Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
50. Missel Merajuk


__ADS_3

Sampia di kantor, Bryan terlihat uring-uringan. Dia sering marah-marah tidak jelas. Membuat Morgan harus bertindak cepat agar Bryan tidak sampai memecat beberapa orang karena moodnya saat ini tidak baik.


Bryan sedang menatap ke arah jendela, matanya menerawang jauh ke depan. Di mana dulu istrinya melamun karena di gosipkan jadi istri siri. Morgan dengan setia masih berada di kursi sofa, menyelesaikan pekerjaannya yang sama sekali tidak di sentuh Bryan hari ini.


Jika sudah di tahap seperti ini, Morgan harus hati-hati dan harus menjaga agar jangan sampai bosnya itu minum-minuman, atau meminta minuman padanya.


Karena akan sangat susah di kendalikan, dan susah berhenti.


"Morgan, ambilkan aku satu botol minuman." kata Bryan pada asistennya itu.


Dan ini yang di takutkan Morgan, jika sudah minum maka Bryan akan susah berhenti.


"Untuk apa tuan?" tanya Morgan.


"Aku pusing, istriku tidak ada. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Bryan dengan datar.


"Anda jangan patah semangat begitu, Kirana tidak meninggalkan anda selamanya bos. Dia hanya pindah tempat tidur, makan dan juga keseharian saja di kampung. Bos bisa menyusul ke sana, bila perlu sekarang juga bisa kok bos. Jadi untuk apa minuman?" tanya Morgan dengan hati-hati.


Bryan diam, mencerna ucapan Morgan. Memang bisa dia lakukan, menyusul istrinya ke kampung. Tapi mertuanya masih marah padanya.


"Mertuaku masih marah, aku tidak bisa begitu saja kesana sesuka hati." kata Bryan lagi.


"Tapi melampiaskan hati yang gelisah dengan minum juga tidak baik. Apa jadinya jika Kirana tahu anda minum-minum dan susah di kendalikan? Jika istri anda tahu, apa dia akan mau dengan anda lagi bos? Ingat, Kirana itu bukan Audy. Audy yang maminya Missel dulu tidak bisa mencegah anda dan pada akhirnya dia harus mneyerah dengan penyakitnya." kata Morgan.


"Aku minum tidak ada hububgannya dengan penyakit Audy dulu. Dia sakit memang tidak bisa di tolong, dan mau menyerah karena ... " ucapan Bryan terputus.


"Karena Audy masih labil saat itu, dia menyerah meski pun anda bawa ke berbagai rumah sakit tercanggih. Namun anda tahu bos? Dia pernah bilang, dia tidak mau melihatmu sakit karena minuman. Penyakit dia bukan hanya kanker payudara, tapi juga ginjalnya juga kena." kata Morgan.


"Aku tahu dulu dia sering mengeluh ginjalnya sakit, tapi aku tidak menyangka ginjalnya juga memperparah kanker *********** saat itu." kata Bryan.


"Makanya, anda jangan minum-minuman lagi jika tidak mau Kirana nekad untuk pergi selamanya dari anda. Bukan karena dia pergi meninggal, tapi pergi karena anda susah menghentikan minum-minuman. Pikirkan baik-baik, anda sudah hidup sehat, sering olah raga di rumah. Itu bagus, Kirana sampai terpesona kan dengan bentuk tubuh anda bos?" kata Morgan melencengkan percakapan.


Bryan menarik nafas panjang, dia duduk di sofa dengan Morgan. Di pandanginya beberapa berkas yang menumpuk di meja itu. Tiba-tiba suara dering ponsel Bryan berbunyi.


Kriiing


Bryan mengambil ponselnya dan tertera di sana nama my lovely, dia tersenyum. Ternyta istrinya menghubunginya.


"Halo sayang, kamu sudah kangen padaku?" tanya Bryan dengan wajah ceria lagi.


Tidak sama dengan yang tadi sewaktu masuk ke dalam kantor. Morgan senang dengan perubahan wajah Bryan.

__ADS_1


"Halo mas, kamu sedang di kantor?" tanya Kirana.


"Iya sanang, aku kangen banget sama kamu. Apa sudah sampai di rumah ibu?" tanya Bryan.


Preeet!


Suara ledekan Morgan di sofa membuat Bryan melototkan matanya.


"Iya, ini baru sampai di rumah. Dan langsung istirahat di kamar, entah kenapa aku ingin menghubungimu. Kamu sudah makan, mas?"


"Belum, aku belum sempat. Pekerjaanku banyak sayang, kamu jangan khawatir."


"Dari tadi pak bos melamun aja, nyonya.!" teriak Morgan.


"Apa sih kamu, ganggu aja orang lagi nelepon." kata Bryan menatap tajam pada asistennya itu.


"Tadi mau oleng lho pak bos, nyonya." kata Morgan lagi dengan berteriak.


Bryan bangkit dari duduknya dan berpindah di kursinya sendiri.


"Bang Morgan bilang apa tadi mas? Kok kayak berteriak begitu?" tanya Kirana di sana.


"Jangan dengarkan laki-laki gila itu, dia usil aja sama aku yang semakin mesra sama kamu sayang. Sedangkan dia dan istrinya hanya biasa saja, bahkan istrinya suka memarahinya di rumah." kata Bryan mengoceh tentang Morgan.


"Kok jadi membicarakan Morgan sih? Dia jadi besar kepala. Oh ya, besok aku ke kampung menyusulmu ya, ayah pasti udah ngga marah lagi kan?"


"Ya, dari rumah juga kamu bilang besok mau menyusul. Aku udah tahu mas, tapi jangan sampai batal. Aku kangen kamu juga mas."


"Uuuh, istriku baru juga sehari ternyata udah kangen aja ya? Sama denganku sayang, sejak tadi aku memikirkan kamu terus."


Percakapam di telepon semakin jauh melenceng, dari pertanyaan menyuruh makan, hingga urusan ranjang Bryan bicarakan dengan Kirana di telepon. Membuat Morgan jengah mendengarnya.


Tadi sepertinya melankolis sekali, sampai ingin minum-minuman. Sekarang kok semakin lebay bosnya itu.


"Hedeeh, aku kok seperti mendengar abegeh yang sedang jatuh cinta." kata Morgan dengan kencang.


Dan tentu saja membuat tatapan tajam Bryan padanya. Tapi Morgan acuh saja dengan tatapan tajam dari Bryan. Itu sudah biasa dia dapatkan jika Bryan kesal di ledek olehnya.


_


"Papi, kenapa mami Kiran pergi ke kampung lagi sih?" tanya Missel.

__ADS_1


"Mami Kiran harus menemani nenek sama kakek dulu sayang, nanti kesini lagi kok." jawab Bryan ketika mereka mau tidur malam.


Missel ngambek tidak mau tidur karena Kirana tidak ada, sejak sore Missel marah hingga Mimin kewalahan dan menelepon Bryan.


"Apa kakek nenek sakit harus di temani?" tanya Missel lagi.


"Ya ngga, katanya mami Kiran pengen pulang dulu menemani nenek sama kakek. Tapi nanti papi menyusul ke kampung jemput mami kok, Missel harus nurut sama mbak Mimin ya." kata Bryan.


"Ih, Missel mau ikut nyusul mami Kiran."


"Jangaj sayang, tempatnya jauh.".


"Pokoknya Missel ikut!"


"Sayang, tempatnya jauh. Papi janji besoknya mami Kiran pulang ke rumah." kata Bryan menenangkan anaknya.


"Ngga mau! Pokoknya Missel ikut, dulu ngga ikut. Besok pokoknya ikut, kalau ngga ikut Missel mogok makan sama mogok sekolah!"


Missel membelakangi Bryan, dia kesal dan ingin ikut ke kampung Kirana dengan papinya. Bryan menghela nafas kasar, bagaimana nanti jika ikut malah mengganggu keinginannya untuk berduaan di sana. Bahkan rencananya dia akan membawa Kirana ke penginapan agar tidak di ganggu oleh mertuanya nanti jika tidur dan bercinta dengan Kirana.


Kalau Missel ikut, malah gagal semua rencananya nanti.


"Sayang, papi janji akan membawa mami Kiran secepatnya ke rumah ini. Ngga lama kok sayang." bujuk Bryan.


"Pokoknya ngga mau, Missel pengen ikut ketemu mami Kiran, papi!" kata Missel dengan kencang.


Membuat Bryan menutup telinganya, dia bingung juga tidak bisa membujuk dan menenangkan anaknya itu.


"Ya udah, boleh ikut. Tapi nanti janji jangan ganggu ya di sana, papi sama mami Kiran ada urusan nantinya." kata Bryan akhirnya mengalah.


"Asyiiik! Missel boleh ikut!" teriak Missel dengan riang.


"Huft, semoga dia tidak menggangguku nantinya." gumam Bryan.


Kini Missel bersiap untuk tidur, dia akan bertemu dengan Kirana besok di kampungnya.


_


_


_

__ADS_1


***************


__ADS_2