
Kirana sangat bahagia, dia sekarang jadi istri Bryan seutuhnya. Meski dia kadang malu-malu di rumah suaminya itu, karena ledekan pembantunya yang kadang membuatnya malu.
"Deeh, yang udah malam pertama. Gimana tuh rasanya." kata Mimin meledek Kirana yang sedang membuat omlete untuk Missel.
"Apa sih mbak Mimin, ngomongnya ngga jelas banget." kata Kirana yang mukanya memerah karena malu.
"Hahaha, kuat banget ya tuan Bryan?" Mimin malah terus meledek Kirana.
"Tahu ah, mbak Mimin ngeledek terus."
"Heheh, nyonya Kirana jalannya ngesot kakinya."
Kirana semakin memerah wajahnya, dia benar-benar malu di ledek Mimin terus-terusan. Dia lebih baik diam dan meneruskan membuat omletenya.
"Berapa ronde nyonya?"
"Haish, apa sih mbak Mimin!"
"Hahaha!"
"Mimin, kamu kenapa tertawa begitu?!" tanya Bryan heran.
"Eh, ngga ada tuan. Saya lagi senang aja bunganya sudah mekar sekarang karena sering di siram." jawab Mimin dengan senyum mengembang di bibirnya.
Bryan mendekat pada Kirana yang sedang menggoreng omlete permintaan Missel. Bryan mencium pipi Kirana dan tentu saja Kirana kaget, dia menoleh ke arah Mimin, takut pembantu itu tahu kalau Bryan menciumnya.
"Kamu cari apa?" tanya Bryan, dia memeluk Kirana dan menciumnya kembali pipinya.
"Emm, itu mas. Aku malu kamu begini mas." jawab Kirana.
"Malu sama siapa? Di sini ngga ada siapa-siapa."
"Ada mbak Mimin, kan malu."
"Mimin ngga ada, dia ke meja makan. Aku pengen peluk kamu sebelum ke kantor."
"Hemm, manja banget sih."
"Kan sama istri sendiri. Yang bawah masih sakit ya?"
"Iya, perih. Kakiku juga lelah." jawab Kirana.
Pipinya merona mengingat kegiatan panas semalam, lalu tersenyum malu.
"Nanti juga ngga sakit lagi kok, euh kalau kamu ngga sakit sudah aku eksekusi lagi tadi pagi. Cup." kata Bryan lagi.
"Udah dong, ini nanti susah mindahinnya."
Bryan meraba bagian perut Kirana lalu naik ke bagian dadanya, membuat Kirana kaget dengan aksi Bryan itu.
"Mas, udah ih." kata Kirana menepuk tangan suaminya itu.
"Aku gemas sama kamu, cup."
Bryan pun pergi dari dapur, dia naik tangga dan menuju kamarnya mengambil tasnya. Dia memasang dasi sendiri karena Kirana belum bisa membuat simpul dasi.
_
Kirana duduk-duduk di samping rumah sambil membaca majalah fashion yang sudah lama masa terbitnya, dia bosan seharian ada di rumah terus sampai sore dan malam hari sudah pasti Bryan akan memintanya lagi.
__ADS_1
Dia lalu mengambil ponselnya dan ingin menghubungi sahabatnya, Danisa.
"Halo sayangku Kirana, nyonya Bryan. Gue ada di depan rumah suamimu nih." kata Danisa di telepon yang baru saja di hubungi Kirana.
Niatnya ingin mengobrol dengannya di telepon malah dia datang ke rumah.
"Lo udah di depan? Niat banget lo mau main ke rumah ini." kata Kirana dengan ketus.
"Yee, gue mau mengucapkan selamat buat nyonya Bryan. Gue masuk ya?"
"Ya, masuk aja. Bilang sama satpamnya gue yang suruh." kata Kirana.
"Oke sayangku."
Klik
Kirana menutup sambungan teleponnya dan menuju ruang tamu. Dia menunggu Danisa masuk ke dalam rumah. Dan tak lama, Danisa pun masuk dengan senangnya dan menghampiri Kirana yang sedang duduk.
"Nyonya Bryan, apa kabar?" tanya Danisa dengan merentangkan kedua tangannya.
"Ish, lebay lo. Udah duduk aja sini." kata Kirana menepis tangan Danisa.
"Sombong bener nyonya Bryan, mentang-mentang udah jadi pemilik rumah gedong ini." ucap Danisa dengan sinis.
"Lo mau apa datang ke rumah suami gue." tanya Kirana.
"Cih, lo kenapa telepon gue? Kangen lo sama gue?" tanya Danisa tak kalah ketus.
Kedua sahabat itu jika sudah bertemu ada saja kelakuamnya. Kadang Kirana yang ketus pada Danisa, kadang juga dia pasrah padanya. Namun Danisa dan Kirana meski berbeda sifat mereka saling menyayangi.
"Gue bosan, ngga boleh antar Missel sekolah. Ya, meski di sekolah juga gitu-gitu doang." kata Kirana.
"Ngga boleh kenapa?" tanya Danisa heran.
"Emm, gue sakit." kata Kirana menyembunyikan sesuatu.
Tangan Danisa di tempelkan di kening Kirana, namun dia heran tidak merasakan panas tubuhnya.
"Lo ngga panas kok, terus lo sakit apa?" tanya Danisa.
Kirana menunduk, pipinya memerah menahan malu meski tidak mengatakannya. Danisa belum sadar dengan perubahan pipi Kirana, namun dia pun akhirnya tersenyum senang. Jiwa usilnya pun keluar.
"Sakit apa nyonya Bryan?" bisik Danisa pura-pura tidak tahu.
"Apa sih lo, ngga sakit apa-apa kok." kilah Kirana masih memerah pipinya dan tersenyum malu.
"Eeciiee udah belah duren nih. Gimana? Melayang ngga rasanya?" tanya Danisa menggoda Kirana.
Kirana malah menepuk tangan Danisa tanda malu, dan senyumannya.
"Hahaha, tuh kan? Kalau bercinta tuh asyik, seperti terbang melayang. Aaaaah, nikmaaatnyaaa ..." kata Danisa dengan tangannya meraba lehernya.
"Apa sih lo?! Lo belum nikah ya, jangan lo begitu lagi. Dosa lo lakuin gitu sebelum nikah." kata Kirana dengan ketus menutupi rasa malunya.
Danisa benar-benar meledek Kirana, dia tertawa lepas dan menggoyangkan tangan Kirana.
"Eh, gue udah ngga lakuin itu lagi. Gue mau tobat, mau cari jodoh kayak lo. Om duda hot dan kaya raya. Uuh, kenapa ya kemarin gue menolak tawaran bang Morgan buat jadi guru les anaknya tuan Bryan. Ck ck ck, gue nyesel deh." kata Danisa dengan raut wajah menyesal.
"Ya karena lo lagi tergila-gila sama si Bruno itu. Lagian ya, gue cinta sama dia. Dan emm, dia juga. Heheh ..." kata Kirana.
__ADS_1
"Huh, lo aja kemarin-kemarin di pecat datang ke gue. Sekarang tolong carikan gue duda hot juga dong?"
"Ck, gue ngga kenal siapa-siapa. Lha, yang pinter cari cowok kan lo. Kenapa minta ke gue?"
"Tapi suami lo pasti ada teman bisnisnya yang hot juga."
"Hemm, ngga tahu gue. Nanti gue tanyain, eh lho mau minum apa?"
"Haish, baru sekarang lo nawarin gue minum. Apa aja deh."
"Ya udah, tunggu di sini gue mau ambil di dapur." kata Kirana.
Dia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dengan langkah pelan dan sedikit merenggang. Danisa memperhatikan cara jalan Kirana pelan dan merenggang kedua kakinya pun tersenyum lucu.
"Waaah, ternyata ganas juga ya tuan Bryan. Sampai nyonya Bryan jalan aja di seret. Hahah!"
Kirana kesal dengan ledekan sahabatnya itu, benar-benar kakak beradik hobi sekali meledek. Pikr Kirana.
Dia tidak menanggapi ledekan Danisa, melangkah terus meski bagian intimnya masih terasa perih. Dan sudah pasti Danisa akan meledeknya lagi nanti.
Tak berapa lama, Kirana membawa minuman jus jeruk untuk Danisa. Lalu duduk lagi di dekat Danisa, sedangkan Danisa hanya senyum-senyum sendiri sambil menatap Kirana.
"Ehem, kuat banget ya tuan Bryan mengeksekusi lo?"
"Udah sih, kenapa itu terus yang di bahas. Lo mau apa datang ke rumah?"
"Kan gue mau bilang mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Lo curang ya ngga ngasih kabar gue, udah mau dua bulan gue baru tahu dari bang morgan kalau lo udah nikah sama tuan Bryan. Gimana ceritanya?" tanya Danisa penasaran ingin mendengar cerita tentang pernikahan dadakan sahabatnya itu.
"Emm, gue juga ngga nyangka dia menikahi gue. Ya, jodoh juga sih meski jalan cerita cinta dan menikahnya ngga sesuai harapan. Tapi gue seneng sih menikah dengannya." kata Kirana.
"Lo pinter ya, rebut hati anaknya eh papinya juga lo pikat juga." kata Danisa.
"Ngga tahu juga, lha dia yang bohong sama ayah ibu gue demi mau nikahin gue."
"Hemm, menarik ya cerita lo itu. Eh, gue boleh ngga jadi pelakor? Heheh ..."
"Haish, lo jangan sampai gue damprat deh. Laudya juga mau gue labrak kalau tahu terus pepet suami gue." kata Kirana.
"Laudya siapa? Yang waktu di kafe itu?"
"Iya."
"Hemm, ciri-ciri istri bucin nih. Ya udah deh, gue mundur. Lagian suami lo bukam selera gue, takut gue kalau sama orang kekar- kekar gagah gitu. Gue ngga kuat."
"Halah, lo sama Bruno juga ngelakuin beberapa kali."
"Melakukan apa sayang?"
_
_
Mampir ya kaka di novel punya temanku, oke lho ya ceritanya..😊😊
_
***************
__ADS_1