Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
47. Tentang Kehamilan


__ADS_3

Bryan sampai di hotel tempat wisuda Kirana, dia sebelumnya membeli buket bunga dengan tulisan selamat atas wisuda istrinya. Tak lupa di sana tertara tulisan kata-kata cinta dan juga tak lupa membeli hadiah sebuah cincin berlian.


Sejak menikah dengan Kirana, Bryan belum memberikan hadiah cincin dan juga kalung. Makanya dia lebih dulu memesan perhiasan di toko langganan istrinya dulu membeli perhiasan.


Dia sangat bahagia menikah dengan istrinya, dia berjanji akan mengadakan resepsi mewah untuk Kirana nanti.


Bryan masuk ke dalam degung ballroom, dia mencari duduk sengaja di belakang. Kebetulan nama Kirana belum di sebut, baru setelah dua orang maju di panggil namanya Kirana pun maju ke depan karena di panggil.


Bryan menatap terus ke arah istrinya yang terlihat begitu cantik dan anggun. Dia tersenyum bahagia, istrinya maju ke depan dan bibirnya selalu bergumam dengan kalimat cinta.


"I love you, sayang. Kirana Prameswari." gumamnya sepanjang Kirana berjalan maju ke depan menuju tempat prosesi wisuda.


Baru kali ini dia merasakan cinta yang besar, melebihi cintanya dulu pada istri pertamanya. Dia benar-benar mencintai Kirana sepenuh hati dengan seiring berjalannya waktu bersama.


Setelah selesai, Kirana kembali ke tempatnya. Dia melihat ke arah tempat duduk pendamping, tak melihat Bryan di samping kedua orang tuanya, padahal dia merasa Bryan hadir di sana.


Namun, mata Kirana pun mengarah ke belakang, dia melihat suaminya tersenyum padanya dan berucap kata cinta sambil membawa buket bunga. Kirana pun tersenyum pada suaminya, lalu kembali ke tempatnya semula.


Waktu terus berjalan, dan acara wisuda pun selesai. Bryan menunggu istrinya di depan pintu keluar. Tampak orang-orang keluar dan di belakang Kirana dengan kedua orang tuanya keluar dari pintu ballroom tersebut.


Bryan menyambut Kirana dan memberikan buket bunga lalu memeluknya.


"Selamat ya sayang, semoga ilmumu bermanfaat." kata Bryan memeluk istrinya.


"Terima kasih mas, tadi baru masuk ke dalam gedung ya?" tanya Kirana melepas pelukannya.


"Iya, oh ya. Mama juga kirim salam untukmu." kata Bryan lagi.


"Oh ya? Kapan mama meneleponmu?" tanya Kirana dengan senang hati.


"Tadi, sewaktu aku mau kesini. Aku kira kamu sudah maju duluan tadi. Dan pas banget tadi aku duduk, kamu maju di depan." kata Bryan.


"Ayo kita rayakan kelulusanmu sayang, makan di luar. Nanti Morgan akan menjemput Missel di sekolahnya. Dan ayah sama ibu juga ikut kita makan di luar." kata Bryan.


"Kita akan makan di restoran?" tanya ibu Kamina.


"Iya bu, merayakan kelulusan Kirana." jawab Bryan dengan senyumnya.


"Waah, ayah. Kita akan makan di restoran." kata ibu Kamina lagi pada suaminya.


"Jangan katro bu, makan di restoran saja heboh begitu." kata suaminya.


Ibu Kamina pun cemberut, Kirana dan Bryan hanya tersenyum saja melihat kedua orang tua itu bicara.


_


Malam hari, Kirana menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Dia akan membicarakan masalah kebohongannya dulu di kampung, sebelum terlalu jauh. Lebih baik dia bicarakan sama Bryan lebih dulu dan kedua orang tuanya. Mereka akan meminta maaf pada ibu Kamina dan pak Darno.


Bryan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk saja, terlihat segar sekali. Membuat darah Kirana berdesir dan menelan salivanya karena kagum dengan tubuh seksi suaminya itu.

__ADS_1


Bryan mengibaskan kepalanya berulang kali, Kirana mendekat dan memberikan handuk kecil untuk mengeringkan rambut yang masih basah.


"Ini mas handuknya." kata Kirana.


"Untuk apa?"


"Rambut kamu basah, kan di keringkan sama handuk ini." kata Kirana menyodorkan handuk kecil itu.


"Ngga usah, rambut basah begini kelihatan seksi suamimu ini. Cup." kata Bryan mengecup bibir istrinya, lalu pergi ke lemari di mana tempat baju-bajunya berada.


Kirana mengikuti suaminya, membuat Bryan heran.


"Kenapa ikuti aku, apa ada yang harus di bicarakan?"


"Iya mas, masalah kebohongan waktu itu."


"Masalah kehamilanmu olehku?"


"Iya, aku ingin bicara dengan ayah dan ibu. Kita bicarakan itu mas, mumpung ibu dan ayah ada di sini." kata Kirana.


Bryan terdiam, dia bingung. Sejujurnya dia ingin mengatakannya, tapi dia takut nanti akan ada konsekunsi dari kedua mertuanya. Dia takut Kirana akan di bawa pulang.


Sudah pasti masalah itu sangat besar, tapi memang tidak boleh di sembunyikan terus kan?


Kirana tahu Bryan merasa takut kedua orang tuanya marah, dia pun mendekat dan menatap suaminya itu.


Bryan menarik tubuh Kirana agar lebih menempel padanya, dia mencium bibir Kirana dan ********** dengan lembut.


"Aku tahu, siapa pun yang di bohongi pasti kecewa. Apa lagi memanfaatkan keadaan waktu itu. Yang aku takutkan kita akan di pisahkan sayang, kamu akan di bawa lagi sama ayah dan ibu. Lalu aku? Missel?" kata Bryan.


"Kejauhan kamu mas mikirnya." kata Kirana.


"Tapi bagi seorang ayah memang akan marah besar sayang, dia akan marah ketika putri tercintanya di ambil dengan cara di bohongi. Aku ini seorang ayah juga, aku akan marah kalau ada laki-laki mengambil Missel dengan cara berbohong." kata Bryan.


"Lalu kenapa waktu itu kamu berbohong?"


"Ya, aku tidak punya cara lain. Pikiranku waktu itu buntu, dan ngga mau kehilangan kamu. Jadi cara itu yang bisa mengendurkan niat juragan Samin dan anaknya meminangmu. Apa lagi ayah begitu senang sekali kamu akan jadi menantu juragan Samin." kata Bryan menatap Kirana lembut.


Dia selalu tergoda dengan bibir Kirana yang mungil itu.


"Waktu itu juga aku takut banget sih mas, tapi ayah tidak bisa di bantah. Tapi aku yakin kok, beliau akan menerima alasan kita. Kalau kita sebenarnya saling mencintai." kata Kirana.


"Begitukah?" tanya Bryan menyeringai.


"Iya, aku mencintaimu dan kamu juga sayang padaku. Apa lagi?"


"Ada lagi kok, kamu melewatkannya sayang."


Tangan Bryan sudah meraba-raba punggung Kirana dan bagian dadanya.

__ADS_1


"Apa?"


"Kita akan mempersembahkan malaikat kecil untuk mereka, dan sekarang kita akan membuatnya. Cup."


Bryan langsung menyambar bibir Kirana, dia sudah tidak sabar mengeksekusi istrinya itu malam ini. Kirana tahu maksud dari suaminya itu, dan tak bisa di pungkiri. Dia juga menginginkannya.


_


Kirana dan Bryan duduk di sofa saling berdekatan. Ibu Kamina duduk di depannya, dia tidak mengerti apa yang akan di bicarakan oleh anak dan menantunya itu.


Katanya ayahnya juga harus mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Tapi pak Darno sedsng sholat isya di kamar tamu.


"Kalian mau bicara apa?" tanya ibu Kamina.


"Emm, apa sebaiknya tunggu ayah dulu bu?" tanya Kirana.


"Ayah masih lama, kalau kalian ingin bicara. Katakan saja, ibu akan sampaikan pada ayah nanti." kata ibu Kamina lagi.


Kirana menatap suaminya, dia ragu juga pada akhirnya jika berhadapan dengan ibunya. Apa lagi dengan ayahnya juga, namun itu harus di bicarakan secepatnya.


"Kirana, nak Bryan. Kalian mau bicara apa?" tanya ibu Kamina lagi dengan tidak sabar.


"Begini bu, ..." kalimat Kirana terpotong oleh suaminya.


"Sayang, diamlah. Biar aku yang bicara sama ibu." kata Bryan menahan tangan Kirana.


Dia tidak mau di katakan pengecut nanti, jika Kirana yang bicara lebih dulu, dia di anggap berlindung pada istrinya.


"Apa nak Bryan?"


"Begini bu, waktu saya mengatakan kalau Kirana itu hamil anak saya ...., itu adalah bohong bu. Kirana tidak hamil anak saya saat itu, dia masih suci. Hanya saja saat itu saya takut kehilangan Kirana. Jadi saya katakan Kirana hamil anak saya, maafkan saya telah berbohong waktu itu." kata Bryan dengan tegas.


Membuat orang yang tidak jauh dari tempat itu kaget dan marah. Dia pun memdekat dengan wajah marahnya.


"Apa kamu bilang?! Kamu bohong sama saya?! Hah?!!" teriak pak Darno.


Kirana, Bryan dan ibu Kamina kaget dengan suara keras dari ayahnya.


"Yah, mas Bryan mau jujur tentang waktu itu."


"Tidak! Ayah tidak terima! Lebih baik kamu ceraikan anakku!"


"Ayah!!"


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2