Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
54. Mencangkul Sawah


__ADS_3

Pagi hari, pak Darno sudah bersiap pergi ke sawah. Ibu Kamina menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan menantunya. Karena mereka harus ke sawah lebih pagi, maka ibu Kamina menyiapkannya dengan cepat.


Kirana masuk ke dapur, dia melihat ibunya sudah menata makanan di meja untuk sarapan.


"Sudah siap semua bu. Apa berangkat ke sawah harus pagi-pagi banget ya?" tanya Kirana.


"Iya, ayah minta pagi-pagi berangkat ke sawahnya. Biar nanti bisa lebih cepat selesai, dan traktor juga sudah di panasi itu sama ayah." kata ibu Kamina.


Kirana hanya mengangguk saja, tapi dia ragu oada suaminya bisa berangkat ke sawah pagi-pagi atau tidak. Karena semalam dia tidak mendapatkan jatah dari Kirana gara-gara Missel terbangun dan pindah tidurnya ke kamarnya.


"Eh, Kirana. Tadi malam Missel pindah tidur ke kamarmu. Apa kamu terganggu sama anak itu?" tanya ibunya.


Kirana hanya tersenyum tipis dan menunduk, dia sendiri tidak merasa terganggu. Tapi suaminya yang terganggu karena mereka gagal melakukan percintaan. Dan sekarang entah sedang kesal padanya gara-gara itu.


"Suamimu bangunkan Kirana, cepat sarapan dan segera berangkat ke sawah." kata pak Darno pada anaknya.


Kirana menatap ayahnya, lalu dia pun mengangguk. Pergi dari dapur menuju kamarnya, membangunkan suaminya yang masih tertidur gara-gara tadi malam gagal meminta jatah padanya.


"Mas, bangun. Ayah mau berangkat ke sawah." kata Kirana pada suaminya yang masih memejamkan matanya.


Missel juga masih tidur, dia baru menggeliat dan membuka matanya karena terganggu suara Kirana.


"Mi, udah pagi ya?" tanya Missel mengucek matanya.


"Iya sayang, ayo bangun dan mandi pagi." kata Kirana.


Missel pun bangun, dia duduk dan menguap. Rambutnya tak beraturan, di sibakkan ke belakang telinganya. Dia lalu turun di bimbing Kirana untuk mandi di kamar mandi belakang.


Sedangkan Bryan masih tertidur dengan nyenyak, semalam dia tidak bisa tidur karena harus melemaskan tubuhnya yang tegang karena tidak bisa bercinta.


_


Jam delapan pagi Bryan baru saja duduk di meja makan untuk sarapan. Pak Darno sudah berangkat lebih dulu karena kesal harus menunggu menantunya yang susah di bangunkan oleh Kirana.


Itu pun di bantu olehnya, di guyur air sedikit, dan langsung saja terbangun. Benar-benar kaget Bryan di bangunkan oleh mertuanya, di pelototi dan di omeli juga.


Kirana merasa kasihan pada suaminya, dia melayani sarapan Bryan dengan perasaan bersalah. Di pandanginya terus suaminya yang makan dengan malas, menyuapi nasi satu demi satu.

__ADS_1


"Mas, maafkan ayah ya." kata Kirana.


"Seumur-umur aku tidak pernah di bangunkan seperti itu, di guyur air satu gayung sampai aku kaget banget." kata Bryan masih menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


"Kamu berlebihan, ayah cuma menyiprati air ke muka kamu aja kok di guyur air segayung." kata Kirana.


"Tapi ayah bawa air segayung, beliau niat banget mau mengguyurku sayang. Rasa dendamnya padaku belum juga hilang." kata Bryan lagi dengan muka masam.


Kirana tersenyum tipis, dia memang merasa kasihan pada suaminya. Namun, lucu juga seorang CEO perusahaan besar harus di perlakukan seperti musuh di pesakitan.


"Kenapa senyum-senyum? Kamu senang suamimu di perlakukan sepeerti itu sama ayah?" tanya Bryan.


"Ya ngga mas, masa aku senang suamiku di perlakukan begitu. Aku kasihan sama kamu, tapi jangan dendam sama ayah ya mas." kata Kirana.


Bryan diam saja, dia lalu menyudahi makannya. Pikirannya masih kesal pada ayah mertuanya itu, apa lagi semalam dia tidak jadi dapat jatah dari istrinya.


Kini pikirannya kembali pada rencananya, bagaimana dia harus bisa dapat jatah dari Kirana tanpa ada gangguan siapa pun.


"Mas, kamu mikirin apa?" tanya Kirana.


"Ngga mikir apa-apa, hanya mau cari cara bagaimana aku bisa bercinta denganmu tanpa ada gangguan lagi seperti semalam." jawab Bryan dengan santainya.


"Dasar ya kamu mas, pikirannya kok itu terus." kata Kirana.


"Karena tadi malam aku gagal bermain dengan kamu sayang, aku harus cari cara agar buisa berduaan denganmu tanpa ada gangguan siapapun." kata Bryan serius.


"Sudah ah, kamu cepat pergi ke sawah sana. Ngonong sama kamu tuh selalu ngga jauh dari kata itu." sungut Kirana.


"Sayang, laki-laki selalu menjurus ke sana pikirannya. Jika laki-laki playboy pasti dia main sama perempuan lain atau menyewa penjaja kesenangan sementara itu. Aku sudah berisitri ya larinya dan minta ke istri. Coba bayangkan sayang, aku tidak melakukan itu selama tiga hari. Kepalaku pusing menahannya sayang." kata Bryan lagi.


"Ish, udah sana berangkat ke sawah. Awas nanti ayah marah lagi karena kamu terlambat ke sawah." kata Kirana memotong ucapan suaminya yang semakin ngawur itu.


"Mau pergi ke sawah mana? Aku tidak tahu sawah ayah tuh di mana?"


"Ck, makanya tadi bangun pagi. Biar bisa berangkat sama ayah, kan nanti juga tahu. Ya udah, aku antar. Sekalian bawa Missel juga deh, biar dia tahu sawah di sini." kata Kirana.


Bryan diam saja, dia lalu bersiap untuk pergi ke sawah. Dia tidak peduli nanti mertuanya marah-marah di sana.

__ADS_1


Kirana pun bergegas pergi ke sawah mengantarkan suaminya yang sudah siap mencangkul sawah. Sebenarnya apa yang di cangkul? Karena ayahnya sudah menggunakan traktor untuk menggali tanah sawah yang liat itu. Tapi biarkan saja, mungkin itu cara ayahnya agar tahu suaminya bagaimana susahnya menanam padi.


Bryan berjalan di belakang Kirana di pematang sawah yang sempit, Missel juga ikut. Dia senang sekali pergi ke sawah, kalau di perbolehkan dia pasti akan bermain tanah sawah, tapi ayahnya mewanti-wanti Missel jangan bermain tanah sawah.


Sampai di sawah pak Darno, Bryan melihat mertuanya sedang menjalankan traktornya. Dia pun terkejut, ternyata memakai traktor untuk membajak sawahnya. Bukan di cangkul, tapi dia tidak masalah. Itu terlalu mudah menjalankan traktor, dia pikir mungkin sama dengan menyetir mobil.


"Ayah menjalankan traktor?" tanya Bryan pada Kirana.


"Iya, ngga di cangkul seperti kata ayah kemarin kan?" kata Kirana.


"Itu sih mudah sayang, mungkin seperti menyetir mobil." kata Bryan.


"Coba saja kalau bisa." tantang Kirana.


Bryan pun mendekat pada mertuanya, dia meminta menggantikannya. Pak Darno pun turun dari traktor, dia lalu mengambil cangkul yang tadi pagi dia bawa.


"Kamu mencangkul saja tuh yang di ujung sana belum di cangkul." kata pak Darno.


"Apa? Bukannya memakai traktor yah?"


"Kata siapa? Kemarin ayah suruh kamu mencangkul, bukan pakai traktor." kata pak Darno ketus.


Kirana pun menahan tawa, dia merasa lucu mengingat tadi dengan bangganya suaminya bisa menggunakan traktor. Tapi malah memang di suruh mencangkul sawah.


Bryan menatap istrinya dengan kesal, lalu dia mengambil cangkul yang di sodorkan pak Darno.


"Semangat pi, papi bisa mencangkul!" teriak Missel pada papinya.


Membuat Bryan kesal karena Kirana tertawa senang padanya. Bryan lalu melangkah menuju lahan yang di tunjuk oleh pak Darno, dia mulai mencangkul dengan cepat karena ingin segera cepat selesai.


"Yang benar mencangkulnya, sesuai dengan hasil galian traktor. Dan jangan berhenti!" kata pak Darno.


Kirana dan Missel pergi menuju gubuk yang berada tak jauh dari sawah ayahnya. Sedangkan Bryan mencangkul dengan perasaan dongkol, mengedumel tidal jelas. Tapi tetap saja dia melakukan pekerjaan mencangkulnya.


_


_

__ADS_1


_


****************


__ADS_2