Terjerat Cinta Duda Hot

Terjerat Cinta Duda Hot
95. Ayo Menikah Danisa


__ADS_3

Lega sudah hati Danisa, begitu juga Daniel. Kini mereka bisa mengungkapkan isi hatinya masing-masing. Daniel kembali menikmati makanan yang tersaji tadi, Danisa hanya melihat makan Daniel sambil tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" tanya Danisa.


"Kamu lucu sekali jika makan banyak." kata Daniel.


"Emm, kamu tahu. Aku makannya banyak tuan, mau menafkahiku jangan lupa memberiku makanan yang banyak." kata Danisa.


"Tidak masalah, kamu makan banyak juga tubuhmu tetap kecil. Jadi, apa yang aku khawatirkan?" kata Daniel.


"Uangmu. Aku nanti akan menguras uangmu dengan membeli banyak makanan." kata Danisa lagi.


"Nanti aku kerja keras, agar bisa mendapatkan uang banyak agar kamu bisa beli makanan banyak juga. Kamu jangan khawatir aku akan bangkrut." kata Daniel lagi.


Dia menatap Danisa yang juga menatapnya sambil menopang dagu. Daniel mencubit hidung Danisa yang mancung dan menciumnya. Dia merasa gemas dengan Danisa yang seperti itu. Danisa merubah posisinya, menatap laut dengan ombak yang bergulung. Sebentar lagi sunrise akan muncul.


Danisa mengajak Daniel untuk jalan-jalan ke tepi pantai sambil bergandengan. Layaknya sepasang kekasih menikmati keindahan alam laut dan juga merasakan bahagianya mendapatkan cinta duda beranak satu.


"Ayo kita menikah Danisa." kata Daniel.


Mereka saling bergandengan tangan menyusuri pinggir pantai seperti orang-orang yang menunggu sunrise tiba. Menabrak air laut yang bergulung ke sampingnya.


"Kamu harus menemui kakakku, tuan." kata Danisa.


"Aku sudah menemui kakakmu, sebelum menemuimu. Aku sudah memintamu padanya." kata Daniel lagi.


"Kapan?"


"Sebelum datang ke rumah kakakmu, aku datang ke kantornya lebih dulu dan langsung memintanya." ucap Daniel.


"Lalu, apa jawaban kakakku?" tanya Danisa.


"Terserah kamu, dia tidak menolak atau mendukungku. Jika kamu mau menikah denganku, berarti dia mendukungku menikahimu." jawab Daniel.


"Aku merasa bersalah pada kakakku, tidak pernah bercerita apa pun masalah dengan Bruno. Tapi dia tahu aku, karena dia selalu memantau apa pun yang aku lakukan, namun tidak pernah mencegahku. Karena dia tahu aku pasti akan lari jauh kalau aku di cegah." kata Danisa.


"Sekarang, kamu menyesal?"


"Lebih dari menyesal. Aku takut tidak ada yang mau denganku, jika pun mau denganku. Tidak ada yang mencintaiku. Hanya menginginkan diriku tapi tidak hatiku." kata Danisa lirih.


"Tapi aku menginginkanmu bukan saja dirimu, tapi juga hatimu Danisa. Aku mencintaimu dengan segala apa yang kamu punya, apa itu belum cukup?"


"Aku, tidak bisa memberikan yang pertama tuan."

__ADS_1


"Itu lagi yang di bicarakan, apa hanya itu yang di kejar laki-laki? Tapi aku tidak, aku menginginkan sosok perempuan yang bisa memberiku cinta dengan sepenuh hati. Apa jangan-jangan kamu menerimaku dengan terpaksa?"


Kali ini Daniel yang meragukan perasaan cinta Danisa padanya. Karena selalu saja yang di bahas masalah kesuciannya. Danisa menatap Daniel, dia menghadap Daniel yang kesal padanya.


"Tuan ..."


"Jangan panggil tuan!"


"Emm, taun calon suami ...."


"Aku bilang jangan panggil tuan, panggil saja namaku jika kamu tidak mau memanggil sayang."


"Ish, kamu itu lebih tua dariku. Mana boleh panggil nama saja, bahkan lebih tepatnya di panggil om Daniel."


"Danisa!"


"Hahah! Kamu marah jika di panggil om Daniel? Hahah!"


Daniel kesal pada Danisa, namun dia tidak bisa marah pada gadis itu. Dia menatap Danisa yang masih tertawa lepas karena dia kesal dengan sebutan om Daniel. Tiba-tiba saja, dia menarik tengkuk Danisa dan mencium bibirnya dengan lembut dan cepat. Danisa kaget, sejenak dia diam. Lalu membalasnya juga dengan lembut.


Di bawah sinar mentari sunrise itu mereka memyatukan hati dan kedua bibir mereka. Setelah di rasa cukup, keduanya pun melepaskan diri lalu tersenyum masing-masing.


"Menikahlah denganku, Danisa. Jadi mamanya Kania dan juga jadi istriku. Apa kamu mau?"" kata Daniel.


"Iya papa Daniel, aku mau." jawab Danisa dengan senang hati.


"Kania, dia lucu sekali. Emm, kenapa bisa berpisah dengan mama Kania?" tanya Danisa.


"Dia pergi dengan orang asing, meninggalkan Kania yang masih kecil waktu itu. Ada yang lebih memikat hatinya di banding aku, lebih kaya dan mungkin dia lebih tampan." kata Daniel dengan nada sedih dengan kisahnya dengan mantan istrinya itu.


"Lalu kenapa tidak cari lagi istri?" tanya Danisa.


"Aku tidak mau. Waktu itu aku sudah berpikir tidak akan menikah lagi dengan perempuan. Karena aku pikir semua perempuan itu sama dan ribet sekali dengan segala keinginannya dengan harta dan kebanggaan pada seorang suami yang kaya raya." kata Daniel.


"Tapi aku tidak seperti itu, aku hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang." jawab Danisa.


"Makanya aku mengejarmu, untuk aku jadikan istriku." kata Daniel.


Danisa dan Daniel kini menuju tempat makan tadi, lalu duduk sebentar. Dan karena waktu sudah gelap, akhirnya mereka pun pulang.


_


"Jadi kalian akan pulang ke kota?" tanya Morgan pada Daniel dan Danisa.

__ADS_1


"Iya bang, aku akan tetap di kontrakan kok. Ngga tinggal di rumah tuan Daniel." jawab Danisa.


"Lalu, kapan kalian berencana menikah?" tanya Morgan lagi.


"Untuk persiapan menikah itu butuh waktu banyak. Mungkin tiga bulan lagi." jawab Daniel.


"Hemm, baiklah. Itu terserah kalian saja. Tapi, apakah lebih baik menunggu skripsi Danisa selesai lalu sidang?" usul Morgan.


"Memang berapa lama skripsi selesai dan kapan sidangnya?" tanya Daniel.


"Sebentar lagi selesai, dia bulan depan sudah mulai sidang." jawab Danisa.


"Kan itu sudah selesai, bahkan wisuda juga sudah kan?"


"Aku tidak tahu, biasanya kalau semua prodi dan fakultas mengajukan mahasiswanya yang sudah sidang. Bisa di lanjutian wisuda di bulan berikutnya, atau minggu berikutnya." jawab Danisa.


"Ya, bisa menunggu wisuda juga kan. Bisa mempersiapkan pernikahan."


"Memang mau seperti apa pernikahan kalian?" tanya Morgan.


"Terserah Danisa maunya seperti apa?" jawab Daniel.


"Aku mau sederhana saja, ngga mau seperti Kirama dan tuan Bryan." jawab Danisa.


"Kenapa? kakakmu juga bisa mengadakan pesta pernikahan seperti itu kok." kata Morgan.


"Ngga bang, yang penting sudah resmi jadi suami istri dan hanya mengundang temab dekat aja. Lalu resepsinya biasa aja, apa itu terlalu sederhana?" tanya Danisa ragu.


"Kalau seperti itu sih, minggu depan juga bisa Danisa." jawab Daniel.


"Ya udah, minggu depan aja menikahnya." jawab Danisa antusias.


"Ish, jaga harga dirimu Danisa. Kenapa kamu yang lebih pengen untuk menikah?" ucap Morgan.


Daniel hanya tersenyum, dia juga setuju dengan pendapat Danisa. Tidan menunggu sidang skripsi, apa lagi wisuda. Semua akan berjalan cepat dan menjadi suami istri yang sah nantinya minggu depan.


"Kalau itu, aku juga setuju. Minggu depan bisa melangsungkan pernikahan. Kenapa tidak?" jawab Daniel.


Danisa tersenyum, merasa malu Daniel juga ingin segera menikah dengannya. Lalu kesepakatan pun di buat, jadinya rencana menikah di ambil satu bulan lagi. Karena Morgan masih banyak jadwal padat di minggu berikutnya. Daniel dan Danisa pun setuju bulan depan melangsungkan pernilahan sederhana sesuai keinginan Danisa.


_


_

__ADS_1


_


**********************


__ADS_2