Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
57. Dasar Omes!


__ADS_3

Sampai di rumah, Bryan dan Kirana di sambut oleh anaknya yang cemberut karena semalam tidak di ajak.


"Papi sama mami kemana sih tadi malam?" tanya Missel dengan wajah cemberutnya.


"Ada keperluan sayang, dan di sana sudah malam. Jadinya papi sama mami menginap di sana." jawab Kirana.


Ibu Kamina mengerti anak dan menantunya pasti tidak bisa melakukan hubungan suami istri karena Missel pasti mengganggu. Makanya dia mengajak tidur dengannya karena memberi ruang pada keduanya agar tidak di ganggu. Tapi nyatanya kemarin malam Missel bangun dan pindah tidurnya.


"Tapi kenapa Missel ngga di ajak sih?" tanya Missel lagi.


"Kan Missel tidur, jadi papi sama mami ngga ajak Missel." jawab Kirana lagi.


Berharap anak sambungnya itu tidak bertanya lagi. Dan Bryan ingin menemui mertuanya, dia ingin bicara mengenai keberadaannya di kampungnya.


"Ayah sudah ke sawah bu?" tanya Bryan pada ibu Kamina.


"Ayah berangkat ke kebun mangga, memangnya ada apa?" tanya ibu Kamina.


"Rencananya sore nanti saya akan pulang ke kota dengan Kirana juga." jawab Bryan.


"Oh, cepat sekali pulangnya?"


"Iya, banyak pekerjaan yang saya tinggalkan. Sudah tiga hari saya di sini, dan saya juga mau minta maaf sama ayah dan ibu mengenai kebohongan itu. Jujur saya tidak bermaksud membohongi ibu dan ayah, hanya saat itu spontan saya katakan saja agar Kirana tidak di nikahkan dengan anaknya juragan Samin." kata Bryan.


"Iya, ibu mengerti. Ayah juga mengerti, dan maafkan sikap ayah Kirana nak Bryan. Ayah hanya kesal saja, tidak ada rasa dendam sama kamu nak Bryan. Dan ayah bilang, kalau hari ini nak Bryan dan Kirana mau ke kota juga ngga apa-apa kok." kata ibu Kamina.


Bryan tersenyum senang, hukumannya pun selesai. Akhirnya dia bisa bebas berdua dengan Kirana.


"Iya bu, siang ini juga kita akan pulang. Terima kasih untuk menjaga istri saya dan juga anak saya bu, maaf kalau saya suka kesal juga sama ayah." kata Bryan.


Lalu kini Bryan pun bersiap, dia memberitahu istrinya untuk bersiap berangkat lagi ke kota.


"Sayang, kita harus siap-siap pulang ke rumah lagi." kata Bryan pada Kirana.


"Memang ayah ngga marah lagi?" tanya Kirana.


"Kata ibu ayah sudah membolehkan kita pulang ke kota hari ini." ucap Bryan lagi.


"Ya udah, aku siapkan dulu baju-bajunya mas."


"Memang kita mau pulang ya pi?" tanya Missel.


"Iyq sayang, Missel harus sekolah lagi kan besok." jawab Bryan.

__ADS_1


"Yaah, pi. Kan sayang kalau harus pulang, Missel senang di sini. Sawahnya luas, bisa main lagi." kata Missel lagi.


"Nanti kita bisa datang lagi sayang, papi juga harus kerja besok. Missel kan sekolah juga." kata Bryan.


"Bener ya pi, nanti ke sini lagi."


"Iya."


_


Dalam perjalanan pulang, Missel sudah tertidur. Sebelum pergi, pak Darno juga pulang dari kebun dan menemui menantunya. Yang bikin kaget Kirana adalah, ayahnya meminta maaf dan juga berterima kasih karena memberikan apa yang di harapkannya selama ini.


Kirana senang, ternyata memang ayahnya hanya menguji Bryan dalam meminta Kirana dengan baik. Dan sebelum pergi juga, Bryan meminta Kirana di bawa pulang ke rumahnya dan dia akan bertanggung jawab pada putri pak Darno satu-satunya. Karena dia memang sangat mencintai Kirana.


Entah sejak kapan Bryan mencintai Kirana, yang jelas sejak Kirana mulai cemburu padanya sewaktu di kafe itu membuat Bryan ingin mendapatkan Kirana.


"Jadi, kamu mulai kapan mas mencintaiku?" tanya Kirana.


"Emm, sejak kamu terlihat marah ketika aku makan dengan Laudya di kafe. Dan temanmu bilang, kamu sedang cemburu padaku." jawab Bryan.


Pandangannya tidak beralih dari jalanan, karena memang sedang sepi. Jadi dia harus fokus dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Ooh itu, tapi kok masih tetap aja dengan Laudya. Udah tahu aku cemburu." kata Kirana mulai ketus bicaranya.


"Karena aku mau memastikan apakah kamu benar-benar cemburu padaku."


"Ish, kamu kok gitu? Aku sudah suka sama kamu sejak ...," ucapan Kirana terhenti mengingat kapan dia mulai suka suaminya itu.


"Sejak kapan sayang?"


"Emm, sejak kamu sering menggodaku." jawab Kirana dengan senyumnya.


"Aku kan sering menggodamu sayang."


"Sewaktu lagi di ruang fitnes itu, kamu begitu menggoda bagiku mas. Hihihi ...,"


"Ooh, jadi kamu suka dengan tubuhku. Tidak dengan hatiku?"


"Ya kan satu paket mas, kamu itu laki-laki paling sempurna buatku." kata Kirana dengan wajah memerah karena malu telah mengakuinya.


"Termasuk di ranjangkan sayang?"


Wajah Bryan di miringkan mendekat pada istrinya. Membuat Kirana kaget dan menoleh ke samping, dan tentu saja Bryan mengambil kesempatan mencium bibir Kirana ketikan mereka berhadapan.

__ADS_1


"Ish, apa sih mas."


"Hahaha, tapi kamu suka kok dengan permainanku sayang. Ngaku aja deh." kata Bryan.


Kini dia lebih santai melajukan mobilnya karena memanh sudah mulai memasuki kota.


"Ya ngga harus di bicarakan kan mas, masa urusan ranjang di bahas sih." kata Kirana dengan wajah memerah lagi.


"Kan cuma sama kamu aja, ngga dengan yang lain. Apa lagi sama teman sendiri, bisa-bisa dia penasaran juga dengan istriku ini." kata Bryan.


"Itu yang tidak boleh mas, urusan di ranjang tidak boleh di bicarakan dengan teman-teman. Itu sama saja mengumbar aib." kata Kirana.


"Ngga sayang, tapi aku lebih suka membicarakannya denganmu. Apa lagi kalau sudah di kamar dan di ranjang, kita bebas mau melakukan apa pun. Uuh, rasanya kok pengen mencumbu kamu lagi ya." kata Bryan menatap istrinya.


"Udah sih, jangan membayangkan itu. Memangnya tadi malam dan pagi di kamar mandi ngga cukup?" tanya Kirana.


Dia tidak habis pikir dengan pikiran suaminya, selalu saja menjurus ke arah sana. Benar-benar mesum pikiran Bryan itu.


"Kalau soal urusan ranjang ngga pernah cukup dan selalu merasa kurang sayang. Rasanya pengen lagi dan lagi."


"Mesum banget sih pikiran kamu mas."


"Kan aku membayangkannya cuma kamu sayang, apa lagi suara merdumu memanggilku ketika sedang di puncak nikmat. Uuuuh, rasanya merdu dan membuat aku bersemangat banget sayang."


"Udah ah, kalau obrolan seperti itu kamu semakin ngaco ya. Aku ngga mau bicara lagi sama kamu!" kata Kirana kesal dengan Bryan.


"Hahahah!"


"Dasar omes!"


"Hahaha!"


Mobil melaju semakin santai, jalan menuju rumah Bryan sudah nampak. Dan kini mobil sudah memasuki kawasan kompleks rumah mewah. Rumah besar milik Bryan sudah terlihat, Dodi sudah membuka pintu pagar ketika melihat mobil Bryan dari jarak sepuluh meter.


Mobil pun masuk rumah dengan pelan, berhenti di depan halaman rumah. Kirana turun, di susul Bryan dan membuka pintu mobil belakang untuk menggendong Missel yang masih tidur. Dia lalu membawa Missel masuk ke dalam rumah dan di baringkan ke kamarnya.


_


_


_


****************

__ADS_1


__ADS_2