Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
102. Kania Dan Missel


__ADS_3

Selama dua hari Kania tinggal di rumah Kirana dan Bryan. Dia senang tinggal di rumah Kirana, karena ada temannya Missel. Missel juga senang ada teman sebayanya, Kania.


Mereka semakin akrab karena keduanya juga sangat menyayangi si kembar Alka dan Arka. Namum yang membuat sebal Missel akhir-kahir ini pada Kania adalah, dia selalu mengolok ucapan Missel yang masih bum fasih mengucapkan kata er Dia sudah berkali-kali belajar dengan Kirana, namun tetap saja tidak bisa.


Kirana tidak memaksakan Missel bisa berucap huruf er, di sekolah bahkan dia sering di olok oleh Dora teman sekelasnya di TK. Kadang dia tidak peduli, tapi dia juga sering marah pada Dora itu.


Seperti saat ini, Kania dan Missel sedang bermian di ruang bermain dengan asyik. Membicarakan kedua adik kembarnya dengan bangga karena sekarang dia sudah jadi kakak.


"Aku senang punya adik dua." kata Missel pada Kania.


"Kata tante Kiran aku juga mau punya adik dari mama Danisa, kok." ucap Kania tidak mau kalah.


"Tapi itu masih lama." kata Missel lagi menimpali.


"Biarin, lama. Yang penting aku punya adik." kata Kania.


Mereka berdebat masalah adik baru Kania yang belum tentu akan hadir kapan. Missel selalu mengolok Kania tidak punya adik, sedangkan dirinya punya dua adik kembar.


"Punya adik juga kamu ngga bisa ucapin salah satunya. Masa Arka kok panggilnya Alka lagi." kata Kania.


Kali ini Missel diam, dia tidak bisa mengelak olokan Kania kali ini. Dia menatap tajam pada teman barunya, lalu berkata lagi.


"Biarlin, kata mama aku juga ngga apa-apa. Arlka panggilnya."


"Salah, harusnya Arka."


"Arlka, kamu salah."


"Yang salah kamu, Arka!"


"Arlka, itu adik aku! Jangan panggil adik aku!" teriak Missel.


"Kan aku panggil Arkanya benar, kamu salah. Biar Arka aku bawa pulang nanti kalau papa sama mama jemput aku." kata Kania lagi.


"Aaah, Kania! Arlka itu adik aku, sama kayak Alka. Kamu ngga boleh bawa adik aku!"


Kedua bocah itu ribut sampai berteriak kencang, membuat Kirana pun heran. Dia menghela nafas panjang. Ini yang kedua kali mereka bertengkar masalah anak kembar Kirana, awalnya dia tidak tahu. Tapi setelah di tanya, Kania pengen minta salah satu adik Missel di bawa pulang.


Hingga Bryan menenangkan Kania kalau papa sama mamanya juga sedang bikin adiknya Kania. Baru setelah di beritahu, Kania pun diam dan tidak memaksa meminta bawa anak kembar Kirana. Dan kali ini entah apa yang di ributkan.


Setelah dia menyelesaikan menyusui kedua anaknya itu secara bergantian. Lalu Alka dan Arka pun tidur. Kirana baru bisa keluar dan turun ke bawah menuju ruang bermain keduanya. Kania dan Missel masih bertengkar masalah Alka dan Arka.

__ADS_1


"Sayang, kenapa lagi dengan kalian?" tanya Kirana menatap satu persatu bocah kecil yang sedang adu mulut itu.


"Ma, adek Arlka mau di bawa pulang sama Kania. Aku ngga mau." kata Missel mengadu.


"Kan Missel ngga bisa ucapin nama Arka, tante. Aku bisa ucapin Arka, jadi mending di bawa aja sama aku kalau mama sama papa jemput aku." jawan Kania tak kalah mengadu pada Kirana.


Kirana menghela nafas panjang, dia tidak menyangka ucapan cedal Missel di permasalahkan. Missel awalnya tidak peduli dengan bicara cedalnya, tapi entah setelah Kania tinggal dua hari ini dia merasa sensitif. Apa lagi masalah adiknya, dia takut Kania akan membawa adiknya pergi.


"Tapi Arlka itu adik aku. Ngga boleh di bawa sama Kania, ma." ucap Missel dengan mata berkaca-kaca.


Kirana mendekat, dia menenangkan anak sambungnya itu. Sedangkan Kania masih tetap kekeh akan membawa Arka pulang ke rumahnya.


"Kakak Missel jangan khawatir, adek Arka ngga kemana-mana kok. Kania kalau mau punya adek nanti juga mama Danisa kasih lho." kata Kirana.


"Tapi lama tante, Arka aja aku bawa buat mainan." ucap Kania.


"Iiih, adik aku bukan mainan. Jangan buat mainan, Kania!" teriak Missel sengit.


"Biarin! Nanti mama aku yang bawa kalau Missel tidur, adek Arka aku bawa sama mama."


"Ma, Kania nakal. Dia mau bawa adek Arlka." rengek Missel.


Akhirnya keduanya pun menurut, mereka masih saling beradu mulut. Tapi dengan mengejek saja, membuat Kirana jadi pusing keduanya masih saja saling mengejek. Dan suara nyaring dari pintu depan memanggil Kania dengan kencang.


"Kania sayang, mama datang." teriak Danisa menghampiri Kania yang berada di meja makan dengan Missel dan Kirana.


"Mama!" teriak Kania dan menghampiri Danisa untuk memeluknya.


"Uuuh, anak mama pintar banget ya ngga nakal dan pastinya menurut ya. Cupp." ucap Danisa.


"Iiih, Kania nakal tante. Mau bawa pulang adik aku." kata Missel menyambungi ucapan Danisa.


"Aku ngga nakal, mau bawa adek Arka kan ngga nakal."


"Tapi kalau mau bawa anak itu namanya penculik. Kania penculik!"


"Bukan penculik Missel!"


Kirana hanya menutup telinganya dengan ledua tangannya. Sedangkan Danisa bingung dan heran dengan pertengkaran anak kecil itu. Dia menatap Kirana dan bertanya dengan bahasa isyarat.


"Lihat saja sendiri, dengarkan baik-baik ucapan kedua anak itu. Apa yang mereka ributkan, sejak kemarin mereka ribut terus." jawab Kirana yang paham akan bahasa isyarat Danisa padanya.

__ADS_1


Danisa pun ikut duduk di meja makan dengan menuntun Kania, dia mencoba bertanya pada Kania apa yang mereka ributkan.


"Sayang, memangnya apa yang Kania ingin dari Missel?" tanya Danisa.


"Mau bawa adek Arka ma, Missel kan ngga bisa panggil Arka. Dia panggilnya Alka aja, kan Alka udah ada. Jadi Arka kita bawa pulang aja ya ma." ucap Kania.


"Aku bisa panggil Arlka, jangan bawa adik aku!" teriak Missel lagi.


"Sudah dong sayang, jangan bertengkar terus. Mama pusing dengarnya. Nanti adek pada bangun kalau kakak ribut terus. Adek Alka sama Arka sedang tidur, jangan teriak-terika terus." kata Kirana menenangkan anaknya itu.


"Tapi Kania mau bawa adek aku ma, ngga boleh pokoknya." kata Missel lagi.


"Ngga kok, kan di bilangin nanti Kania punya adek sendiri." kata Kirana.


Danisa pun ikut bingung juga dengan pertengkaran Kania dan Missel. Dia lalu memberi pengertian pada Kania tentang anak kembar yang tidak boleh di pisahkan. Makanya Arka dan Alka harus sama mamanya, yaitu Kirana.


Kania pun diam saja, meski dia tidak menegrti ucapan Danisa itu mengenai anak kebar. Tapi dia diam dan menurut. Danisa pun lega, akhirnya Kania bisa diam. Tidak lagi bertengkar dan ngotot masalah adik kembar Missel itu.


"Jadi begitulah mereka, bertengkar dan bermain lagi. Anak kecil itu tidak punya rasa dendam berlanjut ya." kata Kirana.


"Maaf ya Ki, kalau Kania banyak merepotkan lo di rumah ini." kata Danisa.


"Ngga apa-apa kok, namanya juga anak kecil. Oh ya, suamimu kemana?"


"Dia pergi ke kantor, setelah pagi pulang dari hotel dia ke kantor. Gue bilang mau jemput Kania, dan dia nanti jemput gue setelah dia pulang dari kantor sorenya. Jadi gue bisa ngobrol puas dengan lo hari ini." kata Danisa.


"Iya ya, kita jarang lho ngobrol berdua. Oh ya, gimana malam pertama lo dengan tuan Daniel?"


"Uuh, sadis. Dia ngga mau berhenti, hahah. Tapi gue suka sih, meski gue kadang suka nolak. Pada akhirnya dia tetap maksa minta jatah lagi, hahah."


"Laki-laki emang gitu. Ketagihan terus sama istrinya."


Obrolan seputar suami mereka dan malam pertama pun terus berlanjut Hingga tak terasa waktu berjalan lebih cepat menuju sore. Keduanya masih membicarakan suami masing-masing yang selalu ganas di ranjang.


_


_


_


****************

__ADS_1


__ADS_2