Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
58. Makan Malam


__ADS_3

Satu bulan lebih setelah dari kampung, Bryan dan Kirana hidup bahagia. Terkadang mertuanya, ibu Bryan menelrpon menantunya. Dia ingin akrab dengan Kirana meski melalui telepon.


Seperti malam ini, Bryan belum pulang dari kantor. Nyonya Kalina, ibunya Bryan menghubungi Kirana. Kirana heran kenapa ada nomor tak di kenal dengan kode berbeda dari biasanya.


Beberapa kali telepon itu berbunyi, dan akhirnya Kirana mengangkatnya. Dia menjawab dengan takut, dia takut ada orang iseng yang menghubunginya.


Halo, siapa ini?" tanya Kirana.


"Halo Kirana, ini mama." kata nyonya Kalina pada Kirana.


Kirana pun terkejut, dia merasa tidak enak karena tidak cepat dia mengangkat teleponnya. Ternyata mertuanya yang menelepon. Dengan ramah Kirana pun menjawabi ucapan mertuanya itu.


"Oh mama, maaf ma. Saya kira nomor mama orang iseng, maaf ngga langsung saya angkat." kata Kirana.


"Iya ngga apa-apa. Mama maklum kok, kamu sedang apa? Apa Bryan sudah pulang?" tanya nyonya Kalina.


"Belum ma, mas Bryan belum pulang. Mungkin sebentar lagi." jawab Kirana.


"Sayang, aku pulang." teriak Bryan mendekat pada istrinya yang sedang menelepon, lalu mencium bibirnya.


"Telepon sama siapa?" tanya Bryan.


"Sama mama." jawab Kirana.


"Oh, sekarang mama menelepon langsung sama kamu?"


"Ya, mas. Aku ngga tahu kalau mama menelepon."


"Halo Kirana, kamu bicara dengan Bryan?"


"Iya ma, ini mas Bryan baru pulang."


"Oh, ya udah ngga apa-apa. Mama memang mau bicara sama kamu aja mengenai resepsi pernikahan. Apa Bryan sudah merencanakan kapan resepsi itu di laksanakan?"


"Dulu pernah membicarakannya ma, tapi mas Bryan sedang sibuk terus. Belum ada waktu untuk membicarakan secara serius." jawab Kirana.


Karena sebenarnya bisa saja bicara mengenai resepsi di malam hari menjelang tidur. Tapi Bryan tidak lakukan itu, dia lebih suka bermain dengan istrinya lalu tidur jika sudah dapat jatah.


"Tunggu mama pulang ya, nanti bicara saja sama mama. Bryan mana bisa ada waktu membicarakan seperti itu, malam pasti kalian lelahkan karena itu?"


Tebakan nyonya Kalina memang benar, Kirana hanya meringis saja dan tertawa kecil. Membuat nyonya Kalina ikut tertawa karena tebakannya memang benar.


"Makanya mama membicarakannya sama kamu, dia juga sudah menyerahkan semuanya pada mama. Dua minggu lagi mama pulang, tapi hanya seminggi saja sih lalu berangkat lagi. Dan kalau papa sudah sehat, bisa pulang sama papa." kata nyonya Kalina.

__ADS_1


"Iya ma, aku mengerti kok."


"Bagaimana dengan Missel? Apa dia suka membuatmu kewalahan?"


"Ngga sih ma, tapi lebih sering manja. Aku tidak masalahkan itu, aku juga senang kok dengan Missel."


"Bagus, kamu juga menyayanginya kan?"


"Tentu saja ma, dia sudah aku anggap anak sendiri."


"*Bagus itu, mama suka sama kamu. Yang penting bagi mama itu Bryan ad*a yang mencintainya dengan tulus dan menyayangi juga Missel. Kebanyakan perempuan lain itu hanya dekat dengan Bryan menginginkan dia saja, tapi sama Missel tidak begitu peduli. Makanya mama menyetujui Bryan menikah dengan kamu sewaktu dia meminta izin mau menikah." kata nyonya Kalina lagi.


"Iya ma, terima kasih banyak mama mau menerimaku menikah dengan mas Bryan." kata Kirana.


"Ya sudah, mama tutup telepon dulu ya. Mau mengurus papa dulu."


"Iya ma, semoga papa cepat sembuh."


"Iya sayang, terima kasih."


Klik!


Telepon terputus, kini Kirana benar-benar bahagia mertuanya menerimanya dengan baik. Apa lagi nanti katanya mau mengurus resepsinya nanti.


"Mama bilang apa sayang?" tanya Bryan pada Kirana.


"Emm, katanya dua minggu lagi mama pulang, tapi hanya satu minggu di sini. Katanya mau mengurus resepsi pernikahan kita mas. Apa kamu minta bantuan mama?" tanya Kirana.


"Tadinya mama tanya, apakah sudah memikirkan resepsi pernikahan. Ya aku jawab belum ma, hanya sebatas membahas sedikit aja dengan kamu. Mama malah menawarkan diri untuk mengurus resepsi kita. Ya udah, itu terserah mama." jawab Bryan.


Dia lalu pergi ke ruang ganti baju, dia berganti baju dengan baju kemeja dan celana jeans hitam. Dengan rambut di sisir rapi dan juga memakai parfum.


Kirana melihat suaminya terlihat rapi dan wangi merasa heran, mau kemana suaminya berdandan seperti itu.


"Kamu mau kemana mas? Kok rapi banget?" tanya Kirana.


"Ayo kamu ganti baju dan dandan yang cantik ya, kita mau makan malam di luar." kata Bryan.


"Makan malam dalam rangka apa?"


"Emm, aku mau makan malam di luar aja sama kamu. Cepat ya sayang, aku sudah reservasi tempatnya. Jam tujuh harus selesai dan langsung berangkat." kata Bryan.


"Kok ngga ngasih tahu dulu sebelumnya? Kan biar aku siap-siap kalau begitu." kata Kirana.

__ADS_1


"Ngga apa-apa, hanya makan malam biasa aja sih."


"Tapi kenapa sudah reservasi tempat? Itu berarti kamu sudah menyiapkan semuanya dari awal." kata Kirana mulai curiga.


Apa jangan-jangan suaminya mau mempermalukannya nanti di tempat makan? Atau dia memesan untuk mengundang teman-temannya?


Pikiran Kirana kemana-mana, dia menatap suaminya yang sedang memakai sepatu. Dan Bryan menyadari kalau istrinya menatapnya curiga.


"Kenapa menatapku seperti itu sayang?" tanya Bryan.


"Aneh aja mas, kok mendadak begini ngasih tahu akunya. Atau kamu mengundang teman-temanmu juga?" tanya Kirana penuh selidik.


"Ngga juga, tapi memang aku mengundang orang kok." jawab Bryan santai.


"Ish, terus kalau mendadak begini aku maba bisa dandan cantik? Ya sudah, aku ngga ikut!" kata Kirana dengan ketus.


Dia kesal sekali dengan tanggapan suaminya itu. Tapi Bryan malah menanggapi ucapan Kirana santai. Dia mendekat pada istrinya yang kesal padanya, lalu memeluknya dari depan dan menatapnya lembut.


Cup.


"Aku hanya mengundang Morgan dan temanmu itu, dan satu lagi teman aku. Jadi secederhana apa pun kamu berdandan, mereka tidak akan tertarik sama kamu." kata Bryan menenangkan istrinya.


Dia kembali mencium bibir istrinya agar lebih tenang tidak marah lagi. Lalu tersenyum padanya, membelai pipinya dan kembali mencium Kirana lagi.


"Sudah sana dandan yang cepat, ngga usah cantik juga ngga apa-apa sih. Kamu tetap cantik di mata aku sayang."


"Ish, gombal banget sih?" kata Kirana dengan senyum malunya.


Dia lalu menuju kamar ganti, memakai baju sesuai dengan baju suaminya, tapi santai. Setelah itu dia pun berdandan sederhana saja. Bryan memperhatikan istrinya dandan secepat kilat dan hasilnya juga memang tidak menecewakan. Tentap cantik dan terlihat sangat menawan bagi Bryan.


"Emm, mending kamu tidak dandan aja ya tadi." kata Bryan.


"Tadi di suruh dandan, kenapa sekarang ngga boleh? Kamu ribet deh mas."


"Hahah, ya sudah. Ayo kita berangkat, sudah malam ini." kata Bryan.


Kirana pun menggandeng tangan suaminya yang tadi dia siapkan untuk di gandeng. Entah apa maksudnya, Bryan seperti itu. Kirana masih penasan dengan sikap suaminya sekarang, tapi dia mau mengikuti apa maunya suaminya. Lagi pula dia juga sudah mulai lapar.


_


_


_

__ADS_1


*******************


__ADS_2