
Danisa berada di rumah sakit menengok bayi Kirana. Dia merasa gemas dengan bayi kembar itu. Sesekali dia mencubit pipinya dan juga menggigitnya. Ternyata mempunyai bayi itu menyenangkan, pikirnya.
"Lo jangan gigit anak gue dong." kata Kirana yang tahu Danisa menggigit pipi anaknya hingga menangis.
"Heheh, gue gemas banget Ki. Pengen jadinya punya bayi." kata Danisa.
"Halah, dulu lo ngga mau ribet sama anak kecil. Kenapa sekarang jadi pengen juga." kata Kirana mencibir Danisa.
"Ya kan dulu gue masih terjerat cinta Bruno. Dan sekarang gue terjerat cinta duda hot juga sama kayak lo, hahah!" kata Danisa.
Kirana pun ikut tertawa. Memang benar, kedua sahabat itu juga mendapatkan duda beranak satu. Mereka tidak menyangka akan dapat duda tampan dan hot juga. Danisa sebentar lagi akan menikah dengan Daniel.
"Sebenarnya gue ngga boleh nih ke rumah sakit nengokin lo." kata Danisa.
"Kenapa memangnya?" tanya Kirana.
Dia meletakkan Alka ke dalam boksnya setelah di beri asi. Kini gantian Arka yang dia beri asi, Danisa memperhatikan Kirana memberikan asi pada putra keduanya itu. Sangat menyenangkan bagi Danisa melihat Kirana sedang memberi asi untuk anaknya.
"Danisa?"
"Eh, kenapa?"
"Ck, lo ngelamun?"
"Lo tanya apa?"
"Haish, kenapa lo ngga boleh jenguk gue?"
"Oh, ya kan minggu depan gue mau nikah. Seperti orang mau nikah itu di pingit dulu, gitu kata kakak ipar gue. Tapi gue pengen lihat anak lo yang menggemaskan itu." kata Danisa.
"Aku aja langsung nikah waktu itu, ngga pakai di pingit. Mas Bryan bilang aku hamil anaknya waktu itu, jadi besoknya aku nikah sama dia." kata Kirana.
"Cerita cinta lo sama gue beda ya, dan unik memang. Aku juga ngga menyangka akan menikah dengan tuan Daniel yang dulu hanya bisa gue kagumi sewaktu kenal pertama di restoran itu." kata Danisa.
"Ya, gue juga ngga nyangka menikah dengan mas Bryan yang baru kenal dia sangat dingin banget. Bahkan dia mengusir gue karena salah paham." kata Kirana.
"Eh, Ki. Lho ingat ngga waktu itu ada cowok nabrak lo itu?"
"Kapan?"
"Waktu lo mau cari kerja itu, tahu siapa yang nabrak lo itu?"
"Emm, siapa ya? Kok aku lupa ya."
"Ck, lo udah pikun ternyata. Gue hafal betul siapa cowok itu. Gue mau ngomong sama lo tuh, lupa aja."
__ADS_1
"Emm, maas Bryan ya?" kata Kirana yang mulai ingat.
"Nah, kan. Ucapan gue waktu itu jadi kenyataan kan? Lo jadi istrinya dia tuh duda hot, hahah!" kata Danisa.
Kirana pun ikut tertawa, dia ingat saat itu Bryan sedang buru-buru berjalan sampai menabrak Kirana. Dan Kirana waktu itu sangat kesal, tapi keburu Danisa datang. Kirana juga tidak menyangka mengingat itu, kalau ucapan Danisa jadi kenyataan. Dia menikah dengan Bryan.
_
Seorang perempuan muda dan cantik, namun dia berusia tiga puluh tahun. Memasuki rumah Daniel, dia berpenampilan seperti seorang nyonya besar. Satpam di rumah Daniel tahi siapa dia. Dan dia memberi hormat karena dulu dia adalah nyonya besar di rumah Daniel.
"Anakku ada di rumah, pak?" tanya perempuan itu dengan sedikit menegak wajahnya.
Ada perbedaan di penampilan dan sikap perempuan di mata satpam itu setelah beberapa tahun tidak melihatnya. Keangkuhan dalam wajah mantan majikannya itu, namun masih mau menyapanya.
"Ada nyonya di dalam, sama emm." kata satpam tidak meneruskan ucapannya.
"Sama siapa?" tanya perempuan itu lagi.
"Emm, nyonya lihat sendiru saja."
"Ck, sejak tadi aku juga mau masuk. Tapi kamu malah bicara yang tidak bermutu." katanya.
Lalu dia pun melangkah masuk, dia sengaja memarkirkan mobilnya tidak di halaman rumah Daniel, tapi di depan rumah di pinggir jalan. Dia terus melangkah masuk ke dalam tanpa membunyikan bel atau mengucapkan salam. Langsung menuju kamar anaknya.
Ya, dia adalah mantan istrinya Daniel, Raisa. Yang dulu meninggalkan Daniel dengan pria bulenya yang kaya raya. Entah mau apa dia datang ke rumah Daniel, apakah mau menjenguk anaknya. Atau mau apa, tidak ada yang tahu.
"Kania?"
Kania dan Danisa menoleh ke arah sumber suara. Dan Kania hanya diam saja, mengingat siapa perempuan yang memanggilnya. Sedangkan Raisa hanya menatap anaknya dengan tatapan rindu seorang ibu. Danisa juga heran, siapa perempuan itu?
"Kania, ini mama sayang." kata Raisa akhirnya bicara.
"Mama Kania?" tanya Kania heran dan bingung.
"Iya sayang, ini mama Kania." kata Raisa lagi.
Dia mendekat pada Kania yang masih bingung, menatap Danisa yang juga kebingungan dengan kedatangan Raisa itu. Namun dia merasa sedih karena mamanya Kania datang. Apakah akan kembali lagi pada Daniel?
Pikiran jelek dan khawatir Danisa terus bermunculan, dia melihat Raisa memeluk Kanisa. Namun, Kania belum menanggapi dan membalas pelukan Raisa. Danisa pun menjauh, dia tahu ibunya Kania itu sedang merindukan anaknya.
"Tante Danisa juga mau jadi mama Kania." kata Kania.
Membuat Raisa dan Danisa terkejut bersamaan. Keduanya saling menatap, Danisa menatap Raisa bingung. Namun, Raisa malah menatap Danisa dengan tatapan sinis. Melihat dari atas sampai bawah penampilan Danisa, Danisa merasa risih di tatap sinis oleh Raisa.
"Apa yang anda lihat mbak?" tanya Danisa.
__ADS_1
"Mbak? Memang aku seorang pembantu?" kata Raisa kesal dengan sebutan Danisa padanya.
Danisa mengerutkan dahinya, memang pantas di panggil mbak. Dia lebih tua dari Danisa, tapi eang masih cantik. Tapi usia tidak bisa menutupi penampilan dan garis wajah kalau Raisa lebih tua dari Danisa.
"Tapi anda lebih tua dariku, aku hanya menghormati anda sebagai orang yang lebih tua dari usiaku." kata Danisa lagi.
"Ck, bisa tidak memanggil lebih sopan?"
"Menurutku panggilan mbak juga sopan, hanya orang yang sombong saja yang tidak mau di panggil mbak." kata Danisa lagi dengan datarnya.
"Kamu!"
"Raisa!"
Daniel masuk dengan cepat, dia marah dengan ucapannya pada Danisa. Tatapannya tajam pada Raisa, namun Raisa malah mengejek Daniel.
"Heh, kamu datang lebih cepat? Pasti satpam itu yang memberitahumu ya. Oh ya, aku datang ingin bertemu dengan anakku. Tapi malah dia bilang perempuan itu adalah calon mamanya. Kamu memilih perempuan di bawah levelku." kata Raisa seolah mengejen Daniel.
Daniel pun geram dengan ucapan Raisa, namun Danisa mencegah Daniel untuk membalas ucapan Raisa.
"Sudah mas Daniel, biarkan saja. Lagi pula kesombongan tidak akan membawanya bahagi. Aku yakin dia datang karena tidak bahagia dengan suaminya." kata Danisa langsung menusuk pada Raisa.
Wajah Raisa merah padam, dia tidak menyangka calon istri Daniel lebih berani dari gadis biasanya. Namun dia diam saja, mendekat pada Kania dan berbicara pada Kania.
"Kania sayang, ini mama sayang. Apa kamu mau ikut dengan mama ke Inggris?" tanya Raisa.
Daniel menatap anaknya, Kania juga menatap balik. Lalu dia pun mendekat pada Daniel dan memeluk papanya itu. Membuat Raisa merasa kecewa dan sedih.
"Lihatlah, anakmu bahkan tidak mengenalmu dengan baik. Kamu pikir suatu saat Kania akan mau ikut denganmu? Kamu menyia-nyiakan masa emasnya mengenal orang. Mana yang menyayanginya dan mana yang mengabaikannya. Dan sejak kecil kamu telah meninggalkannya Raisa, bukan hanya mengabaikannya. Bahkan kamu sama sekali tidak pernah menjenguknya dan datang padanya. Jadi, jangan harap Kania akan mengenalmu." kata Daniel.
Raisa menghela nafas panjang, lalu dia pun menunduk sedih. Benar apa yang di katakan manta suaminya itu. Namun dia hanya ingin melihat Kania saja, dan memeluknya.
"Aku hanya ingin melihatnya dan memeluknya, Daniel. Itu saja." kata Raisa akhirnya.
"Kalau mau memeluk Kania, jangan menghina calon istriku. Dia yang lebih dekat dengan Kania sekarang, jadi jangan menghinanya." kata Daniel.
Lalu Raisa pun mendekat lagi pada Kania, dia berjongkok dan menatap anaknya dengan lembut. Lalu memeluk Kania dan sedikit terisak dan mengucapkan maaf pada anaknya itu.
"Maafkan mama, sayang. Maafkan mama." kata Raisa.
Lama dia memeluk Kania, lalu dia pun melepas lagi dan pergi setelah meminta maaf pada Daniel dan Danisa. Dia kini pergi lagi, dan juga di depan dia meminta maaf pada satpam. Kemudian dia naik mobil yang terparkir di depan rumah Daniel.
_
_
__ADS_1
_
****************