dan menghindarinya dan juga rasa rindu, karena beberapa minggu ini dia tidak bertemu juga dengan Danisa.
"Apa dia memang pergi ke Batam?" gumam Daniel sambil berpikir.
Dan tanpa pikir panjang, dia menghubungi Bryan untuk mencari tahu di mana perusahaan itu tepatnya berada.
Tuuut
"Gue minta tolong, Morgan di mana perusahaannya di Batam?" tanya Daniel.
"Lho tahu perusahaan Aneka Elektronik Corp?"
"Ya, gue tahu. Perusahaan itu cukup besar di sana, tapi apakah di sana Morgan berkantor?" tanya Daniel.
"Ya, cari saja Morgan. Nanti juga tahu di mana dia tinggal. Mungkin juga Danisa ikut dengan Morgan."
"Ya, dugaanku juga begitu. Ya sudah, gue tutup teleponnya."
"Oke, good luck bro."
"Thank's Bryan."
Klik!
Daniel menutup sambungan teleponnya, dia lalu meminta Maya sekretarisnya untuk memesan tiket pesawat untuk pergi ke Batam.
__ADS_1
"Maya, kamu masuk ke ruanganku."
"Baik tuan Daniel."
Daniel menutup teleponya, dan masuklah Maya sambil membawa ipad tentang laporan agenda Daniel hari ini. Dia pun menuju meja kerja Daniel, dan bertanya.
"Apa yang tuan butuhkan?" tanya Maya.
"Maya, tolong kamu pesan tiket pesawat ke Batam sore ini." kata Daniel.
"Ke Batam? Apa anda ada janji di Batam?" tanya Maya.
"Ya, aku mau bertemu dengan teman di sana. Siapa tahu nanti juga kita bisa bekerja sama dengannya di bidang elektronik." jawab Daniel.
"Oh begitu."
"Ya, dan pesan tiket pulang pergi ya."
"Berapa hari anda di sana tuan?"
"Mungkin dua hari, atau tiga hari."
"Baik tuan, saya akan pesan tiket dengan kepulangan tiga hari ya." kata Maya.
"Ya, begitu lebih baik. Jika mendadak aku pulang di hari kedua bisa aku pesan tiket lagi di sana."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
"Ya."
Maya pun pergi dari ruangan Daniel, dia akan memesan tiket untuk perjalanan bosnya itu. Entah perjalanan apa, namun sepertinya sangat penting. Dia tidak mau tahu urusan bosnya.
Daniel pun bersiap untuk pulang ke rumah, menyiapkan beberapa pakaian dan juga akan memberitahu Kania kalau dia akan pergi dalam tiga hari.
"Maya, saya langsung pulang untuk bersiap. Nanti kamu kirmi tiketnya melalui kurir saja ke rumah." kata Daniel.
"Baik tuan." jawab Maya.
Daniel lalu pergi meninggalkan kantonya turun ke bawah dan dia langsung pulang ke rumah. Hatinya bersemangat untuk berangkat ke Batam, menemui Danisa. Dan dia berharap Danisa benar-benar ada di Batam dengan Morgan kakaknya.
_
_
_.
__ADS_1
*******************