
Kirana selalu menatap pintu masuk hotel, rasa gelisahnya kian bertambah karena Danisa tidak juga muncul. Dia bersalamab dengan tamu undangan pun hanya tersenyum tipis saja. Membuat Bryan merasa aneh dengan istrinya itu.
"Sayang, kamu kenapa selalu melihat ke arah pintu masuk?" tanya Bryan.
"Danisa mas, kenapa dia ngga juga datang sih? Kemarin dia janji mau datang lebih cepat." jawab Kirana.
"Ooh, sahabat nyeleneh kamu itu? Pasti dia datang sayang, mungkin dia terjebak macet di jalan." kata Bryan menenangkan istrinya karena gelisah menunggu Danisa.
"Tapi dia harusnya menelepon mas, masa ngga ada telepon sama sekali sih?"
"Kamu itu lagi sibuk, mana berani dia menelepon kamu."
Kirana diam, ada benarnya juga ucapan suaminya itu. Namun tetap saja dia gelisah Danisa tidak juga datang.
Sementara itu, Danisa bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan sahabatnya Kirana. Dia sangat senang di undang secara spesial oleh Kirana. Danisa juga menyiapkan baju khusus untuk menghadiri pesta pernikahan di hotel.
Dia juga pergi ke pesta dengan Bruno. Dia berjanji akan mengantar Danisa ke pesta Kirana. Dan sekarang Danisa sudah siap untuk pergi ke pesta itu, tapi Bruno belum juga datang menjemputnya. Dia mengambil ponselnya untuk mrnghubungi kekasihnya itu, apakah sudah di jalan atau masih di rumahnya.
Tuuut.
Sambungan telepon masuk, namun tidak di jawab oleh Bruno.
"Kemana dia? Apa masih di jalan?" gumam Danisa masih mencoba menghubungi Bruno.
Tuuut.
Klik!
Suara telepon di tutup secara sepihak. Danisa heran, kenapa Bruno menutup teleponnya? Lalu dia pun mencoba sekali lagi menghubungi Bruno, masuk namun sekali lagi di rijek. Danisa kesal akhirnya dia mengambil ponselnya dan segera keluar dari rumah kontrakannya, dia akan ke rumah Bruno. Siapa tahu dia lupa dan tertidur di rumahnya.
Danisa menunggu taksi, dan tak lama taksi lewat. Danisa segera menyetop taksi dan meminta pada supir untuk menuju ke kompleks perumahan elit di kawasan tengah kota.
Dia gelisah juga kesal, kenapa Bruno malah menutup teleponnya. Setengah jam mobil taksi sampai di depan rumah mewah, Danisa turun dan langsung membayar ongkosnya.
"Terima kasih neng." kata supir taksi itu.
Tanpa menjawab ucapan supir taksi, Danisa langsung meminta satpam membuka pintu gerbang karena dia sering ke rumah Bruno. Bruno adalah anak orang kaya yang hidupnya selalu di kelilingi kemewahan. Namun, kedua orang tuanya berada di luar negeri dan jarang pulang.
"Pak, Bruno ada di rumahnya" tanya Danisa pada satpam.
Meski pun dia tahu Bruno pasti ada di dalam rumah melihat mobilnya masih terparkir di halaman rumah.
"Eh, non Danisa. Ada non, tapi sepertinya ada temannya tuh." kata satpam ragu.
"Oh, begitu. Ya sudah, saya langsung masuk ke dalam aja pak." kata Danisa sambil berlalu.
"Eh, non. itu ada ..."
"Ada apa?"
"Emm, ngga jadi deh. Takut non nanti kecewa." kata satpam itu.
__ADS_1
Bukan urusannya jika berhubungan dengan majikannya itu. Biar saja mereka mengurus urusannya sendiri, begitu kata satpam dalam hati.
Danisa langsung masuk ke dalam rumah, dia juga tahu di mana kamar Bruno. Karena dia sering datang ke rumah Bruno dan juga sering tidur di kamar Bruno, tentu saja tidur dengan bercinta lebih dulu.
Danisa langsung naik tangga, pintu kamar Bruno terliha membuka sedikit. Mungkin dia lupa menutup pintunya. Danisa melangkah maju ke kamar Bruno, sayup-sayup terdengar suara obrolan dengan di iringi beberapa kali ******* dan erangan.
"Bruno, uuuh kamu sangat ganas ya. Aaah." ucap seseorang perempuan di dalam kamar Bruno.
"Tentu dong, siapa pun yang bercinta denganku semua merasa senang dan menikmatinya. Aaah, baby eeeuh aku kamu kok berbeda ya dari Danisa, aaah. Ini nikmat banget." ucap Bruno dengan erangannya karena alat vitalnya di mainkan oleh perempuan bersamanya.
"Danisa tidak melakukan apa yang aku lakukan?"
"Tidak, dia kurang lihai, uuuh. Terus baby, ini nikmat banget. Aaah." Bruno terus meracau.
"Tentu saja, aku ingin melayanimu lebih dari Danisa. Danisa tidak ada apa-apanya dari aku?"
"Ya, dia tidak bisa bereksplorasi. Uuuh, sekarang gantian ya, aku mainin punya kamu." kata Bruno yang mengganti posisi.
Kini perempuan bersama Bruno itu merubah posisinya menjadi terlentang. Bruno pun memposisikan wajahnya mendekat ke bagian bawah perempuan itu dan memainkan lidahnya di sana.
"Aaaaah, Bruno. Ini geli dan nikmat aaaah."
Bruno terus memainkan lidahnya dan terus membuat perempuan itu semakin meracau dan akhirnya dia mengeluarkan kenikmatannya.
"Aaah, baby. Aku puas, sekarang kita bermain sesungguhnya."
"Tentu, lihatlah batangku sudah tegak lagi."
Braakk!!
"Bruno!!"
Teriakan Danisa membuat Bruno dan perempuan itu pun kaget. Mereka langsung melihat ke arah pintu, Danisa berdiri sambil menangis. Bruno terkejut, dia mengambil celana kolornya dan mendekat pada Danisa.
Tapi Danisa segera pergi dari kamar itu dengan berlari sambil menangis. Bruno terus memanggil Danisa, tapi Danisa tidak mempedulikan panggilan Bruno. Make upnya sudah basah karena air mata yang mengalir deras sejak tadi.
Sampai di pintu gerbang Bruno bisa menarik tangan Danisa dan menyuruhnya masuk. Tapi Danisa berusaha melepaskan tangan yang di tarik Bruno.
"Lepaskan!"
"Tunggu dulu Danisa, apa yang kamu lihat itu tidak seperti ..."
"Apa?!"
"Emm, aku hanya melampiaskan saja. Karena kamu sekarang tidak mau lagi aku ajak ..."
"Cukup! Memang tujuan kamu pacaran denganku hanya untuk memuaskanmu saja kan? Dan apa aku tadi dengar dari kalian bicara?!"
"Danisa itu ..."
"Cukup! Kita putus sampai di sini, kamu tidak usah cari-cari aku lagi, aku sudah muak dengan kelakuanmu!"
__ADS_1
Setelah mengatakan seperti itu, Danisa langsung pergi masih dengan deraian air mata. Dia melangkah menjauh dari rumah Bruno sejauh mungkin. Bruno berusaha mengejar Danisa kemana dia pergi. Setelah terlihat, Bruno kembalu berlari dan menarik tangan Danisa.
"Lepaskan! Mau apa kamu hah?!"
"Ayo ke rumahku, dan kita bisa menghabiskan di tempat tidur. Bercinta dengan sepuasnya, agar kamu tidak marah lagi padaku."
"Cukup Bruno, aku tidak mau lagi jadi kekasihmu!"
Bruno terdiam menatap Danisa, wajahnya merah padam. Dia tidak bisa di putus begitu saja, yang sering dia lakukan adalah memutuskan hubungan pacaran dengan gadis-gadis yang sudah dia dapatkan madunya.
Bruno lalu menarik kasar tangan Danisa, hingga Danisa hampir terseret terbawa oleh tangan Bruno.
"Bruno, lepaskan tanganku. Kamu tidak bisa memaksaku seperti ini!" teriak Danisa.
"Aku tidak peduli! Kamu tidak bisa memutuskanku, aku yang akan memutuskanmu Danisa!"
Buk!
Satu pukulan mendarat di pipi Bruno, Bruno pun terhuyung ke samping. Dia kaget siapa yang memukulnya secara tiba-tiba itu. Lalu Bruno menoleh ke arah laki-laki yang tadi memukulnya.
"Kenapa kamu memukulku hah?!"
"Karena kamu membuat gadis ini menangis dan terluka karena paksaan darimu!"
"Apa urusanmu? Dia pacarku, aku bebas melakukannya!"
"Tapi bukan begitu memperlakukan pacar, brengsek!"
Buk! Buk!
"Tuan Daniel sudah. Biarkan dia seperti itu, lagi pula aku sudah putus dengannya. Dia memang benar-benar brengsek. Bawa aku pergi dari sini." kata Danisa.
Laki-laki yang memukul Bruno itu adalah Daniel, dia sedang lewat karena mau menghadiri acara pesta pernikahan Bryan. Dia melihat seorang gadis di tarik dengan kencang, dan akhirnya tangannya sakit dan hampir saja Bruno membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Daniel dan Danisa masuk ke dalam mobil, wajah Danisa berantakan. Tapi masih bisa di rapikan. Daniel memperhatikan wajah Danisa yang berantakan dan pudar make upnya.
"Kamu mau le pesta pernikahan?" tanya Daniel melihat pakaian yang di pakai Danisa.
"Iya tuan Daniel, sahabatku Kirana mengadakan pesta pernikahan hari ini. Tapi penampilanku berantakan begini." kata Danisa.
Dia lalu mengeluarkan alat make up seadanya dan memoleskannya ke wajahnya. Daniel memperhatikan Danisa yang bermake up dengan cepat dan kembali rapi lagi. Dia tersenyum, sangat lucu melihat perubahan kilat di depan matanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Daniel hanya ingin memberi waktu Danisa merubah penampilannya kembali semula.
_
<
_
*****************
__ADS_1