
Pagi ini Missel tampak sibuk mempersiapkan apa yang akan di bawa untuk pergi ke kampung Kirana. Dia juga membawa boneka kesayangannya doraemon dan patrick star. Bryan melihat anaknya membawa dua boneka besar itu jadi mengerutkan dahinya.
"Sayang, jangan bawa boneka besar itu, terlalu besar nanti ngga muat di dalamnya kalau mami Kiran ikut, mau duduk di mana?" tanya Bryan.
"Kan bisa di depan pa, nanti boleh deh mami Kiran duduk di depan sama papi. Bonekanya sama aku di belakang." jawab Missel.
"Iya tapi satu aja yang di bawa, jangan semua."
"Dua aja pi, doraemon sama patrick kok. Dua itu sedikit, kalau tiga baru banyak. Kata bu guru juga begitu, dua itu sedikit." kata Missel.
"Haish, ini anak malah ngeles aja. Udah, pokoknya jangan di bawa semua. Kalau mau ikut papi, Missel harus nurut sama papi. Pilih mau bawa boneka doraemon atau patrick star?" tanya Bryan penuh ketegasan.
Missel pun cemberut, dia akhirnya menimang dua boneka kesayangannya itu. Lalu di ambilnya patrick star untuk di bawa di mobil menyusul Kirana.
"Ya udah deh, patrick aja pi." kata Missel.
"Nah, gitu dong. Jangan di bawa semua, sekarang masukin boneka sama kopernya ke mobil papi. Minta sama mbak Mimin atau mbak Nur untuk di masukin ke dalam bagasi mobil." kata Bryan.
"Iya pi."
Missel pun keluar, dia memberitahu Mimin untuk membawanya ke dalam mobil Bryan. Sedangkan Bryan bersiap, dia tidak memberitahu istrinya karena nanti untuk kejutan. Meski pun memang kemarin dia memberitahu kalau besok dia akan menjemputnya, tapi tidak tahu nanti ke sana dengan Missel.
Setelah rapi, dan kini bersiap untuk berangkat, Missel sudah ada di dalam mobil, Bryan menghubungi Morgan untuk mengurus pekerjaannya selama dia pergi.
"Tuan mau berapa hari di kampung nyonya Kiran?" tanya Mimin.
"Aku belum tahu, jika ayah dan ibu memberi izin membawanya secepatnya ya mungkin tiga hari atau empat hari." jawab Bryan.
"Ooh, saya kira mau seminggu. Heheh." kata Mimin dengan tawa kecilnya.
"Jangan bawa pacar kamu ke dalam rumah, Mimin. Awas kamu!" kata Bryan mengancam.
"Apa sih tuan, saya ngga pernah bawa pacar ke rumah. Paling di depan rumah aja tuan." kata Mimin dengan senyumnya.
"Ish, lain kali kalian cepat menikah. Jangan pacaran terus."
"Ya, tuan. Kita sedang merencanakannya."
"Ya sudah, saya berangkat dulu."
"Hati-hati tuan, secepatnya nyonya Kiran di bawa ya."
"Hemm."
Dan kini Bryan masuk mobil lalu menjalankannya, Missel melambaikan tangan pada pembantunya itu.
"Daah mbak Mimin."
"Daah non Missel."
Mobil keluar dari halaman rumah besar itu, satpam Dodi juga melambaikan tangan pada Missel. Baru setelah keluar mobilnya, Dodi menutup kembali pintu pagar besi tersebut
_
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kampung Kirana, Missel selalu bicara, apa saja yang di bicarakan membuat Bryan terhibur. Namun dia juga senang karena tidak membosankan sepanjang jalan.
"Pi, kampungnya mami Kiran ada banyak sawah ya?"
"Ya, banyak banget."
"Missel nanti mau main di sawah ya pi? Sama mami Kiran."
"Ngga boleh, gatal dan banyak lumpur. Kotor jadinya."
"Kan bisa mandi pi."
"Ya mandi, tapi ngga bersih."
"Ih, papi gimana sih? Mami Kiran juga cantik kok."
"Apa hubungannya main kotor-kotoran di sawah, mandi sama cantiknya mami Kiran?"
"Ada pi, kan mami Kiran cantik karena mandi di rumahnya. Berarti airnya bersih."
"Tapi mami Kiran ngga main kotor-kotoran."
"Tapi main kotor-kotoran ngga apa-apa pi. Papi kuno banget sih?!" kata Misse dengan kesalnya.
"Ish, nih anak kenapa bicaranya seperti itu sih? Sudah diam, papi bingung jadinya kalau kamu bicara terus!" kata Bryan kesal juga akhirnya.
Missel cemberut lagi, dia diam pada akhirnya. Tapi rasa kesal karena papinya tidak mau lagi di ajak bicara.
Bryan tersenyum, dia diam saja tanpa mengangkatnya. Dia pikir nanti akan jadi kejutan untuk Kirana, jadi dia mengabaikannya.
Dan dering ponsel pun berhenti, karena memang mobil Bryan sudah memasuki kampung Kirana. Di sisi jalan kakan kiri terdapat sawah membentang luas, sangat sejuk pemandangan sawah di kampung Kirana.
Banyak sekali petani yang sedang membajak sawah, menanam bibit padi dan juga menyemprot padi yang sudah mulai besar.
Tak berapa lama, kini mobil bryan berhenti di depan rumah. Suasananya sepi, tak terlihat orang. Namun pintu sedikit terbuka, mungkin Kirana ada di dalam.
Bryan pun keluar dari mobilnya, dia tidak membangunkan Missel yang sedang tidur di dalam mobil.
Mengetuk pintu, dan mengucap salam.
"Assalamu alaikum" teriak Bryan
Meskipun terbuka sedikit, namun Bryan tidak langsung masuk. Dia mengetuk lagi dan memberi salam lagi.
Baru dua kali, lalu terdengar suara kaki melangkah mendekat.
"Wa alaikum salam."
Pintu di buka lebar, ternyata di sana ibu Kamina yang membuka. Bryan menyalami mertuanya itu, ibu Kamina kaget. Kenapa Bryan secepat itu menyusul Kirana.
"Lho, cepat banget menyusulnya?" tanya ibu Kamina.
"Iya bu, saya tidak bisa berpisah lama dengan Kirana." jawab Bryan.
__ADS_1
Ibu Kamina pun tersenyum, lalu mempersilakan masuk. Bryan pun masuk, kepalanya dia longokkan ke arah depan mencari Kirana.
"Kirana kemana bu?" tanya Bryan.
"Sedang mengantar makanan ke sawah untuk ayahnya." jawab ibu Kamina.
Bryan lupa di dalam mobil masih ada anaknya yang tertidur, dia menguncinya.
Ibu Kamina masuk lebih ke dalam, menyiapkan makanan untuk makan siang. Bryan duduk lagi di kursi tamu, membuka ponselnya dan melihat harga saham siang ini.
"Mas, kamu datang?"
Suara Kirana mengagetkan Bryan, dia melihat Kirana membawa rantang yang sudah kosong. Bryan bangkit dan mendekat dengan cepat lalu memeluk Kirana erat.
"Aku kangen banget sayang, uuh rasanya ingin bawa kamu cepat pulang ke rumah." kata Bryan.
Kirana kaget, dia lalu tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
"Aku juga kangen mas, lalu kamu bagaimana di sana?" tanya Kirana.
Bryan melepas pelukannya dan menatap istrinya, tangannya membelai pipi istrinya dengan lembut. Lalu wajahnya mendekat, seperti biasa dia mencium bibir Kirana dengan cepat. Dia melahap dan mencium berulang kali.
Rasa rindu di hatinya dia tumpahkan dengan ciuman bibir yang lembut, dan lama-kelamaan menjadi menuntut. Bryan lupa dia berada di mana, hingga Kirana pun mendorong dada suaminya. Takut ibunya di dalam memergoki sedang berciuman.
"Sudah mas, takut ibu melihat." kata Kirana.
Bryan lalu melepas ciumannya, dan menatap lembut dan tersenyum.
"Kamu dari rumah jam berapa, mas?" tanya Kirana.
"Emm, dari pagi. Aku ingin cepat ketemu kamu, jadi pagi-pagi aku berangkat." jawab Bryan. Mereka duduk di kursi tamu.
"Pasti Missel sedih ya di tinggal sama aku." ucap Kirana.
Dan Bryan pun kaget dia baru ingat kalau anaknya tertinggal di dalam mobil.
"Sayang?"
"Kenapa mas?"
"Papiiii!!!"
_
Yuk baca yang ini, bagus lho ya ceritanya..😊
_
_
***************
__ADS_1