Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
76. Laudya Terkejut


__ADS_3

"Pak Martin, kenapa semua menjual sahamnya pada orang Jakarta itu?" tanya Laudya ketika dia ingin protes pada direktur utama itu.


"Saya tidak tahu, mereka tidak memberitahuku. Dan lagi kita juga membutuhkan dana juga untuk menambah modal produksi kita. Aku dapat laporan kalau bagian keuangan mengalami kebocoran." kata pak Martin direktur utama itu.


"Kata siapa? Bukankah penjualan barang elektronik kita sangat banyak? Bahkan kurasa mengalami keuntungan banyak." kata Laudya lagi.


"Aku mendengar ada barang yang di selundupkan ke negara lain. Apa kamu tahu siapa pelakunya?" tanya pak Martin.


"Saya tidak tahu." jawab Laudya cepat.


Dia takut apa yang dia lakukan selama ini di ketahui oleh Martin. Lalu Laudya pun pamit keluar dari ruangan pak Martin. Niatnya untuk mencari tahu siapa yang membeli saham perusahaannya itu, ternyata dia sendiri yang harus mundur karena takut apa yang dia lakukan selama ini di ketahui.


"Sial, kenapa aku seperti kucing mencuri ikan di meja. Hah! Sangat menyebalkan, mereka kenapa jadi mengetahui apa yang aku lakukan selama ini." gumam Laudya.


Dia melangkah cepat menuju ruang kantornya, memberitahu pada anak buahnya yang selalu membantunya menyelundupkan produk ke negeri seberang. Dia harus bergerak cepat agar kegiatannya selama ini tidak cepat di ketahui.


Laudya berjalan cepat tanpa melihat dua orang yang berjalan pelan menuju ruang direktur. Karena jalan terlalu cepat dan tidak melihat kanan dan kiri, Laudya menabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Dia kaget dan menoleh ke arah orang yang dia tabrak. Niatnya ingin mengomel, tapi dia terkejut siapa yang dia tabrak itu.


"Bryan." gumam Laudya menatap Bryan yang berjalan terus tanpa menoleh ke arahnya.


"Mau apa dia?" gumamnya lagi.


Laudya pun masuk ke dalam ruangannya, dia akan segera memberitahu anak buahnya agar lebih hati-hati supaya tidak di ketahui oleh pihak perusahaan.


"Halo, kamu ada di mana?" tanya Laudya.


"Kami sedang mengepak barang nona."


"Kalian harus hati-hati, kegiatan kita ada yang mengetahui. Jadi jangan sampai kalian ketahuan, mengerti?!"


"Siap nona, kami juga sedang menunggu patroli dari pelabuhan selesai."


"Bagus, lakukan setelah semua pegawai kantor bubar dari perusahaan."


"Baik nona."


Klik!


Laudya pun merasa lega, tapi dia penasaran kenapa Bryan ada di kantornya? Apa dia menjalin kerja sama dengan perusahaan ini?


"Bukankah dulu dia aku ajak kerja sama selalu tidak mau. Kenapa dia jadi datang ke perusahaan ini?" Laudya masih penasaran.

__ADS_1


Kriiiing


Dering telepon di meja berbunyi, sekrtetaris Laudya meneleponnya.


"Ada apa?"


"Direktur utama memanggil anda nona untuk datang ke ruangannya."


"Mau apa pak Martin? Aku tadi habis dari kantornya."


"Saya tidak tahu nona, pak Martin menunggu anda."


"Baiklah, saya akan ke sana lagi."


Klik!


Laudya pun merapikan pakaiannya, mengoleskan lagi lipstiknya dan juga rambutnya dia sisir lebih rapi. Dia yakin tadi Bryan dan Morgan masuk ke dalam ruang kantor pak Martin, makanya dia merapikan penampilannya kali ini. Meski sewaktu di rumah Bryan dulu dia di ancam oleh nyonya Kalina, tapi sepertinya Bryan mulai mendekat padanha. Begitu pikir Laudya.


Senyumnya mengembang, dia semprotkan parfum agar Bryan bisa terpesona lagi padanya. Setidaknya itu usaha terakhirnya. Lalu dia keluar lagi menuju kantor pak Martin. Dengan langkah gemulai, Laudya berjalan percaya diri dan penuh semangat.


Sampai di depan pintu ruangan pak Martin, Laudya kembali merapikan penampilannya. Lalu dia mengetuk pintunya beberapa kali, dan di sahuti oleh pak Martin di dalam.


Laudya pun mendorong daun pintu dan masuk ke dalam. Senyumnya mengembang, dia edarkan pandangannya ke arah sofa di mana Bryan dan Morgan duduk dengan tenang. Di sampingnya pak Martin sedang memberitahu tentang keuangan perusahaan.


"Selamat siang tuan Bryan dan asisten Morgan." sapa Laudya dengan senyumnya yang mengembang.


Bryan melirik sebentar lalu mengalihkan lagi ke berkas laporan yang dia pegang. Morgan menatap Laudya dengan sedikit mencibir, setiap lekuk tubuh Laudya dia perhatikan. Ada tawa di bibir kecil itu melihat penampilan Laudya. Semerbak parfum menyeruak ke seluruh ruangan.


Bryan sedikit batuk, Morgan pun heran. Kenapa dengan bosnya itu?


"Kenapa bos?"


"Aku seperti mencium bau bangkai." kata Bryan.


"Hahah, ini bau parfum tuan Bryan." sela Laudya.


"Oh, bau parfummu?"


"Iya, kamu suka?"


"Tidak, baunya seperti bagkai tikus yangbusuk." jawab Bryan santai saja.

__ADS_1


Morgan tertawa di tahan, sedangkan Laudya wajahnya merah padam. Pak Martin hanya menggelengkan kepala saja, dan melirik acuh pada Laudya.


"Pak Martin, begini. Karena saya yang akan memegang kendali dalam waktu dekat ini. Laporan dari mulai keuangan, produksi yang di hasilkan dan di salurkan itu pak Martin minta catatannya. Jika nanti ada kejanggalan, saya akan mengetahuinya. Pak Martin bisa kirim email ke asisten saya ini, anda sudah tahu kan emailnya?"


"Ya tuan Bryan, lalu saya akan di tempatkan di mana?"


"Nanti, setelah saya selesai memeriksa semua laporan perusahaan pada saya. Jika ada yang membutuhkan dana, biar nanti saya salurkan secepatnya." kata Bryan.


"Baiklah tuan Bryan, nanti saya kirim melalui email. Dan nona Laudya, saya tunggu sampai besok laporannya." kata pak Martin.


"Tunggu, sebenarnya tuan Bryan mau apa datang ke perusahaan ini? bukankah dulu saya mengahak kerja sama anda menolaknya?" tanya Laudya.


"Nona Laudya, anda tidak tahu kalau sekarang pemegang saham terbesar di perusahaan kita ini adalah tuan Bryan." kata pak Martin.


"Apa?! Tapi kenapa anda membeli saham-saham kami ini?"


"Anda pasti tahu alasannya nona Laudya." jawab Morgan.


Laudya ucapan Morgan, dia mengingat ini pasti ada hubungannya dengan kejadian di rumah Bryan dan dia mengganggu Kirana. Dia pun tersenyum sinis, lalu bangkit dari duduknya. Jadi karena itu Bryan membeli saham-saham perusahaannya."


"Oh, soal istrimu? Tapi kenapa kamu menyangkut pautkan dengan perusahaan?"


"Morgan, jangan ladeni dia. Kita harus fokus dengan pekerjaan kita saja. Aku malas meladeni hal sepele." kata Bryan.


"Oke bos."


Bryan berbicara sebentar lalu dia pun pamit keluar dari ruang pak Martin. Sedangkan Laudya masih tidak mengerti apa yang di lakukan Bryan di kantor pak Martin.


"Apa yang mereka lakukan pak Martin?"


"Sudah jelas tuan Bryan mau mengambil alih kepemimpinan. Aku juga sepertinya akan pindah posisi, entah nanti di tempatkan di mana." kata pak Martin.


"Huh, mereka seenaknya saja. Tapi baiklah, tentunya posisiku masih aman, karena sahamku lebih banyak dari pak Martin. Aku menyerahkan jabatan direktur utama pada pak Martin itu agar berjalan dengan baik. Tapi memang seharusnya pak Martin di ganti posisinya, sebagai manager." kata Laudya.


Dia lalu keluar dari ruang pak Martin, sedangkan pak Martin hanya diam saja. Memang jabatan direktur di berikan oleh Laudya padanya, agar terlihat lebih berjalan sesuai ketentuan di perusahaan.


_


_


_

__ADS_1


********************


__ADS_2