
Pagi itu Kirana dan Missel pergi ke sekolah, karena nyonya Ranti tidak mau mengantarnya. Dia marah, atau kata lain dari anak kecil itu ngambek. Merasa iri kesal karena Kirana di belikan mobil dari Bryan.
"Bagaimana bisa gadis itu di belikan mobil? Hah! Benar-benar membuat kesal. Dia telah merelbut apa yang selama ini aku inginkan. Bryanku menikah dengan gadis kampung itu. Kenapa dia tidak menikah denganku?" ucap nyonya Ranti.
Dia masih berada di kamarnya, duduk di pinggir ranjangnya sambil berpikir dan bicara sendiri. Rasa kesal pagi ini membuat moodnya berantakan. Apa lagi Bryan sepertinya sudah sangat mencintai istrinya.
"Sekarang peluangku sudah tipis, gadis itu telah mengambilnya. Aku bahkan menunggu bertahun-tahun setelah anakku Risa meninggal. Suamiku juga meninggal, jadi wajar saja jika aku mengharapkan menantuku jadi suamiku. Sekarang ada mertua menikah dengan menantu, apa itu salah?" guman nyonya Ranti.
Dia berdiri di depan cermin, penampilannya masih oke. Tubuhnya juga ramping, wajahnya dia selalu perawatan agar menantunya tertarik padanya. Tapi kenapa dia kalah cepat dengan seorang gadis kampung itu.
Setelah mematut diri, dia lalu keluar dari kamarnya. Menuju dapur untuk melihat apakah Mimin memasak banyak, nyonya Ranti melihat jam di dinding masih pukul sepuluh. Jika dia memasak untuk Bryan, apakah masih cukup?
"Oma sedang apa di dapur?" tanya Mimin.
"Hemm, kemarin waktu gadis itu memasak untuk menantuku apa saja?" tanya nyonya Ranti.
"Kapan oma? Kan nyonya Kirana itu jarang masak. Tuan Bryan juga jarang minta di buatkan makanan sama istrinya." jawab Mimin.
"Aaah, kamu itu dungu banget sih. Sini keluarkan sayuran buncis serta wortel lalu brokoli, saya ingin masak untuk menantuku. Siang ini saya mau ke kantornya membawa makanan." kata oma Ranti itu.
Mimin diam, dia lalu mencibir dalam hati, " Bukannya tobat malah mau mengejar menantunya itu. Mau jadi pelakor juga ternyata."
Dia lalu mengeleuarkan semua sayuran dalam kulkas, termasuk daging-dagngan daj juga ikan. Oma Ranti membuat makanan segitu banyak untuk menantunya dan dirinya. Dia berpikir pasti istrinya akan langsung pulang ke rumah dengan Missel.
Satu jam memasak di dapur, di bantu oleh Mimin dan akhirnya selesai. Makanan itu di masukkan ke dalam kotak makan, setelah selesai dia kembali ke kamarnya untuk berdandan lebih dulu. Karena sehabis masak, jadi tubuhnya pun terasa bau masakan. Apa lagi goreng ikan tadi.
"Mimin, kamu sudah siapkan bekal makanannya?" tanya oma Ranti.
"Iya oma, ini bekal makanannya." kata Mimin memberikan bekal makanan itu pada oma Ranti.
Setelah dandan selesai, oma Ranti pun segera keluar. Dia akan memesan taksi online di depan. Mimin hanya menggelengkan kepala saja dengan kelakuan oma Ranti yang begitu semangat membawakan makanan untuk Bryan.
_
Oma Ranti ternyata lebih cepat datang ke kantor Bryan, semua staf di kantor menyapanya. Namun dengan langkah yang tegap dan angkuh dia terus berjalan menuju lift. Mata semua staf menatap heran pada oma Ranti yang berpenampilan seperti anak muda.
Memakai baju kemeja putih serta celana jeans biru laut yang lumayan ketat. Serta rambut di gerai seperti biasanya. Dia masuk ke dalam lift dan memencet tombol sesuai angka di mana ruangan Bryan berada.
__ADS_1
Bisik-bisik sebelum oma Ranti masuk ke dalam lift, resepsionis membicarakan oma Ranti.
"Eh, itu kan mertuanya tuan Bryan kan?" tanya staf lain.
"Iya, mertua dari almarhum istrinya dulu. Tapi kok beda ya, sekarang penampilannya seperti anak muda. Necis." kata yang lainnya.
"Kalau di lamar oleh kakek-kakek itu beruntung sekali si kakek, dapat janda cantik dan selalu menjaga penampilannya. Ck ck ck."
"Kalian jangan membicarakan mertuanya pak bos, bisa di santap kalian sama pak bos."
"Lha, setahuku pak bos hanya melarang kami membicarakan istrinya itu. Jadi, kalau mertuanya ya kurasa tidak masalah. Apa lagi gosip yang baik kok."
Perdebatan membicarakaan oma Ranti masih terus bergulir, hingga mereka tidak tahu kalau ada seorang perempuan seksi lewat di depan mereka. Namun mereka kini berhenti, ternyata ada Luadya masuk ke dalan lift juga.
"Eh, itu kan nona Laudya. Temannya pak bos kan?"
"Mana?"
"Udah masuk ke dalam lift."
"Waah, pak bos lagi ada tamu banyak ya. Ck ck ck, semua perempuan cantik dan seksi lagi." kata teman satunya.
Ah lo kepo banget sih, urusan mereka lah."
"Udah pada kerja sekarang, sebentar lagi waktunya istirahat."
Setelah berbicara seperti itu, tak berapa lama datang Kirana dengan Missel. Semua mata memandang ke arah Kirana yang berjalan juga menuju lift. Ketiga staf tersebut saling pandang.
"Sang ratu asli telah datang, semoga tidak terjadu perang dunia ke empat di kantor pak bos." kata salah satu dari mereka.
Kedua temannya mengangguki, lalu ketiganya pun kembali bekerja. Sementara Kirana dan Missel sudah tiba di gedung di mana kantor suaminya berada. Dia menyapa sekretaris Bryan yang kebingunan karena di dalam ruangan itu ada mertua dan teman suaminya.
"Mbak, di dalam ada tamu ngga?" tanya Kirana.
Belum sempat di jawab, Morgan keluar dari ruangan Bryan. Dia pun tersenyum senang lalu dia menarik tangan Kirana untuk segera masuk ke dalam ruangan suaminya.
"Kamu harus segera masuk Kirana, suaminya sedang pusing di dalam." kata Morgan.
__ADS_1
"Memang ada apa dengan mas Bryan?"
"Cepat masuk saja, tolong suamimu di dalam. Nona Missel, ikut om aja yuk?" ajak Morgan pada Missel.
"Kemana om?"
"Kita cari chiken di luar, sekalian makan siang."
"Oke om."
Morgan mengajak Missel keluar, sedangkan Kirana masuk ke dalam ruangan suaminya. Dan dia kaget, ternyata di dalam ada Laudya dan oma Ranti. Ada rasa kesal, juga cemburu. Namun dia terus melangkah ke depan menuju suaminya yang berada di kursi kerjanya.
"Halo mas, kamu sedang apa?"
"Halo sayang, untunglah kamu datang. Aku ingin mengajakmu makan siang." kata Bryan mencium pipi istrinya membuat Laudya dan oma Ranti merasa marah.
Sejak tadi mereka berdua di dalam bersama Bryan malah Kirana yang di sapa dengan mesra.
"Bryan, mama masak capek-capek untukmu kenapa kamu malah mengajak gadis itu makan di luar?" kata oma Ranti dengan kesal.
"Dia istriku, aku berhak mengajak dia makan siang. Dan lagi maaf ma, aku ingin makan di luar bersama istriku." kata Bryan.
"Bryan, kamu tidak menghormati tamu yang datang ke kantormu. Seharusnya tuan rumah itu jangan pergi kalau tamu datang, itu tidak sopan." kata Laudya.
"Maaf, kalian datang bukan jam istirahat. Lagi pula kalian mau apa datang ke kantorku hanya untuk mengganggu pekerjaanku. Dengan kalian memaksaku meladeni kalian, membuat waktu kerjaku terganggu."
"Tapi dia juga datang mengganggumu. Kenapa kamu membedakanku dengannya."
"Karena dia istriku. Ingat, dia istriku. Dan kalian hanya menggangguku saja. Jika kalian mau pergi, silakan pergi saja. Aku dan istriku mau makan siang."
Setelah berkata begitu, Bryan dan Kirana pergi. Bryan mendekap istrinya dan sengaja mencium pipi istrinya saat melewati mereka. Tentu saja Laudya dan oma Ranti sangat kesal.
"Mereka sengaja bermesraan di depan kita?"
_
_
__ADS_1
_
******************