
Ternyata benar, di restoran yang sudah di pesan memang yang di undang hanya Morgan, Danisa dan juga Daniel teman Bryan. Tidak ada orang lain, Kirana pun menatap suaminya dengan senyum malu. Dia malu telah menduga yang tidak-tidak tentang Bryan.
"Aku kira satu restoran reservasinya mas, ternyata satu tempat aja." kata Kirana ketika mereka sudah memasuki tempat yang di pesan.
Danisa tampak senang, dia duduk dengan kakaknya Morgan. Morgan justru tampak acuh saja dengan sikap adiknya itu.
"Kiraaaan!" teriak Danisa pada Kirana.
Kirana hendak menyambut Danisa yang lama tidak bertemu lagi semenjak wisudanya itu. Namun, Bryan menahan tangannya agar tetap tenang. Kirana heran, kenapa suaminya menahan tangannya?
"Kenapa mas?"
"Jangan lari, nanti jatuh." hanya itu jawaban Bryan pada istrinya.
Kirana pun menurut, dia hanya melambaikan tangan saja pada sahabat somplaknya itu. Tapi dia merasa aneh, kenapa Danisa ikut acara makan malam dengannya?
"Mas, kenapa Danisa juga ikut makan malam juga?" tanya Kirana heran.
"Biar kamu ada temannya, aku dan Morgan serta Daniel akan membicarakan pekerjaan penting." jawab Bryan.
Mereka sudah sampai di meja makan, Daniel belum datang. Katanya dia datang terlambat karena putrinya belum mau di tinggal.
"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Bryan setelah duduk di kursinya.
"Belum bos, kan nunggu anda datang dulu. Takutnya acara makan malamnya gagal jadi saya takut tekor. Heheh ...," jawab Morgan dengan cengengesan.
"Ck, kamu ngga percaya sama aku. Asisten pelit!" kata Bryan.
Danisa dan Kirana sedang bicara, dia agak menjauh dari suaminya itu agar bebas bicara dengan sahabatnya.
"Gue ngga tahu kenapa di ajak makan malam sama bang Morgan. Eh ternyata mau menemani istri pak bos Bryan. Hahaha!" kata Danisa.
"Ish, jangan kencang-kencang ketawanya. Banyak yang lihat tuh. Lo ngga ada anggun-anggunnya ya." kata Kirana.
"Eh, segini gue anggun. Terus acara makan malamnya cuma kita berempat aja ya?" tanya Danisa.
"Ngga, kata mas Bryan ada satu lagi temannya mau membicarakan bisnis kerja sama. Aku pikir mau romantisan berdua aja, heheh .... Ternyata sama lo juga." kata Kirana.
"Yaah, gue juga heran waktu abang gue ajak makan malam. Tapi gue seneng sih, bisa ketemu lo lagi. Uuh udah seabad ya kita ngga ketemu." kata Danisa lagi.
Obrolan-obrolan panjang dan ringan penuh canda tawa kedua sahabat itu membuat Bryan terus saja memperhatikan istrinya. Dia penasaran, apa yang di bicarakan oleh Kirana dan Danisa.
Bryan ingin memanggil istrinya untuk lebih dekat padanya, tapi suara Daniel yang memanggilnya membuat dia mengurungkan niatnya.
"Hai bro, lo sudah ada di sini rupanya." kata Daniel segera duduk di sebelah Bryan.
__ADS_1
"Lo lama banget." kata Bryan.
"Sorry, anak gue rewel ngga mau di tinggal." jawab Daniel.
"Makanya cari pengasuh, atau cari istri baru. Betah ama menjomblo." ledek Bryan.
"Ck, perempuan jaman sekarang ngga bisa di andalkan. Mereka mau enaknya aja, cinta sama lakinya ngga mau ngasuh anak gue. Males gue cari istri lagi." kata Daniel.
"Hemm, kayak gue dong. Awalnya guru privat anak gue, sekarang jadi istri. Gue nikahin langsung." kata Bryan.
"Eh, lo bawa istri juga?"
"Ya, tuh lagi ngobrol sama temannya."
"Yang mana?"
"Yang paling cantiklah."
"Adik gue juga cantik bos." kata Morgan tak mau kalah.
"Tapi lebih cantik istriku, adik kamu itu barbar." ucap Bryan dengan entengnya.
"Yang pakai baju biru itu istrimu?" tanya Daniel menatap Kirana.
"Ya, kamu jangan melihat seperti itu. Awas saja kalau tertarik sama istri gue." kata Bryan mengancam Daniel.
"Ck, suatu hari nanti lo akan tahu cinta yang sesungguhnya." kata Bryan seperti memberi wejangan pada Bryan.
"Tapi bos juga sewaktu nyonya Risa meninggal merasa kehilangan, bahkan sering minum-minuman. Apa itu bukan cinta yang mendalam sampai tidak rela kehilangan istri yang meninggal." kata Morgan mengingatkan Bryan tentang dulu ketika dia terpuruk karena di tinggal oleh Risa, maminya Missel.
"Tapi entah kenapa, aku merasa lain dengan Kirana. Aku bahkan lebih takut kehilangan dia, dia seperti malaikat bagi anakku. Dulu aku pikir dia mau mencelakai putriku, ternyata gue salah." kata Bryan mengingat dulu kenal Kirana.
Dia menatap istrinya yang masih asyik mengobrol dengan Danisa. Tertawa senang sambil sesekali melirik suaminya.
Senyum Kirana mengembang ketika matanya menubruk dengan mata suaminya, melihat suaminya dia seperti melihat dewa Yunani yang ketampanannya sangat paripurna bagi pemujanya.
Terlalu berlebihan sih, tapi entah kenapa Kirana menatap suaminya sangatlah memuja. Begitu juga Bryan, memandang Kirana dengan tatapan penuh cinta.
Morgan yang sejak tadi memperhatikan bosnya yang selalu menatap Kirana sampai berdecak, menyindir halus.
"Kita seperti nyamuk tuan Daniel, untuk apa kita bertemu mengajak makan jika dunia seperti milik mereka berdua." kata Morgan.
Daniel pun melihat Bryan dan Kirana bergantian, memang berbeda dengan Bryan dulu pada Risa. Almarhum istri pertamanya, tidak seperti sekarang. Banyak cinta yang Bryan curahkan dari tatapannya pada istrinya.
"Hellow, ada orang di sini? Kenapa kita seperti orang bego ya?" tanya Daniel.
__ADS_1
Bryan pun mengalihkan pandangannya pada Daniel dan Morgan, lalu berdecak kesal.
"Ada apa dengan kalian? Cepat kalian menikah, agar tahu bagaimana rasanya mencintai sepenuh hati." kata Bryan.
"Aku sudah punya istri bos, dan tahu rasanya mencintai." kata Morgan.
"Gue bukannya ngga bisa mencari. Tapi memilih gadis untuk jadi ibu dari putriku. Bukan gue saja yang di cintai." kata Daniel.
Bryan diam, dia memang beruntung mendapatkan Kirana. Bisa menyayangi anaknya dan bisa menalayaninya juga, apa lagi urusan di ranjang. Tidak pernah menolak meski dia kelelahan.
Dan pikiran Bryan selalu saja ujung-ujungnya urusan di kamar.
"Ayo kita pesan makanan, setelah itu kita bicarakan masalah bisnis." kata Daniel.
Morgan memyetujui usul Daniel, Bryan pun hanya mengangguk dengan ucapan Daniel. Kirana dan Danisa ikut bergabung dengan ketiga laki-laki itu.
"Nyonya Bryan, boleh saya berkenalan?" tanya Daniel pada Kirana.
Kirana tersenyum dan menatap suaminya, meminta pendapat padanya. Tapi suaminya diam saja, itu berarti Bryan memperbolehkan dirinya berkenalan dengan Daniel.
"Saya Kirana Prameswari tuan Daniel." ucap Kirana dengan senyum ramah.
"Dengan saya tidak mau berkenalan, tuan Daniel?" tanya Danisa pada Daniel dengan senyum ramah.
Dia berusaha tidak terlalu genit pada laki-laki itu, dia takut dengan Morgan kakaknya.
"Oh ya, nona siapa namanya?" tanya Daniel pada Danisa.
"Danisa Anggraeni tuan Daniel." jawab Danisa.
"Oh, nona Danisa ya." kata Daniel dengan senyumnya.
Kelima orang itu pun segera makan karena memang sudah lapar, apa lagi Kirana yang sejak dari rumah sudah lapar. Bryan memilihkan makanan untuk Kirana, dia sangat perhatian dengan istrinya membuat orang di sana kesal dengan Bryan yang menampilkan kemesraan di depan ketiganya.
Seolah Bryan menunjukkan kalau dia sangat bahagia dan membuat orang cemburu dengan kebahagiaannya.
"Lebih baik kita pulang saja, dia memang ingin pamer kalau sedang bahagia dengan istrinya." kata Daniel dengan menyindir langsung.
Bryan cuek saja dengan sindiran seperti itu, membuat Kirana merasa tidak enak hati karena ulah suaminya itu.
_
_
_
__ADS_1
*******************