
Daniel kini sudah berada di Batam, hanya membutuhkan satu jam saja dari kota menuju Batam. Dia langsung memesan hotel yang terdekat dengan perusahaan milik Bryan di pegang Morgan lewat aplikasi di ponselnya. Setelah dia sudah memesan, dia naik taksi menuju hotel di mana dia akan tingga selana tiga hari.
"Ke hotel X ya." kata Daniel masuk ke mobil taksi yang mangkal di depan bandara.
"Baik pak." ucap supir taksi.
Lalu mobil taksi pun melaju menuju hotel yang di tunjuk Daniel. Daniel menatap sisi jalan sangat padat akan gedung-gedung tinggi dan juga pabrik-pabrik besar di sana. Dia melirik jam di tangannya, baru pukul lima sore, dia masih punya banyak waktu sore ini untuk istirahat dan juga mengerjakan pekerjaannya yang dia bawa.
Tadi siang dia tidak mengerjakan apa-apa di kantor karena memikirkan Danisa. Dia belum menemukan rumah Morgan yang dia tinggali. Lagi pula, Daniel belum mencari alamat Morgan di sosial media. Biasanya ada keterangan alamat rumah di profil media sosial, setidaknya dia hanya mencari nomor alamatnya saja.
"Sudah sampai pak di depan hotel x." kata supir taksi itu.
"Oh ya, terima kasih." kata Daniel membayar argo taksinya.
Dia lalu keluar dari mobil taksi dan langsung menuju lobi dan ke bagian resepsionis untuk menunjukkan aplikasi pesanan hotel. Tak lama petugas resepsionis pun memberikan kunci kamarnya setelah dia membayar biaya hotel selama tiga hari full.
Daniel di antar oleh petugas hotel yang membawa kopernya menuju kamarnya. Sampai di kamar, petugas hotel itu membuka kunci kamar dan memasukkan koper Daniel.
"Selamat beristirahat tuan." kata petugas hotel itu.
"Iya, terima kasih." kata Daniel sambil memberikan uang tips lima puluh ribu pada petugas hotel.
Setelah petugas hotel keluar, Daniel lalu membuka bajunya. Dia akan membersihkan diri dan berendam sebentar untuk menghilangkan penatnya selama perjalanan menuju Batam.
_
Daniel sekarang berada di perusahaan yang di pimpin Morgan, dia menuju resepsionis untuk bertanya apakah bosnya ada di kantornya.
"Pak Morgan sedang keluar pak, kata sekretarisnya. Tapi cuma sebentar sih, jam sebelas kembali lagi ke kantor. Apa anda sedang terburu-buru?" tanya resepsionis.
"Tidak, kalau begitu saya tunggu di lobi. Nanti mbak kasih tahu saya ya kalau pak Morgan sudah kembali." kata Daniel.
"Siap pak, saya akan kasih tahu bapak nanti." katanya.
Daniel pun menuju lobi, dia akan menunggu Morgan sambil mengerjakan pekerjaannya sedikit demi sedikit. Sambil dia menghubungi Maya untuk menanyakan apa saja yang harus dia selesaikan melalui email.
Satu jam Daniel menunggu Morgan datang, dia selesai mengerjakan pekerjaannya. Duduk dengan perasaab gelisah karena Morgan belum juga datang. Dan tak lama, seorang resepsionis mendekat padanya. Memberitahu kalau Morgan sudah datang.
"Maaf pak, pak Morgan sudah datang sepuluh menit yang lalu." kata resepsionis itu.
"Oh, sudah datang? Kenapa mbak tidak langsung memneritahu saya?" tanya Daniel.
"Hehe, maaf pak. Saya lupa." kata resepsionis itu dengan tawa kecilnya.
"Huh, di mana ruang kantor pak Morgan?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Bapak naik lift aja, pak Morgan di lantai tiga. Nanti bapak tanya lagi pada staf di sana di mana ruang kantor pak Morgan." jawab resepsionis itu.
"Ya sudah, terima kasih."
Daniel pun beranjak dari duduknya menuju lift, dia akan naik di lantai tiga sesuai petunjuk resepsionis tadi dan bertanya pada staf pegawai di sana. Sampai di lantai tiga, Daniel bertanya pada staf dan di antar langsung oleh staf itu ke ruang kerja Morgan.
"Ini pak ruang kerja pak Morgan." kata staf itu.
"Terima kasih."
Dia lalu mengetuk pintu, dan keluarlah seorang sekretaris Morgan. Heran menatap Daniel, lalu dia mempersilakan Daniel masuk setelah dia memberitahu kalau dia memang ingin bertemu dengan Morga.
"Masuk saja tuan, pak Morgan ada di dalam." kata.sekretaris Morgan itu.
Daniel pun mengetuk pintu sebelum dia masuk ke dalam ruang kerja Morgan. Morgan sendiri kaget siapa yang datang. Ternyata adalah sahabat Bryan.
Daniel masuk ke dalam ruang kantor Morgan, dia melihat sekeliling kantor sangat luas. Lalu dia duduk di sofa tanpa menunggu Morgan menyuruhnya duduk. Morgan pun mendekat, dia juga duduk di sofa.
"Apa kabar tuan Daniel?" tanya Morgan.
"Aku baik, Morgan. Jangan panggil tuan lagi, aku bukan majikanmu." kata Daniel.
"Hahah, baiklah. Tapi, apakah yang membuatmu kemari?" tanya Morgan.
"Tapi apa?"
"Emm, Morgan. Di mana adikmu?" tanya Daniel membuat Morgan merasa heran, kenapa Daniel mencari adiknya.
"Kenapa menari adikku? Dia ada di rumah dengan istriku." jawab Morgan.
"Hah! Benar sekali dia ada denganmu. Baguslah, ini akan mempermudah apa yang aku cari." kata Daniel semakin membuat Morgan heran.
"Daniel, apa yang kamu bicarakan? Aku semakin tidak mengerti. Kamu mencari Danisa ada apa?"
Daniel menghela nafas panjang, dia bercerita kalau sekarang dia akrab dengan adiknya. Dan selama ini dia mencarinya, karena dia ingin bertemu dengannya. Morgan mendengarkan apa yng di katakan Daniel itu tidak ada yang aneh, tapi kenapa Daniel menceritakan adiknya itu.
"Hmm, aku tidak tahu apa hubunganmu dengan adikku. Dia belum mengatakan apa pun tentang siapa yang sedang dekat dengannya. Hanya dia bilang sudah putus dengan si Bruno brengsek itu, baguslah dia putus. Aku kesal sekali dia berpacaran dengan laki-laki liar itu." kata Morgan.
"Ya, waktu itu dia juga di bawa paksa laki-laki bernama Bruno. Dan untungnya aku datang menyelamatkannya." kata Daniel belum mengutarakan keinginannya untuk meminta Danisa jadi istrinya.
"Ya, dia cerita kalau si Bruno itu mau memperkosanya dan untungnya ada yang menolongnya. Tapi dia tidak cerita kalau kamu yang menyelamatkannya. Apa kebetulan saja kamu menyelamatkan Danisa atau memang kamu tahu?"
"Aku tahu, waktu itu aku menghubunginya dan dia meminta tolong padaku."
"Ooh, aku memgucapkan terima kasih kamu telah menolong adikku Daniel." kata Morgan.
__ADS_1
Diam, Daniel dan Morgan saling diam sekarang. Daniel masih bingung untuk mengatakan maksud sesungguhnya pada Morgan. Morgan sendiri agak heran, jauh-jauh Daniel ke kantornya hanya mau menanyakan keberadaan adiknya?
"Daniel, apa?"
"Morgan, aku meminta adikmu untuk jadi istriku." kata Daniel akhirnya tegas dia mengatakan pada Morgan.
Dan tentu saja Morgan kaget, dia menatap Daniel dan mengerutkan dahinya. Ada apa sebenarnya ini? Apa karena peristiwa menyelamatkan Danisa itu?
"Apa yang kamu katakan?" tanya Morgan.
"Aku meminta dengan sungguh-sungguh Morgan, aku meminta adikmu untuk jadi istriku. Karena aku mencintainya." kata Daniel lagi menegaskan perasaannya.
"Kamu sadar apa yang kamu katakan?"
"Ya."
"Kamu tahu Danisa itu tidak seperti seorang gadis lugu?"
"Ya, aku tahu."
"Apa kamu tahu kalau Danisa itu sudah tidak suci lagi? Tidak seperti istri tuan Bryan, dia gadis baik dan masih suci. Kamu mencintai adikku dengan sungguh-sungguh?"
"Morgan, aku tidak peduli itu. Aku sungguh-sumgguh memcintainya. Beberapa minggu aku mencarinya, tapi tidak juga aku menjumpainya. Dan sekarang aku langsung bertemu denganmu, meminta langsung padamu Morgan. Aku ... benar-benar kehilangan dia beberapa minggu ini." kata Daniel lirih.
Morgan menghela nafas panjang, dia pernah berpikir kenapa adiknya datang padanya dalam keadaan seperti punya masalah. Tapi saat di tanya dia tidak menjawab, apakah Danisa juga suka pada Daniel? sejak kapan dia suka pada laki-laki ini? Pikir Morgan.
"Pergilah ke rumahku, dia ada di rumahku saat ini. Aku terserah padanya, meskipun aku kakaknya masalah perasaan Danisa aku tidak pernah ikut campur. Jika dia menerimamu, itu artinya dia juga mencintaimu. Yang jelas saat dia datang ke rumahku dalam keadaan patah hati, ku pikir dia patah hati dengan si Bruno brengsek itu." kata Morgan
Wajah Daniel begitu ceria mendengar Morgan menyetujuinya kalau Danisa akan dia lamar dan menjadikannya istri yang dia cintai.
"Di mana alamat rumahmu?" tanya Daniel.
Morgan bangkit dari duduknya dan mengambil kartu nama di mejanya. Lalu memberikannya pada Daniel. Daniel menerima kartu nama itu dengan senang hati. Dia memperhatikan kartu nama itu lalu mengangguk pada Morgan.
"Sekarang juga aku akan ke sana menemuinya, Morgan. Terima kasih kamu memberiku kesempatan dan mengizinkanku menikahinya nanti." kata Daniel.
Dia lalu berdiri, tidak membuang waktu lagi. Daniel langsung pamit pada Morgan dan akan langsung menuju rumah Morgan di alamat yang tertera di kartu nama itu.
_
_
_
**********************
__ADS_1