Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
52. Menghukum Bryan


__ADS_3

"Papi!!!"


Teriakan Missel dari dalam mobil membuat Bryan dan Kirana kaget. Keduanya saling pandang dan segera berlari keluar menuju mobil di halaman depan rumah ibu Kamina.


"Papi tega banget tinggalin Missel di mobil." kata Missel dengan mimik wajah seperti mau menangis.


Kirana pun membuka pintu mobil yang belum di buka kuncinya.


"Mas, cepat buka kuncinya." kata Kirana panik.


"Iya, udah di buka ini."


"Kenapa lupa sih kalau Missel masih di dalam mobil?" tanya Kirana kesal pada suaminya.


"Maaf ayang, aku terlalu semangat mau ketemu kamu. Lagi pula tadi Missel tidur, jadi aku tidak tega bangunin dia. Ya aku biarkan di mobil." jawab Bryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Missel turun dari mobil, di pegang tangannya oleh Kirana lalu di bawa ke dalam rumah, dia kesal kenapa Bryan lupa dengan anaknya sendiri. Missel diam saja, melihat ke arah Kirana yang menggerutu tidak jelas pada papinya. Bryan sendiri hanya diam saja mendengar ocehan istrinya karena kelalaiannya meninggalkan Missel yang sedang tidur di dalam mobil. Dia mengikuti langkah Kirana dan Missel masuk ke dalam rumah.


"Sayang, jangan marah dong." kata Bryan merayu Kirana.


"Gimana ngga marah, mas lupa kalau Missel di dalam mobil." kata Kirana dengan ketus, menatap tajam pada suaminya.


Missel hanya melihat perdebatan kecil antara papinya dan maminya. Dia memainkan boneka patricknya yang sejak tadi di pegangnya. Dia tidak peduli kedua orang tua itu berdebat masalah dirinya.


"Mi, boneka patricknya lucu ya?" kata Missel.


Kirana menoleh, dia lalu melihat Missel yang biasa saja. Kirana pun menghela nafas panjang, menatap kembali suaminya yang diam saja. Niat ingin bermesraan dengan Kirana malah dia melakukan kesalaha sampai istrinya marah padanya.


"Kamu sudah makan mas?" tanya Kirana pada Bryan.


"Belum, dari rumah langsung berangkat dan ngga berhenti istirahat karena ingin cepat ketemu sama kamu." jawab Bryan.


"Jadi Missel juga belum makan?" tanya Kirana agak meninggi suaranya.


"Iya sayang, tapi dia bawa cemilan kok di mobil. Sepanjang jalan makan cemilan yang di bawakan oleh Mimin." jawab Bryan.


Kirana pun menghela nafas lega, kasihan juga jika sampai Missel belum makan sama sekali di mobil. Kirana lalu bangkit dari duduknya, dia hendak pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan siang suami dan anaknya.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Bryan.


"Ke dapur mas, menyiapkan makan siang untuk kamu dan Missel. Kamu lapar kan?" tanya Kirana.

__ADS_1


"Iya sih, ya udah aku ikut ke belakang juga." kata Bryan.


Bryan mengikuti Kirana menuju dapur, Missel di gandeng oleh Kirana. Mereka makan siang menu sederhana di rumah ibunya Kirana. Sampai di dapur, terlihat ibu Kamina sudah menata makanan di meja makan.


"Sudah rapi ternyata bu." kata Kirana.


"Iya, ibu tahu nak Bryan datang. Jadi ibu langsung memasak lagi dan menyiapkanny di meja. Ibu tahu suamimu pasti lelah, apa lagi dia menyetir sendiri kan?" kata ibu Kamina.


Kirana tersenyum, dia lalu mengajak Missel untuk duduk di kursi makan. Bryan juga ikut duduk di kursi makan, dia mau mengambil tahu goreng di piring Namun, Kirana menepis tangan Bryan dengan kasar.


"Cuci tangan dulu, tangannya ada kumannya." kata Kirana.


Bryan pun bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi untuk cuci tangan. Di susul oleh Missel juga cuci tangan. Tangan Missel di tarik Bryan lalu di bersihkan tangannya.


Setelah selesai, mereka kembali ke meja makan dan segera makan karena perutnya sudah sangat lapar.


"Makanannya sederhana mas, cuma tumis sayur, sambal terasi, tahu goreng dan pepes ikan peda. Kamu suka menu ini mas?" tanya Kirana menyendokkan nasi ke dalam piring suaminya.


"Ini juga enak kok, aku bahkan suka kangen makanan kampung." kata Bryan dengan senyumannya mengembang.


Kirana menaruh piring berisi nasi dan juga tumis sayur, tahu goreng dan juga ikan pepes peda serta sambal.


"Mi, Missel minta sayurnya dong." kata Missel.


Setelah berdoa, mereka langsung menyantap makanan di piring. Satu suap, dua suap Bryan menikmatinya dengan lahap. Kirana menyuapi Missel dengan telaten.


"Kirana, ibu mau ke sawah dulu ya, menemani ayah di sana." kata ibu Kamina.


"Iya bu, oh ya bu. Tolong jangan kasih tahu ayah dulu ya, kalau mas Bryan datang." kata Kirana.


"Iya, ibu tahu. Biar nanti ayah tahu sendiri, tapi kamu harus siap kalai ayah marah sama suamimu." kata ibunya.


"Iya bu."


Ibu Kamina pun pamit juga pada Bryan, dia lalu pergi keluar untuk menemani suaminya di sawah.


_


"Jadi kamu datang lebih cepat?" tanya pak Darno ketika sore hari dia sudah pulang dari sawahnya.


"Iya yah, saya tidak bisa jauh lama-lama dengan Kirana yah." jawab Bryan.

__ADS_1


Pak Darno menghelan nafas kasar, rencananya dia ingin tenang dan tidak mau bertengkar dengan menantunya karena masih kesal.


"Yah, sudahlah. Untuk apa sih memisahkan mereka? Mereka suami istri yang saling mencintai, ayah tidak bisa begitu saja memisahkan mereka lama-lama." kata ibu Kamina memberi penjelasan pada suaminya.


"Ayah masih kesal bu, dia bohong sama ayah dan ibu untuk mendapatkan Kirana." kata pak Darno.


"Ya tapi kan nak Bryan itu tidak menghamili Kirana, itu bagus yah. Dia bahkan menikahi Kirana dengan baik." kata ibu Kamina lagi.


"Baik apanya? Dia menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Kita datang ke rumahnya kemarin saja tidak ada orang tuanya, kemana orang tuanya? Ayah takut nanti Kirana tidak di sukai oleh mertuanya itu." kata pak Darno beralasan.


"Maaf yah sebelumnya, kedua orang tua saya ada di luar negeri. Papa dan mama saya setuju saya menikah dengan Kirana, Kirana juga sudah bicara melalui telepon dengan mama saya. Jadi ayah jangan khawatir mama dan papa saya tidak menerima Kirana sebagai menantunya. Bulan depan rencananya mau pulang ke Indonesia. Dan menemui menantunya ini." kata Bryan menjelaskan apa yang jadi kekhawatiran ayah Kirana itu.


Pak Darno diam, menatap Bryan masih dengan kesal. Dia masih berpikir menantunya itu harus dapat hukuman. Pak Darno pun akhirnya mendapat ide untuk menghukum Bryan.


"Baiklah, kali ini ayah mengalah. Tapi kamu harus ayah hukum." kata pak Darno.


"Di hukum?"


"Iya, kamu harus mencangkul sawah ayah. Setiap pagi kamu harus pergi ke sawah dengan ayah.." kata pak Darno dengan senyum sinis.


"Bryan pun diam, Kirana hanya bisa menatap suaminya. Lebih baik Bryan menerima hukuman dari ayahnya, dari pada ayahnya marah terus.


"Mas, udah terima aja. Kan mencangkul itu ngga berat kok." bisik Kirana.


Bryan pun menarik nafas kasar, dia menatap mertuanya lama. Lalu akhirnya dia mengangguk cepat.


"Baiklah, saya terima hukuman dari ayah. Saya siap pagi besok mencangkul di sawah dengan ayah." kata Bryan.


"Baik, siapkan tenaganya untuk besok. Karena sawah ayah itu luas, jadi siapkan tenaga yang besar." kata pak Darno lagi.


"Tidak masalah, aku bermain dengan istriku lima kali aja kuat." kata Bryan dengan bangganya.


"Mas, apa sih yang kamu bicarakan?!" kata Kirana dengan mata yang membesar menatap pada suaminya.


Bryan pun hanya tersenyum saja, sementara kedua mertuanya hanya geleng-geleng kepala. Kirana sudah pasti kesal pada suami nyelenehny itu.


_


_


_

__ADS_1


***************


__ADS_2