Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
90. Nasehat Bryan


__ADS_3

Sejak mengantar Danisa pulang pagi itu, Daniel memikirkan apa yang di ucapkannya pada Danisa tidak ada yang salah menurutnya. Tapi kenapa setiap kali dia menelepon Danisa tidak pernah di angkat, jika pun di jawab pasti jawabannya sebentar dan langsung di tutup lagi.


"Dia kenapa sih? Kok sepertinya susah banget di hubungi?" gumam Daniel.


Dia bingung sendiri dengan sikap Danisa itu, sepanjang dia masuk kantor Daniel memikirkan perubahan sikap Danisa padanya.


Tok tok tok


Pintu di ketuk lalu di buka, sekretaris Bryan masuk dan memberikan berkas yang harus di tanda tangani.


"Tuan Daniel, maaf anda harus tanda tangan berkas ini." kata sekretaris Daniel.


"Ehm, ya."


Daniel menananda tangani berkas yang di ada di hadapannya. Lalu memberikannya lagi pada sekretarisnya.


"Maya, aku tahu pertanyaanku ini sangat konyol. Tapi, apakah seorang seorang perempuan menolak di ajak menikah itu dia benar-benar menolak dan tidak mau?" tanya Daniel.


Maya, sekretaris Daniel hanya mengerutkan dahinya, dia lalu tersenyum.


"Apa anda sedang menyukai seorang perempuan tuan?" tanya Maya, pertanyaan biasa tapi bagi Daniel di tanggapi berbeda.


"Kamu pikir saya penyuka laki-laki? Pertanyaanmu itu sepertinya menyangka aku penyuka laki-laki. Sudahlah, menyesal aku bertanya padamu." kata Daniel.


"Maaf tuan kalau saya salah bertanya. Maksud saya apa anda sedang jatuh cinta lagi, sebab anda bertanya seperti itu berarti anda sedang menyukai seorang perempuan lagi." kata Maya dengan bijak.


Memang jika orang sedang sensitif hatinya, apa pun ucapannya pasti di anggap salah. Dan Daniel sedang sensitif hatinya, dia merasa kesal pada Maya sekretarisnya.


"Sudahlah, kamu boleh pergi." kata Daniel.


"Baik tuan Daniel."


Maya segera pergi dari ruangan bosnya, dia tidak mengerti kenapa bosnya itu bertanya seperti itu? Bukankah dia dulu pernah punga istri? Lalu kenapa bertanya padanya. Apa perempuan yang dia sukai itu sangat angkuh sehingga di ajak menikah oleh Daniel menolak.


Sementara Daniel masih bingung dengan perasaannya sendiri, dia tidak percaya Danisa menolaknya. Dia tahu dari sorot mata Danisa, kalau Danisa itu punya perasaan padanya.

__ADS_1


"Apa aku salah bicara ya waktu itu?" gumam Daniel.


Dia masih berpikir tentang penolakan Danisa, lalu tanpa pikir panjang dia ambil jasnya dan ponselnya. Bergegas pergi dari kantornya ingin menemui Bryan, dia ingin minta pendapat mengenai ucapannya pada Danisa waktu itu. Siapa tahu Bryan memberinya solusi ya g lebih baik.


_


"Hahaha!"


"Ck, lo ketawa aja terus. Gue yang bingung, kenapa juga harus kecantol sama gadis itu." kata Daniel ketika dia menceritakan masalahnya sama Bryan.


Tapi justru Bryan menertawakannya, seperti meledeknya. Sama dengan Maya di kantornya itu waktu bertanya padanya mengenai penolakan Danisa menikah dengannya.


"Lo salah ngomong, bro. Harusnya, apakah kamu mau menikah denganku Danisa? Bukan jadi mamanya Kania, bahkan harus mengasuhnya saja. Ya jelas dia menolak, dia perempuan. Perlu kejelasan ucapan dari laki-laki, tapi aneh juga sih tuh adiknya Morgan sampai menolak lo. Dia itu sama gilanya dengan kakaknya, tapi dari cerita lo itu kok jadi beda ya?" kata Bryan.


"Ck, gue pikir dengan ucapan itu dia mengerti."


"Tetap salah dodol, lo tahu istriku dulu bahkan meragukan aku mencintainya. Padahal dengan sikapku padanya saja sudah jelas. Apa coba namanya kalau bukan cinga, gue jauh-jauh menyusul dia ke kampung. Sampai rela berbohong untuk mendapatkan dia agar tidak di lamar oleh anaknya juragan empang di kampungnya. Tapi dia meragukan perasaanku. Katanya, perempuan itu butuh kepastian dengan ucapan langsung. Bukan sekedar sikap saja." kata Bryan.


Daniel mendengarkan apa yang di katakan oleh Bryan itu. Mereka membicarakan tentang sisi sensitf perempuan, seolah mengerti bagaimana perempuan itu. Tapi kenyataannya, mereka kalang kabut jika perempuan sudah menghindar darinya. Jadi butuh kepastian dengan sebuah ungkapan perasaan.


"Ck, lo dulu sama istri lo itu bagaimana mengungkapkan perasaan lo itu?" Bryan malah balik bertanya.


"Dulu bukan gue yang nembak, tapi dia sendiri. Ya udah, karena gue merasa cocok dengan dia. Gue iya aja sampai menikah, tapi sekarang dia malah ninggalin gue ke luar negeri dengan pria asing itu. Ck, masa lalu gue ngga enak." kata Daniel.


Bryan diam saja, dia memang akrab dengan Daniel. Tapi saat itu Daniel masih tertutup dan tidak pernah menceritakan kisahnya dengan mantan istrinya. Yang Bryan tahu, Daniel menikah dengan perempuan yang dia sukai.


"Gue pikir lo itu playboy cap kapak. Ternyata lugu masalah cinta, tapi lo benar sih tanya sama gue. Gue ahli dalam menaklukkan gadis, apa lagi dia sangat mengerti gue dan menyayangi anak gue. Yang penting lo suka sama perempuan itu yang sayang sama anak lo." kata Bryan.


"Itu dia, anak gue bilang sama Danisa kalau dia senang jika Danisa tinggal di rumahnya. Dan gue lihat dia sangat akrab dengan anak kecil, sama anak gue dia kelihatan sayang banget." kata Daniel.


"Jelaslah dia akrab dengan anak kecil, lha Morgan itu punya anak juga. Dan pasti dia dekat dengan anaknya Morgan."


"Itu kan bagus. Gue bisa menilai dia dari kesehariannya dia dengan keponakannya."


"Morgan sekarang di Batam. Perusahaan gue di sana dia yang pegang." kata Bryan.

__ADS_1


"Perusahaan yang mana?"


"Dulu milik Laudya, gue ambil alih dan membeli sahamnya sebagai pembalasan dia pernah menyakiti istri gue sama mertua gue. Mereka sekarang sudah ada di penjara."


"Menyakiti istri lo karena cemburu lo menikah dengan Kirana?"


"Ya, dan lebih parahnya mereka melakukannya di rumah gue saat gue ada di kantor. Untung mama datang dan mencegah kejadian itu. Kalau tidak, mungkin calon bayi kembarku sudah mereka renggut karena kekonyolan obsesi mereka." kata Bryan.


"Sadis bener, cinta memang membutakan ya. Sampai lupa siapa dan di mana mereka menganiaya orang karena rasa cemburu."


"Sudahlah, jangan bahas itu. Hati gue sakit mengingat itu semua. Terus, lo gimana?"


"Emm, gue masih bingung." jawab Daniel.


"Ck, lo cerita ke gue seolah lo pasti menyukai gadis itu. Sudahlah, lo pikirkan baik-baik tentang perasaan lo itu. Yang jelas apa yang lo katakan pada Danisa itu salah, kalau lo suka dan cinta. Katakan yang sejujurnya. Jangan mengatas namakan anak lo itu, dia berpikir kalau yang butuh dia hanya Kania. Lo tidak, jelas dia mengira lo membutuhkan pengasuh, bukan istri." ucap Bryan.


Daniel memikirkan apa yang di katakan Bryan, memang benar. Dia menginginkan, tapi mengatas namakan anaknya. Danisa juga bertanya apa hanya Kania saja yang membutuhkan. Tapi justru dia jawab iya, sesaat dia mengingat perubahan wajah Danisa saat itu.


"Gue akan cari dia dan mengatakan yang seharusnya gue katakan. Tapi dia tidak seperti istri lo." kata Daniel.


"Tidak seperti istri gue? maksudnya?"


"Emm, malam itu gue menyelamatkan dia dari mantan pacarnya yang kesal karena di putuskan. Dia mau di perkosa sama mantan pacarnya dan katanya setelah itu dia akan di campakkan bagai sampah. Brengsek banget dia kan, aku menolongnya malam itu. Dan mantan pacarnya itu mengatakan kalau dia sudah bukan gadis suci lagi." kata Daniel lirih.


Bryan diam saja, dia tahu soal itu dari Kirana. Namun, menurutnya jika mencintai tidak masalah dengan hal itu. Yang terpenting keduanya saling jujur saja dan menerima saja.


"Kalau begitu, lo pikirkan baik-baik. Jaman sekarang yang gadis perawan belum tentu sebaik gadis yang sudah tidam bersegel lagi. Tapi yang penting baik hatinya dan lo nyaman dengannya. Apa yang lo inginkan dari Danisa, pikirkan itu. Jika lo hanya ingin Danisa jadi pengasuh anak lo, jangan berharap dia akan mau. Ingat apa yang gue katakan, perempuan itu butuh kepastian." kata Bryan memberi nasehat.


Dia bukannya membela Danisa, dia tahu dari Kirana kalau Danisa memang baik. Kirana sering bercerita kalau Danisa suka membantunya dalam hal keuangan Kirana. Daniel pun mengangguk, dan akhirnya mereka berdua pun makan siang bareng di restoran. Mereka pergi dari kantor Bryan untuk makan siang.


_


_


_

__ADS_1


******************


__ADS_2