
"Ma, ada apa dengan istriku?"
Bryan masuk dengan berlari dan berteriak menuju ranjangnya. Dia melihat istrinya terbaring tidak sadarkan diri. Nyonya Kalina berusaha menyadarkan Kirana dengan menempelkan minyak kayu putih ke hidungnya.
Setelah beberapa menit dokter pun datang, dokter lalu mengambil stetoskopnya dan memeriksa Kirana mulai dari denyut nadinya dan juga detak jantungnya. Lama dokter memeriksa keadaan Kirana. Bryan tidak sabar ingin brrtanya pada dokter keluarga itu.
"Bagaimana dengan istri saya dokter?" tanya Bryan tidak sabar.
"Nyonya tidak apa-apa. Hanya lemah saja, tinggal nanti beli alat tes kehamilan saja di apotek. Sekalian membeli vitaminnya juga." jawab dokter.
"Apa? Maksudnya apa dokter?" tanya Bryan bingung.
"Ish, kamu masih belum mengerti saja. Istrimu hamil, Bryan." kata nyonya Kalina.
"Apa? Hamil? Jadi istriku hamil ma?"
"Iya, jaga dia baik-baik. Aku akan mengurus kedua orang tidak tahu diri itu." kata nyonya Kalina bangkit dari duduknya.
Sementara Bryan begitu senang mendengar kalau Kirana sedang mengandung anaknya. Kirana sendiri masih belum sadarkan diri, dia masih memejamkan matanya. Bryan mencium bibirnya berkali-kali hingga Kirana mengerjapkan mata beberapa kali.
"Mas, aku kenapa?" tanya Kirana ketika melihat suaminya masih menciumi bibirnya.
"Kamu hamil sayang, hamil anakku." jawab Bryan dengan senyum bahagianya.
"Hamil? Aku sedang hamil?" tanya Kirana tidak percaya.
"Iya sayang, pantas saja tadi pagi kamu tidak mau turun sama sekali. Ternyata kamu sedang hamil." kata Bryan.
"Tahu aku hamil dari mana?"
"Tadi dokter datang memeriksamu, dia di telepon Mimin. Mimin bisa di andalkan sekali dan sigap langsung menelepon dokter. Jadi, kamu tadi di periksa dan di nyatakan hamil." kata Bryan sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Biasanya kan kalau ketahuan hamil harus pakai alat tespek mas, dokter juga memakai itu kan untuk mengetahuinya."
"Ya, tadi Mimin sudah saya suruh juga membeli alat tes kehamilan. Dan dokter juga sudah mengatakan kalau kamu hamil, apa ucapan dokter tidak bisa di percaya?"
"Bukan begitu mas, tadi aku kan tidak tahu perkataan dokter. Aku mau tahu sendiri kalau aku benar-benar hamil." kata Kirana.
"Ya udah, nanti tes sendiri di kamar mandi. Tunggu Mimin membawa kemari alat tes kehamilannya. Cup." jawab Bryan.
"Lho, mas kok ngga di kantor?"
"Aku datang di telepon mama, katanya kamu di apa-apakan sama mama Ranti dan Laudya. Aku lagi meeting langsung aku tinggalkan begitu saja, takut terjadi sesuatu sama kamu. Sebenarnya setiap ruangan di rumah ini aku pasang cctv yang orang mencarinya tidak akan ketemu, tapi aku belum cek setiap sudut rumah karena sedang meeting. Jadi aku tidak tahu kalau kamu di aniaya oleh kedua orang tidak tahu diri itu. Maafkan aku sayang, terlambat datang." kata Bryan yang kini memeluk istrinya erat.
"Iya ngga apa-apa mas, untung tadi ada mama datang. Aku saat itu benar-benar pusing dan perut mual banget, tapi aku sempat melihat mutahanku menyembur di baju Laudya. Rasanya puas banget lihatnya, tapi aku sedang tidak karuan saat itu." kata Kirana.
"Biar nanti aku periksa cctvnya di laptop. Laptop aku tinggal di kantor. Dan masalah kedua orang itu biar mama yang urus. Sudah pasti mama sangat marah menantunya di perlakukan seperti itu oleh kedua orang itu." kata Bryan.
"Mas kok sepertinya tenang banget dengan kedua orang itu?" tanya Kirana.
Dia juga bisa saja menghukum oma Ranti dan Laudya lebih kejam lagi. Tapi dia ingat jika oma Ranti adalah omanya Missel, walau bagaimana pun dia masih punya sisi baiknya. Yang penting dia tidak melakukan pembalasan, tapi mamanya yang melakukan. Bryan juga sangat marah, tapi nanti dia akan membuat perhitungan dengan Laudya.
_
Nyonya Kalina melihat besannya merapikan baju-bajunya untuk segera angkat kaki dari rumah anaknya. Dia benar-benar marah ketika tahu besannya bersikap kasar pada menantunya.
"Mbak Kalina, apa tidak kasihan padaku?" tanya oma Ranti memelas.
Tidak!"
"Aku omanya Missel, cucumu juga mbak. Bukan hanya gadis itu saja yang ...."
"Tutup mulutmu! Aku sudah peringatkan sama kamu jangan datang ke rumah anakku lagi, tapi kamu malah datang dan mau mencelakai menantuku? Otak kamu di mana? Kamu itu sudah tua, mau setengah abad sama denganku. Yang perlu kamu pikirkan bukan hanya laki-laki, apa lagi anakku yang ingin kamu jadikan suami, ngaca kamu Ranti. Cari suami yang seusia denganmu, yang sepadan denganmu. Jangan mengejar laki-laki yang sudah beristri dan jadi menantumu. Otak kamu itu perlu di bikin ulang agar lebih cerah lagi pemikiran kamu." kata nyonya Kalina dengan kesal.
__ADS_1
Oma Ranti hanya diam saja, dia menunduk. Meski dia tidak terima dengan ucapan besannya, tapi dia tidak bisa membantah. Dia hanya berpikir, bukankah cinta tidak mengenal usia? Lalu apa salahnya mencintai menantunya?
"Salah kamu suka dengan anakku, dia laki-laku yang punya selera lebih baik. Tidak mungkin dia mencari perempuan tua sepertimu. Seharusnya kamu sadar, itu salah. Apa lagi kamu menyukai anakku, papinya Missel. Cucumu sendiri. Apa kamu berpikir jika seandainya apa yang kamu inginkan Bryan menikah denganmu, bagaimana dengan Missel? Otakmu di pakai Ranti, jangan egois memikirkan keinginanmu sendiri." kata nyonya Kalina lagi dengan panjang lebar.
Agar oma Ranti sadar kalau perbuatannya itu salah dan tidak perlu di lakukan lagi. Oma Ranti semakin menunduk, dia benar-benar tidak bisa menjawab apa lagi membantahnya.
"Aku akan mencabut semua pemberian dari Bryan darimu. Aku tidak peduli kamu akan jatuh miskin sekali pun." kata nyonya Kalina lagi.
"Mbak kok gitu? Itu juga peninggalan almarhum Risa, jadi itu juga milikku. Bukan mbak Kalina yang memberikannya untuk Risa." kata oma Ranti.
Kali ini dia membantah, bisa gawat jika semua apa yang di berikan pada Risa untuknya kini harus di ambil lagi? Itu tidak bisa di biarkan, pikir oma Ranti.
"Hah! Kamu ternyata kelabakan juga, seharusnya kamu itu sadar lebih dulu. Apa yang kamu lakukan pada menantuku, akan berdampak besar pada hartamu dan usaha salonmu. Jangan memikirkan diri sendiri ingin mendapatkan anakku, tapi kamu lupa siapa aku yang bisa berbuat apa saja dengan semua usaha salon milik Risa." kata nyonya Kalina.
Kali ini, oma Ranti benar-benar terbungkam, dia memang lupa siapa ibunya Bryan itu. Perempuan yang mempunyai kekayaan banyak dan bisa melakukan apa saja. Dirinya hanya di angkat derajatnya karena Risa anaknya dulu di cintai Bryan dan langsung di nikahi ketika baru lulus sekolah SMA.
"Pulanglah kamu ke kotamu, dan jangan lagi datang ke rumah anakku lagi. Jika Missel ingin bertemu dengan omanya, maka nanti supir yang akan mengantarnya ke kotamu. Tapi hanya sehari saja kamu bisa bersama dengan cucumu itu. Aku tidak mentolerir kamu jika masih saja mengganggu Kirana." kata nyonya Kalina dengan nada ancaman.
"Tapi aku tidak sendiri melakukannya mbak, ada Luadya juga yang membuat menantumu itu jatuh juga." kilah oma Ranti.
"Aku tahu, biar Bryan yang memberinya pelajaran. Jika masih saja gadis itu mengganggu menantuku lagi, aku yang akan bertindak langsung. Sama sepertimu, memberinya pelajaran agar tidak lagi mengganggu anak dan menantuku."
Setelah berkata seperti itu, nyonya Kalina pun keluar dari kamar oma Ranti. Sedangkan oma Ranti semakin lemas dengan segala ancaman besannya itu.
_
_
_
*******************
__ADS_1