Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
44. Bukan Istri Siri


__ADS_3

Waktu wisuda tinggal tiga hari lagi, pak Darno dan ibu Kamina bersiap untuk pergi ke kota. Mereka akan ke rumah menantunya, mereka juga tidak sabar untuk melihat rumah menantunya itu.


Kirana akan menjemput ibu dan ayahnya di stasiun dengan Bryan dan juga Missel.


Sebelum menjemput ibu dan ayahnya di stasiun dengan Bryan, Kirana datang ke kantor suaminya. Dia datang setelah pulang mengantar Missel dan langsung ke kantor di jemput Morgan.


"Kamu tahu kenapa suamimu memintamu datang ke kantor Kirana?" tanya Morgan ketika mereka sedang di jalan menuju kantor Bryan.


"Ngga tahu." jawab Kirana singkat.


Dia tidak mau menduga hal yang aneh, sesungguhnya dia memikirkan sesuatu.


"Pasti papi ingin di temani mami makan siang kan om?" jawab Missel.


"Tepat sekali Missel sayang, papi ingin di temani mami Missel makan di kantor sebelum menjemput ibunya mami Kirana." kata Morgan dengan senyum misterinya.


Kirana jadi curiga, apa jangan-jangan dia akan di eksekusi lagi?


"Jangan berpikir yang tidak-tidak Kirana." kata Morgan yang tahu Kirana meringis karena memikirkan sesuatu.


Dia tahu Kirana takut akan hal-hal lain, seperti dulu.


"Apa sih bang, kok nebaknya lain." kata Kirana.


"Hahah, kamu paham kenapa suamimu meminta kamu datang?"


Kirana pun tersenyum getir, dia diam saja. Dia tahu apa yang di maksud oleh Morgan.


Mobil terus meluncur dengan pelan, mereka kini sudah masuk ke parkiran kantor Bryan. Kirana turun dengan Missel dari mobil. Morgan juga turun dan mengantar Kirana dan Missel masuk ke dalam lift.


Semua nampak berbisik melihat Kirana dan Morgan masuk lift khusus pejabat tinggi, mereka melihat Kirana berpakaian biasa namun layaknya seorang gadis pada umumnya.


"Apa dia simpanan tuan Bryan?" bisik bagian resepsionis.


"Huss! Dia itu istri sirinya tuan Bryan." bisik temannya.


"Ooh, tapi kenapa di nikahi secara siri sih? Kan tuan Bryan itu kaya, bisa kali mengadakan resepsi besar dan mewah." kata satunya lagi.


"Mana saya tahu, mungkin mereka berdua punya alasan sendiri."


"Apa jangan-jangan dia istri kedua ya?"


"Ya ngga mungkinlah, kita tidak pernah tahu siapa istri sah tuan Bryan."


"Tapi nona Laudya itu kan pacar tuan Bryan."

__ADS_1


"Bukan, dia temannya saja."


"Tapi saya pernah melihat tuan Bryan dan nona Laudya itu jalan mesra banget deh di restoran."


"Sikap tuan Bryan pada nona Laudya bagaimana waktu kamu lihat?"


"Emm, kayaknya hanya nona Laudya yang selalu menempel pada tuan Bryan deh."


"Nah itu dia, nona Laudya saja yang kegatelan pada tuan Bryan."


"Tapi kalau menurutku sih, mending yang ini. Dia cantik, kalem dan juga sepertinya sayang sama anaknya. Idaman banget deh tuh gadis, pasti tuan Bryan cinta banget sama istri sirinya itu."


Percakapan mereka berhenti ketika Morgan keluar lagi dari lift dengan menggendong Missel. Sebelum masuk ke dalam lift, dia mendengar resepsionis itu membicarakan Kirana dan bosnya.


Morgan menurunkan Missel dan mendekat pada ketiga resepsionis itu dan bicara.


"Kalian kerja yang benar, sebelum di pecat gara-gara membicarakan bos kalian." kata Morgan dengan tenang namun seperti nada mengancam.


Terang saja ketiga resepsionis itu ketakutan, mereka memunduk dalam.


"Emm, tapi kalian benar sih. Nona Laudya itu hanya lintah yang selalu menempel pada kayu. Lain kali kalian jangan membicarakan bos kalian lagi." kata Morgan.


Dia lalu menarik tangan Missel dan pergi ke parkiran untuk membeli jajanan. Dia membiarkan bos dan istrinya di dalam kantor bermesraan.


_


"Aku kangen sama kamu, dan nanti kalau ada ibu kamu waktuku terbatas. Cup." jawab Bryan memberi alasan.


Dia kembali memagut bibirnya pada Kirana, rasanya bagi Bryan berciuman dengan Kirana itu seperti candu baginya. Ingin lagi dan lagi, apa lagi dia bermain di ranjang.


"Euumm udah dong, aku kehabisan nafas. Huuh!" kata Kirana.


"Heheh, soalnya bibir kamu manis banget sayang."


Bryan pun kini beralih di meja kerjanya, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Kirana melangkah ke jendela, melihat betapa indahnya di luar sana gedung pencakar langit. Sembari memikirkan ucapan ketiga resepsionis yang tidak sengaja dia dengar tadi.


"Mas, apakah pernikahan kita sudah di daftarkan di kantor urusan agama?" tanya Kirana tanpa menoleh pada suaminya.


"Kenapa tanya begitu? Ada apa sayang?" tanya Bryan melihat istrinya masih mengamati gedung-gedung tinggi dari balik jendela.


"Aku hanya tidak mau di sebut sebagai istri siri atau simpananmu." kata Kirana.


Bryan menghentikan pekerjaannya, lalu menghampiri istrinya yang terlihat muram. Entah karena apa istrinya jadi muram begitu. Dia mendekap Kirana dari belakang dan mencium lehernya, Kirana hanya menggekiat saja.


"Aku sudah mendaftarkannya sayang. Kenapa? Apa kamu takut aku akan berselingkuh dan mencari istri baru, hem?" tanya Bryan.

__ADS_1


"Ngga mas, aku ngga enak aja di gosipkan oleh karyawanmu di bawah. Tapi kamu jangan pecat mereka ya, kasihan."


"Apa yang mereka katakan?"


"Aku di kira istri sirimu, sejujurnya aku tidak masalah. Tapi kalau mereka terus membicarakannya, aku tidak enak." kata Kirana.


"Ooh itu, Morgan pasti sudah mengurusnya. Tapi rupanya aku yang salah sayang, belum memperkenalkan kamu pada semua karyawan di sini, kalau kamu adalah istri sahku. Dan maminya Missel satu-satunya. Dan juga ..." ucapan Bryan menggantung.


"Juga apa mas?"


"Emm, aku harus menyiapkan resepsi pernikahan yang mewah untuk kita. Tapi aku belum punya waktu banyak membicarakannya dan mengurusnya." kata Bryan.


"Memang mau seperti apa pesta pernikahan kita?"


"Apa yang kamu inginkan?"


"Aku ngga terlalu mengerti masalah itu, dan ya terserah kamu. Lagi pula, mama kamu juga belum tahu kan kita menikah? Aku juga belum bertemu dengan mertuaku." kata Kirana.


Bryan semakin mengeratkan pelukannya pada Kirana. Dia semakin merasa bersalah pada istrinya itu, dia terlalu sibuk dan terlalu menikmati kebahagiaan telah menikah lagi dengan gadis yang dia cintai.


"Maafkan aku sayang, aku sudah bilang sama mama dan papa di telepon sehari setelah kita sampai di rumah. Mungkin aku terlalu bahagia menikah denganmu sampai lupa memberitahumu dan mengenalkanmu pada mama dan papaku." kata Bryan.


Kirana berbalik dan menghadao suaminya, wajah muram tadi kini berubah dengan senyum manisnya. Tangannya membelai pipi suaminya, di cium tangan Kirana dan Bryan memeluknya lagi.


"Jam berapa kita menjemput ayah dan ibu di stasiun?" tanya Bryan.


Kirana melepas pelukannya dan merapikan dasi suaminya.


"Jam empat sore, beliau sampai jam setengah lima. Kita bisa menunggu di sana sebelum mereka sampai." jawan Kirana.


Dia mencium pipi suaminya dan tersenyum. Bryan malah membalasnya dengan ciuman di bibirnya, tapi hanya mengecup saja.


"Baiklah, aku selesaikan pekerjaanku. Dan nanti malam kita menghubungi mama dan papa, karena sekarang mungkin mereka sedang tidur nyenyak."


"Iya."


Dan Bryan pun kembali ke meja kerjanya lalu meneruskan pekerjaannya. Kirana duduk di sofa melihat ponselnya, dan membuka media sosial."


_


_


_


****************

__ADS_1


__ADS_2