Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
88. Dia Calon Istriku


__ADS_3

Suara gedoran pintu kamar Bruno dari luar, Bruno kaget. Siapa yang berani menggedor pintu kamarnya. Setahu dia satpam sudah dia suruh pulang dan pembantunya pun tidak mungkin berani dan keluar dari kamarny.


Brug! Brug!


"Siapa yang berani menggedor pintu kamarku!" teriak Bruno.


Kembali pintu kamar di gedor lagi dari luar. Bruno pun bangkit dari posisinya semula dan melangkah ke arah pintu, diam sejenak. Menunggu sekali lagi gedoran pintu kamarnya. Danisa merasa lega, dia merapikan bajunya yang sobek tadi di tarik oleh Bruno.


Dia mengambil baju Bruno untuk menutupi bagian dada yang sudah terbuka itu. Dia yakin itu Daniel yang menggedor pintu itu, Danisa juga menunggu pintu terbuka dan melihat siapa yang datang menolongnya.


Bruno lalu membuka pintu kamarnya dengan ce0at, jika dia melihat pembantunya yang menggedor pintu dengan alat. Maka dia tidak segan akan memecatnya, tapi ternyata perkiraan Bruno salah. Begitu pintu terbuka, dia kaget siapa yang berdiri dan langsung menyerangnya.


Bug! Bug! Bug!


"Dasar brengsek!"


Bruno tersungkur karena pukulan beberapa kali di wajah dan juga bagian dadanya, hingga dia terbatuk dan hendak membalas pukulan laki-laki itu. Namun dengan sigap laki-laki yang tak lain adalah Daniel pun dengan cepat memukul Bruno, namun kali ini Bruno bisa mengelak cepat dan menarik tangan Daniel lalu mendorongnya.


Daniel pun tersungkur, lalu dia pun kembali menyerang Bruno. Perkelahian di kamar Bruno tidak terhindarkan, Danisa panik. Dia berteriak memanggil Daniel yang akan di pukul oleh Bruno.


"Tuan Daniel!" teriak Danisa, dia hendak mendekat pada Daniel.


Namun, Daniel menahannya. Dia memberi isyarat pada Danisa janga mendekat dan dia bisa mengatasi Bruno. Danisa pun diam di tempatnya dengan rasa khawatir, menutup mulutnya karena rasa takutnya Bruno berbuat nekat.


Daniel pun menyerang Bruno yang siap juga menyerangnya, mereka saling menyerang. Bruno menyerang dengan membabi buta, sedangkan Daniel sepertinya mempunyai ilmu bela diri sedikit. Karena dia juga rutin olah raga, jadi dia bisa menguasai keadaan.


Baku hantam pada Bruno dan kini Bruno pun kewalahan, dia terdesak dan jatuh. Daniel pun menginjak bagian dadanya dan menatap tajam pada Bruno.


"Jangan sekali-kali kamu mengganggu calon istriku! Ingat itu, brengsek!" teriak Daniel dengan kencang.


Membuat Danisa tertegun, dia menatap Daniel dengan tatapan tidak mengerti. Apa yang di katakan Daniel itu benar? Atau hanya untuk melindunginya saja?


"Hahah! Calon istri? Apa anda salah bicara? Dia, calon istrimu?" tanya Bruno mengejek Daniel dan menatap sinis pada Danisa.


"Iya, dan ingat. Jangan lagi mengganggunya, camkan itu!" kata Daniel lagi.

__ADS_1


"Anda tahu dia itu sudah tidak perawan? Bahkan dia sering melakukannya denganku, aaah rasanya aku ingin mengulanginya lagi bercinta dengan Danisa." ucap Bruno meledek Daniel.


Membuat dia kembali di tendang dan di pukul oleh Daniel. Danisa menangis, dia pun mendekat pada Bruno dan menampar pipinya dengan keras.


"Aku seperti itu karena kamu brengsek!"


Setelah menampar Bruno, Danisa keluar dari kamarnya dan berlari turun ke bawah sambil menangis. Daniel pun kembali menendang Bruno dan dia keluar lalu mengunci kamar Bruno, dan dia lempar kuncinya ke samping kamar. Membiarkan nanti pembantu Bruno membukakannya sendiri.


Daniel mengejar Danisa yang sudah keluar rumah, dia akan mengajak Danisa menginap di rumahnya. Karena rumahnya tidak jauh dari rumah Bruno.


"Danisa, tunggu. Kamu mau kemana?" tanya Daniel.


"Saya mau pulang tuan." jawab Danisa.


"Pulang? Dalam keadaab seperti ini?" tanya Daniel menatap seluruh tubuh Danisa yang acak-acakan, hanya bajunya saja yang berbeda karena dia memakai baju Bruno untuk menutupi bagian dadanya.


Danisa pun menatap seluruh tubuhnya, memang benar keadaannya tidak baik-baik saja. Apa kata penghuni kontrakan nanti jika tahu dia pulang dalam keadaan berantakan seperti itu.


"Ayo pulang ke rumahku, tidak jauh dari sini. Kamu tahu kan? Setidaknya bisa mengganti bajumu dan ini juga sudah malam, kamu menginap saja di rumahku. Kania juga pasti senang kamu menginap di rumahku." kata Daniel.


Membutuhkan waktu seperempat jam berjalan ke rumah Daniel, akhirnya sampai juga. Tak ada pembicaraan di antara mereka sampai di rumahpun. Daniel menunjuk sebuah kamar tamu dan juga memberitahu baju-baju perempuan milik istrinya dulu yang pernah dia tinggalkan di lemari.


"Di kamar itu ada baju-baju perempuan, kamu boleh memakainya." kata Daniel pada Danisa.


"Iya tuan, terima kasih." kata Danisa.


Dia lalu menuju kamar yang di tunjuk Daniel, masuk dan melihat sebuah kamar lumayan besar. Terawat dan tidak pernah di tempati sepertinya. Danisa menuju lemari dan melihat banyak baju yang di gantung. Dia mengambil handuk, karena ingin mandi lebih dulu.


Setelah itu dia langsung masuk kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari tangan-tangan Bruno yang tadi memegang dan hampir menjamahnya. Ada rasa sedih di hatinya mengingat dia di perlakukan tidak sepantasnya seperti seorang perempuan.


Dia menyesal telah berpacaran dengan Bruno, sekarang dia menangis. Menangis karena dirinya tidak bisa memberikan hal yang berharga miliknya untuk suaminya kelak. Dia mengingat Daniel menyebut dirinya calon istrinya, apakah itu benar? Tapi tadi Bruno malah tertawa karena dia sudah tidak perawan lagi.


Apakah memang yang di katakan Daniel itu hanya untuk menyelamatkannya saja? Tidak keluar dari hatinya. Ya, Danisa berpikir kalau Daniel mengatakan itu hanya untuk menyelamatkannya saja.


Lama Danisa berendam di bak mandi dengan aroma terapi menenangkan, namun wanginya tidak bisa menenangkan hatinya yang rapuh dan kecewa pada diri sendiri. Setengah jam Danisa mandi dan berendam, kini dia mulai tenang. Lalu dia menyelesaikan mandinya dan segera ganti baju.

__ADS_1


Rasa laparnya kini kembali dia rasakan, dia ingin meminta makan di rumah Daniel karena tadi tidak sempat makan. Bergegas Danisa menyelesaikan mandi lalu dia memakai baju. Terasa segar sekali dan wangi tubuhnya. Dia kini tidak peduli apa yang tadi di pikirkan di kamar mandi.


Segera setelah selesai memakai baju dan menyisir rambutnya, dia lalu keluar dari kamarnya. Mencari ruangan dapur mengarah ke belakang dengan pelan karena dia takut salah.


"Kamu cari apa?" sapa Daniel membuat Danisa kaget.


"Oh tuan Daniel, maaf anda ternyata belum tidur?" tanya Danisa dalam keterkejutannya.


"Belum, aku menunggumu keluar dari kamarmu. Kamu mau apa?" tanya Daniel lagi.


"Saya lapar tuan, tadi belum sempat makan karena langsung di bawa oleh laki-laki brengsek itu. Apakah di dapur ada mie instan tuan?" tanya Danisa.


Dia berpikir makan mie instan pun tidak apa, yang penting perutnya terisi. Lagi pula, tidak mungkin mie instan saja tidak ada. Pikir Danisa.


"Oh, kamu lapar. Ayo ke dapur, mungkin di sana kamu bisa membuat sesuatu dan aku bisa mencicipinya juga." kata Daniel.


Daniel lalu menuju dapur di ikuti oleh Danisa dari belakang. Menatap setiap ruangan yang begitu besar dan banyak sekali. Daniel menunjuk kulkas dan menyuruh Danisa melihatnya apakah di sana ada bahan makanan mentah yang bisa di masak.


"Kamu cari saja bahan makanan apa di kulkas lalu buat apa yang kamu bisa." kata Daniel.


"Iya tuan."


Danisa membuka kulkas dan melihat ada sayuran juga cumi serta beberapa buah. Dia berpikir akan membuat masakan cumi asam manis, dia ambil satu kotak cumi dan tomat serta bawang bombay. Bumbu seadanya dan yang dia ingat, tak lupa mengambil sausnya juga.


Danisa langsung mengeksekusi cumi tersebut, di potong-potong kecil dan di lanjutkan memotong beberaoa bawang putih juga bawang bombay. Semua bumbu dia racik lalu di blender. Entah apa masakan Danisa nanti namanya.


Daniel memperhatikan apa yang di lakukan oleh Danisa sangat cekatan. Senyumnya mengembang, lalu dia menuju meja makan. Menunggu Danisa selesai masak.


"Papa sedang apa di sini?"


_


_


_

__ADS_1


*********************


__ADS_2