Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
67. Bersekutu


__ADS_3

Bryan sudah pergi dari ruang kantornya meninggalkan oma Ranti dan Laudya yang masih kesal dengan Bryan. Mengacuhkan keduanya tanpa ada sambutan yang menyenangkan. Oma Ranti datang lebih awal dan menawarkan makan siang, namun Bryan menolaknya.


Laudya datang sepuluh menit setelah oma Ranti datang, dia juga masuk tanpa menghiraukan sekretaris Bryan mencegahnya. Laudya langsung masuk dan mendekat pada Bryan, seperti biasa bergelayut manja di pundak Bryan dan duduk di sampingnya. Tapi Bryan mencegahnya dan menghindar.


Tentu saja saat itu oma Ranti yang marah sekali melihat menantu kesayangannya itu di dekati oleh Laudya. Morgan yang sejak tadi duduk di sofa juga bingung dengan kedua orang yang tidak tahu diri itu.


Dan sekarang mereka pun keluar juga dari kantor Bryan, keduanya naik lift sama-sama dengan pikiran sama pula. Lama mereka saling diam di lift, dan akhirnya oma Ranti bertanya pada Laudya.


"Kamu perempuan tidak tahu diri ya, sudah tahu Bryan tidak mau malah mendekat dengan seenaknya." kata oma Ranti.


Laudya memandang oma Ranti, dia juga tersenyum sinis pada perempuan tua itu. Dia berpikir mertua Bryan juga tidak tahu diri, masih saja perhatian pada menantunya. Padahal anaknya sudah meninggal.


"Sama denganmu juga nenek, kenapa perhatian sekali pada Bryan. Membawa bekal makanan padanya, memang nenek akan dapat perhatian juga dari Bryan. Ingat ya nek, Bryan tidak akan tertarik sama nenek-nenek seperti anda. Apa lagi dandan seperti anak muda, ngga tahu diri." kata Laudya dengan ketus dan frontal.


Membuat oma Ranti merah padam, dia melototkan matanya dan mendengus kesal. Semua usahanya untuk menarik perhatian Bryan ternyata di sepelekan dan di remehkan oleh Kirana dan juga Laudya.


"Kamu juga, perempuan gatal. Mendekati Bryan seperti perempuan murahan." kata oma Ranti tak kalah pedas pada Laudya.


Alih-alih keduanya kesal dengan ucapan sindiran yang di lontarkan tadi, keduanya pun diam dan saling membuang muka ke samping. Tak lama Laudya pun kembali menatap oma Ranti dan juga sebaliknya oma Ranti juga menatap pada Laudya.


"Apa kamu berpikiran sama denganku?" tanya oma Ranti.


"Apa?"


"Jangan bilang kamu mau menyingkirkan gadis itu dan memberinya pelajaran padanya." kata oma Ranti.


"Kenapa memangnya? Jangan bilang juga nenek-nenek di sampingku ini juga punya pikiran sama denganku?" kata Laudya.


"Hei, jangan panggil aku nenek-nenek!"

__ADS_1


"Memang sudah nenek-nenek, apa yang harus di tolak? Kenyataannya anda itu seorang nenek-nenek." kata Laudya lagi.


"Kamu?!"


Oma Ranti merasa kesal dengan ucapan Laudya itu. Namun, dia sabar menahan amarahnya. Demi sebuah rencana mendadak terlintas di benaknya, dia akan mengajak Laudya bersekutu dengannya untuk menyingkirkan Kirana. Atau memberinya pelajaran pada gadis itu.


Oma Ranti pun mengalah, dia menarik nafas panjang dan menatap Laudya yang masih saja angkuh itu. Ingin sekali oma Ranti menjambak rambutnya itu yang sedikit bergelombang di bawah, dengan berpakaian seksi dan terlihat bagian dadanya yang menonjol. Oma Ranti sendii melihat Laudya memang cantik, kulit putih bersih karena memang sering perawatan. bagian belakang pantatnya juga berisi, bukan saja bagian depannya.


Laudya mengibaskan rambutnya, dia mengambil kaca kecil untuk melihat apakah dandanannya itu rusak atau masih tetap semula. Oma Ranti mencibir, dia juga tidak mau kalah dengan Laudya. Mengibaskan rambutnya yang sebahu, di buat model rambut bergelombang. Oma Ranti pun bicara pada Laudya.


"Laudya, bagaimana kalau kita bersekutu saja." kata oma Ranti.


"Bersekutu apa?" tanya Laudya pura-pura tidak mengerti.


"Kita harus memberi pelajaran pada gadis kampung itu, biar dia tidak sombong hidup dengan menantuku dan juga menikmati harta dari Bryan. Aku tidak rela jika dia harus menikmati kekayaan Bryan dengan leluasa. Apa lagi cucuku sekarang lebih lengket pada gadis itu dari pada sama aku." kata oma Ranti.


"Biaklah, aku terima nenek tua."


"Jangan katakan nenek tua, aku aku tidak setua itu!"


"Tapi kenyataannya nenek itu sudah tua!"


"Hah, aku menyesal telah mengajakmu bersekutu. Batalkan saja persekutuan kita, biarkan saja Bryan dan gadis itu bersenang-senang. Aku akan pulang. Aku menyesal telah mengajakmu bekerja sama menyingkirkan gadis itu. Aku pun bisa melakukan itu sendirian, karena aku bebas ada di rumah itu dua puluh empat jam." kata oma Ranti dengan kesal.


"Baiklah-baiklah, jangan marah seperti itu. Haish, sudah tua tapi masih suka ngambek." kata Laudya.


"Siapa yang ngambek?" tanya oma Ranti ketus dan menatap tajam ke arah Laudya.


Dia kesal juga, memang oma Ranti tinggal di rumah Bryan selama dua puluh empat jam. Jadi dia bisa melakukannya sendiri, tanpa bantuannya. Tapi dia ingin sekali membalas pada istri Bryan itu, setidaknya ingin melihat gadis itu kesakitan dan marah.

__ADS_1


"Iya iya, terus apa yang mau oma lakukan pada gadis itu?" tanya Laudya.


Oma Ranti pun mendekat pada Laudya, dia membisikkan sesuatu rencana untuk mengerjai istri Bryan itu. Laudya tampak tersenyum, dia juga memang punya rencana. Tapi biarlah nanti saja bisa di jalankan setelah nenek tua itu bertindak, dia akan mengikutinya. Begitu pikir Laudya.


"Bagaimana? Apa kamu setuju?" tanya oma Ranti.


"Hemm, boleh juga. Jadi, aku harus datang setiap hari ke rumah Bryan?" tanya Laudya.


"Tentu saja, kamu datang setelah gadis sudah pulang dari sekolah Missel. Dia biasanya pulang jam sebelas sebelum makan siang." jawab oma Ranti.


"Tapi bagaimana jika dia pergi ke kantor Bryan, rencana kita akan gagal."


"Masih ada waktu, tidak mungkin dia setiap hari ke kantor Bryan. Dia pasti pulang, kalau pun ke kantor Bryan. Dia juga pasti pulang, karena dia sudah punya mobil sendiri. Hah, menyebalkan sekali dia." kata oma Ranti itu.


"Oke, terserah anda. Aku akan ikuti, tapi sekarang aku akan kembali ke hotel. Ada urusan penting lebih dari ini."


"Hei, antarkan aku pulang lebih dulu."


"Ck, naik taksi sajalah. Aku buru-buru saat ini, ada yang menungguku di hotel."


"Kamu itu, ya sudah. Sini berikan nomor ponselmu."


Laudya pun menyebutkan nomor ponselnya pada oma Ranti, dia terburu-buru karena ada Billy di hotel itu. Sedangkan oma Ranti juga sudah lapar karena dia tadi gagal makan siang dengan Bryan. Mereka lalu pergi dari kantor Bryan, berpisah dengan pikiran masing-masing.


Ponsel Laudya berdering, dia lalu mengambilnya dan melihat siapa yang menelepon. Wajahnya senang, dia pun mengangkat teleponnya.


"Halo sayang?"


_

__ADS_1


__ADS_2