
Minggu sekarang nyonya Kalina sangat sibuk mengurus acara resepsi pernikahan Bryan dan Kirana bulan depan, Kirana hanya bisa ikut fitting baju saja dengan Bryan, karena perutnya sudah membesar. Jadi tidak bisa meengurus apa pun untuk acara resepsi.
Yang mengurus semuanya adalah nyonya Kalina, Kirana hanya setuju saja karena dia tidak bisa menemani mertuanya.
"Mas, apa pestanya di adakan di hotel?" tanya Kirana.
"Iya sayang, nanti kita menginap di sana selama tiga hari setelah acara resepsi." jawab Bryan.
"Kenapa harus menginap? Kan bisa pulang ke rumah."
"Aku pengennya sih bulan madu ke luar negeri, tapi perutmu sudah besar. Jadi tidak mungkin bisa di bawa terbang naik pesawat. Aku sudah konsultasi ke dokter, katanya ngga boleh. Ya udah, kita menginap di hotel saja selama tiga hari." kata Bryan.
Dia kini naik ke ranjangnya setelah menyelesaikan beberapa berkas yang dia bawa ke kamarnya. Menemani Kirana duduk bersandar sambil selonjoran. Bryan meneluk istrinya, tangannya mengelus perut Kirana yang membesar. Lama dia mengelusnya, sampai satu tendangan di tangan dia rasakan.
"Waah, anakku kayaknya laki-laki ini. Dia nendang tanganku sayang." kata Bryan takjub dengan tendangan di perut Kirana yang dia rasakan.
"Setiap hari mereka menendang terus perutku mas, kadang aku suka kaget kalau di tendang-tenang. Rasanya lucu banget ya, apa lagi kalau mereka sudah lahir. Aku makin gemas jadinya." ucap Kirana.
Bryan tersenyum, dia ikut bahagia. Di ciumnya pipi Kirana dengan lembut.
"Besok kita ke dokter lagi ya, ingin tahu jenis kelamin anak kita sayang." kata Bryan.
"Kalau suka nendang gitu pasti laki-laki mas."
"Bisa jadi, aku senang sekali kalau mereka laki-laki. Lengkap kan sudah anak kita, perempuan dan dua laki-laki." kata Bryan memeluk erat istrinya dari samping.
Rasa bahagia kini Bryan rasakan. Mempunyai istri yang cantik dan juga menurut, dan sebentar lagi akan mempunyai anak kembar dari Kirana. Kembali tangannya mengelus perut Kirana dengan lembut.
"Apa kamu punya keturunan kembar sayang?" tanya Bryan.
"Kata ibu dulu aku punya saudara kembar, tapi dia meninggal setelah dua hari di rawat di rumah sakit setelah di lahirkan. Namanya Kirani, dia kekurangan oksigen sewaktu di kandungan. Ibu pikir Kirani baik-baik saja, tapi hanya dua hari dia hidup. Lalu meninggal akhirnya." kata Kirana.
Bryan ikut sedih mendengar cerita Kirana, dia semakin mendekap istrinya itu. Kirana merasa sedih menceritakan kisah saudara kembarnya, meski dia tidak tahu. Tapi dia baru merasakan sekarang ketika dia sedang mengandung. Kirana merasa khawatir sendiri nanti melahirkan anaknya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?"
__ADS_1
"Aku merasa takut aja mas ketika nanti melahirkan." jawab Kirana yang tiba-tiba menjadi sendu wajahnya.
"Jangan khawatir, setiap bulan kamu kan selalu periksa untuk melihat keadaan janin kita. Dan minggu kemarin kata dokter keduanya baik-baik saja kan. Jangan di pikirkan, nanti malah kamu jadi stres dan anak kita ikut stres, sayang." kata Bryan mengingatkan Kirana.
"Iya, aku juga baca-baca di internet kalau ibu hamil itu tidak boleh stres. Nanti bayi di dalam kandungan ikut stres juga." kata Kirana.
"Nah, makanya kamu harus gembira dan bahagia."
"Aku selalu gembira kok mas, apa lagi kalau ada kamu seperti sekarang. Di peluk sama kamu tuh rasanya nyaman banget." kata Kirana.
"Oh ya? Jadi aku harus memelukmu terus seperti ini?"
"Iya."
"Kalau begitu, biar aku di rumah aja ya temani kamu di sini." kata Bryan.
"Ya jangan mas, nanti pekerjaan kamu gimana?"
"Bisa di bawa ke rumah kok. Aku kerja di ruang kerjaku aja, biar kamu bisa aku peluk seperti ini terus kalau kamu minta." kata Bryan.
"Uuugh, istri yang baik banget kamu ya. Aku kok makin cinta sama kamu. Cup." ucap Bryan.
Dia awalnya mencium pelan, namun kini dia ingin melakukan lebih pada Kirana. Tangannya sudah meraba pada bagian dadanya yang kini semakin membesar karena hormon kehamilan, empuk di tangan Bryan. Dia meremas dengan dengan lembut, pagutan bibirnya semakin kuat dan menuntut.
Kirana terbuai, mulutnya mengeluarkan lenguhan dan juga rasa nikmat Kirana rasakan.
"Eeeuuh mas."
"Iya sayang, aku menginginkanmu maalam ini." bisik Bryan.
Kirana tersenyum, dia pun kembali membalas ciuman Bryan. Keduanya pun kini menikmati sentuhan masing-masing dari tubuhnya. Tak terasa baju Kirana bagian atas sudah terlepas, tangan Bryan lebih leluasa memegang dada Kirana, tangan satunya mengelus punggungnya.
Posisi Kirana kini terlentang, baju Bryan juga sudah terlepas. Dia kini siap bercinta dengan istrinya yang terlihat seksi di matanya karena perut gendutnya.
"Uuuh, kamu seksi banget sayang. Dengan perut semakin membesar seperti ini." kata Bryan menatap wajah istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu juga semakin tampan mas, mau jadi papi hot. Hehehe."
"Uuuh, sayang. Kamu bisa menggombal ya. Tapi aku udah jadi papi hot sejak dulu. Buktinya kamu terpesona sama aku kan?" kata Bryan dengan senyuman menggodanya.
"Iya, sejak dulu kamu itu selalu seksi dan hot mas. Hihihi. Aku menyukai kamu karena tubuhmu memang seksi, aaah mas. Nakal ih." kata Kirana terkejut karena bagian puutingnya di gigit oleh Bryan.
"Aku gemas sayang, rasanya menantang itu yang menonjol."
Ucapan rayuan yang menggoda terus di ungkapkan oleh Kirana dan Bryan pada tubuh masing-masing. Kini keduanya semakin tidak tahan untuk terus berucap. Lalu Bryan dengan pelan memasukkan juniornya, agar Kirana merasa nyaman di posisinya yang sekarang sedang hamil dan bercinta dengannya.
Bryan memaju mundurkan dengan pelan, agar goncangan perut besar Kirana tidak mengganggu istrinya dalam menikmati percintaan dengannya. Semenjak Kirana hamil, dia hanya bisa menggauli istrinya dua kali saja, pagi sebelum mandi pagi dan malam hari sebelum tidur.
Kadang hanya sekali, dan itu pun hanya sebentar. Selepas dia merasakan puncak nikmat, baru selesai. Tidak melanjutkan lagi, dia berpikir kasihan Kirana. Meski pun Kirana tidak protes selama percintaan mereka, Bryan masih melakukanya setiap hari.
Jika Kirana ingin melakukan dengan cara lain, maka Bryan dengan senang hati melakukannya.
"Aaaaaah, mas. Aku keluar, euuuh."
"Iya sayang, aku juga sebentar lagi keluar. Aaah, eeeurgh." geraman Bryan menandakan dia sudah mulai mencapai pumcaknya.
Kirana membiarkan suaminya mendapatkan kenikmatannya, melakukan pelepasan dengan membantu memilin lembut puuting suaminya. Dan benar saja, kinj Bryan mengeluarkan lahar kenikmatannya di luar rahim Kirana. Karena Kirana sedang hamil, maka Bryan membuang laharnya di luar rahimnya agar tidak mengganggu perkembangan janin di dalam perut Kirana.
Kini Bryan terkulai lemas, dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu memeluk Kirana dan mencium kening istrinya itu.
"Terima kasih sayang, cup."
Kini keduanya pun saling memeluk dengan keadaan sama-sama polos.
_
_
_
****************
__ADS_1