
"Sayang, bagaimana hasilnya?" tanya Bryan di balik pintu kamar mandi.
"Baru juga melepas kainnya mas, belum buang air kecil. Sabar kenapa sih mas!" teriak Kirana dari dalam kamar mandi.
Sejak tadi sebenarnya Bryan ingin ikut masuk ke dalam kamar mandi untuk mengetahui hasilnua secara langsung. Tapi Kirana melarangnya, katanya malu harus di tunggu ketika sedang kencing. Dan sudah pasti jawaban Bryan malah nyeleneh.
"Aku sudah melihat seluruh tubuhmu, dan juga merasakan bagian yang paling nikmat juga sayang." begitu jawaban Bryan ketika dia kekeh ingin ikut masuk.
Namun, Kirana kesal dan mencubit pinggangnya. Dia kesakitan, baru setelah itu dia pun mengalah tidak ikut masuk ke dalam kamar mandi. Menunggu di balik pintu dengan tidak sabar dan berkali-kali bertanya pada Kirana, membuat Kirana kesal dan menggeram dan melebarkan matanya menatap tajam pada suaminya.
Sepuluh menit di kamar mandi, Kirana pun keluar dan membawa hasilnya. Dia tersenyum senang karena hasilnya garis dua.
"Nih hasilnya." kata Kirana menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Bryan.
"Sungguh sayang, ini benar-benar positif. Kamu hamil anakku? Aaaah senangnya, istriku sekarang sedang hamil anakku." kata Bryan.
Dia membopong tubuh Kirana dan di bawa ke ranjangnya kembali. Karena memang masih lemas, dan Kirana ingin di gendong suaminya. Di baringkan tubuh istrinya dengan pelan lalu menatapnya lembut.
"Terima kasih sayang, aku sangat bahagia sekali. Uuuh, rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan anakku ini. Cup." kata Bryan mengelus perut Kirana dan mengecupnya.
Kirana tersenyum, dia juga sangat bahagia sekali. Apa lagi jika memberitahu kedua orang tuanya kalau dia memang benar-benar hamil anak Bryan.
"Maas ..." ucap Kirana manja.
"Kenapa sayang?" tanya Bryan menatap lagi istrinya yang sedang manja itu.
"Peluk." jawab Kirana.
"Uuuh, dengan senang hati sayang. Apa lagi minta lebih, pasti aku kasih."
Kini Bryan memeluk istrinya sambil menemani Kirana berbaring. Dia mendekap erat, memberikan kenyamanan pada istrinya yang sedang manja. Biarlah untuk beberapa hari dia tidak akan minta jatah pada Kirana.
"Besok kita periksa ke dokter ya, memastikan janin yang ada di perutmu apakah dia baik-baik saja. Maminya juga jangan terlalu capek ya, biar nanti Missel aku yang antar ke sekolah. Nanti di jemput sama Udin." kata Bryan.
Kedua suami istri itu masih saling berpelukan, Kirana merasa nyaman dalam dekapan suaminya. Sampai dia tertidur lagi. Bryan melihat jam di tangannya, baru pukul dua siang. Morgan berkali-kali meneleponnya tapi dia rijek terus atau dia buat silent
Dia tahu, salah meninggalkan meeting penting dengan klien yang baru saja bekerja sama dengan perusahaannya. Namun, dia lebih memenitngkan keadaan istrinya. Sehingga ketika mamanya meneleponnya dan memberitahu istrinya sedang di aniaya oleh mertua dan juga temannya, Bryan panik. Dia pun langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Kali ini, Bryan menghubungi Morgan.
"Halo bos, kenapa pergi mendadak? Klien kita kesal karena anda pergi begitu saja." kata Morgan.
"Katakan pada klien kita, aku minta maaf meninggalkan meeting penting itu. Istriku dalam bahaya, makanya aku langsung pulang tanpa memberitahumu karena aku panik dan khawatir sekali pada Kirana." kata Bryan.
"Memang kenapa dengan nyonya bos?"
"Ck, Laudya dan mama Ranti, dua orang tidak tahu diri itu mau mencelakai istriku dan calon anakku. Jam setengah tiga aku ke kantor lagi, jika kamu bisa menahan klien kita. Kamu tahan dulu, aku akan ke kantor lagi sekarang."
"Baik bos, saya juga penasaran dengan cerita bos masalah dua bidadari penggemar beratmu. Heheh ..."
"Haish, kamu jangan buatku kesal Morgan. Tahan klien kita agar tidak dulu pulang, kalau tidak, aku benar-benar akan memotong gajimu!"
Klik!
Bryan langsung menutup sambungan teleponnya. Dia kesal pada Morgan, lalu dia melihat wajah istrinya yang tidur dengan tenang. Dia melepas pelukannya dengan hati-hati agar Kirana tidak terganggu. Di tatapnya wajah istrinya yang tidur dengan tenang dan nyaman, lalu di cium lembut pipi serta bibirnya lalu dia segera beranjak pergi.
"Halo bos, ada apa lagi?"
"Pesankan makan siang untukku, aku ingin makan siang di kantor siang ini."
Klik!
Besok dia akan melakukan pekerjaannya sesuai apa yang akan dia rencanakan tadi di pikirannya tentang Laudya. Dia akan buat Laudya kalang kabut dengan perusahaannya di Batam.
"Lihat saja nanti Laudya, apa yang akan aku lakukan untukmu." gumam Bryan.
Dia melajukan mobilnya dengan cepat, hari ini dia akan tuntaskan pekerjaan di kantornya. Baru dia akan balas perbuatan Laudya pada istrinya. Selagi Laudya masih bisa di tolerir, Bryan masih tahan dan sabar akan kelakuan Laudya padanya. Namun, jika sudah menyangkut istrinya, Bryan tidak akan tinggal diam. Sama dengan ibunya, mengusir nyonya Ranti dari rumahnya dan melarangnya serta mengancamnya agar tidak kembali lagi ke rumahnya.
_
Malam hari, Kirana sedang makan malam di meja makan dengan mertuanya. Dia merasa tidak enak jika harus di dalam kamar saja sedangkan mertua yang baru di temuinya itu ada di rumah suaminya.
"Kamu makan yang banyak ya, sedikit-sedikit juga ngga apa-apa." kata nyonya Kalina pada Kirana.
"Iya ma, terima kasih atas perhatiannya. Aku minta maaf dengan kejadian siang tadi, seharusnya aku tidak lemah. Tapi kondisi tubuhku tidak bisa di ajak kompromi. Inginnya aku melawan mereka, tapi fisikku lemah." kata Kirana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, memang kedua perempuan gila itu harus di singkirkan dari kehidupan Bryan. Mereka itu ulat bulu yang bikin gerah dan kesal saja. Ranti itu dari dulu seperti itu, makanya mama langsung pulang ketika tahu Ranti ada di rumah Bryan. Mama tahu Bryan tidak enak mengusir perempuan itu karena dia merasa itu adalah omanya Missel. Dan jika kamu yang melakukannya, itu akan merugikanmu. Apa lagi sekarang kamu sedang hamil, oh tidak. Mama tidak akan membiarkan kamu menghadapi perempuan gila itu." kata nyonya Kalina.
"Emm, mama katanya seminggu lagi pulangnya? Apa papa sudah lebih baik?" tanya Kirana ragu.
"Ya, lumayan. Kesehatan papa sudah mending, makanya mama bisa pulang dan nanti setelah kondisimu baik-baik saja kita nanti pergi ke WO ya, merencanakan acara pesta pernikahan kalian." kata nyonya Kalina lagi.
Kirana merasa terharu, dia benar-benar bahagia ternyata mertuanya itu sangat baik padanya. Dan juga tidak memandang siapa dirinya dan dari mana asalnya.
"Halo semua."
Sapa Bryan yang baru saja pulang dari kantornya. Dia mencium kening Kirana dan beralih ke mamanya mencium pipinya.
"Apa kabar ma? Apa papa baik-baik saja?" tanya Bryan.
dia duduk di samping istrinya dan mengambil chiken di piring Kirana yang sejak tadi tidak di makan.
"Papa sudah mendingan, kamu sedang sibuk sekali rupanya?"
"Iya ma, tadi siang itu aku sedang meeting ketika mama menelepon. Aku langsung tinggalkan tanpa permisi lagi, jadi jam dua tadi kembali ke kantor menyelesaikan urusanku di sana." jawab Bryan.
"Lalu bagaimana dengan perempuan gila satu itu? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya nyonya Kalina.
"Aku sudah punya rencana, tapi belum aku bahas dengan Morgan Nanti dia akan mencari sesuatu yang mempermudah rencanaku." kata Bryan.
"Baguslah, lakukan saja. Biar dia kapok dan jangan lagi datang ke rumah ini. Lagi pula, mama kesal sama kamu. Sebelum menikah dengan Kirana, kamu rupanya menikmati berteman dengan perempuan gila itu?"
"Dia yang mengejarku ma, aku juga merasa tidak enak. Tapi aku tetap menolaknya, untungnya aku bertemu dengan permaisuriku ini yang akan melahirkan anakku. Uuh, terima kasih sayang, cup."
"Ish, apa sih mas. Malu sama mama."
"Hahaha!"
_
_
_
__ADS_1
*********************