
"Apa?! Hamil?! Istriku hamil?!" tanya Daniel kaget.
Dia terkejut dengan ucapan bi Supi, begitu juga Danisa. Dia mengingat sejak seminggu lalu keinginannya makan jengkol terus, sampai suaminya itu malas untuk menciumnya karena mulutnya bau jengkol. Dan sekarang dia memuntahkan isi perutnya karena makan jengkol tersedak.
Tiba-tiba, Danisa merasa mual mengingat jengkol itu, dan bau jengkolnya pun kini membuat perutnya mual. Daniel lalu beralih pada istrinya, rasa tak percaya bahwa istrinya sekarang hamil dan sedang ngidam makan jengkol.
"Sayang, jadi kamu hamil? Ngidam jengkol?" tanya Daniel dengan wajah cerianya.
"Emm, aku tidak tahu mas. Mungkin saja aku hamil, karena perutku rasanya sesak sekali. Dan sekarang aku mual jika bau jengkol." jawab Danisa.
"Ooh, syukurlah. Lalu sekarang masih mau makan jengkol lagi?" tanya Daniel.
"Ngga mas, aku malah mual baunya."
"Ya sudah, ayo kita ke kamar. Besok kamu tes kehamilan ya, lalu siangnya kita ke dokter." kata Daniel dengan antusias.
Dia lalu menuntun istrinya untuk naik tangga dan masuk ke kamarnya, dia juga menyuruh bi Supi untuk membuang jengkolnya. Bi Supi juga ikut senang jika memang Danisa itu hamil. Karena dia selalu dapat curhatan dari Kania, kapan mamanya itu hamil dan punya adik bayi.
"Duh, semoga ibu benar-benar hamil." gumam bi Supi.
Dia lalu membereskan mangkuk berisi jengkol lalu membuangnya ke tempat sampah. Sementara itu, Daniel memeluk istrinya itu setelah mereka berada di ranjangnya. Berkali-kali mencium pipi dan juga keningnya. Rasa bahagia karena sebentar lagi akan mempunyai anak dari Danisa.
"Sayang, mulai sekarang kamu bisa minta apa saja ya. Kamu ingin makan apa malam-malam, nanti aku belikan." kata Daniel.
"Ngga tahu mas, kita tunggu besok aja. Apakah benar aku ini hamil?"
"Dari tanda-tandanya sih kamu sedang hamil sayang, besok kita langsung ke dokter aja. Untuk memeriksakan kandungan kamu." kata Daniel.
"Iya, besok kita periksa ke dokter."
Malam ini, Daniel sangat bahagia mendapati istrinya mempunyai tanda-tanda kehamilan. Kini keduanya hanya tidur saling memeluk, tanpa melakukan kegiatan bercinta seperti biasanya di setiap malam.
_
Setelah melakukan pemeriksaan pada dokter, Danisa memang di nyatakan positif hamil, Daniel dan Kania sangat senang. Daniel sendiri selalu memperhatikan kesehatan istrinya, apa yang dia makan atau pun yang di inginkan istrinya itu selalu dia usahakan di turuti.
Terkadang malam hari istrinya menginginkan sesuatu, dia yang mencarinya. Danisa sangat senang, Daniel begitu siaga menjadi suami. Selalu bangun lebih dulu ketika istrinya tiba-tiba merasakan mual di pagi hari dan muntah-muntah.
Dia dengan sabar memperhatikan dan meladeni apa pun yang Danisa lakukan dan inginkan. Kebahagiaan yang dia rasakan kini benar-benar telah merubahnya jadi suami yang siap siaga.
Di kehamilan Danisa yang menginjak tujuh bulan, mereka kini menyiapkan beberapa perlengkapan bayi yang di perkirakan berjenis kelamin laki-laki. Kania sangat senang sekali, dia akan mempunyai adik laki-laki sama dengan Missel.
"Pa, adik bayi kapan keluarnya dari perut mama?" tanya Kania pada Daniel.
"Dua bulan lagi sayang, kakak Kania sabar ya. Dan nanti kakak harus sayang sama adiknya nanti." kata Daniel.
__ADS_1
"Iya pa, aku nanti sayang sama adik bayi." kata Kania.
"Iya, kakak memang harus sayang sama adiknya."
"Tapi kenapa cuma satu sih pa? Ngga kayak Missel adiknya dua, Arka sama Alka. Kok aku satu?"
"Di kasihnya satu sayang, nanti kalau adik bayi sudah lahir dan besar bisa kok mama punya adik lagi."
"Kenapa ngga sekarang aja langsung dua pa?"
"Ngga bisa sayang. Nanti kalau udah lahir adik bayinya, papa sama mama bikin lagi."
"Bikinnya dari apa pa?"
"Eh, itu bikinnya dari cinta."
"Cinta itu apa?"
Daniel diam, dia bingung dengan pertanyaam anaknya itu. Danisa menghampiri kedua ayah dan anak yang sedang mengobrol. Daniel pun merasa senang Danisa datang.
"Nah, tanya mama tuh. Papa mau ke kamar dulu." kata Daniel menghindar dari Kania.
Danisa heran, kenapa suaminya itu pergi?
"Ya daging kak, dari daging sama dengan kakak, mama dan papa. Tapi daging adik bayi masih sedikit, belum banyak seperti punya kakak." jawab Danisa yang tidak tahu awal pertanyaan itu pada Daniel.
"Kata papa terbuat dari cinta. Cinta itu apa? Kania juga sama ya terbuat dari cinta." tanya Kania.
Danisa pun diam, dia juga bingung kenapa bisa Kania bertanya seperti itu. Danisa mengerti kenapa suaminya itu pergi, dia tidak bisa jawab pertanyaan anaknya yang memang susah sekali di jelaskan dengan bahasa anak-anak.
"Cinta itu rasa sayang antara papa sama mama, sama kakak. Begitu kak, nanti kalau adik bayi lahir kakak juga cinta dan sayang untuk adiknya juga." kata Danisa menjelaskan pada Kania agar bisa masuk ke dalam pikirannya.
Kania pun diam, lalu tertawa kecil. Dia lalu beranjak pergi untuk bermain lagi dengan boneka mainannya. Daniel datang lagi mendekat pada Danisa dan duduk di samping istrinya.
"Hemm, ternyata kamu pergi karena tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya ya mas." kata Danisa.
"Aku takut salah bicara, jadinya pergi aja. Untung kamu datang, jadi aku selamat. Heheh." kata Daniel. Danisa pun tersenyum sinis, dia lalu ikut makan cemilan yang di bawa oleh suaminya itu.
_
Dua bulan sudah menunggu kelahiran anaknya. Daniel selama menjelang hpl, dia selalu siaga. Pergi ke kantor agak siang dan pulang sore hari. Dan sore ini, Danisa merasa perutnya mulai kram dan mulas. Danisa meringis, dia pun menelepon suaminya untuk segera pulang ke rumah.
"Mas, kamu masih di kantor?"
"Kenapa sayang? Apa kamu mau melahirkan?"
__ADS_1
"Iya mas, perutku sudah mulas. Kamu cepat pulang deh, takutnya aku ngga kuat."
"Iya sayang, tunggu sebentar ya. Aku langsung pulang sekarang."
"Iya."
Danisa menutup teleponnya, dia lalu menyiapkan perlengkapan melahirkan. Di bantu oleh bi Supi, setelah selesai Danisa menunggu di depan rumah. Dia benar-benar sudah mulas dan melilit. Dan tak lama, mobil Daniel pun datang. Dengan cepat, Daniel langsung membawa Danisa perginke rumah sakit.
Dia benar-benar antusias menyambut kelahiran anaknya itu. Dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit agar Danisa tidak melahirkan di jalan. Danisa meringis kesakitan, dia menahan sakitnya yang benar-benar dia belum rasakan sebelumnya.
"Mas, sakit banget. aauh.".
"Sabar sayang, kita sebentar lagi sampai." kata Daniel menenangkan istrinya.
Daniel terus melajukan mobilnya dengan kencang. Dan tak lama mobil memasuki area rumah sakit, Daniel langsung membopong istrinya masuk ke ruang UGD. Dokter pun menyambut Danisa dan langsung menanganinya.
Daniel menunggu dengan gelisah, Danisa langsung di bawa ke ruang bersalin karena memang pembukaan sudah lengkap. Daniel ikut menemani istrinya melahirkan, rasa panik, gelisah dan harap-harap cemas pun Daniel rasakan. Dia mendampingi Danisa saat dia sedang berjuang mengeluarkan anaknya.
"Aaaaah, uuh uuh."
"Sabar sayang, kamu pasti bisa." kata Daniel memberi semangat istrinya.
"Ayo bu, sekali lagi dorong ya. Satu, dua, tiga. Dorong!"
"Eeeuuuuuuh!"
"Oek oek oek!"
Suara tangis bayi laki-laki Daniel dan Danisa dengan kencang. Daniel merasa senang akhirnya anaknya lahir dengan selamat. Kini Daniel dan Danisa merasa bahagia, mendapatkan bayi dengan selamat. Suasana haru dan bahagia sangat terasa pada kedua orang tersebut. Kebahagiaan yang Danisa rasakan sekarang menjadi seorang ibu sebenarnya. Sedangkan Daniel juga merasa bahagia karena dia mendapatkan bayi laki-laki dari orang yang dia cintai.
_
_
***************** the end ******************
\=>> Promo novel baru, novel action ya. bukan novel romantis, yang suka tunggu lauchingnya di tanggal 5 juli.
\=>> Terima kasih yang udah setia sampai akhir sama duda hotnya, di tunggu novel hot selanjutnya ya kaka..😉😊😍
_
***********************
__ADS_1