
Jam dua siang kini sudah berdenting, Kirana, Bryan dan Missel makan siang di kantor. Morgan yang memesankan melalui aplikasi pesan antar.
Mereka makan layaknya sebuah keluarga bahagia, Morgan senang melihatnya. Memang Kirana itu sangat serasi dengan Bryan, apa lagi masalah emosi dan hasrat Kirana bisa mengimbanginya.
Dia tersenyum tipis, meski pun kadang dia juga meledek bosnya, Bryan tidak pernah memasukkannya dalam hati semua ucapan jahilnya padanya.
Bryan tahu itu hanya trik Morgan agar Bryan tidak terlalu terpuruk oleh masa lalunya yang sangat menyedihkan di tinggal istri yang dulu sangat di cintainya.
Walau Morgan tahu, ibu mertuanya itu kadang memperhatikan Bryan berlebihan pada menantunya setelah meninggalnya anaknya. Tapi sekarang entah kenapa mertuanya dulu jarang datang ke rumah Bryan, entah apa sebabnya. Bahkan kini malah Bryan sering datang ke kota di mana mertuanya, nyonya Ranti tinggal.
"Morgan, apa kamu sudah makan siang?" tanya Bryan.
"Sudah bos, tadi sama nona Missel di pinggir jalan." jawab Morgan.
"Kenapa makan di pinggir jalan? Missel tadi beli jajan apa?" tanya Bryan menyelidik.
"Aku cuma beli es krim aja ko pi, om Morgan yang makan di pinggir jalan. Aku menemani om Morgan makan, tapi banyak ibu-ibu yang memegang pipi aku pi." kata Missel dengan wajah cemberutnya.
"Mereka gemas dengan nona Missel bos, jadinya nona Missel sering di cubit pipinya." kata Morgan.
"Lain kali beli makanan ke restoran aja, jangan di pinggir jalan. Sudah tahu tangan ibu-ibu itu pasti kotor dan bau minyak, belum lagi dia cuci tangan." kata Bryan dengan kesal.
"Tapi aku malah di belikan es krim lagi sama ibu-ibu yang cubit pipi aku lho pi." kata Missel.
Bryan diam, Kirana hanya mendengarkan cerita Missel tanpa menanggapi apa pun.
Kini waktu sudah beranjak sore, mereke bersiap untuk menyusul ayah dan ibunya Kirana di stasiun. Mereka bertiga keluar dari ruang kantor dan langsung masuk ke dalam lift. Seperti biasa Morgan yang membereskan berkas yang sudah di periksa Bryan.
Kini Bryan menggnandeng tangan Kirana dengan erat. Dia akan menunjukkan pada karyawan di kantornya kalau Kirana di sebelahnya adalah istrinya yang sah.
Lift berhenti di lantai dasar, Bryan, Kiran dan Missel pun keluar dari dalam lift. Dan sudah di pastikan banyak mata yang memandang ketiganya, dengan pasti dan langkah percaya diri Bryan mendekap pinggang Kirana.
Tidak ada yang berani berbisik-bisik ketika Bryan lewat, semua nampak menunduk hormat ketika berpapasan dengan sang bos besar.
Bryan menghampiri ke resepsionis yang sedang menunduk dalam karena takut mereka di pecat.
"Lihatlah kalian ke arahku." kata Bryan dengan tegas.
Mereka bertiga pun menatap Bryan yang masih mendekap Kirana.
"Kalian ingat baik-baik ya wanita di sampingku ini. Dia adalah istriku satu-satunya, dan kalian harus hormat padanya. Jadi, jika ada laporan kalian semua dan yang lain bergosip tentang istriku, maka bersiaplah kalian saya pecat!" kata Bryan dengan tegas dan tajam.
__ADS_1
Ketiga resepsionis itu semakin menunduk, mereka sangat takut dan meminta maaf. Kirana pun menyenggol pinggangbsuaminya agar jangan sampai marah berlebihan pada anak buahnya.
"Mas, sudah. Ayo kita pergi, mereka sudah di peringatkan juga kan." kata Kirana.
"Tadi om Morgan juga marah sama mereka mi." kata Missel.
"Nah, kan. Yuk kita naik mobip saja, ini sudah telat kan. Nanti ayah sama ibu kebingungan."
"Iya sayang."
Lalu setelah mengatakan itu, ketiganya pergi menuju parkiran. Resepsionis tadi pun bernafas lega.
"Uuh, saya takut banget tadi. Saya kira tuan Bryan mau memecat kita." kata temannya.
"Iya, lebih baik tadi di tegur sama tuan Morgan dari pada sama tuan Bryan. Ngeri."
_
Mobil Bryan melaju kencang menuju stasiun, Kirana yang mau bicara masalah kebohongan tentang kehamilan pada Bryan.
"Mas, sewaktu di telepon tanya tentang kandunganku." kata Kirana.
"Oh ya? Apa ada kabar kamu sedang mengandung anakku?" tanya Bryan.
"Ngga mas, belum ada. Tapi waktu kamu menikah denganku kan karena mereka menyangka aku hamil duluan. Maksud aku, tentang kebohongan sebaiknya jujur aja. Tapi, aku takut sama mereka. Pasti mereka marah kalau kita katakan waktu itu adalah bohong." kata Kirana.
"Tidak sayang, biar aku mengatakan pada ayah dan ibu jika waktu itu aku bohong. Aku kan yang memulai, jadi biar aku yang katakan pada mereka nanti di rumah." kata Bryan.
Kirana diam, sejujurnya dia tidak ingin terjadi apa pun dengan dia dan kedua orang tuanya. Namun dia takut, yang dia takutkan adalah ayahnya. Pasti yang marah besar adalah ayahnya, dan entah apa yang akan di lakukan oleh ayahnya jika dia tahu Bryan berbohong demi mendapatkan Kirana waktu itu.
Kebohongan bagi ayahnya itu sangat tidak di sukai, apa lagi mengenai anaknya satu-satunya. Kirana semakin bingung, pasti akan ada hukuman padanya dan suaminya nanti. Tapi nanti dia yang akan menjelaskan sendiri pada ayahnya, pikir Kirana.
Tak berapa lama, mobil sudah berada di stasiun. Kirana dan Missel turun, di susul Bryan. Mereka mencari tempat adem, lalu Kirana menghubungi ibunya apakah sudah sampai di stasiun.
"Bagaana sayang? Apa ayah dan ibu sudah sampai stasiun?" tanya Bryan.
"Sudah mas, baru turun. Kamu diam di sini ya, nanti aku jemput mereka di pintu keluar."
"Iya sayang, hati-hati ya."
Kirana mengangguk, dia berlari kecil meninggalkan Bryan dan Missel menuju pintu keluar stasiun menjemput ibunya. Kirana tidak sabar melihat ayah dan ibunya keluar dari pintu.
__ADS_1
"Kirana!"
Teriak seorang ibu menghampirinya, Kirana tersenyum. Dia menyongsong ibunya dan memeluknya erat.
"Ibu, aku kangen sama ibu. Emmm." kata Kirana memeluk ibunya.
Pak Darno melihat pemandangan itu hanya diam saja, dia membawa tasnya serta tas milik istrinya juga.
"Ayo bu kita ke parkiran, di sana mas Bryan dan anaknya menunggu di depan." kata Kirana.
Ibu Kamina dan suaminya pun mengikuti kemana Kirana pergi.
Sampai di parkiran, di depan mobil Bryan tersenyum pada mertuanya. Dia menyalami pak Darno dan ibu Kamina dengan hormat. Tak lupa mengajak Missel juga bersalaman.
Ibu kamina kaget, menatap missel. Dia tersenyum senang, anak kecil itu diam menatapnya heran.
"Ini anakmu?" tanya ibu Kamina pada Bryan.
"Iya bu, namanya Missel." jawab Bryan.
"Waaah, cantik banget ya anaknya dan lucu. Kelas berapa kamu sayang?" tanya ibu Kamina pada Missel.
"Masih TK nek, aku sekolah TK." jawab Missel.
"Uuh, lucunya kamu Missel." kata ibu Kirana itu.
Dia gemas dengan Missel yang cantik dan juga menggemaskan.
"Mari masuk ke dalam mobil ayah, ibu." kata Bryan.
"Iya." jawa pak Darno singkat.
Pak Darno dan ibu Kamina masuk mobil di bagian belakang, sedangkan Kirana duduk di sebelah Bryan dengan Missel yang duduk di pangkuannya.
Mata ibu Kamina masih tertuju pada Missel, dia lupa dengan pertanyaan kehamilan anaknya itu apakah sehat atau pun Kirana banyak keluhan selama hamil.
_
_
__ADS_1
Yuk mampir ke karya othor di atas, yang suka cerita anak sekolah bisa jadi pilihan ini. 😊😊
_