Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
78. Penggerebekan


__ADS_3

Laudya kesal sekali, ternyata Bryan benar-benar tidak bisa di ajak kompromi juga. Dia harus hati-hati dengan kegiatan selama ini yang dia lakukan tanpa di ketahui orang lain. Karena ulahnya sendiri dia jadi kena imbasnya.


Jika saja tidak mengganggu Kirana, Bryan tidak akan berbuat sejauh itu padanya. Bahkan pada kegiatan terlarangnya dan ilegal.


"Ck, bagaiamana ini. Apakah aku akan di singkirkan oleh Bryan?" gumam Laudya di dalam ruang kantornya


Dia terus mondar-mandir saja, bingung mau melakukan apa. Saat ini anak buahnya dia stop untuk masuk ke pabrik bagian produksi untuk mengambil produk yang biasa dia salurkan ke negeri seberang.


Tuuut


Suara ponsel Laudya berbunyi, dia melihat siapa yang meneleponnya. Mr.Chen dari Malaysia. Dia bingung untuk menjawabnya. Selama dua hari dia tidak mengirim ke Mr. Chen barang yang di mintanya.


Tuuut


Dering ponsel itu terus berbunyi, hingga Laudya pun akhirnya mengangkat dan menjawabnya.


"Halo Mr. Chen?"


"Nona Laudya, bagaimana dengan pesanan produk saya?" tanya Mr. Chen.


"Sabar Mr.Chen, di perusahaan kami sedang ada pergantian pimpinan. Jadi kami belum bisa mengirim barang sesuai pesanan anda." jawab Laudya.


"Oh, begitukah? Biasanya jika pergantian pimpinan, anda tetap mengirim pesanan pasa saya." kata Mr.Chen lagi.


"Ya, tapi pimpinan kali ini tidak bisa saya kelabui Mr.Chen." kata Laudya lagi.


"Oke, kapan nona bisa mengirim lagi produk itu lagi?"


"Mungkin satu minggu Mr.Chen. Anda bisa menunggu selama satu minggu, bersabarlah sebentar Mr.Chen. Saya akan secepatnya menyelesaikan masalah dengan pimpinan baru." kata Laudya.


"Baiklah, untuk saat ini hanya aku stok di toko besar saja. Di toko-toko kecil tidak aku kirim barangnya."


"Ah ya, begitu tidak masalah. Nanti setelah pimpinan sudah kembali ke Jakarta, saya bisa kirim lagi ke anda tuan."


"Oke, saya tunggu."


Klik!


"Huh! Ternyata melakukan perdagangan ilegal itu sangat rawan sekali ketahuan. Apa lagi jika ketahuan oleh pihak perusahaan." kata Laudya dengan rasa takutnya.

__ADS_1


Dia lebih takut Bryan bertindak di luar predikisinya di banding dia harus menyelidiki apa yang akan Bryan lakuian untuk kegiatan ilegalnya itu.


_


Satu minggu ini Bryan tidak pergi ke Batam, dia sedang mengurusi perusahaannya di Jakarta, karena proyek pembuatan pasar modern di beberapa tempat sedang dia kejar waktunya untuk segera selesai. Jadi mau tidak mau dia tidak pergi ke Batam lagi, hanya Morgan yang dia utus di sana.


Memang Morgan jarang ke kantor perusahaan baru yang di beli saham oleh Bryan, milik Laudya. Tapi dia sengaja seperti itu untuk memantau pergerakan Laudya mengirim barang produksi lagi ke pelabuhan. Dia juga menempatkan dua orang di bagian produksi untuk mengawasi apakah akan ada lagi mobil yang masuk dan membawanya lagi ke pelabuhan. Dan ternyata memang benar ada, setelah satu minggu Bryan tidak datang ke kantor.


"Oh, jadi dia menunggu Bryan sibuk di Jakarta? Bagus juga rencanamu. Tapi dia lupa ada aku yang selalu mengawasimu, Laudya." kata Morgan yang sekarang sedang di hotel.


Dia lalu menghubungi seseorang yang ada di pabrik, menanyakan bagaimana orang suruhan Laudya itu masuk ke dalam pabrik dan meminta barang yang baru saja selesai di produksi.


Orang-orang yang biasa mengepak dan memperbolehkan mobil boks yang membawa barang ke pelabuhan juga sudah Morgan ganti. Hanya sekarang untuk alibi saja agar nanti jika untuk penangkapan, karyawan itu bisa jadi saksi memberatkan Laudya.


Morgan terus mengintai selama beberapa hari, anak buah dia tempatkan di pelabuhan, di dalam perusahaan dan juga di bagian produksi dan pengemasan barang. Setelah cukup bukti apa yang di lakukan Laudya, dia akan melaporkan oada Bryan dan juga pihak berwajib.


Bahwa Laudya telah melakukan penyelumdupam barang produksi ke luar seberang. Tinggal tunggu waktu saja Laudya di tangkap. Namun, dia belum tahu bagaimana Laudya di tangkap, apakah menggerebek rumahnya atau dia sedang ke kafe.


Tuuut


Suara ponsel Morgan berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Bos besar, begitu tulisan di ponsel Morgan dengan nama Bryan.


"Halo bos, ada apa?" tanya Morgan.


"Tentu saja ada bos, bahkan sangat mengejutkan. Ternyata apa yang di curigai selama ini memang benar, Laudya yang melakukan penyelundupan barang-barang di pabrik perusahaan itu." kata Morgan.


"Kamu sudah dapat buktinya?"


"Sudah saya dapatkan bos. Tenang saja, tinggal tunggu waktu saja."


"Bagus, buat penangkapan dengan lebih memalukan dia. Misalnya dia sedang di hotel dengan laki-laki lain, itu sangat menarik. Hahah!"


"Ish, bos. Jahat bener."


"Karena itu hobi dia bolak balik ke hotel menyewa para lelaki untuk memuaskan nafsu birahinya."


"Hemm, menarik juga. Oke, laksanakan bos."


Klik!

__ADS_1


_


Laudya sedang melepas bajunya, dia sudah tidak sabar ingin bercinta dengan laki-laki yang dia sewa di hotel. Sejak Bryan menguasai perusahaannya, dia tidak bebas melakukan kegiatan yang dia sukai, yaitu bercinta dengan laki-laki berondong di sewa melalui aplikasi khusus memanggil orang seperti itu.


Atau melalui temannya dan meminta di carikan laki-laki untuk semalam tidur dan memuaskan dirinya.


"Uugrh, sayang kamu pandai sekali memuaskanku." kata Laudya yang kini sedang terbuai oleh permainan tangan serta mulut laki-laki sewaannya di bagian intinya.


"Enak ngga, baby?"


"Tentu saja honey, kamu bisa membuatku melayang seperti terbang di awan. Aaaah ..." ucap Laudya yang semakin tidak terkontrol tubuhnya.


Laki-laki itu semakin mempercepat permainannya, hingga Laudya mencapai puncaknya dan mengerang nikmat.


"Aaaah, uuh honey. Ini sangat luar biasa. Bisa kamu masukkan juniormu, aku sudah ngga tahan honey. Uurgh aaah."


Belum mengatakan itu selesai, laki-laki sewaan itu langsung menancapkan juniornya ke area inti Laudya. Dia juga sepertinya tidak tahan dengab erangan Laudya. Dan kini keduanya sedang menikmati ayunan percintaan di dalam hotel yang Laudya sewa untuk memuaskan hasratnya.


"Aaaah, enak honey. Lebih cepat lagi uuuh aaaah."


Pemuda itu terus memompanya sampai Laudya mencapai nikmat kedua setelah tadi bermain dengan tangan. Kini keduanya berganti posisi, Laudya di atas dan lelaki sewaan itu di bawah. Laudya menggoyangkan tubuhnya, dia juga beberapa kali menikmatinya.


Saat sedang menikmati percintaan, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Laudya dan laki-laki sewaan itu pun kaget, posisi mereka sedang bercinta. Tentu saja Laudya pun melepasnya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sedang polos.


"Mau apa kalian, hah?!" teriak Laudya marah.


Keadaannya tidak bisa dia kendalikan. Di sana ada petugas hotel, dua orang polisi dengan surat tugas penangkapan dan juga Morgan yang membawa berkas bukti kecurangan dan kesalahan Laudya. Morgan juga membawa rekaman cctv yang ada di rumah Bryan untuk melengkapi laporan kejahatan Laudya.


"Anda di tangkap nona Luadya, atas laporan tuan Bryan." kata polisi dengan menunjukkan surat tugas.


"Tapi jangan seperti ini, kalian merusak suasana pribadiku. Akan aku tuntut nanti Bryan karena mengganggu privasiku!" teriak Laudya.


Morgan hanya mencibir saja, laki-laki sewaan Laudya pun segera memakai celana dan pergi meninggalkan Laudya yang masih di tutupi selimut. Morgan memandag Laudya dengan pandangan jijik.


"Menjijikkan sekali."


_


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2