
"Sedang apa kalian berdiri di depan kamarku dan membuat keributan?"
Kirana berdiri dengan wajah kesal, ternyata sejak tadi yang terdengar ribut di depan kamarnya adalah dua perempuan tidak tahu diri. Dan mau apa mereka?
Laudya dan oma Ranti juga kaget, Kirana berdiri dengan wajah kesal. Ada semburat wajah senang pada Luadya, dia menatap oma Ranti dan seolah memberi isyarat ini saatnya beraksi.
"Kalian sedang apa di depan kamarku?" suara Kirana meninggi.
Kemudian, Laudya tanpa basa basi menyeret Kirana keluar. Dia menarik tangan Kirana lalu membawanya turun ke bawah. Kirana di perlakukan seperti itu pun kaget, dia menarik tangannya untuk menolak.
"Apa yang kamu lakukan Laudya, mau apa kamu menarik tanganku?"
"Aku ingin memberimu pelajaran gadis kampung!"
"Heh, apa salahku? Kamu marah aku bersama dengan mas Bryan atau kamu marah pada mas Bryan karena telah menolakmu?"
"Diam kamu! Oma, cepat dorong gadia kampung ini turun. Dia harus di paksa turun dan di suruh pergi dari rumah ini!" teriak Laudya.
"Hei! Apa hakmu di rumah ini?! Kamu tamu, tapi kamu seolah seperti pemilik rumah suamiku. Perempuan tidak punya tata krama dan tidak tahu diri"
Plak!
Laudya menampar pipi Kirana dengan keras. Sampai Kirana memiringkan wajahnya karena tamparan tadi. Benar-benar Laudya tidak tahu diri dan tidak punya tata krama.
"Laudya, cukup!"
"Apa kamu berubah pikiran akan membela gadis kampung ini hah?" teriak Laudya.
"Bukan begini caranya. Dan lagi pula, kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Yang ada hak di rumah ini itu saya!" kata oma Ranti membalas teriakan Laudya.
Laudya pun merah padam, matanya nyalang dan nafasnya memburu karena rasa kesap dan marah di bentak oleh oma Ranti. Tapi dia diam saja, kembali menatap Kirana dengan tajam.
"Dan oma akan melakukan apa pada gadis ini?" tanya Laudya.
"Kita seret dia keluar dan suruh untuk mengepel lantai ini. Itu lebih baik, karena seharusnya pekerjaan itu yang dia lakukan. Bukan malah enak-enakan jadi nyonya di rumah ini. Ayo sekarang tarik tangannya dan bawa dia ke bawah." kaya oma Ranti.
Laudya pun menurut, dia kembali menarik tangan Kirana. Kirana berusaha melawan, namun sepertinya tenaganya berkurang dan kepalanya terasa pusing bukan main. Dia pun terhuyung, tangannya berpegangan di pegangan tangga agar bisa menahan tarikan tangan Laudya di tangannya.
__ADS_1
Namun, oma Ranti pun membantu Laudya menarik tangan Kirana, mau tidak mau Kirana akhirnya terbawa juga. Di undakan tangga kedua, Kirana tiba-tiba perutnya mual, dia ingin menyemburkan apa yang ada di dalam mulutnya. Dan dia muntah.
"Huweek!"
"Sialan, gadis kampung! Kamu mengotori bajuku hah?!"teriak Laudya.
Kirana tidak tahu lagi, dia lemas dan tersungkur ke bawah. Oma Ranti pun terdiam, dia sepertinya menduga kalau Kirana sedang hamil. Maka pikirannya pun kalap, dia kini yang menarik tangan Kirana dan akan membawanya turun lalu pergi ke dapur.
"Ayo kamu cepat bangun, gadis sialan!" teriak oma Ranti.
Dia menarik tangan Kirana yang lemah, Kurana hampir terseret ke bawah. Namun sebuah tangan menarik tangan Kirana dan satu tangannya lagi menampar pipi oma Ranti.
Oma Ranti pun kaget, dia marah dan melihat siapa yang berani menamparnya. Dan betapa terkejutnya dia melihat perempuan susianya lebih tua darinya itu menatapnya tajam dengan penuh kemarahan.
"Kamu mau menyiksa menantuku?! Apa hakmu di rumah ini hah?!" ucap perempuan itu yang tak lain adalah ibunya Bryan. Nyonya Kalina.
"Mbak Kalina, kenapa ada di sini?" tanya oma Ranti dengan terbata.
"Seharusnya saya yang bertanya kenapa kamu ada di rumah anakku? Kamu sudah tidak berhak masuk ke rumah anakku, Ranti. Apa kamu lupa dengan ucapanku hah?!" kata nyonya Kalina dengan tajam.
"Tapi, aku sedang menemani cucuku di sini. Aku masih berhak dengan cucuku Missel." jawab oma Ranti.
"Mbak, jangan salah sangka. Dia tidak ..."
"Cukup! Dari dulu aku tahu kelakuanmu pada anakku. Kamu menyukai anakku, dan kamu terobsesi ingin menikah dengan anakku? Ngaca kamu Ranti!" kata nyonya Kalina dengan tajamnya.
Dia benar-benar marah pada besannya itu, sejak dulu dia tahu kalau oma Ranti terobsesi dengan anaknya. Hingga anaknya Risa di rumah sakit, dia malah ke kantor Bryan. Entah mengadu tentang apa, namun itu sudah terlihat jelas kalau besannya menyukai anaknya.
Laudya yang tadi pergi ke kamar mandi mencuci baju terkena muntahan Kirana kembali lagi dan melihat ada nyonya Kalina pun berhenti. Dia takut juga untuk mendekat, namun Mimin dan Nur yang baru sadar pun berteriak.
"Nona Laudya juga tadi menarik tangan nyonya Kirana, nyonya besar." kata Mimin.
Nyonya Kalina menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah Laudya. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya yang masih di kantor.
Tuuut
"Halo ma?"
__ADS_1
"Bryan, kamu cepat pulang ke rumah ada dua mahluk jahat yang mau mencelakai istrimu. Cepat pulang!"
"Iya ma, aku segera pulang."
Klik!
"Jaga dia gadis murahan jangan sampai dia pergi dari rumah ini!" kata nyonya Kalina pada Mimin.
Dia benar-benar marah pada oma Ranti dan juga Laudya. Kedua perempuan yang terobsesi pada anaknya membuat kepalanya pusing, sampai menantunya sendiri di aniaya oleh kedua perempuan itu.
Kirana pun berusaha bangun, dia mendengar semua ucapan mertuanya. Namun kepalanya benar-benar pusing dan perutnya terasa mual sekali. Ketika berdiri, tiba-tiba dia kembali terkulai dan pingsan.
"Nyonya Kirana pingsan!" teriak Nur.
Semua mata tertuju pada Kirana yang tergeletak di lantai. Nyonya Kalina mendekat dengan cepat, begitu juga Mimin dan Nur. Sedangkan Laudya dan oma Ranti diam, mereka saling melirik dan berusaha untuk kabur di situasi lengah itu.
Mimin yang tahu kalau Laudya dan oma Ranti mah kabur, dia berteriak kencang.
"Jangan kabur kalian!"
"Mimin, cepat bantu saya membawa Kirana ke kamarnya. Dia harus di baringkan ke kasur, biarkan kedua rubah itu pergi. Tapi nanti jangan harap mereka akan selamat dariku." kata nyonya Kalina.
"Baik nyonya."
Nur, Mimin dan nyonya Kalina menggotong Kirana untuk naik tangga dan di bawanya ke kamarnya. Kirana pingsan karena mual dan pusing yang tidak bisa dia tahan.
Mereka meembawa ke dalam kamar dan membaringkannya ke ranjangnya. Nur segera mengambil air minum dan juga Mimin segera menghubungi dokter keluarga.
Bryan segera naik tangga dengan berlari, dia sangat khawatir dengan istrinya. Sampai Morgan bertanya pun tidak dia jawab. Dia masuk ke dalam kamarnya, dan terlihat di sana mamanya sedang memijat kaki Kirana, Nur meletakkan air minum di meja.
"Ma, ada apa dengan istriku?"
_
_
_
__ADS_1
********************