
" Emm, mas udah dong mintanya, eeuh." kata Kirana di ketiga percintaannya dengan Bryan.
Bryan tidak mengindahkan ucapan Kirana, dia masih terus mencumbu Kirana karena dua hari dia tidak mendapatkan jatah malam. Jadi malam ini dia memuaskannya langsung tiga kali. Kirana sendiri sebenarnya juga menikmati, sejak hamil sembilan bulan hormon endorfinnya meningkat dan gairah untuk bercinta juga menggebu.
Entah kenapa, malam ini dia merasa kelelahan, namun dia masih mau melayani suaminya untuk yang ketiga kalinya. Terasa nyeri sedikit di bagian bawahnya, tetapi dia tidak mengatakannya karena kasihan pada suaminya.
Bryan terus mencumbu Kirana dan memberi sentuhan yang membuat Kirana terbuai. Mereka kembali melakukan percintaan di perut Kirana yang membesar menginjak sembilan bulan.
"Euuh, sayang. Kenapa semakin besar perutmu semakin menggairahkan dan nikmat sayang. Aaah." ucap Bryan yang sebentar lagi dia mencapai puncak nikmatnya.
Kirana sudah terasa lemas, perutnya juga mulai kram. Tapi Bryan ternyata belum mencapai puncak nikmatnya, jika di hentikan nanti uring-uringan saja suaminya itu. Jadi Kirana membiarkan suaminya menyelesaikan hajatnya lebih dulu. Dan beberapa menit kemudian Bryan sudah mencapai puncak nikmat.
"Aaaaaah, sayang aku mencintaimu." ucap Bryan dengan lenguhan panjangnya.
Kirana pun akhirnya lega, dan setelah Bryan menyelesaikannya. Dia langsung duduk meski batang milik Bryan belum keluar dari dalam intinya. Wajahnya menahan nyeri keram perutnya, membuat Bryan pun heran.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bryan melepas miliknya pada Kirana.
"Ngga tahu mas, tadi perutku kram banget. Apa dia mau keluar ya?" kata Kirana meringis kembali sambil memegang perutnya.
Bryan pun memegang perut Kirana, dan sangat keras. Dia mengerti sedikit tentang kehamilan, lalu Bryan dengan cepat memakai baju piamanya. Dan dia akan menyiapkan mobil serta perlengkapan untuk ke rumah sakit.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Kirana yang mulai sedikit reda nyerinya.
"Mau antar kamu ke rumah sakit sayang, kamu mau melahirkan." kata Bryan sedikit panik.
"Tapi kramnya sudah hilang, lebih baik kamu mandi dulu sana. Kalau di tengah malam aku merasakan nyeri lagi kamu ngga usah repot mandi besar dulu." kata Kirana.
"Ya udah, tapi benar kan sekarang sudah reda kramnya?" tanya Bryan.
"Iya, nanti setelah kamu selesai mandi baru aku mandi." jawab Kirana.
Bryan pun akhirnya menurut, memang benar tidak baik menunda. Dia lalu masuk ke kamar mandi, sedangkan Kirana juga memakai betrop agar tubuhnya tidak keadaan polos. Dia duduk dengan kaki selonjor, beberapa menit kemudian dia pun merasakan lagi perutnya kram. Kirana meringis dan menahan sakit.
"Duh, kalian mau pengen ketemu papi sama mami secepatnya ya, uuuh." kata Kirana.
Lama Bryan mandi, dan akhirnya dia selesai juga. Dengan cepat setelah Bryan keluar, Kirana langsung masuk dan segera mandi besar.
_
Dini hari, jam empat pagi Kirana terbangun. Dia duduk sambil memegang perutnya. Dia membangunkan suaminya untuk membawanya ke rumah sakit, karena dia merasa bayi dalam perutnya semakin kuat mendorong keluar.
"Mas, bangun. Ayo kita ke rumah sakit, uuuh." ucap Kirana membangunkan suaminya.
Bryan langsung bangun dan menatap istrinya yang meringis kesakitan. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka sebentar. Lalu segera mengganti piama dengan celana panjang dan kaos oblong.
__ADS_1
"Sayang, kamu bisa jalan?" tanya Bryan.
"Bisa mas, tapi pelan aja sih." jawab Kirana mulai merasakan kesakitan yang beruntun.
"Ya udah, aku gendong aja ya. Biar cepat."
"Terserah kamu, aku ingin cepat sampai rumah sakit, karena di bawah udah sakit banget mas. Aaah, uuuh."
Tanpa pikir panjang, Bryan langsung menggendong Kirana. Beruntung tadi sesudah Kirana merasakan nyeri kram setelah bercinta, Bryan memasukkan perlengkapan untuk melahirkan ke dalam mobilnya jika terjadi Kirana dadakan merasa mulas ingin melahirkan. Bryan langsung membawa Kirana menuju mobilnya di parkir di depan halaman rumah.
Bryan pun kembali ke dalam rumah lagi untuk mengambil kunci, Mimin yang baru keluar dari kamarnya melihat Bryan lari dari tangga jadi heran.
"Tuan Bryan, ada apa?" tanya Mimin.
"Kirana mau melahirkan, Min. Tolong kamu nanti kasih tahu Missel ya kalau maminya mau melahirkan adik bayi kembarnya." kata Bryan.
"Oh, syukurlah. Semoga nyonya Kirana melahirkan dengan selamat. Nanti saya kasih tahu non Missel kalau maminya melahirkan si kembar." kata Mimin.
"Ya sudah, jaga rumah ya." kata Bryan.
"Iya tuan."
Bryan bergegas keluar dan dia masuk mobil untuk segera membawa Kirana ke rumah sakit. Kirana sendri masih agak tenang, namun sesekali dia meringis kesakitan. Bryan mengendarai mobil dengan cepat, suasana waktu dini hati begitu lengang jalanan ibu kota.
Satu jam perjalanan menuju rumah sakit akhirnya sampai juga, Bryan segera membawa Kirana menuju IGD agar segera di tangani oleh dokter. Di sana langsung di sambut oleh perawat dan juga dokter jaga di bagian IGD.
"Iya pak, anda tenang dulu ya. Kami akan menangani istri anda." kata dokter.
Lalu dokter dan perawat dengan sigap segera memberikan perawatan pertama. Memasang infus di pergelangan tangan Kirana dan juga memeriksa denyut nadi serta perut yang sejak tadi sudah menegang.
Setelah semua selesai, kini Kirana di bawa ke ruang persalinan. Di sana di sambut oleh perawat dan juga dokter kandungan yang kebetulan ada juga pagi ini melahirkan. Kirana cepat di tangani, Bryan ikut masuk ke dalam ruang bersalin.
Dokter memeriksa bagian bawah Kirana untuk memastikan sudah berapa pembukaan. Dan ternyata sudah pembukaan delapan. Pembukaan sangat cepat, dokter mengira mungkin karena keduanya tadi malam memberi jalan pada calon bayinya.
"Emm, ini ayah sama ibunya tadi memberi jalan keluar ya. Agar langsung pembukaan lebih cepat nambah." kata dokter, membuat Kirana dan Bryan bingung apa maksud dari dokter itu.
"Maksudnya apa dokter?" tanya Bryan.
"Ya, bapak benar, telah memberi jalan lahir oada bayi. Kalian melakukan hubungan suami istri ya, tapi untungnya tidak apa-apa bayi di dalamnya." kata dokter menjelaskan.
Tentu saja membuat Kirana malu, wajahnya merah. Meski dia sedang kesakitan, namun mendengar ucapan dokter terasa malu sekali. Sedangkan Bryan merasa bangga dengan ucapan dokter itu.
"Ya dokter, memang senagaja saya melakukannya agar istri saya cepat pembukaan." kata Bryan.
Dokter hanya tersenyum saja, dia paham betul maksud Bryan bukan sengaja agar melahirkan dengan mudah. Kebanyakan para suami itu ingin selalu mendapatkan jatah meski istri sedang hamil besar.
__ADS_1
"Auuuw, mas ini sakit banget. uuh uuh!" teriak Kirana.
Membuat Bryan kaget, dia panik sekali. Namun dokter memeriksanya kembali. Dan ternyata sudah naik lagi pembukaannya jadi sembilan. Dokter masih terus memantau keadaan Kirana.
"Satu lagi ya bu, ibu bisa miring kesamping agar cepat pembukaannya sempurna." kata dokter.
Bryan membantu Kirana untuk tidur miring ke kiri, Kirana terus saja meringis. Membuat Bryan tidak tega, namun kata dokter memang seperti itu jika sudah memdekati kelahiran. Akhirnya dengan memberikan semangat pada Kirana agar istrinya itu kuat menjalani persalinan, Bryan memberikan ciuman beberapa kali pada istrinya dan bisikan-bisikan menguatkan Kirana.
Lalu, bagian bawah Kirana sudah basah dengan pecah ketubannya, Kirana menjerit kesakitan. Bryan panik. Dia memanggil perawat dan juga dokter.
"Dokter, istri saya kesakitan. Itu bagian perutnya basah." kata Bryan.
"Iya pak, tenang. Itu ketuban yang pecah, jangan panik ya. Berarti ibu sudah siap untuk bertemu dengan anaknya." kata dokter.
Lalu dokter memberitahu pada suster agar segera menyiapkan keperluan persalinan. Dokter dan tiga perawat sudah bersiap, Kirana sudah mengejan beberapa kali namun di tahan oleh dokter agar bersabar untuk mengejan.
"Ibu tahan ya, jangan dulu mengejan. Nanti mudah lelah." kata dokter.
"Tapi ini bayinya mau cepat keluar dokter, aaaah!"
"Ya ya, tahan sebentar. Nanti saya beri aba-aba, ibu tarik nafas kuat lalu di lepas sambil mengejan ya. Oke, satu dua tiga dorong bu."
"Aaaaaa!"
"Satu kali lagi ya, ini kepala bayinya sudah kelihatan. Ayo satu, dua, tiga, dorong."
"Eeeeeeeh!"
"Oeek! Oeek!"
"Suster, ambil satu bayinya, sekali lagi ya bu. Satu bayi belum keluar."
"Eeeeeeuuuuuh!"
"Oek! oek! oek!"
"Nah, kan sudah keluar semua dengan selamat."
"Alhamdulillah, terima kasih sayang. Kamu hebat." kata Bryan yang sejak tadi berada di depan kepala Kirana memberi semangat.
Kirana pun terkulai lemas, dia memejamkan matanya. Rasanya ngilu sekali dia harus mengeluarkan dua bayi di bagian bawahnya. Namun begitu, kata dokter belum selesai. Dia harus di tangani lagi untuk mengeluarkan sisa-sisa darah di dalam perut Kirana.
_
_
__ADS_1
_
****************