
Rasa kesal karena tadi Bryan membayangkan jika dia membajak sawah dengan traktor, tapi nyatanya memang di suruh mencangkul sawah.
Siang ini dia makan hanya diam saja, Kirana memperhatikan apa yang di lakukan suaminya, makan dengan cepat lalu pergi dari gubuk kecil itu, melihat sawah di sekelilingnya untuk menghilangkan rasa kesalnya pada pak Darno.
"Mi, papi kenapa diam aja?" tanya Missel setelah selesai makan di gubuk sawah itu.
"Ngga tahu, mungkin papi capek karena mencangkul sawah tadi." jawab Kirana.
Dia belum bisa menenangkan hati suaminya, karena posisinya tidak memungkinkan. Dia tahu cara menenangkan suaminya itu, memberi jatahnya. Tapi mau bagaimana lagi, di kamar dia harus tidur dengan Missel dan juga tidak mungkinkan melakukan itu di depan anaknya?
"Mi, Missel ngantuk." kata Missel sambil menguap.
"Ya udah ayo kita pulang." kata Kirana.
Dia lalu mengajak Missel untuk pulang dan menidurkannya. Sedangkan Bryan masih mode kesal pada istrinya.
"Mas, aku pulang dulu ya. Missel ngantuk katanya." kata Kirana.
"Aku di tinggalin?"
"Lha, kan kamu udah besar. Masih siang ini, ada ayah juga. Kenapa? Takut di sawah?" tanya Kirana.
"Ish, siapa yang takut? Ya udah sana pulang." kata Bryan ketus.
Kirana tersenyum, dia lalu mengajak Missel pulang. Tapi sebelum dia pergi, Kirana mencium pipi suaminya dengan mendadak. Membuat Bryan terkejut dan terdiam lama menatap istrinya yang tersenyum padanya.
"Daah, papi Missel. Bekerja dengan baik ya jangan lupa istirahat kalau capek. Mmmuuahh!" kata Kirana meledek Bryan.
Membuat Bryan semakin kesal, rasa senangnya kembali hilang karena di ledek oleh istrinya. Dia pun mendengus kesal, mau mengungkung Kirana rasanya sulit sekali. Akhirnya dia hanya bisa diam dan kesal.
"Awas aja kamu sayang, nanti malam aku culik dan aku buat kamu sampai tidak bisa berjalan!" teriak Bryan pada Kirana yang sudah menjauh darinya.
_
Malam hari, Bryan memikirkan bagaimana dia bisa membawa Kirana pergi ke penginapan. Sebelum sampai di rumah Kirana dulu, dia menemukan penginapan yang lumayan asri dan ramai juga. Tapi enak untuk menginap satu malam di sana. Tapi masalahnya Missel bagaimana?
Soalnya kadang Missel suka bangun tengah malam, karena bukan tempat tidurnya. Jadi dia sering terbangun.
Dan malam ini ternyata hari keberuntungan Bryan, Missel mau tidur dengan ibu Kamina. Sedangkan pak Darno seperti bisa dia tidur di bale-bale bambu di ruang tengah.
"Sayang, kita pergi jalan-jalan yuk? Mumpung Missel udah tidur." kata Bryan beralasan.
"Malam tuh sepi mas, cari apa di luar?" tanya Kirana yang tidak tahu rencana suaminya.
__ADS_1
"Ya kan aku pengen berduaan sama kamu, kita jalan-jalan pakai mobil. Setelah itu kita akan balik lagi kok." kata Bryan lagi membujuk Kirana.
"Memangnya mau kemana? Kan ini sudah jam sembilan malam. Udara juga sudah mulai dingin."
"Justru itu sayang, kan enak dingin-dingin kita pelukan. Udah nurut aja sih, dari kemarin aku mau berduaan sama kamu." kata Bryan tidak sabar lagi.
"Tapi nanti kalau Missel cari kita gimana?"
"Ngga akan, percaya sama aku." kata Bryan lago.
Kirana pun berpikir, dia juga pengen berduaan dengan suaminya di kamar. Mumpung Missel sudah tidur, begitu pikir Kirana. Tapi suaminya pengen keluar, ya apa boleh buat dia pun mengalah.
"Ya udah deh, aku ke kamar dulu mau ambil sweater." kata Kirana.
"Iya, jangan lama-lama. Keburu malam."
"Iya, sekalian izin sama ibu juga mas."
"Ya."
Kirana masuk ke dalam kamarnya mengambil sweaternya. Lalu dia menuju kamar ibunya untuk izin keluar dengan suaminya. Setelah selesai, Kirana menghampiri suaminya yang menunggunya dengan tidak sabar. Dengan senyum sumringahnya, Bryan menyiapkan semuanya sejak awal.
Dia juga membawa baju ganti Kirana dan dirinya untuk besok pagi. Karena rencananya memang dia akan menginap di penginapan terdekat saja agar tidak do ganggu kegiatan olah raga malamnya dengan Kirana.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Kirana.
"Ke penginapan sayang." jawab Bryan santai.
"Mau apa?"
"Ya mau tidur, memang mau apa lagi?"
"Kalau tidur sih mending di rumah, mas. Kenapa harus di penginapan?"
"Supaya ngga ada yang ganggu kegiatan malam kita sayang, kamu tahu kemarin malam aku gagal eksekusi kamu. Makanya malam ini aku ngga mau ada yang ganggu, siapa pun itu." kata Bryan memasuki parkiran penginapan terdekat.
"Ish, jadi kamu masih juga memikirkan itu?" kata Kirana dengan senyum kecutnya.
"Tentu saja, rasa penasaran di hatiku ngga akan hilang kalau belum menyentuhmu. Kamu harus siap-siap begadang sayang, karena aku akan membuatmu bercinta sampai pagi." kata Bryan lagi seperti mengancam Kirana.
Kirana meringis ngeri, ancaman suaminya benar-benar menakutkan. Dia kalau sudah bercinta dengannya, tidak akan pernah selesai. Berkali-kali memintanya terus sampai dia kelelahan baru Bryan bisa berhenti.
Bryan dan Kirana pun turun, mereka menuju resepsionis dan memesan kamar untuk satu haru saja. Bryan memesan kamar VIP, karena di tempat kampung seperti itu memang adanya kamar VIp.
__ADS_1
Kalau ada kamar presidenswit, pasti dia akan memesan kamar itu.
"Ini tuan kamarnya, silakan membayar tagihannya di awal." kata resepsionis itu.
Bryan mengeluarkan kartu ATMnya dan menggeseknya, setelah selesai dia langsung membawa istrinya ke kamar yang dia pesan. Tak jauh dari lobi penginapan, karena memang VIP agak ke belakang.
Bryan membuka pintu kamar dan langsung menarik tangan istrinya setalah mengunci kamarnya. Dia memepetkan tubuh Kirana ke tembok dan mencium dengan cepat bibir Kirana, gairahnya sejak kemarin masih membara. Di lumatnya bibir Kirana hingga di gigit-gigit kecil, dan tangannya meraba punggungnya dengan lembut.
Tangan satunya memegang leher Kirana, kini bibir Bryan turun ke leher dan memberikan kecupan-kecupan kecil. Membuat Kirana melenguh panjang, tak lupa juga tangan satunya meraba bagian dada dan meremasnya lembut. Kirana semakin mendesah, menikmati buaian tangan dan bibir suaminya.
"Mas, aaaaah." lenguhan Kirana semakin memacu gairah Bryan.
Namun, dia masih menahan agar bisa menikmati suaran lenguhan merdu istrinya. Kirana menggeliat nikmat, tatkala tangan Bryan masuk ke pakaian dalam di bawah dan memasukkannya dan memainkan karinya dengan cepat.
"Mas, ueeegrh aaah. Aku ngga tahan maaa, sssshh."
"Sejak dari rumah suara desahanmu yang aku rindu sayang, mmuu aaah."
Kali ini Kirana yang berani memegang junior suaminya. Dia mengelus pelan, membuat Bryan mengerang nikmat.
"Sayang, eeeuh ini sangat enak. Kamu semakin berani ya euuuhh!"
"Aku juga mau kamu menikmati pelayananku mas."
"Oh ya? kalau begitu jangan tanggung-tanggung sayang, kita ke kasur aja. Lebih leluasa melakukannya."
Keduanya pun menuju ranjang tanpa melepas tangan dari tempatnya membuai dan menyentuh. Kini Bryan yang berada di bawah, sedangkan Kirana yang di atas.
"Masukin sayang, atau kamu mau menyedotnya?"
"Ish, aku masih jijik mas. Aku masukin aja."
Kirana pun menuntun junior suaminya ke bawahnya, lalu setelah masuk keduanya pun saling mengerang nikmat.
"Aaaaaargh! Sayaaang ....!"
_
_
_
**************
__ADS_1