Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
82. Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Hari yang di tunggu Bryan dan Kirana sudah dekat, mereka akan melalngsungkan pesta pernikahan di hotel berbintag lima. Tidak semua klien Bryan di undang, hanya yang dekat dan sering di ajak kerja sama. Serta teman-teman dekat saja.


"Mas, aku perutnya besar begini. Nanti gimana di acara itu?" tanya Kirana.


"Ya ngga apa-apa sayang, kamu kalau capek ya udah duduk aja. Jangan berdiri lagi." kata Bryan.


"Kan ngga enak sama tamu yang minta salaman sama kita mas." ucap Kirana.


"Kalau kamu ngga capek, boleh istirahat. Nanti di depannya jangn lama-laka, langsung masuk kamar hotel aja." kata Bryan lagi.


Kirana mendekat pada suaminya itu, entah kenapa dia ingin selalu dekat dengan suaminya. Ingin selalu menempel terus. Bryan heran dengan sikap istrinya hari ini, dia tersenyum dan menarik pinggang Kirana agar lebih dekat padanya.


"Kenapa hem? Kok pengennya dekat terus sama aku?" tanya Bryan nemainkan rambut poni Kirana.


"Ngga tahu, aku pengennya dekak-dekat sama kamu terus." jawab Kirana dengan malu-malu.


Tangannya memainkan kancing baju Bryan, membuka dan menutupnya. Lalu menciumi dada Bryan. Mungkin hormonnya sedang naik, jadi dia bersikap seperti itu. Bryan senang dengan tingkah Kirana yang lucu itu, dia membiarkan istrinya menciumi perut serta dadanya yang terbuka kancingnya. Mungkin Kirana sedang ngidam.


"Enak?"


"Hem, iya. Hehe ...."


"Tentu saja, aku selalu harum baunya. Kamu aja sampai suka kan bau tubuhku?"


"Aku suka baunya mas, apa karena aku lagi hamil ya, ngidam?"


"Iya, mungkin. Tapi aku senang kamu terus menciumi tubuhku, uuugh bagian bawah jadinya pengen juga di cium sayang." ucap Bryan.


Kirana mundur dan melepaskan dekapan Bryan, dia tahu maksud dari ucapan suaminya itu. Lalu Kirana pun hendak pergi , namun Bryan menarik tangan Kirana dan Kirana pun kembali dalam dekapan suaminya. Bryan memeluk dari belakang dan mencium pipinya.


"Mau kemana? Aku ngga apa-apa kok kamu cium terus perut sama dadaku. Aku suka."

__ADS_1


"Ish, nanti kamu malah lain lagi ceritanya. Udah ah, aku mau ke bawah aja. Pengen makan bubur ayam, minta mbak Mimin buat bubur ayam." kata Kirana melepas pelukan suaminya lalu melangkah keluar meninggalkan suaminya yang tersenyum senang.


"Gimana ngga aku makin cinta dan selalu mengunginkanmu, kamu begitu menggodaku setiap hari Kirana." ucap Bryan.


Dia lalu merapikan kancing bajunya yang tadi di buka dan buat mainan istrinya.


_


Sibuk, sekarang di rumah Bryan sedang sibuk dan ramai para pengantar pengantin. Bryan sudah lebih dulu ke hotel, karena dia yang akan menyambut istrinya setelah selesai di dandani di rumah.


"Tolong sis, menantu saya di percepat dandanannya ya. Ini sudah jam sembilan, acaranya kan jam sepuluh." kata nyonya Kalina.


"Iya nyonya, kalau saya di paksa buru-buru nanti hasil riasannya jelek. Nyonya sabar aja ya." jawab perias pengantin itu dengan perawakan laki-laki tapi gayanya seperti perempuan, banci.


"Ya sudah, pokoknya buat menantuku itu secantik mungkin, biar semua takjub dengan istri Bryan yang cantik itu."


"Siap nyonya."


Waktu pun sangat cepat berganti, Kirana sudah siap untuk pergi ke tempat resepsi. Dia di dandani dengan natural dan tidak terlalu tebal make upnya. Meski tipis, namun Kirana tetap cantik dan berbeda. Memakai gaun pengantin dengan rumbai-rumbai menjutai ke bawah, perut besarnya hanya terlihat sedikit.


Memang sengaja seperti itu ketika fitting baju pengantin di butik dengan suaminya. Hanya terlihat menonjol sedikit, Kirana juga suka. Dan kini dia sudah siap dengan dandanan yang mewah dan elagan itu.


Pak Darno menghampiri anaknya yang bak putri bidadari itu. Dia tersenyum pada Kirana, memegang perutnya yang sudah terlihat menonjol.


"Kamu cantik sekali, Kiran. Ayah tidak menyangka hidupmu akan jadi lebih baik dan berlimpah kekayaan. Apa kamu bahagia, Kirana?" tanya pak Darno.


"Kiran bahagia ya, apa lagi aku akan jadi ibu dari anak-anaknya mas Bryan. Ayah jangan khawatir dengan mas Bryan yang selalu memperlakukanku dengan baik dan penuh cinta." kata Kirana.


"Syukurlah, kamu bahagia hidup dan menjadi istri Bryan. Ayah harap kamu selalu di limpahi kebahagiaan dengan suami dan anakmu."


"Amiin, terima kasih ayah. Oh ya, aku hamil anak kembar yah. seperti dulu ibu hamil anak kembar, Kirana dan Kirani." kata Kirana lagi.

__ADS_1


Pak Darno diam, wajahnya berubah sedih dengan ucapan Kirana. Kirana tahu ayahnya sedih. Dia lalu memeluk ayahnya.


"Ayah jangan khawatir, anakku nanti akan lahir dengan sehat. Mas Bryan juga tidak akan membiarkan anaknya lahir seperti Kirani dulu. Sekarang jaman sudah canggih, setiap ilmu kedokteran pasti ada kemajuan. Jadi jangan cemaskan Kiran ya yah, ayah doakan saja Kiran melahirkan dengan selamat." kata Kirana pada ayahnya.


Pak Darno pun tersenyum, dia lalu mengangguk pasti. Dan dari balik pintu, ibu Kamina mengetahui kalau suaminya sedih mengingat kehilangan putri kembarnya dulu, dia juga ikut sedih. Namun kini dia akan mendapatkan cucu kembar, dan berjenis kelamin laki-laki. Itu yang di katakan Kirana di telepon sewaktu memberitahunya akan mengadakan resepsi pernikahan.


"Ayo kita keluar, mobilnya sudah menunggu. Dari hotel katanya kita harus cepat kesana." kata pak Darno.


"Iya yah. Ayo kita keluar."


Kirana di gandeng pak Darno keluar dari kamar, dia di rias di kamar bawah dan sekarang sedang menuju mobil yang sudah siap berangkat ke hotel. Setelah Kirana masuj dan rombongan pengiring juga masuk ke dalam mobil, mobil pun segera melaju menuju hotel di mana resepsi itu di laksanakan.


Tidak jauh tempatnya, hanya membutuhkan waktu setengah jam saja mobil yang membawa Kirana sudah sampai di depan hotel. Dia di sambut oleh beberapa tamu dan teman Bryan. Sedangkan Bryan menunggu tepat di pintu masuk hotel, menunggu dengan tidak sabar.


Kirana turun dari mobil, di gandeng oleh pak Darno yang penampilannya berbeda dari biasanya. Dia menggandeng Kirana untuk di serahkan pada suaminya, Bryan.


Bryan tersenyum senang, dia menatap takjub ke arah istrinya yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum manis pada suaminya. Pak Darno pun menyerahkan tangan Kirana pada Bryan untuk di gandeng sampai ke pelaminan.


Bryan menyambutnya lalu dia membawa masuk Kirana menuju pelaminan. Di belakang ada nyonya Kalina menggandeng Missel, ibu Kamina dan pak Darno. Juga papanya Bryan pak Hendrawan Sasongko. Tak ada kecanggungan atau merasa malu karena mempunyai besan dari kampung dam tidak sepadan.


Bagi pak Hendrawan Sasnongko, akhlak seseorang lebih penting dari sebuah kekayaan dan juga kehormatan. Semua kekayaan dan kehormatan itu akan mengikuti jika akhlak dan sopan santun selalu di jaga pada diri seseorang.


Bryan dan Kirana sudah memasuki kursi pelaminan. Sorak sorai dan tepuk tangan ketika Bryan mencium pipi istrinya. Lalu rangkaian acara pernikahan berjalan dengan lancar, kini tiba saatnya para tamu bersalaman dengan pengantin.


Acara sungguh meriah, para tamu undangan dan juga petugas serta saudara nyonya Kalina berkumpul. Tak lupa teman-teman kampus Kirana banyak juga yang datang. Kirana selalu melihat ke arah pintu masuk hotel, dia menunggu sahabatnya datang. Ya, Kirana menunggu Danisa datang ke acaranya itu. Karena sudah berjanji padanya mau datang lebih cepat.


_


_


_

__ADS_1


***********************


__ADS_2