Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
37. Eksekusi Bryan


__ADS_3

Kirana dan Bryan terkejut, mereka pun tersenyum pada Missel yang baru bangun dari tidur siangnya.


"Sini sayang." kata Kirana pada Missel.


Missel pun mendekat pada Kirana, dia melihat kancing baju Kirana belum di rapikan satu.


"Mi, kok kancing baju mami belum rapi?" tanya Missel menunjuk ke baju bagian dada Kirana.


Kirana pun kaget, dia menunduk dan memegang kancing yang terbuka. Bahkan kain pengamannya pun tidak rapi di posisinya. Membuat Kirana malu bukan main, wajahnya pun merona, dia lalu merapikan kancing bajunya lebih dulu.


Bryan tersenyum, dia lalu melirik ke arah jam di dinding kantornya. Sudah waktunya pulang kantor, dia lalu merapikan meja kerjanya dan memasukkan laptopnya ke dalam tasnya.


"Ayo kita pulang." kata Bryan.


"Pulang pi?" tanya Missel.


"Iya sayang, ini sudah sore. Bahkan mau magrib." jawab Bryan.


"Makan malamnya di luar aja sih pi, papi jarang ngajak Missel makan malan di luar." kata Missel lagi.


"Oke, ayo mami Missel." kata Bryan menarik tangan Kirana.


Kirana hanya meringis di panggil seperti itu, tapi akhirnya dia ikut juga keluar.


Morgan masuk le dalam ruang kantor Bryan ketika ketiga orang itu mau keluar.


"Pulang bos?" tanya Morgan.


"Kamu pikir aku harus lembur terus?!" tanya Bryan ketus.


"Ya kan ada nyonya yang menemani, bisa tuh kan di belai-belai burungnya." kata Morgan dengan bahasa ledekannya.


"Ck, nanti di rumah. Aku pasti dapat belaian, udah sana beresi semua berkas di meja. Laki-laki kok usil banget, lama-lama kamu ngeselin ya." ucap Bryan.


"Udah sih, begitu aja kok sensi." kata Kirana menengahi.


"Maklum Kirana, bosku itu butuh belaian. Jadi bawaanya sensi terus." kata Morgan.


Dia lalu meloyor pergi ke meja kerja Bryan untuk memberesi berkas-berkas tadi. Sedangkab Bryan hanya melotot padanya. Missel dan Kirana menarik kedua tangan Bryan agar cepat pergi dari ruang kantornya.


_


Malam hari, ketika sampai di rumah setelah makan malam di luar. Kirana sudah berada di kamarnya lagi, sedangkan Bryan juga masuk ke dalam kamarnya setelah dia menemani Missel tidur. Missel ingin di temani Bryan tidurnya, mau tidak mau Bryan pun menemani Missel tidur.


Jam sepuluh malam, Bryan keluar dari kamar Missel. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mencari sesuatu, dia heran kenapa Kirana belum masuk ke dalam kamarnya.


"Apa dia lupa kalau aku suaminya? Kenapa dia masih di kamar tamu tidurnya." gumam Bryan.

__ADS_1


Lalu dia pun keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Menuju kamar tamu di mana Kirana masih saja tidur di kamarnya.


Dia mendorong pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. Bryan melihat Kirana meringkuk di ranjangnya dengan mata terpejam. Dia pun masuk dan menutup kamarnya lalu menguncinya.


Niat ingin membawa Kirana ke kamarnya dia urungkan karena melihat Kirana sudah tertidur di kamar tamu itu. Bryan pun naik ke ranjang dan berbaring di sisi Kirana sambil mendekatkan tubuhnya dan memeluk Kirana dengan pelan.


Rasa nyaman dia rasakan, senyumnya mengembang lalu dia mengecup bibir Kirana dengan lembut. Sekali dan dua kali bahkan berkali-kali, rasanya dia selalu mau lagi dan lagi mengecup bibir istrinya itu.


Kirana pun membuka matanya pelan, dia melihat wajah Bryan di depannya dengan hembusan nafasnya yang terasa segar.


"Emm mas masuk kamar ini?" tanya Kirana terbata menatap malu pada Bryan.


"Ya, aku menunggumu di kamarku tapi kamu malah masih tidur di sini." kata Bryan.


Tangannya merapikan anak rambut Kirana yang menutupi keningnya, dia lalu mengecup kening Kirana lalu turun ke mata, hidung dan kembali ke bibirnya. Lama di sana, mengeksplor lidahnya dan memaksa bibir Kirana terbuka.


Kini mulai ciuman panas keduanya, saling menuntut. Tangan Bryan sudah menjalar ke bagian dada istrinya, meremas dan memijatnya lembut. Satu lenguhan lolos dari mulut Kirana. Dia pasrah, jika malam ini suaminya meminta haknya.


Bryan senang, ternyata Kirana paham maksud dari apa yang dia lakukan.


"Aku minta hakku sayang." bisik Bryan di telinga Kirana membuat bulu kuduknya meremang.


Dia pun mengangguk pasti, dia tidak mau jadi istri yang di laknat karena tidak segera menuruti kemauan suaminya. Lagi pula Bryan sudah menyatakan cintanya di kantor, jadi apa yang meragukan Kirana.


Status Bryan tidak masalah bagi Kirana, di antara mereka terpenting adalah saling mencintai. Begitu pikir Kirana, meski cara menikah mereka tidak seperti keinginan Kirana.


"Euurgh!"


Bryan masih mencumbu Kirana, perlahan dengan pasti baju Kirana dia buka. Mulai dari baju piamanya, lalu celana panjangnya juga. Bibirnya masih menempel di bibir Kirana. Dia juga dengan cepat melepas kaos tipisnya juga celana kolornya.


Keduanya hanya memakai pakaian dalam saja, Bryan pun beralih posisi. Dia menungkung Kirana di bawahnya. Menatapnya dengan lembut, dia tahu ini adalah yang pertama bagi Kirana. Makanya dia harus hati-hati sehingga tidak menimbulkan trauma pada istrinya itu.


"Ini pertama bagimu kan?" tanya Bryan membelai pipi Kirana.


Kirana mengangguk pelan, kepalanya menoleh ke samping karena malu. Tapi tangan Bryan pun menahannya agar Kirana menatapnya juga.


"I love you." kata Bryan.


Ungkapan cinta agar Kirana merasa nyaman melakukan hubungan suami istri dengannya. Dan Kirana pun tersenyum. Kembali Bryan memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Kirana melayang.


Mulai dari bibirnya, di lanjut bibirnya turun ke leher dan menggigit-gigit kecil. Memberikan tanda kepemilikan di beberapa tempat, tangannya juga bermain di dadanya.


Sudah tak terhitung lagi beberapa lenguhan keluar dari mulut Kirana, kini kembali tangannya menelisup masuk ke bagian inti Kirana. Melepas kain segitiga pengaman dan juga tangan satunya melepas pengait bra Kirana.


Dan Kirana pun telanjang bulat, Bryan menatap Kirana dari kepala sampai ke bawah. Kaki Kirana berusaha merapatkan, namun kaki Bryan menahannya. Tangannya masih bermain di sana, Kirana bergerak gelisah namun nikmat.


Lenguhan demi lenguhan terus lolos dari bibir Kirana, sampai pada akhirnya Bryan tidak bisa menahan senjatanya terus diam yang sejak tadi berdiri tegak.

__ADS_1


"Sayang, aku masukin ya.." kata Bryan memberitahu agar istrinya itu tidak kaget.


"Sakit ngga?" tanya Kirana manja.


"Emm, pertama sakit. Namun nanti lama-lama ngga kok. Malah enak nantinya. Cup."


Kirana pun diam, dia tegang namun Bryan tahu Kirana takut. Di belainya lagi bagian sensitf Kirana agar dia lupa akan rasa sakitnya nanti.


Percobaan pertama tidak berhasil, kedua dan ketiga juga belum berhasil. Baru bagian pucuknya saja, namun kali ini Bryan akan mendorongnya keras agar bisa lebih masuk ke dalam juniornya.


"Aaargh, sakiiit!" teriaki Kirana.


Bryan berhenti, dia menatap wajah Kirana yang menahan sakitnya.


"Maaf sayang, ini tanggung kalau di tinggalin. Cup."


Bryan membuai kembali Kirana agar dia lupa rasa sakitnya itu. Setelah Kirana kembali terbuai, Bryan mencoba menggerakkan pinggulnya. Awalnya Kirana meringisil, namun akhirnya dia menikmatinya juga.


"Aaah, mas Bryan." ucap Kirana dalam kenimatannya.


"Iya sayang, kamu menimatinya?"


"Ini pertama buatku mas, eeuuh aaah. Maas aku seperti mau pipis." rengek Kirana.


"Keluarkan saja sayang, ngga apa-apa."


Bryan terus memacu gerakannya, dia juga sangat menikmati percintaan dengan Kirana. Ini pertama kali setelah lama tidak melakukan dengan almarhum istrinya itu. Sangat nikmat Bryan merasakannya, dia benar-benar terbuai juga dengan milik Kirana.


"Sayang, kamu benar-benar manis. Uuurgh aaah." ceracau Bryan.


Mereka melakukannya di kamar tamu, selama satu jam. Keduanya mencapai puncak nikmat, lalu memulai lagi setelah beristirahat sebentar. Bryan yang meminta lagi, dia sampai lupa kalau Kirana sudah sangat kesakitan.


"Udah mas, sakit." ucap Kirana.


"Tunggu sayang, ini nikmat sekali. Aku baru merasakannya lagi setelah sekian lama almarhum istriku meninggal. Euurgh aaah."


"Kamu yakin?"


"Yakin sayang, aku ngga berselera dengan wanita lain." jawab Bryan.


Berkali-kali Bryan dan Kirana mendesah, menikmati percintaan mereka. Dan sampai puncaknya tubuh keduanya pun menegang. Mereka mencapai puncak secara bersamaan.


"Aaaargghh!"


_


_

__ADS_1


_


**************


__ADS_2